PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 2 : Berita Kematian



Black Mountain, 12 September 2018


Hidup didalam bayang-bayang kengerian memang tidaklah se melegakan itu, ada kalanya perasaan was-was tiba-tiba datang menyeruak, seperti halnya semua penduduk disini, daerah ini akan sepi senyap saat langit mulai menampilkan awan hitamnya.


Terlihat Rin tersenyum sembari menyipitkan mata, besok adalah hari kelulusan sekolahnya, ia baru saja menelpon Ayah dan Ibunya agar segera pulang. Derrick, Rosalie dan juga Ran sedang pergi ke luar Kota untuk mengurusi beberapa pekerjaan, Rin tidak ikut lantaran ia malas bepergian, namun besok adalah hari pentingnya, tentu Ayah dan Ibunya harus hadir di acara itu.


Ia merebahkan dirinya diatas ranjang kesayangannya itu, memandangi langit-langit kamarnya yang bewarna biru muda itu dengan intens, sekarang sudah pukul sepuluh malam, namun Ayah, Ibu beserta Adiknya belum kunjung pulang. Dengan perasaan gelisah, ia beranjak dari tempat tidurnya, mencari-cari ponsel yang ia letakkan disembarang tempat, jantungnya berdetak kencang saat suara gemuruh mulai mengamuk di langit sana, Rin meraih ponsel yang berada didekat bantal gulingnya itu, membuat panggilan telepon guna menghubungi Ibu dan Ayahnya, gemuruh itu terdengar menakutkan, langit memang menghitam sejak pukul tujuh malam tadi, dan sekarang mungkin adalah puncaknya.


"Kenapa tidak ada yang mengangkat teleponku?" gumam Rin.


Suara hujan mulai terdengar, perlahan tapi pasti, lambat laun menjadi sangat deras. Rin mendelik, perasaannya tak karuan saat mengetahui hujan turun malam ini, ditambah tidak adanya kabar dari Ayah maupun Ibunya. Ia kembali menghempaskan dirinya di ranjang, menghela nafas panjang dan berupaya berpikir positif.


"Mereka pasti akan baik-baik saja," gumam Rin sembari memejamkan matanya.


Black Mountain, 13 September 2018


Rin mengerjip-ngerjipkan matanya, rupanya ia tertidur saat sedang memikirkan Ayah dan Ibunya. Ini masih jam 6 pagi, ia terbangun saat mendengar suara ketukan dan bel berbunyi dari pintu rumahnya. Wajahnya berubah sumringah, akhirnya Ayah, Ibu dan Adiknya telah kembali, ini waktu yang sangat pas, karena acara kelulusannya akan dimulai jam 11 siang nanti, Rin bergegas, berlari kecil kearah pintu dan segera membukanya.


"..."


Ah, mereka bukan Ayah dan Ibu, mereka siapa? Rin bergumam dalam hati.


Raut wajah sumringah itu hilang seketika saat mendapati orang yang datang bukanlah Derrick dan Rosalie, melainkan dua orang pria berseragam yang bahkan tak dikenali oleh Rin. Rin menatap mereka bingung, tanpa berbicara apapun, ia hanya memandangi dua pria itu secara bergantian.


"Maaf, ini kediaman keluarga Beverly?" ujar salah seorang pria berseragam itu.


Kedua pria itu saling berpandangan terlebih dahulu, ekspresi mereka tidak enak, dan itu terlihat sangat jelas.


"Kami dari kepolisian," ujarnya ragu.


"Ya? Ah silahkan masuk!"


Mereka mulai menjelaskan satu persatu pada Rin. Terlihat gadis itu hanya terdiam, terduduk lemas tanpa berekspresi. Hal itu bukan hanya mengejutkan, bahkan mampu membuat Rin menjadi syok. Ayah, Ibu dan juga Adiknya, semuanya ditemukan tewas didalam hutan. Berita itu menjadi pukulan terberat bagi Rin, ia tak bisa menahan air matanya yang akan meledak keluar, kesedihannya meluap, tatkala saat ia memandangi jasad ketiga orang yang sangat disayanginya.


Saat itu, ada banyak kejanggalan yang terlihat, namun rasa sedih dan traumanya membuat Rin tak dapat memikirkan apapun lagi, ia lebih memilih mengurung diri dan melamun sembari menangis histeris. Sangat menyedihkan saat kamu benar-benar hanya sendirian, tak ada kerabat, bahkan tak ada siapapun lagi, walau tak dipungkiri, semua teman dan para tetangga sering mengunjungi, namun itu tidaklah cukup, rasa hampa didalam dada sungguh amat terasa, kehilangan orang-orang tercinta sangat berat untuk seorang Rin, beban itu sangatlah berat untuk dipikulnya sendirian.


"Mengapa ini terjadi pada keluargaku?" gumam Rin dalam isak tangisnya.


*


Ini sudah satu minggu sejak kejadian menyedihkan itu, Rin mengetahui satu hal yang pasti, penyelidikan yang dilakukan kepolisian disini sungguh asal-asalan, mereka menyidik dengan enggan, bahkan satu petunjuk pun tak berhasil mereka temukan, padahal ada banyak hal yang terasa janggal disini, Rin percaya saat ia memeluk jasad Ayahnya yang sudah terbujur kaku itu, ia mencium aroma Bunga Lily disetiap inchi tubuhnya, lalu jika dilihat secara lebih teliti, bahkan di tubuh Derrick terdapat serbuk abu yang telah bercampur dengan tanah, anehnya itu hanya terdapat pada tubuh Derrick saja, tidak pada Rosalie maupun Ran, dan yang lebih jelas, mereka satu-satunya korban yang utuh dan yang sangat mudah diidentifikasi, mereka tewas karena ditembak tepat dikepala mereka, tak ada tanda-tanda penyiksaan, mereka murni hanya ditembak dan mati.


Catatan itu terangkai penuh dalam otak Rin, melekat disana agar dapat menjadi petunjuk siapa sebenarnya pelaku pembunuhan tersebut, Rin yakin pelakunya adalah orang yang sama yang meneror Black Mountain saat hujan turun.


Hari demi hari dilaluinya dengan sangat menderita, bahkan Rin mulai kecanduan akan alkohol karenanya. Ia mengalami depresi berkepanjangan, sehingga membuatnya hidup dalan keputus asaan.


Rin merindukan suasana hangat itu, bahkan Ran baru saja berumur 3 tahun saat itu, Rin kembali menangis, sosok Ayahnya yang selalu tersenyum pada putri-putrinya, sosok Ibu yang akan membuatkan sarapan yang enak setiap hari dan sosok Adik kecil lucu yang membuat geram setiap harinya, itu tidak akan terasa lagi saat ini, mungkin kematian akan lebih baik dibanding menderita seperti ini.


"Kenapa harus mereka, kenapa? Hiks hiks"