
Rin menyandarkan kepalanya dan sedikit memiringkannya, melihat jalanan yang masih ramai dimalam hari, itu berkat bintang yang bertaburan dilangit dan juga cahaya bulan yang seakan mengikuti kemanapun kau pergi. Aroma yang dihirup didalam mobil ini begitu segar, Rin menyukainya.
Rin menghela nafasnya kasar, terlihat nafasnya sudah mulai memutih akibat cuaca dingin malam itu. Pandangannya terhenti pada siluet diseberang jalan, Rin mengenali perawakan itu, persis seperti Ronny Hailey. Rin memperhatikannya diam-diam, Ronny tampak gelisah, dia terlihat agak aneh, belakangan ini pun dia memang terlihat aneh, seperti halnya Rin kadang memergoki dia sedang marah tanpa sebab atau pun menatap Rin dengan tatapan menakutkan, terkadang ia kembali normal seperti biasanya, entahlah apa yang terjadi padanya, hal itu terjadi persis setelah kejadian waktu itu, dimana Rin secara gamblang mengatakan tak menyukai sikapnya saat mendengar berita kematian di televisi. Rin tak terlalu memperdulikan hal itu, hingga akhirnya Ronny melenggang pergi memasuki mobilnya sembari menenteng sebuah topi berwarna putih.
"Terimakasih untuk hari ini." ujar Rin.
"Sama-sama."
Rin tersenyum simpul, canggung dan terkesan memaksa.
"Aku menurutimu hanya karena ini pertama kalinya kita berjalan berdua, selanjutnya aku akan memberikanmu dua kaleng minuman soda dan satu kotak permen."
Kali ini Rin tertawa, hal itu membuat Vin tertegun.
"Baiklah, dah."
Rin melambaikan tangannya dan berbalik, namun Vin kembali memanggilnya, membuat gadis itu berhenti dan memasang raut wajah bingung.
"Pegang ini," tukas Vin memberikan secarik kertas tebal menyerupai sebuah kupon. Masih dalam keadaan bingung, Rin mengambil kertas itu, dipandangnya sebentar sebelum ia memindahkan pandangannya pada Vin.
"Itu kupon penyelamatan, sebut namaku saat kau ingin menggunakan itu, dan itu hanya bisa digunakan sekali."
"Huh?"
Vin tersenyum sesaat sebelum ia memacu mobilnya menjauh meninggalkan Rin yang terdiam layaknya idiot. Mau dipikirkan bagaimanapun, ini hanya sebuah kertas tebal berwarna kuning, lalu terdapat sebuah tulisan kecil yang rapi, "Genggam dan sebut namaku".
"Hah, kekanak-kanakan sekali." gumam Rin.
Rin berjalan pelan, menaiki tangga menuju unit Apartemennya. Tak ada satu pun kabar dari Nick hari ini, haruskah menghubunginya duluan? Rasanya itu terlalu berlebihan, tapi Rin sangat penasaran apa yang terjadi padanya.
Tidak tersambung, ini sudah kesekian kalinya Rin mencoba menghubungi Nick, tapi nomornya tetap tak bisa dihubungi, apa yang salah?
"Hah." Rin menghela nafas panjang dan merebahkan dirinya diatas ranjang tempat tidurnya.
Hari ini sungguh hari tergila namun cukup melegakan. Untuk kesekian kalinya orang asing seperti Vin mengetahui hal yang mati-matian ditutupi oleh Rin, seketika ia teringat perkataan dari Dr.Freya tempo hari. Mencoba berteman dengan Vin mungkin bukan hal yang buruk, itu tidak sepenuhnya salah, bahkan Vin membantu Rin mengatasi kepanikannya dengan sentuhan dan suaranya yang lembut, luar biasa.
"Kuharap bocah itu menepati janjinya untuk tak bercerita ke siapapun." gumam Rin.
Rin melirik keatas nakas disamping tempat tidurnya, pil penenang itu ternyata ketinggalan disana, sesaat ia jadi teringat kembali akan perkataan Vin, "Cobalah untuk tak tergantung pada obat-obat itu, kau bisa mulai dengan mengandalkan dirimu sendiri." Kata-kata yang sangat memotivasi. Nyatanya itu tak semudah saat mengeluarkan kalimat dari mulut, itu sulit, sangat sulit. Apa pada akhirnya aku bisa sembuh dan kembali normal? Terlepas dari itu, aku ingin pembunuh itu segera tertangkap, aku jadi penasaran apa yang akan dilakukan polisi terkait laporanku tadi siang.
Black Mountain, 19 Desember 2020
Rin mengerutkan dahinya saat cahaya pagi masuk dari jendelanya yang terbuka. Sial, ia lupa menutup jendelanya dan langsung tertidur begitu saja. Untung saja hal-hal yang aneh tidak terjadi. Dari kamarnya terdengar suara ricuh dan berisik dari bawah sana, Rin beranjak dan berjalan kearah jendela, mukanya memerah saat angin musim dingin menyentuh wajahnya. Ada beberapa polisi dibawah sana, tepat didekat lampu jalan yang menjadi titik letak seseorang itu memberikan ketakutan.
Rin bergegas menuju kamar mandi, membersihkan diri dengan semburan air hangat yang keluar dari pancuran airnya. Bergegas mengenakan pakaian merah muda yang dilapisi dengan mantel berwarna coklat kesukaannya. Sedikit ragu namun pada akhirnya ia melilitkan kembali syal putih itu pada lehernya yang jenjang.
Schedule hari ini adalah kuliah dan mengikuti dua mata pelajaran, kemudian bekerja di kafetaria hingga sore, dua hari menjelang akhir pekan, lagi pula Rin penasaran akan banyak hal. Pertama, ia penasaran apa ajakan Nick waktu itu masih berlaku untuk akhir pekan nanti. Kedua, apa Vin benar-benar menutup mulutnya akan kejadian tadi malam. Dan ketiga, apa yang dilakukan polisi-polisi itu diluar sana.
"Hallo, Rin."
"Oh hallo."
"Bolehkah aku masuk?"
"Ah ya ya, silahkan masuk."
Felix masuk segera setelah Rin memperbolehkan, mata nya berputar seakan melihat semua yang ada diruangan itu. Rin datang dengan segelas teh hangat di tangannya, menyuguhkannya pada Felix yang datang dengan tiba-tiba itu.
Dengan perlahan Felix mengangkat gelas berisikan teh hangat buatan Rin, meneguknya pelan dan menaruhnya kembali diatas meja. Rin hanya menatapnya, tanpa berkata apapun seolah menunggu apa yang akan dikatakan oleh Felix.
"Jadi, aku kesini ingin memberitahukan tentang laporanmu kemarin."
Jantung Rin berdetak, tak disangka respon dari mereka akan secepat ini. Netra biru tua itu menatap Felix serius, namun sepertinya pria itu malah salah tingkah karenanya, ia berulang kali batuk dan meminum teh hangat itu hingga membuat Rin jenuh.
"Pak, bagaimana dengan laporannya?" tanya Rin malas.
"Oh iya, maaf aku sedikit grogi."
"..."
"Kami menindaklanjuti tentang laporan yang kau buat, karenanya kami memasang beberapa CCTV didekat area yang kau sebutkan kemarin. Tapi... Kau sangat yakin kalau kau tak mencurigai siapapun?"
Untuk beberapa saat Rin terdiam, berpikir keras lalu menjawab "Aku yakin." tegasnya.
Mata biru muda itu menatap lekat kearah Rin, ia pun memakai jas yang sedari tadi dipegangnya.
"Sudah agak lama sejak penemuan jasad terakhir kali, sepertinya pelaku itu tak membuat ulah dalam beberapa minggu ini." tukas Felix.
"... Akan tetapi, disetiap hujan dimalam hari, dia selalu berada dibawah sana."
"Itu yang perlu kami selidiki lebih lanjut, apakah benar orang yang menguntitmu itu adalah pelakunya atau itu hanya orang iseng yang berusaha menakutimu."
"Aku yakin itu dia, aku pernah melihatnya mengikutiku dengan pistol ditangannya, dia akan menembakku, sama seperti dia menembak seluruh keluargaku." ujar Rin terbawa emosi.
Felix bungkam, sementara Rin menatapnya tajam dengan nafas yang menggebu, wajah serius dari Felix tak membuat Rin goyah. Felix menghela nafasnya kasar, meneguk air teh itu hingga habis dan meletakkan kembali cangkir kosong itu diatas meja. Ia membetulkan jasnya sebentar lalu beranjak dari sofa.
"Aku akan kembali lagi nanti, dan terimakasih untuk tehnya, itu sangat enak." ujarnya yang kemudian melenggang pergi begitu saja.
Rin masih termangu diatas sofa, memegangi dahinya dan memejamkan matanya untuk sesaat.
"Argh sial, aku kurang ajar sekali padanya." ujarnya menggerutu kecil.