
[Rin's pov]
Kala itu aku merasa bagaimana jantungku membeku dan darahku berhenti mengalir. Bahkan udara panas yang dihasilkan pemanas ruangan pun tak cukup membantuku. Aku melihat bagaimana Felix masuk keruang ICU dan beberapa dokter mulai sibuk menanganinya. Terkadang aku berpikir, bagaimana kalau aku tak cukup kuat menopang tubuhnya hingga menjumpai taksi dan tiba dirumah sakit tepat waktu. Mungkin aku akan kehilangan Felix hari itu, tapi dilain sisi aku juga berpikir, jika saja aku membiarkan Felix hari itu, aku tidak akan kehilangan Vin.
Aku sempat berpikir, kalau saja Vin sadar dan pergi sebelum polisi menemukannya, dia tidak akan tertangkap dan dijebloskan kepenjara. Aku terlalu naif, di satu sisi aku ingin dia mempertanggung jawabkan perbuatannya, disisi yang lain aku malah tidak rela jika harus kehilangannya.
Aku hanya bisa menutup mataku, menitikkan air mata saat dia divonis hukuman mati atas perbuatannya. Aku sempat meliriknya, dia hanya menunjukkan wajah datar dan tanpa ekspresi. Kupikir dia sangat membenciku saat itu, dan itu sangat membebaniku. Aku menangis saat menceritakan semuanya pada Bella, betapa hatiku yang sakit jika harus merelakan orang yang kucintai mati begitu saja. Namun, akan lebih sakit saat aku tertampar kenyataan bahwa orang yang kucintai tak lain adalah seorang monster bagi semua orang, termasuk diriku.
Beberapa kali sudah kukatakan, dia mungkin saja seorang pembunuh di mata semua orang, namun dia adalah kekasih yang baik di mataku.
Betapa aku tak bisa melupakannya, tanggal 15 Mei 2022, tepat satu hari sebelum hari eksekusinya. Permintaan terakhirnya hanya bertemu denganku. Semuanya menolak, bahkan Felix bersikukuh untuk jangan menemuinya. Tapi, aku merindukannya, bahkan aku menangis dihadapan Felix hanya agar Felix memperbolehkan hal itu.
"Jangan menangis, kau jelek saat menangis." ujarnya sembari tersenyum. Disaat seperti ini, aku merasa kami kembali ke waktu sebelumnya, ke waktu dimana aku tak mengetahui apapun, waktu yang membuat hari-hariku bersinar dan membahagiakan. Aku masih tak dapat menahan tangisanku, saat tangannya mengusap pipiku lembut, aku semakin terisak.
"Hei, lihat! Bedakmu sampai habis tuh karena kau terus menangis, wajahmu mulai terlihat hitam karena bedaknya luntur." dia mulai menggodaku dengan senyum lembutnya.
"Hiks, kenapa kau menggodaku terus, hiks."
"Pft, hahaha. Rin-ku yang manis, berhentilah menangis. Kau tau, aku ingin melihat wajahmu yang bahagia dan tersenyum, maka itu akan menjadi kenangan terakhirku." mendengar kata-katanya tangisanku malah makin menjadi-jadi, kenapa dia harus mengatakan hal yang membuat hatiku hancur seperti itu.
"Hei, kenapa malah semakin keras menangisnya. Nanti penjaga kira aku memukulmu."
"Kenapa? Kau kan tak pernah memukulku, Vin."
"Benar, yang ada kau yang memukuliku. Benar, kan?"
Aku memukul lengannya pelan. Disela tangisanku dia malah membuatku tertawa, tertawa dengan sisa-sisa air mata yang masih mengalir disela pipi.
"Hah, seperti yang kau tau. Aku hidup dalam kegelapan yang bahkan tak akan terang bila hanya diterangi oleh lilin. Saat itu aku tidak ingin dan tidak memperdulikan tentang kematianku. Yang kutahu hanya bermain, bermain dan bermain pada nyawa seseorang, pada dasarnya aku menyesali satu hal, kenapa kita bertemu setelah semua yang terjadi. Bahkan kebahagiaanku terasa sangat singkat daripada semua pembunuhanku. Aku menyesali itu, Rin."
"..."
"Berjanjilah untuk tak usah datang besok, akan sangat memalukan jika kau melihat kepalaku terpisah dengan badanku."
"..."
"Lihat, kau menangis lagi."
Aku hanya diam, tak bisa berkata apapun lagi, yang kubisa hanya menangis, mengeluarkan isakan dan air mata yang sangat banyak.
"Hiduplah dengan baik. Tenang saja, aku selalu menyukaimu walau aku berada di alam yang lain. Hah, harusnya aku menitipkan benih padamu jika saja kutahu hal ini akan terjadi."
Aku melotot padanya, bisa-bisanya dia bercanda disaat situasi seperti ini. Saat itu aku tak paham bahwa dia hanya mencoba mencairkan suasana. Aku memeluknya erat, dan hari itu adalah ciuman kami yang terakhir kalinya.
***
Black Mountain, 15 Mei 2023
Aku menaruh seikat bunga di atas pemakamannya. Beristirahatlah dengan damai Vincent Damieer.
Ini sudah satu tahun sejak ketiadaannya. Untuk kedua kalinya dalam hidupku, aku kehilangan orang yang berharga, bahkan Anxiety-ku kembali setelah saat itu, aku kembali kecanduan alkohol dan nikotin. Serasa memulai semuanya dari awal lagi.
Namun, saat kutahu bahwa aku tak sendirian lagi, hal itu melegakan. Aku punya sahabat yang sayang padaku, dan mempunyai teman yang bahkan merelakan semua waktu berharganya untukku. Ah, bisakah aku mengatakan kalau aku dan Kak Felix adalah teman? Sejujurnya, dia dan Bella yang membantuku saat aku terpuruk, walaupun cara mereka tak sekonyol layaknya Vin, namun tetap saja berkesan.
"Kak Felix, ada apa dengan wajahmu? Kau menahan pipis?" ujar Bella dengan suara yang besar.
"Hei, mulutmu mantap sekali bicaranya." Felix menjawab sembari menjewer telinga Bella, membuat gadis itu memekik dan mendengus kesal.
"Ya, ya. Aku akan kesana, aku ada kerjaan. Kalian makanlah lagi," ujar Bella melangkah pergi sembari mengedipkan sebelah matanya pada Felix. Entah apa maksudnya itu, aku hanya menatap mereka bergantian karena bingung.
"Ah Rin, ada sesuatu yang ingin kukatakan." dia memulainya.
"Ya?"
"Em, aku bingung mengatakannya tapi aku suka padamu!"
"Eh?"
"Ya, aku suka padamu. Maka dari itu, jadilah pacarku!"
"... Pft, hahaha."
"Apa yang lucu?"
"Wajahmu. Wajahmu yang lucu, Kak." aku tak bisa menahannya lagi, ekspresi wajahnya sangat menggemaskan.
"Hei, aku sedang serius."
"Haha, iya, iya. Lalu, Kakak ingin aku menjawab apa?"
"Tentu saja kau harus menjawab ya!"
"Pft, haha baiklah, tapi sayang sekali aku akan menjawab tidak." ujarku menggodanya.
"Ah, aku ditolak."
Ekspresinya yang kecewa itu sangat menggemaskan layaknya anak anjing yang batal jalan-jalan, ya ampun aku ingin sekali meremas pipinya.
"Tidak salah lagi! Maksudku, tentu saja aku mau menjadi pacar Kakak,"
"Sungguh?"
Aku menganggukan kepalaku dan lihat bagaimana reaksinya, dia bangkit dari kursinya dan memelukku erat, sangat erat. Kini wajahku yang memerah akibat perlakuannya, semua orang di restoran ini kini sedang menatap kami.
"Aku sangat senang, Rin." ujarnya tanpa melepaskan pelukannya padaku.
"Aku janji tak akan mengecewakanmu, mungkin aku tak bisa seperti Vin, tapi perlahan akan kutunjukkan betapa seriusnya aku dengan hubungan ini."
Seketika aku tercengang, entah kenapa rasanya air mataku menetes dengan sendirinya. Aku membalas pelukannya, membenamkan diri pada dadanya yang bidang.
"Ya, aku percaya itu."
Saat itu aku berpikir kembali, mungkin saja jika Vin melihat kami dari sana, dia pasti menatap kami dengan tatapan yang dapat melubangi kami. Kupikir kali ini dia tak akan mengampuni Felix.
...~End~...
Untuk semuanya, terimakasih sudah mengikuti cerita ini sampai akhir. Mohon maaf jika ceritanya tidak sesuai ekspetasi kalian atau malah di bawah standar kalian, karena Authornya newbie 🥺
Terimakasih banyak atas dukungan kalian semua, Author cinta kalian ♥♥♥
Jangan lupa like & Komentar yang positif ya gaess, stay health semuanya, sampai jumpa di cerita berikutnya.
Follow ig Author : @megazulma
Nanti Author bakal Follback 😉