
Vin berjalan mendekat, menenteng dua buah kantong yang bisa dipastikan isinya adalah cemilan dan bir.
Rin terhanyut akan keindahan Danau malam itu. Diberi nama Danau Chalcanthite, karena warna airnya yang biru tua layaknya batu kristal Chalcanthite, angin malam yang menerpa, membuat rambut pirangnya yang panjang itu berterbangan, sesekali ia mengelus lengannya karena mantelnya tak cukup untuk menghalau rasa dingin malam itu.
"Kenapa kau membeli bir banyak sekali, aku kan hanya meminta dua kaleng," ujar Rin menyambut bir yang dibawa oleh Vin, bunyi kaleng terbuka dan suara yang dihasilkan dari bir itu terdengar jelas.
"Kau pikir hanya kau yang akan bersenang-senang malam ini?" jawab Vin sambil meneguk bir yang telah dibukanya lebih dulu.
Malam itu adalah malam yang tak terduga, mereka menikmati bir dan rokok bersama, hari itu Vin mengetahui sisi lain dari Rinoa, Danau biru ini menjadi saksi akan hal itu, raut wajah yang mulai memerah dan tatapan mata yang mulai sayu, sepertinya Rin sudah mulai mabuk. Saat kesedihan itu tertoreh, tak ada yang bisa dinikmati selain alkohol yang selalu setia menemani, nikotin ini hanya sebagai pelengkap, dengan kata lain, dia akan membuat hal yang nikmat menjadi lebih nikmat.
Persetan dengan apa yang dipikirkan oleh Vincent, lagipula Rin sama sekali tak berniat menjaga perilakunya dihadapan pria ini. Rin tak punya tempat berlabuh selain alkohol, ia tak dapat menahannya, saat perasaan sedih dan cemas yang mendalam itu menyeruak, yang ia pikirkan hanya tenggelam akan rasa mabuk dari alkohol. Lalu, siapa yang akan menyangka bila menikmati alkohol dengan ditemani oleh orang lain itu rasanya lebih nikmat dan menyenangkan.
"Danau ini sangat indah." gumam Rin.
"Ya, warna nya sama persis dengan matamu." tukas Vin.
Rin menoleh, sorot mata berwarna biru tua itu menatap sendu, pipinya terlihat sangat merah, Vin hanya merespon dengan senyuman, netra hitam miliknya itu sama seperti warna langit malam yang gelap, bercahaya bagai bintang saat tatapannya mengarah pada Rin.
"Aku kedinginan," ujar Rin.
"Lalu?"
"Ya, aku kedinginan Vin."
"Lantas harus bagaimana? Aku tak bisa mengubah cuaca, Rin."
Rin mengerutkan dahinya, meneguk habis sisa dari bir yang ia pegang, ia mendengus kesal, menggerutu layaknya orang mabuk yang sedang marah, itu membuat Vin tak dapat menahan tawanya.
Perasaan hangat apa yang menyelimuti? Untuk beberapa saat yang lalu, leher Rin terasa begitu kaku dan dingin. Ah, ini berkat syal berwarna putih yang dililitkan di leher Rin saat itu. Vin tersenyum membuat matanya menyipit, itu benar ciri khasnya. Rin menenggelamkan dagunya dalam lilitan syal itu, rasanya benar-benar hangat dan nyaman.
"Kau suka hujan?" pertanyaan Vin membuat Rin tertegun.
"Hujan?"
"Mm, dulu aku sangat menyukai hujan, sepertinya sekarang pun juga, tapi gara-gara pembunuh itu, sesuatu yang harusnya menjadi anugerah itu kini dianggap sebagai bencana."
Rin terdiam untuk beberapa saat.
"Kau tau Rin, mungkin sekarang neraka sedang kosong, karena iblisnya sedang berkeliaran didaerah ini."
"Huh, bila diingat-ingat aku pun sangat menyukai hujan dulu, aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali aku menari dibawah derasnya hujan."
"Kau juga suka hujan?"
Rin menganggukan kepalanya, itu membuat Vin terlihat senang.
Ada semacam keraguan terlihat dari sorot mata gadis itu, siluet akan pria yang selama ini menerornya itu terlintas, mungkin benar ia menyukai hujan, hanya saja sejak kematian keluarganya, ditambah lagi dengan sosok pria misterius itu, itu mendepak kewarasannya, sialnya ia tak membawa obat penenang sedikit pun, bahkan efek alkohol ini membuat pikirannya semakin kacau. Rin terdiam, dengan tubuh yang bergetar, ia memejamkan matanya kuat, kepalanya terasa pusing bersamaan dengan dadanya yang sesak.
"Kau kenapa?" tanya Vin bingung.
"Dadaku terasa sesak."
"Apa?"
"Aku takut, ini menyakitkan, nafasku sesak, aku butuh obatku." ujar Rin yang mulai menangis.
"Aku tak bisa tenang, aku kesulitan untuk berkonsentrasi."
"..."
Dia berkeringat, padahal dicuaca sedingin ini, batin Vin.
Disaat tubuh Rin semakin bergetar, Vin menatapnya dengan intens, ia membetulkan syal dan mantel Rin sementara angin malam terus menerus menerpa mereka, Rin terus bergumam tentang dadanya yang sesak dan nafasnya yang tercekat, kini Vin tak lagi panik seperti tadi, ia mendengarkan semua yang dikeluhkan oleh Rin, dengan tatapan yang datar ia mengenggam tangan gadis itu. Rin tersentak, menghentikan ocehannya dan mulai menangis pelan, kini yang keluar dari mulutnya bukan lagi keluhan tentang yang ia rasakan, melainkan semua cerita kelam yang membuatnya tertekan.
Tangan yang lebih besar dari Rin itu pun mulai berpindah, memegang pipi Rin yang dibasahi oleh air mata, mengusap pelan air mata yang sedikit lagi akan terjatuh, tubuhnya masih bergetar, dia seperti ketakutan, seakan-akan ada seseorang yang akan membunuhnya. Netra hitam itu masih menatapnya datar, namun sangat dalam.
"Kau benar-benar takut dengan orang itu, ya?" ujarnya pelan.
Tangan kecil yang gemetar itu memegang dan mengenggam tangan yang berada di pipinya itu, mungkin tanpa disadarinya, tapi ia memejamkan matanya, seakan merasakan kehangatan yang diberikan oleh sentuhan tangan itu.
"D-dia yang membunuh keluargaku Vin, d-dan sekarang dia mengincarku." ujar Rin terbata.
"..."
Vin tak berkata apapun lagi, tatapannya tak berpaling, untuk sesaat ia tersenyum saat melihat bagaimana gadis itu menyukai sentuhan pada pipinya.
"Tarik nafasmu Rin,"
"..."
"Tarik nafasmu lalu keluarkan perlahan,"
Untuk beberapa saat, gadis itu hanya terdiam menatap Vin. Rasa percaya itu perlahan mulai hadir, ia menuruti apa yang Vin katakan, menarik nafasnya dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan, itu dilakukannya beberapa kali hingga perasaan tenang itu perlahan muncul, seperti menemukan secerca cahaya dari dalam kegelapan yang pekat. Rin akhirnya bisa mengendalikan perasaan takutnya, walau tubuhnya masih gemetar samar, namun dadanya tak sesesak tadi. Mata biru tua bak air danau Chalcanthite itu berkaca-kaca, menatap sosok tampan yang sedang tersenyum itu.
"Kau melakukannya dengan baik, Rin." ujarnya, membuat detak jantung Rin kian cepat.
"..."
"Jadi, kau mengalami Anxiety ya?" tanya Vin sembari menghela nafas kasar.
"...Ya, kau benar. Aneh ya?"
"Pft, kenapa kau jadi sedih begitu? Itu hal wajar, kau hanya perlu bertekad untuk menyembuhkannya."
"..."
"Kau tak menganggapku aneh setelah tahu semuanya?"
"Apanya? Ah, maksudmu tentang gadis polos yang ternyata sangat menyukai alkohol dan rokok? Ah atau tentang gadis pemarah yang ternyata mengidap Anxiety? Yang mana?"
"Kau lancar sekali berbicara, ya."
"Haha, tapi ngomong-ngomong, sepertinya kau sangat suka memegang tanganku, ya."
Rin mendelik, pupilnya bergerak melihat kearah pipinya, dua tangan masih menyatu padu disana. Dengan gelagapan ia menarik tangan Vin dan menghempaskannya begitu saja, membuat Vin meringis sembari mengusap-usap punggung tangannya.
"Ya ampun, kau menariknya kuat sekali. Saking kuatnya, hatiku pun ikut tertarik." ujarnya sembari terkekeh.
"VIN, KAU BERISIK!"