PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 42 : Pusat kota



Ban mobilnya mengeluarkan suara berdecit saat Vin berhenti di depan Apartemen Rin, hari sudah petang, itu tidak terasa saat berduaan dengannya.


"Ah Vin, besok aku dan Bella akan berkunjung kerumah Nick, kau mau ikut?"


"Kerumah Nick? Ada apa disana?"


"Tidak ada, itu hanya undangan darinya. Aku terlanjur mengiyakan waktu itu, jadi besok kami akan kesana."


"..."


"Kalau kau tidak menyukainya aku akan membatalkan itu," ujar Rin kemudian.


"Pft, kenapa kau berpikir seperti itu? Tidak apa, kau boleh pergi tapi sepertinya aku tidak bisa ikut, besok aku ada kegiatan sukarelawan bersama anak-anak kampus,"


"Oh, itu sayang sekali."


"Bersenang-senanglah dan jangan lupa memberiku kabar,"


"Tentu saja!"


Vin tersenyum mendengar jawaban dari wanita yang dicintainya itu. Vin menunduk, melihat arlojinya, "Aku pulang dulu, ini sudah hampir gelap, dan hubungi aku kalau ada apa-apa!" ujarnya.


"Baik bos,"


"Gadis pintar, kemarilah!"


"Eh?"


"Kemari!"


Rin mendekat ragu lalu tanpa permisi Vin mengecup pipinya dengan cepat, dengan pelan ia berbisik, "Aku mencintaimu, Rin."


Rin segera menjauhkan wajahnya, ia membuka pintu mobil dan segera keluar. Terdengar kekehan Vin dari dalam mobil yang membuat gadis itu kesal sekaligus malu. Uh bocah ini malah tertawa. Vin melambaikan tangannya dan memacu mobilnya menjauh, samar-samar perlahan ia mulai menghilang dari pandangan.


"Dia selalu membuatku berdebar," gumam Rin pelan.


Black Mountain, 29 Desember 2021


Pusat kota Rumanov, akhirnya kami kesini. Jalanannya sangat macet walau pada akhir pekan, letak daerahnya tak berjauhan dengan Black Mountain, pusat kota berada agak ditengah tepat sebelum Black Mountain. Rin memutar bola matanya, suasananya masih seperti dulu saat dia dan Ayahnya berkunjung kesini. Dipusat kota sangat ramai karena banyaknya toko dan pasar, kami melewati semua itu hingga pada akhirnya kami tiba disalah satu Apartemen yang cukup bagus. Apartemen ini sepertinya dibangun sudah cukup lama namun rutin dipoles hingga tampak menawan, sayangnya penghuninya cukup sepi.


Saat memasuki Apartemen milik Nick, Rin tersentak, aromanya sangat tidak asing disana. Aroma bunga Lily yang semerbak menyapa mereka saat itu. Itu mengingatkannya saat dirumahnya ketika dulu, aroma ini seakan menemaninya tumbuh dari hari ke hari.


"Duduklah, buat diri kalian senyaman mungkin."


"Wah, kupikir suasananya seperti didalam Penthouse," ujar Bella dengan mata yang berbinar.


"..."


"Apa harganya 5 milyar?" tutur Bella kemudian.


"Tidak sampai seperti itu, ini hanya Apartemen peninggalan Ibuku dari kekasihnya dulu,"


"Ayahku sudah lama meninggal, lalu Ibuku mempunyai kekasih lagi waktu itu, ya begitulah."


"Oke baiklah aku mengerti. Kekasih Ibumu pasti orang kaya, kan?"


"Aku tidak tau, yang kuingat dia hanya seorang pedagang."


"..."


"Lalu, dimana Ibumu?" tanya Rin.


"Ah, dia sedang tidak ada disini."


"..."


Atmosfernya berubah, entah kenapa firasatku buruk untuk saat ini.


"Aku akan mengambil kudapan, kalian pasti lapar kan? Ah Bella, bisakah kau membantuku sebentar?" ujar Nick sembari melangkah kedapur.


"Tentu," jawab Bella mengekori Nick dari belakang.


Rin hanya diam dengan segala pemikiran yang belum pasti. Ia teringat akan foto wanita yang ada dirumahnya dan yang ada di pemakaman. Nama belakangnya adalah Holder, tentu Nick tau tentang hal itu. Tapi bagaimana caraku menanyakannya? Ini sangat membingungkan, Rin tak tahu apapun tentang keluarga Nick, bahkan wajah wanita yang ada difoto tersebut sangatlah asing baginya. Apa hubungannya mereka dengan Ayah?


Dibanding itu, sepertinya Bella dan Nick sudah terlalu lama hanya untuk mengambil kudapan didapur, ini sudah lebih dari 20 menit. Apa saja yang mereka lakukan didapur, pikir Rin. Rin beranjak mencoba mengecek apa yang dilakukan Nick dan Bella, namun alangkah terkejutnya gadis itu saat mendapati tak ada siapa-siapa disana. Ia mengerutkan dahinya heran, kemana mereka berdua pergi pikirnya.


Suara telapak kaki di ubin yang dingin itu terdengar walau samar, hawa keberadaannya terlalu terasa untuk diabaikan. Rin tercekat namun diam membatu disana.


"Kau mencari kami, ya?" tanya Nick dengan suara yang berat.


Dengan takut dan ragu Rin membalikkan tubuhnya agar dapat melihat Nick. Apa yang dia lihat adalah mimpi buruk, apa yang salah pada pria dihadapannya ini? Ia mengacungkan sebuah pistol pada kepala gadis yang pingsan ditangannya. Rin ingin berteriak saat itu namun salah satu jari Nick mengisyaratkannya untuk tetap diam saja.


"SSTT! Jaga suaramu kalau kau tak ingin temanmu tertembak," ujarnya dingin. Rasanya kaki Rin tak lagi mampu menopang berat tubuhnya, ia bergetar takut saat melihat Bella yang tak sadarkan diri dan dibawah ancaman sebuah pistol dikepalanya, ia membekap mulutnya sendiri, menangis tanpa suara yang membuatnya sangat tersiksa.


BRAAK! Nick menghempaskan begitu saja tubuh Bella hingga tersungkur dilantai, sementara ia terus melangkah hendak mencapai Rin. Netra hazel yang menatapnya datar itu sungguh mengerikan, Rin bergerak mundur sembari gemetar, air matanya jatuh berlinangan bersamaan dengan isakannya yang samar. Nick berdiri dihadapannya, memakai hoodie jaketnya hingga menutupi seluruh kepala dan sebagian wajahnya. Tentu itu berhasil membuat gadis itu tersentak.


"Kau pasti mengingat penampakan ini, bukan?" ujarnya menyeringai.


"Kau...."


Tatapan matanya berubah dingin, itu dipenuhi rasa benci dan rasa sedih disaat yang bersamaan, pria itu melangkah mendekat, mengangkat sebelah tangannya dan PLAK! Suara tamparan itu berdenging diruangan sunyi itu. Rin tersungkur dengan darah disudut bibirnya, itu menyakitkan, sangat menyakitkan. Nick pelakunya, itu tidak mungkin. Dia yang terlihat waktu itu, siluet yang menakutkan didalam kegelapan, itu adalah dia. Rin bagai terhipnotis, sulit baginya mencerna apa yang telah terjadi, gadis itu tak bergeming, hanya membulatkan mata selagi Nick mengikat kedua tangannya kebelakang.


"Kenapa?" ujar gadis itu terisak.


"..."


Nick hanya menatapnya tajam, itu bahkan lebih mengerikan dari tatapan seekor harimau. Gadis itu menangis tak berdaya, berharap seseorang datang menolongnya. Nick melenggang pergi dan kembali dengan sebuah lilin ditangannya. Tanpa berkata apapun, Nick menjejerkan beberapa lilin itu dan menyalakannya.


"Nah anggap saja lilin ini api unggun, karena aku akan menceritakan sebuah kisah menarik di masalalu," ujarnya datar.