PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 38 : Kissing



[Author] Nick mengusap puncak kepala Rin pelan, "Beristirahatlah dengan benar, aku ada kerjaan jadi aku harus pergi, kalau ada apa-apa jangan sungkan menghubungiku." dia berkata dengan tatapannya yang lembut.


"Baiklah," jawab gadis itu.


"Kuharap pria sialan itu segera ditemukan, aku ingin sekali menonjok wajahnya!" ujarnya geram.


"Benar, aku juga ingin menghabisi pria gila itu. Semoga saja dia mati tersedak air liurnya sendiri. Ya tuhan aku sangat kesal, gara-gara dia, Rin-ku jadi seperti ini." Bella mengutuknya habis-habisan.


Rin hanya bisa tersenyum, ia menghela nafas lega, hatinya menjadi tenang melihat orang-orang disekitarnya sangat mengkhawatirkannya, itu sudah lebih dari cukup pikirnya.


...****************...


Bella kembali dengan bungkusan besar ditangannya, mungkin itu adalah alasan kenapa dia sangat lama ketika mengantar Nick pulang.


"Kenapa kau lama sekali?" tanya Rin.


"Aku membeli cemilan dulu, kau juga lapar kan? Lihat, aku beli Taco, Buah Anggur, Pie Apel dan sundae coklat." matanya berbinar saat mengeluarkan semua makanan yang ia beli.


"Kau membeli banyak sekali, kau lapar atau apa?"


"Sudah diamlah dan makan saja," cetus Bella memberikan Taco pada Rin.


"Ah tidak-tidak, kau saja yang makan itu. Aku mau Anggur itu saja."


Rasanya sudah lama tidak merasakan hal seperti ini. Berkat Bella, kengerian yang terjadi semalam tergantikan oleh rasa senang seperti ini. Rin membetulkan kaos panjang yang ia pakai, hari mulai petang dan udara semakin dingin. Sayang sekali Bella akan pulang sekarang, sejujurnya itupun karena Rin yang menyuruhnya. Rin tak akan pernah tau, bahaya apa lagi yang akan mengintainya, dan selama itu ia tidak ingin sahabatnya itu terlibat ataupun terkena dampak gara-gara hal itu.


"Hei, aku mau menginap!" rengek Bella.


"Tidak bisa, aku ingin tidur sendirian malam ini. Nanti saja menginapnya," jawab Rin.


"Hah jahat sekali. Padahal aku berbaik hati ingin menemanimu,"


"Ya ya, aku tau kau memang yang terbaik tapi ini sudah sore, kau harus pulang. Aku janji aku akan menghubungimu jika terjadi sesuatu."


"Baiklah, jaga dirimu!"


Tepat disaat Bella membuka pintu, mereka dikejutkan dengan seorang pria yang tengah berdiri disana, pria dengan piercing disalah satu telinganya, memakai kemeja berwarna hitam dengan mantel tebal sebagai luarannya Ia tersenyum manis kearah dua gadis itu.


"Ah, aku baru ingin membunyikan bel."


"..."


Entah kenapa hanya dengan mendengar suaranya, jantungku berdebar kencang sekali, kenapa aku begini?


"Bella, kau mau kemana?"


"Ah, aku ingin pulang. Aku sudah dari siang disini, dan juga sepertinya aku telah diusir," ujar gadis itu menggerutu.


"Hei, siapa yang mengusirmu. Kusuruh kau pulang karena ini sudah sore,"


"Hah, alasan saja. Kalau begitu aku pulang ya, jaga dirimu baik-baik. Ah Vin, kau harus menjaganya juga, oke?"


"Oke!" jawabnya cepat.


Ini sudah beberapa detik sejak Bella pulang, namun mereka belum bergeming.


"Apa aku tak boleh masuk?" tanya Vin.


"Oh t-tentu saja boleh, ayo masuk!"


Vin hanya tersenyum saat itu, mengekori Rin hingga kekamarnya. Gadis itu duduk diatas ranjangnya dan menyandarkan punggungnya yang lelah.


"Kita disini saja ya, aku ingin bersandar disini." gadis itu menghela nafas. Anggukan Vin seakan memberi jawaban atas perkataan Rin, ia menggeser kursi belajar Rin dan mendaratkan bokongnya disana.


"ini sudah membaik,"


"Sudah melapor?"


"Sudah, tapi Ronny melarikan diri."


"Itu sudah pasti, seharusnya kuhabisi saja dia waktu itu, kalau mengingatnya aku jadi kesal."


"...Dia bukan pelakunya,"


"Hm?"


"Kak Felix bilang dia bukanlah pelakunya."


"..."


Suasana saat itu berubah menjadi hening, gadis itu menunduk tak ingin memperlihatkan keputusasaannya, setitik airmata terjatuh dari pelupuk matanya, gadis itu menangis.


"Ya ampun, aku selalu menangis didepanmu. Ini sangat memalukan," ujarnya menghapus bekas air matanya.


"Tidak apa-apa, menangislah sebanyak yang kau mau, aku tak akan menghalangi."


"..."


Hiks, tangisnya seketika pecah. Airmatanya seakan menjadi bukti bahwa Rin sedang meluapkan kesedihannya, dadanya terlalu sesak untuk menahan semua itu. Pria itu serius pada perkataannya, dia sama sekali tak menganggu Rin yang tengah menangis, sorot matanya terasa dingin, apa itu sebuah kekesalan? Itu terlalu nampak jika dianggap bukan.


"Sudah menangisnya?"


"Iya."


"Kau menangis selama 7 menit 11 detik," ujar Vin melihat arlojinya.


"Untuk apa kau menghitungnya?"


"Iseng saja,"


"..."


Airmata itu meredupkan keceriaannya, itu membuat Vin sedikit jengkel. Netra hitam itu tak lepas dari Rin barang satu detik pun, ia tak dapat menahannya, dengan perlahan ia menyentuh helai rambut Rin yang berantakan, membuat gadis itu terperanjat. Mata mereka bertemu, tatapan mereka terlihat sama. Ia mengusap perlahan sudut mata yang habis mengeluarkan air asin itu, membuat Rin mengerjipkan mata karenanya.


"Jangan khawatir! Kalau pun memang bukan bajingan itu pelakunya, kau tak perlu putus asa dan sedih. Pembunuh sialan itu pasti akan segera tertangkap, bahkan hidup atau pun mati."


"..."


Gadis itu terkesiap, kata-kata itu seakan menyuruhnya untuk jangan putus asa, ah tidak, itu terdengar sedikit berbeda. Wajah tampan yang sedang tersenyum itu membuat gadis itu gugup, kata-katanya mungkin sulit dimengerti tapi itu menenangkan.


Ini tidak akan berhasil, aku tak bisa menahannya lagi, ini begitu intens, bahkan sedikit lagi hidungnya menyentuh hidungku. Aku bisa merasakan deru nafasnya di wajahku, hangat dan manis.


Rin mencoba mendorong Vin saat itu namun genggaman Vin ternyata tak dapat membuat gadis itu menjauh, "Kau sangat jelek ketika menangis seperti tadi, tapi kenapa aku tetap menyukaimu," ujarnya dengan suara yang rendah. Gadis itu bungkam, pupilnya terlihat bergetar, bunyi detak jantung terdengar menggema bagai ketukan drum, bahkan Rin tak tahu apakah itu suara dari jantungnya atau jantung Vin. Kali ini ia terhanyut, ia tak mencoba melepaskan diri, seperti air yang mengalir, Rin menikmati arusnya.


"Aku akan menciummu dalam satu menit, jika kau ingin lari maka inilah saatnya!"


"..."


Rin bisa saja mendorongnya dan menjauh, tapi dia tak melakukannya, gadis itu tak bergeming, itu membuat seringaian tipis di raut wajah pria itu. Tangannya menyelusup dalam rambut Rin yang panjang, memegang rahang gadis itu dan mendorong wajahnya lebih dekat, bibirnya berhasil menyentuh bibir mungil gadis itu, membuat ciuman singkat yang membuat mereka sama-sama tersenyum. Tidak, kali ini bukan ciuman singkat, itu telah berubah menjadi lebih panas saat yang kedua kali.


Lidahnya menari didalamku, kami berciuman penuh dengan gairah, aku dapat merasakannya. Aku tak bisa menyangkalnya, akan sangat munafik jika kubilang aku tak menikmati ciuman ini, perasaan ini menggelitikku, suara yang menyebalkan itu kini selalu aku tunggu, wajah mengesalkan miliknya itu kini membuatku tersipu, menimbulkan rona merah pada kedua pipiku. Ya, aku tak bisa menahannya lagi, aku jatuh cinta padanya.


Mereka terengah-engah, saling menatap dengan tatapan yang tak biasa. Vin menutup setengah wajahnya dengan salah satu lengannya, pupilnya bergetar. Sial! Itu manis sekali, aku hampir memakannya.