PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 7 : A Friend



Mereka saling memandang, membuat jantung Rin berdebar bersamaan dengan wajahnya yang memanas. Nick yang memakai hodie berwarna biru muda itu tampak tampan walau tak ada senyum diwajahnya, sorotannya pun tetap datar saat menyapa.


"Kau sendirian?" tanyanya.


"I-iya."


"Boleh aku bergabung?"


"Ah, t-tentu."


Raut wajahnya tetap datar, ia menarik kursi kayu itu dan mendaratkan bokongnya tepat didepan Rin. Mereka diam, menciptakan suasana canggung, ini pertama kalinya bagi Rin berdua bersama Nick, mereka sudah saling mengenal, namun itu hanya sebatas kenalan antara pembeli dan penjual.


"Aku mendengar dari Isabella, kau akan mendaftar kuliah, benarkah?" pertanyaan Nick memecah suasana canggung itu, untuk beberapa detik, Rin terkesima, namun pada akhirnya ia tersadar kembali.


"Ah, iya benar, aku malah sudah mendaftar, dan sore ini aku akan mengikuti ujian seleksinya," jawab Rin dengan nada malu-malu.


"Benarkah? Itu bagus, semoga berhasil," ujarnya datar.


"Y-ya, terimakasih."


Terlihat pipi Rin memerah, kurasa Nick menyadari hal itu namun tetap tak menggubrisnya, dia benar-benar pria yang dingin, pantas saja kalau Bella tak menyukainya, bila diperhatikan, dia memang tampan, sikap dan wajahnya itu sangat serasi, dia sedikit tertutup, bahkan Rin tak tau apakah dia sudah mempunyai kekasih atau belum. Tanpa disadari, Rin jadi menatapnya, mungkin Nick belum menyadarinya karena sedari tadi ia hanya menunduk dan fokus dengan ponselnya, netra biru tua itu terus memandang, berusaha menganalisa tanpa sadar.


Benar, wajah Nick tidak ada apa-apanya jika dibandingkan anak itu, batin Rin.


Eh?


Kenapa aku harus membanding-bandingkan Nick dengan anak itu?


Rin memejamkan matanya, berusaha menghilangkan pikiran yang tidak penting yang seharusnya tidak dipikirkan. Bersamaan dengan itu, makanan mereka telah tiba, bahkan disaat makan, mereka hanya saling diam, membuat Rin menjadi serba salah dan bingung saat itu.


"Kau tinggal dimana?" sekali lagi, pertanyaan dari Nick lah yang memecah suasana canggung itu.


"Apartemen Rodeo."


"Itu tak jauh dari sini,"


Rin menganggukan kepalanya pelan sembari memasukan makanan dalam mulutnya, terlihat jelas bahwa percakapan itu hanyalah sebuah basa basi, wajahnya tak memandang, bahkan ia tetap sibuk dengan layar ponselnya, ia tak memesan makanan, hanya beberapa kentang goreng dan cola sebagai pelengkapnya. Sesekali Rin melirik kearah pria itu, entah apa yang menarik dari ponselnya, bahkan netra hazel itu tak beralih dari sana. Ini jadi terasa aneh, pasalnya Rin bukanlah Bella yang dapat dengan mudah mencairkan suasana, gadis ini kaku, ia bahkan sangat buruk dalam hal menghadapi pria, terlebih ini adalah pria yang disukainya.


"Kau tinggal sendirian?" tanyanya lagi


"Ya."


"Ah, bukan seperti itu,"


"Bukan seperti itu?"


"Um, aku sudah tak punya siapa-siapa lagi, sebenarnya,"


Untuk pertama kalinya pria itu mendongak, menatap Rin dengan tatapan yang bahkan mempunyai banyak sekali pertanyaan, sepertinya jawaban Rin membuatnya tertarik, ya itu hal wajar bagi orang sedingin Nick sekalipun.


"Apa maksudnya?"


"Eh?"


Pertanyaannya membuat Rin kikuk, untuk beberapa saat ia terpaku dengan menatap netra hazel yang sedang menatapnya itu, tanpa disadari semuanya mengalir begitu saja, bahkan tanpa beban Rin menceritakannya pada Nick, ada saat dimana Rin mendapati Nick tengah terkejut, itu terlihat dari pupilnya yang membesar dan bergetar pelan, pria itu bahkan mematikan layar ponselnya dan memasukkannya kedalam saku celananya, sepertinya ia sangat tertarik dengan yang diceritakan oleh Rin, beberapa menit yang lalu ia masih berbicara dengan enggan, namun sekarang semua terlihat berbeda, ia mendengarkan Rin dengan seksama, kadangkala ia menampilkan ekspresi berpikirnya, dia tetap diam walau mendengarkan, namun pancaran di pelupuk matanya sedikit berbeda, apa itu karena ia merasa iba pada Rin, bahkan Rin sendiri tak dapat memastikan itu.


"Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaanmu saat itu, aku turut berduka," ujar Nick pelan.


"Terimakasih." jawab Rin.


"Kalau boleh jujur, aku tidak menaruh harapan pada para polisi-polisi itu, tapi aku sungguh menanti saat dimana pembunuh itu tertangkap," ungkap Nick.


"...Ya, aku juga."


Suasana ini menjadi berbeda seketika, entah ini hanya perasaan Rin atau memang kenyataannya, perlahan sikap dingin itu kini luruh, bagaikan es yang tengah mencair dengan perlahan, sedikit demi sedikit perbincangan mereka menjadi lebih menyenangkan, senyumnya yang selalu bersembunyi itu pun kini mulai menampakan diri.


"Aku sudah selesai dan harus pulang, aku harus mempersiapkan ujianku."


"Oh benar juga, kalau begitu bisakah aku meminta nomormu?"


"Nomorku?"


"Ya, bukankah sekarang kita ini teman?"


"..."


*


Teman katanya, untuk kata yang singkat seperti itu, efeknya berhasil membuat Rin melayang, ternyata menyenangkan, sepertinya hubungan itu mungkin akan berhasil, pertemanan itu. Hari itu, senyumannya terus saja mengembang disepanjang jalan itu, hal itu mungkin saja menjadi alasan ia melakukan ujiannya dengan baik hari ini.


Malam ini terlihat cerah, tak seperti malam yang sudah-sudah, banyak bintang yang bekerlip dan cahaya bulan yang meneduhkan malam itu, udara malam yang sejuk namun tetap membuat bulu kuduk berdiri. Rin tetap setia dengan senyumannya, sementara itu, pikiran warasnya tetap kalah setelah ditaklukan oleh beberapa gelas whiskey, pipinya sudah mulai memerah, ia memandang kearah bawahnya, lampu jalan yang menyorot dengan sinar warna kuningnya yang terang, tebersit akan bayangan sosok pria bertopi putih itu, kepalanya mulai merasa pusing, pandangannya kabur, mungkin karena ia sudah mabuk. Rin melangkah gontai setelah menutup jendelanya, merebahkan tubuh rampingnya diatas tempat tidur dan terlelap.