
"Jangan takut, kau orang yang sangat berharga bagiku. Aku sangat menyukaimu, kau tau itu kan?" ujar Vin sembari menyelipkan sebagian rambut Rin di belakang telinganya.
"... Membunuh itu... Bukan sesuatu yang harus dibenarkan, Vin."
"Ya, aku tau! Tenang saja, aku tak akan melakukan hal semacam itu lagi selagi kau ada disisiku." jawab Vin sembari tersenyum.
"Aku akan berubah menjadi apapun yang kau inginkan! Katakan saja padaku, aku akan melakukan apapun untukmu." Vin meraih tubuh Rin dan merangkulnya erat, sembari menutup kedua matanya dan tersenyum senang.
Gadis itu hanya diam dengan wajahnya yang ketakutan, tangannya yang masih terikat itu membuatnya tak bisa bergerak. Usapan halus Vin pada punggungnya itu tak membuatnya membaik, sebaliknya itu malah membuatnya semakin gemetar.
"Kau masih gemetar, apa kau masih takut padaku?" tanya Vin pelan sembari memainkan helai demi helai rambut Rin. Gadis itu masih diam, menutup mulutnya rapat sementara air matanya masih mengalir.
Denting jam yang berbunyi membuat keduanya tersentak, sudah lewat tengah hari, waktu tak terasa karena begitu banyaknya peristiwa. Vin menjauhkan diri, melangkahkan kaki untuk mengintip dari jendelanya yang setengah terbuka. Langit sangat hitam, angin yang bertiup kencang itu membuat rambut hitamnya beterbangan. Ia tersenyum saat melihat hujan mulai turun.
"Rin, diluar hujan." Vin berkata sembari membuka lebar jendela kamarnya. Hujan yang turun semakin deras, Vin membetulkan selimut agar tak membuat Rin kedinginan di ranjangnya.
"Tolong biarkan aku pergi," tukas Rin dengan suara yang bergetar.
"..."
Vin hanya diam memperhatikan wajah gadisnya yang terlihat sangat ketakutan. "Pergi kemana? Kau tak suka disini bersamaku?" tanyanya.
"..."
[Rin's pov]
Saat dia bercerita tentang masalalunya, semua bulu kudukku berdiri. Aku tak menyangka bahwa dia melewati masalalu yang begitu sulit dan menyedihkan. Aku merasa tidak pantas mengeluhkan semua kesialanku selama ini jika dibandingkan dengan semua yang sudah dilewatinya. Wajahnya yang tenang dan tetap tersenyum saat menceritakan semuanya padaku, masih terngiang di otakku. Hingga akhirnya tiba disaat dimana dia memulainya, membunuh anggota keluarganya, aku tak bisa mendengarnya lagi, itu terlalu menyeramkan bagiku. Tanpa disadari seluruh tubuhku bergetar karenanya, dengan senyumnya yang polos dia memberitahuku bahwa dia telah membunuh seseorang.
Aku mengerti betapa sakitnya dia saat itu, dia yang sendirian dikala semua orang menyiksa dan memperlakukannya sangat buruk, dia yang pada akhirnya memilih jalan yang mengerikan karena keadaan. Namun, tetap saja aku tak bisa menerima fakta sialan ini!
Dia berkata dia tak akan membunuhku, bahkan tatapan matanya sangat tulus padaku, jika dia terus seperti ini, aku bahkan tak akan percaya bila sebenarnya dia adalah seorang jagal yang kejam. Sejujurnya dia adalah kekasih yang sangat baik, bahkan aku sangat nyaman dan aman berada didekatnya, tapi bagaimana dengan sekarang?
Tidak, aku harus membuatnya mempertanggung jawabkan semua perbuatannya. Tapi disisi lain aku tak ingin kehilangannya, apakah perkataannya benar? Dia mencintaiku, apakah itu benar?
"Apakah itu sungguhan?" tanyaku tanpa sadar.
"Hm?"
Kulihat dia tertawa pelan dihadapanku, ia mengusap puncak kepalaku dengan lembut, aku menyukai perlakuannya itu.
"Tentu saja, aku bersungguh-sungguh."
"... Maka lepaskan ikatan ditanganku ini!"
"Ehm, iya nanti kulepaskan. Untuk sekarang seperti ini dulu, oke?"
Dia benar-benar tak bisa aku tipu, apa mungkin dia sudah mengira bahwa aku akan kabur setelah dia melepaskan ikatan ditanganku. Tidak bisa, aku harus segera memikirkan cara agar bisa keluar dari tempat ini. Walaupun aku sangat mencintainya, tapi aku tak bisa hidup dengan orang yang sudah sangat banyak melakukan dosa. Aku juga tak bisa berlama-lama disini, kenyamanan dan kasih sayang yang dia berikan padaku itu bisa saja menjadi bumerang bagiku, karena jauh dari lubuk hatiku aku masih ingin terus bersama dengannya.
"Apa yang kau pikirkan?" tanyanya.
"Ah, tidak. Aku hanya lapar," ujarku tanpa sadar.
"Kau lapar lagi? Pft, kau memang banyak makan, ya?" ujarnya sembari mencubit pipi kananku. Melihat wajahnya yang tersenyum, aku tak bisa menahan bibirku untuk terangkat, aku melepaskan senyum simpulku padanya.
"Kau mau makan apa? Aku akan buatkan untukmu,"
"Ah pasta, aku ingin makan itu!"
"Pasta? Hanya itu?"
"Iya,"
"..."
Dia menatapku, apa karena jawabanku yang asal-asalan itu? Sejujurnya aku hanya tak ingin dia terus berada di dekatku, nafasku sangat sesak.
"Baiklah, kau istirahatlah. Aku akan membeli bahannya sebentar dan membuatkannya untukmu," ujarnya dengan wajah ceria, dia melenggang pergi, menjauh dariku tanpa melepaskan ikatan tali yang mengekang pergelangan tanganku. Saat kulihat pintu sudah tertutup, aku segera menghela nafas panjang, tadi itu sungguh mengerikan pikirku.
Kupikir dia telah pergi, tak ada suara apapun lagi, hanya keheningan yang melanda dan membuatku ingin menangis. Aku tak lagi gemetar ketakutan, tapi jantungku masih berdebar memikirkan kalau dia bisa saja membunuhku disini. Bunyi hujan yang masih terdengar lewat jendela yang terbuka itu menyadarkanku. "Sepertinya dia memang sangat menyukai hujan, Pluviophile, itukah sebutannya? Hah, aku tak percaya semua ini!"
Aku merasakan airmataku telah mengering di pipiku, pikiranku kusut, tak ada yang bisa kulakukan agar aku bisa keluar dari sini. Suara pintu berdecit membuat jantungku hampir terlepas, apa dia sudah kembali? Secepat ini?