PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 37 : Kelam



Felix berjalan cepat dengan wajah yang menekuk, ia membetulkan jaket kulitnya dan melihat arloji ditangannya. Bunyi hentakan kaki dari sepatu hitamnya kini menggema dikoridor, namun seketika langkahnya melambat saat melihat pria dengan mata hazel itu sedang berjalan sembari menatapnya. Wajah mereka sama-sama tak memasang ekspresi, datar seakan tak saling menyukai, hingga akhirnya mereka saling melewati satu sama lain. Felix berhenti sesaat, menolehkan pandangannya kebelakang untuk melihat pria yang tengah berjalan lurus tanpa bergeming.


"..."


Tanpa berkata apapun, Felix berbalik kembali, melanjutkan perjalanannya dan melenggang pergi.


Bel pintu berbunyi sangat nyaring, Bella terkesiap dan segera membuka pintu apartemen Rin. Seorang pria yang tak lain adalah Nick telah berdiri diambang pintu, Bella memicingkan matanya sekejap hingga akhirnya ia menyuruh Nick masuk.


"Rin, Nick ada disini." Bella berkata dengan Nick yang mengekor di belakangnya. Rin tersentak, seingatnya dia belum memberitahu apapun soal dirinya pada Nick, kenapa dia kemari, pikir gadis itu heran.


Nick duduk dengan tampang datarnya, "Apa yang terjadi padamu?" tanyanya.


"Tidak ada apa-apa. Ini hanya sebuah kecelakaan," jawab Rin tersenyum kikuk. Raut wajah pria itu menekuk, ia menggeser kursinya agar lebih mendekat.


"Kau tak ingin memberitahuku apa yang terjadi? Lihat, pipimu bengkak. Kau yakin tidak ada apa-apa?"


"Dia masih lelah Nick, nanti aku yang ceritakan," ujar Bella menengahi.


"Hah, aku segera kesini karena khawatir padamu." Dia berkata sembari menghela nafas kasar. Rin hanya menatapnya heran, dia khawatir? Dan daripada itu, "Kau tau darimana kalau ada masalah yang menimpaku?" tanya Rin. Itu sukses membuat Nick tersentak, iris berwarna hazel itu menatap Rin dengan sedikit gugup, dia mulai salah tingkah dan itu membuat Rin mengerutkan dahinya untuk sesaat.


"Ah, aku tau dari teman-teman jurusanmu." Dia menjawab dengan senyumnya yang canggung.


"Oh wajar saja, sebagian anak-anak memang tau masalah ini," ujar Rin membalas senyum Nick.


"Benarkah? Kukira hanya aku yang tau, kenapa kau malah memberitahu anak-anak yang lain?" oceh Bella tak terima, namun Rin hanya tersenyum.


...****************...


Hutan didekat pegunungan hitam, hutan yang selalu menjadi saksi bisu si pembunuh membuang para korbannya. Kali ini pun begitu, rumput-rumput yang menguning akibat musim dingin dan hawa lembab yang terasa dingin disekitar hutan itu membuat merinding walaupun hari masih siang. Ada banyak polisi disana, tak ketinggalan dengan garis pembatas yang dibuat karena sesuatu yang mengerikan telah ditemukan disana.


Felix melangkah cepat untuk bergabung dengan para polisi disana, terlihat seorang pria mengenakan seragam polisi itu menyambutnya.


"Kau kemana saja?" tanya pria itu.


"Ah, aku ada sedikit urusan. Jadi bagaimana?"


"Mayatnya sudah dibawa untuk di autopsi,"


"Bagaimana mayatnya?"


"Wah bung, kau harusnya tak menanyakan itu. Jasadnya terlihat sangat mengerikan, bahkan kami hanya menemukan beberapa potong bagian tubuh mereka. Kurasa satu tangan dan satu kaki mereka telah hilang dimakan hewan buas."


"Mereka?"


"..."


Felix memilin-milin dahinya, "Lalu Ronny Hailey?"


"Buronan itu? Dia belum ditemukan."


"Hah, cepat juga dia bersembunyi. Kita harus kerumahnya sekali lagi setelah ini," ujar Felix yang dibalas oleh anggukan pria itu.


...****************...


[Rin] Kelam, bukankah itu artinya gelap dan suram? Aku tau arti kata itu semenjak aku kehilangan keluargaku, bahkan disaat langit cerah pun aku merasa buta. Ketakutan, kegelisahan, kepedihan bahkan kesepian, kerap kali aku rasakan setiap detik dalam hidupku. Depresi, rasa marah dan putus asa selalu memenuhi setiap inchi dari otakku. Aku merasa gila saat tau bahwa diriku sendirian dan tak berarti apa-apa, perasaan bingung yang tak ada habisnya ini membunuh akal sehatku. Hidupku hancur, yang kutahu hanya itu. Terimakasih untuk nikotin dan alkohol yang menemaniku hingga aku menjadi seperti ini, menjadi lebih parah tentunya. Anxiety itu menakutkan, membuatku serasa ingin mati saat dia datang menyerangku. Tapi, ternyata semua itu membuatku lebih kuat, penyerangan yang dilakukan oleh Ronny sialan itu untungnya tak membekas padaku, kukira aku akan trauma dan itu menyiksaku. Kuakui aku sangat takut saat itu, aku berpikir aku benar-benar akan mati ditangannya, namun ternyata aku masih hidup dan mentalku juga bisa diperbaiki, setidaknya aku masih bersyukur walau telah melalui peristiwa keji itu. Aku berada di ruangan kelam itu sangat lama, baru-baru ini aku melihat setitik cahaya dalam hidupku. Ketika aku berpikir itu cahaya, wajah Vin dan senyum manisnya selalu saja memenuhi pikiranku. Aku tak membenci itu, sesungguhnya aku menganggap dia sebagai penyelamatku.


"Rin?"


Ah, aku terkesiap. Suara sahabatku dan sorot mata pria itu seakan membuat jantungku berhenti. Aku tak mengerti, pria dengan netra hazel ini selalu memandangku dengan datar, aku ingin tahu, apa yang ada dipikirannya saat memandangku seperti itu. Aku menyukainya, dulu. Oh apa itu berarti aku tak menyukainya lagi sekarang? Maksudku, jantungku tak lagi berdebar saat didekatnya, bahkan sekarang aku merasa ada sesuatu yang dia sembunyikan dari semua orang. Saat dia menyatakan perasaannya padaku, perasaanku sangat ambigu. Lalu, hari ini dia berbohong padaku, aku bersumpah tidak ada yang tau mengenai hal ini kecuali Bella, Vin dan Felix, lantas kenapa dia bilang dia mengetahui keadaanku dari anak-anak kampus? Ini sungguh mengangguku.


"Ada apa? Apa kau merasa ada yang sakit? Wajahmu sedikit pucat," tanya Nick mendekat padaku.


"Oh tidak, aku hanya haus." aku menjawab asal.


Kulihat dengan cepat Nick menuangkan air putih dan memberikannya padaku, dia begitu siaga. Dengan memamerkan senyum di wajahnya dia menyuruhku segera minum air itu agar dahagaku hilang.


"Kuharap kau cepat membaik, kita bahkan berjanji untuk main dirumahku akhir pekan," ujarnya.


"Wah, kerumahmu Nick? Apa aku boleh ikut, aku belum pernah kerumahmu."


"Tentu, aku sudah bilang pada Rin bahwa kau boleh ikut."


"Wah, kau yang terbaik. Lalu, apa Vin juga ikut?"


"Vin?"


"Iya, dia kan juga teman kami, khususnya teman Rin."


Aku tidak akan menyangkalnya, mulut gadis ini memang berbahaya. Bahkan dia menyenggol-nyenggol lenganku saat mengatakan hal yang ambigu itu. Nick berusaha menahan rasa kesal, itu terlihat dari senyum canggungnya.


"Tidak, jangan dengarkan ocehan dia, anak ini hanya berlebihan." elakku.


"Baguslah, karena aku memang tak berniat mengundangnya."


Dia tersenyum, tapi sejujurnya itu terasa menyeramkan.