PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 13 : Makan berdua bersama



"Akhirnya ketemu,"


Suara berat dan dalam yang dikeluarkan orang itu membuat Rin tertegun dan langsung mendongak menghadapnya, gadis itu membulatkan kedua matanya, terlihat ia tampak terkejut saat seorang pria yang berdiri tepat dihadapannya itu tersenyum.


"Vin?"


"Ah, kau masih mengingatku rupanya, senangnya," kata pria itu.


Sorot tajam dari enam buah bola mata kini dapat dirasakan dari samping kanan, kiri maupun didepan Rin, jika Bella menatapnya dengan tatapan bersinar dengan penuh cahaya, maka tatapan Nick suram dan tajam bagai membenci dunia, lalu tatapan dihadapannya ini malah lebih membuat merinding, itu tatapan berseri-seri yang dipenuhi dengan bunga.


"Ah, situasi macam apa ini?" gumam Rin sangat pelan.


"Aku sudah lama mencari-carimu, Rin" ujar Vin.


"...Kenapa kau mencariku?" jawab Rin malas.


"Aku ingin menagih janjimu padaku,"


"Huh?"


"Jangan bilang kalau kau lupa, padahal aku sudah lama menantikan itu,"


"Eh?"


Dia menginginkan traktiran, Rin sudah mengingat itu, tapi gaya bicara beserta ekspresi menyebalkan itu membuat suasana nya menjadi ambigu, Rin yakin yang sebenarnya terjadi itu tak sama dengan yang ada di otak kecil Bella.


"Aku akan duluan," tukas Nick dingin.


Suara pria itu sedingin es, ia melenggang pergi walaupun Rin dan Bella belum mengatakan apapun, ia melewati Vin dengan lirikan yang datar terhadap pria itu, namun Vin hanya meliriknya sekilas dan memberinya seringaian kecil, itu seperti mereka bertarung melalui ekspresi dan tidak ada satu pun orang yang menyadari itu.


"Dia kenapa?" bisik Bella pada Rin.


"Entah lah." ujar Rin menaikkan kedua pundaknya pelan.


"Auranya menghitam, menakutkan."


"..."


Nick pergi begitu saja, membawa kesuraman bersamanya, itu hal yang membingungkan, sepertinya dia sangat tidak menyukai pria yang sedang tersenyum manis ini. Dibandingkan dengan itu, ada semacam perasaan lega dan juga senang yang terasa walau itu berhasil ditutupi dengan ego yang besar.


"Nah Rin, aku kesini hanya ingin menyapamu, mulai sekarang kita akan sering bertemu,"


"..."


Rin tak membalas perkataannya, mungkin tatapan matanya bisa membuat Vin mengerti, sorot mata biru tua itu seakan berkata "Enyahlah dari sini!" dan itu malah mengundang kekehan singkat dari Vin.


"Pft, baiklah-baiklah, aku akan pergi," ujarnya terkekeh, terlihat Bella sampai tak mengedipkan matanya karena pesona luar biasa pria itu, mungkin Bella akan pingsan jika saja Vin tak segera pergi, bahkan Vin melayangkan sebuah kedipan matanya pada Rin yang membuat gadis itu semakin mengerutkan dahinya.


"Astaga, dia mengedipkan sebelah matanya padamu dan yang terkena dampaknya adalah aku," ujar Bella memegang dadanya.


"Hei, kau harus menceritakan semua kejadian ini padaku!"


"Kejadian apa yang kau maksud?"


"Ya ampun, kau masih mengelak, ada apa diantara kau dan si tampan itu? Aduh kenapa aku jadi berdebar,"


"Kau ini apa-apaan? Kenapa berlebihan begitu? Sudahlah, kita harus segera masuk ke kelas, dosen mungkin segera datang."


*


Mata pelajaran ini sungguh membosankan, terlebih ketika dosen didepan itu berbicara bak mendongeng, membuat seluruh anak-anak dikelas itu mungkin akan merindukan ranjang mereka masing-masing. Beberapa kali Rin menguap, mengakibatkan air mata mengalir dari sudut matanya, terlihat Bella sibuk dengan ponselnya, anak itu mungkin sibuk mengatur jadwal kencan butanya lagi.


Namun, kali ini Bella hanya sibuk sendirian, dia tak menawarkan apapun pada Rin, biasanya anak itu akan heboh mengajak Rin mengikuti kencan buta bersamanya, itu hal yang merepotkan dan Rin membencinya, ya walau pada akhirnya Rin tetap ikut karena terpaksa.


Dan kali ini, itu tidak terjadi. Rin ingat, beberapa menit yang lalu ia sempat tercengang tatkala Bella berkata, "Sayang sekali, aku tak bisa lagi mengajakmu ikut kencan buta karena sekarang kau sudah punya pacar yang tampan."


Anak ini, jika saja dia bukan temanku, sudah pasti aku akan menjitak kepalanya, batin Rin.


Terlepas dari itu, hari ini Nick mengiriminya pesan, itu tepat beberapa saat setelah ia melenggang pergi meninggalkan kami bertiga, itu hal yang mengejutkan namun isi pesannya sangat sulit dipercaya, Nick ingin pulang bersama Rin hari ini, dengan kata lain dia akan mengantar Rin pulang.


Itu memang hal yang cukup mengagetkan. Ya, saling mengirimi pesan itu memang hal yang sudah biasa bagi mereka sejak saat itu, isinya pun hanya sekadar basa basi dan membahas persoalan seputar kuliah.


Nick: Rin, mau pulang bersama setelah ini?


Untuk kalimat sesingkat itu, efek bahagianya sangat luar biasa, jantung Rin berdebar walau hanya membayangkannya saja, apa mungkin berpacaran dengannya itu bukan hal yang mustahil? Itu seringkali Rin pikirkan, namun Rin belum mengetahui apapun tentang pemuda itu, sifatnya yang tertutup itu sangat tak mudah dimengerti. Walau begitu, perasaan suka itu memang sukar untuk dihilangkan begitu saja, terutama bagi perempuan, pada saat pertama kalinya Rin memutuskan untuk menyukai pria itu, tentu karena sifatnya yang pendiam dan dingin seperti itu.


Hah, aku berpikir terlalu jauh. Dia hanya mengajakku pulang bersama, dan aku sudah memikirkan hal-hal aneh yang bahkan belum tentu akan terjadi.


Rin menopang dagu dengan tangannya, menolehkan pandangan ke samping agar bisa melihat pemandangan luar lewat jendela kelas.


Kali ini pun sepertinya akan turun hujan dimalam hari, matahari memang menampakkan diri, tapi sepertinya cahaya yang ia keluarkan tidak ada rasanya, suhunya masih saja sedingin ini, ini lah efek musim dingin dikota yang Rin tinggali itu.


Kelas akhirnya selesai, dengan demikian ini waktunya pulang. Rin menyusuri jalan, melangkahkan kakinya menuju tempat dimana Nick telah menunggunya, Bella sudah pergi sedari tadi, sepertinya ia sangat bersemangat dengan kencan butanya itu.


Tepat di depan gerbang kampus, Nick sudah menunggu dengan mobil hitamnya, ia tersenyum, membuat jantung Rin berdebar dan malu.


Ini pertama kalinya Rin menaiki mobil Nick dan hanya berdua dengannya, wangi diffuser mobilnya cukup menyengat, itu seperti aroma bunga yang bercampur dengan parfum dari tubuhnya. Tapi itu tidaklah penting, yang terpenting sekarang adalah apa yang harus Rin lakukan, dia sangat kaku, bahkan terkesan canggung.


"Bagaimana kalau kita makan terlebih dulu, kau lapar kan?"


"Ah, bo-boleh saja."


Rin mengalihkan pandangannya, menghadap jendela seolah melihat pemandangan diluar mobil, namun Nick hanya menatapnya dengan tatapan yang datar, beberapa saat ia tersenyum kecil, karena ia tahu bahwa Rin saat ini sedang malu padanya. Sorot mata hazelnya menghadap kedepan dengan serius, hingga akhirnya mobil hitam itu menepi kesebuah restoran.


Yang benar saja, aku benar-benar akan makan bersama dengannya dan berduaan saja, jantungku tak siap untuk ini, rasanya akan ada yang meledak dari dalam sini.