PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Prolog



Black Mountain, 13 Desember 2012


Pria itu terseok-seok, meninggalkan banyak bekas darah dilantai ketika ia memindahkan tubuhnya.


"SNIF...SNIF.... TOLONG, SIAPAPUN TOLONG AKU!" teriaknya penuh ketakutan.


Dari mana asalnya darah yang banyak itu kalau bukan dari perutnya yang robek. Ia memegang perutnya yang terluka, menahannya dengan satu tangan ketika tangan yang lainnya ia gunakan untuk menggerakan tubuhnya.


Semakin lama gerakannya melambat, ia melemah saat tubuhnya kini telah kehilangan banyak sekali darah. Raut wajahnya ketakutan, bibirnya pucat dan keringat membanjiri wajah angkuhnya.


Tak ada sosok menakutkan seperti pencuri berperawakan tinggi besar atau pria gila dengan sebilah kapak di tangannya, yang ada hanya seorang bocah laki-laki kecil dengan wajah pucat, tubuhnya sangat kurus, bahkan tulang-tulang pada bagian pipi dan siku tangannya terlihat begitu menonjol, dia menyedihkan.


"PERGILAH, MENJAUH DARIKU...." teriak pria itu.


Dia berusaha mengusir bocah kecil yang hanya diam itu. Selain bungkam, bocah itu hanya berdiri layaknya orang idiot dengan memegang sebuah pisau dapur berlumuran darah ditangannya. Sesekali ia menyeka rambut pendeknya yang kasar, wajahnya yang lugu dan tirus itu penuh akan bercak-bercak darah yang menempel.


Kali ini bocah itu menyeringai, menjadikan ketakutan pria sekarat itu masuk akal.


"Kenapa kau menyuruhku menjauh? Bukankah tadi kita sangat dekat... Ayah," ujar bocah itu menyeringai.


"Hah? D-dasar bocah gila, menjauh dariku... Iblis." teriak pria itu dengan nafas tersengal.


Pria itu semakin lemas, bahkan ia tak sanggup menggerakan tubuhnya lagi, pintu keluar masih jauh tapi perutnya terasa amat sakit, darah masih bercucuran keluar, membuat mata bocah itu berbinar saat melihatnya.


Pandangannya mulai kabur, namun pria itu berusaha untuk menahannya agar tetap tersadar, iblis kecil tepat dihadapannya itu sungguh berbahaya, walau pada akhirnya ia sadar yang membangkitkan iblis pada bocah itu adalah dirinya sendiri.


Beberapa jam yang lalu dimana pria itu berusaha melampiaskan nafsunya pada seorang bocah laki-laki itu, perilaku bak binatang yang ia lakukan membuat seorang bocah kecil berubah menjadi seorang psikopat yang kejam, yang akan membunuhnya disaat ini juga. Pria itu menangis, menjerit dan memohon pada bocah yang selama ini ia siksa dan lecehkan itu, namun bocah laki-laki yang sudah lama tersiksa itu tak memperdulikannya, ia tak bisa lagi merasakan perasaan apapun dalam dirinya, otaknya bahkan tak mampu untuk memikirkan hal lain lagi, ia hanya perlu menyiksa dan membunuh pria yang ada dihadapannya itu, hanya itu tujuannya.


Hujan diluar terdengar mengamuk, bunyi petir dan kilat yang bahkan menerangi seluruh jagat raya itu membuat bocah itu terlihat bersemangat. Bocah itu menyukai hujan, sepertinya begitu.


"Rasanya aku ingin keluar dan menikmati hujan secara langsung." gumam bocah itu.


Bocah laki-laki itu berjongkok, menyaksikan dengan datar bagaimana pria itu meregang nyawa akibat tiga tikaman diperutnya.


"Sepertinya ia telah mati." gumam bocah itu pelan.


Dia masih berjongkok di sana, membersihkan sisa darah dari pisaunya menggunakan kaos yang ia kenakan. Senyap, hanya suara hujan turun yang terdengar dari celah jendela.


Ia menyeringai kembali, "Nah, dia sudah pulang." gumamnya pelan.


Ceklek...


Wanita dengan rambut berwarna cokelat itu pun masuk kedalam rumahnya dengan menenteng kantong belanja dikedua tangannya, rambutnya sedikit basah terkena hujan dari luar. Ia tersentak saat mendapati rumahnya begitu gelap, ia mengerutkan dahinya, bahkan para tetangganya pun terlihat aneh. Hujan diluar sangat deras, mengakibatkan langit menjadi sangat gelap walau belum malam, wanita itu berdecak dan menghidupkan lampu ruangan itu.


Klik!


TUK...


Ia menjatuhkan kantong belanja dari kedua tangannya, semua buah dan sayur itu berserakan, bahkan apel-apel yang terlihat merah dan segar itu menggelinding entah kemana. Wanita itu terpaku, matanya mendelik, ia menutup mulut dengan kedua tangannya, matanya memerah dan berkaca-kaca.


"RICHAAAAAAAARD......" teriaknya sembari berlari menghampiri pria yang telah terbujur kaku dan bersimbah darah. Ia menangis dan menjerit histeris.


"Oh tuhan apa yang terjadi, Richard kumohon bangunlah, siapa yang melakukan ini padamu Richard, demi tuhan bangunlah," ujarnya sembari mengguncang-guncang tubuh yang sudah tak bernyawa itu.


"Percuma saja, dia sudah mati." timpal bocah laki-laki yang datang tiba-tiba itu.


Wanita itu menoleh kearahnya, ia tertegun sembari menelan salivanya kasar. "A-apa yang kau katakan? Apa maksudnya itu?" tanya wanita itu ragu. "Dia sudah mati, aku sudah membunuhnya." jawab bocah itu singkat.


"..."


Hening. Wanita itu tak bisa berkata apapun lagi, ia membulatkan matanya lebih lebar hingga terlihat jelas kalau pupilnya sedang bergetar, ia terlihat sangat syok. "Tidak, ini tidak mungkin, Richard kumohon bangunlah!" teriaknya sembari menangis. Ia terus saja mengguncang tubuh pria itu hingga beberapa menit lamanya, hingga ia tersadar bahwa pria bernama Richard itu telah tiada, ia menangis sejadi-jadinya.


"Dasar anak iblis, kau bukan manusia, kau iblis" umpat wanita itu dengan sorot mata kebencian.


Wanita itu terus meracau beriringan dengan tangisnya yang pecah, tangannya berlumuran darah, cairan kental berwarna merah itu mengalir tanpa henti walau pria dipangkuannya itu telah mati. Wanita itu terus memaki dan mengutuk bocah itu dengan kata-kata kasar yang bahkan tak pantas dikatakan. Namun bocah itu hanya diam, raut wajahnya tampak bersemangat dan menggelora, itu adalah pertama kalinya ia melihat begitu banyak darah yang keluar dari tubuh seseorang, tentu darah yang dihasilkan oleh luka-luka ditubuhnya dulu tak sebanding dengan itu. Rasanya memang menyenangkan, ekspresi bocah itu seakan mengatakan hal itu. Ia kemudian menyeringai, membuat si wanita itu terdiam ketakutan. Ia mengangkat tangannya, tangannya yang kurus itu tengah mengenggam sebuah pisau dapur yang lancip dan siap menikam siapapun yang berada didekatnya.


"Tolong jangan bunuh aku, tolong jangan lakukan itu," wanita itu memohon.


Bocah itu seakan tak peduli sekalipun wanita itu mengemis dan memohon ampunan padanya, ia tersenyum ngeri, dengan wajah pucat dan tubuh kurusnya ia melangkahkan kaki mendekat kepada wanita itu.


"TIDAK, KYAAAAAAAAA"


Lengkingan yang mampu memecahkan gendang telinga itu akhirnya lenyap bersamaan dengan pisau yang menancap di tenggorokannya, tentu darah segar mengalir bak air keran yang sedang dibuka, matanya melotot, mulutnya mengangah, dan airmata memenuhi sela matanya, wanita itu tewas dengan satu kali tusukan. Bocah kurus itu tertawa bersamaan dengan suara hujan yang menderu keras. Ia berjalan kearah jendela, melihat dari sebuah celah, para tetangga tak ada yang keluar, namun bisa dipastikan mereka mendengar lengkingan wanita dan pria sialan itu. Tapi siapa yang peduli, tidak ada saksi mata, lagipula siapa yang akan menyangka bocah kecil yang lugu inilah tersangka sebenarnya, dia hanya perlu bersandiwara sedikit lalu semuanya terselesaikan. Bocah kurus yang berumur sekitar 12 tahun itu pun melenggang pergi, menaiki tangga menuju kamarnya, ia membuka jendela kamarnya, bersenandung dan bersiul menikmati hujan yang turun saat itu sembari tersenyum senang.