PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 26 : Confession



"Ah Kak Felix, kau sedang jalan-jalan juga?" ujar Rin canggung.


"Tidak, aku ada sedikit urusan tadi. Kau sudah makan siang? Mau makan bersama?"


"..."


"Maaf, kau siapa? Apa kedua matamu tak bisa melihat kalau Rin sedang bersamaku?" ujar Nick sedikit kesal.


"..."


Gadis itu hanya menghela nafasnya kasar, situasi seperti ini, dia tak menyukainya. Netra biru tua itu melirik kearah Vin yang berdiri tak jauh diantara kedua pria yang sedang bersitegang itu. Ia malah terkekeh sembari menatap Rin, gadis itu mengerutkan dahinya dan itu malah membuat pria itu hampir melepas tawanya.


"Hei, santai saja bung. Aku tak tau kalau ternyata kalian sedang berkencan," ujar Felix.


"Nah, sekarang kau sudah tau bukan?" jawab Nick kesal.


Ya ampun, bocah ini menyebalkan sekali, batin Felix.


Polisi berambut emas itu pun melangkah mendekat kearah Rin, "Kenapa kau mau menjadikan pria menyebalkan ini sebagai pacar?" bisiknya didekat telinga Rin. "Hah? Dia bukan pacarku," jawab Rin dengan suara kecil.


Felix tertegun, hingga akhirnya ia tersenyum dan mengalihkan pandangannya kearah Nick. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Dah Rin," ujarnya sembari melenggang pergi begitu saja.


Situasinya jadi aneh semenjak Felix pergi, bersamaan dengan itu, Vin pun malah sudah menghilang, entah kemana perginya anak itu, terakhir kali dia terlihat menertawai Rin, lalu ia lenyap begitu saja. Pria itu benar-benar seperti hantu, datang dan pergi dengan tiba-tiba. Daripada itu, mengapa Nick terlihat begitu kesal? Dia diam, bungkam dan berjalan dengan raut wajah yang tampak seram, bahkan sorot matanya datar dan menakutkan, rasanya Rin ingin pulang sendirian saja.


Jalanan terlihat sedikit sepi dari biasanya, apa itu karena langitnya sudah mulai menghitam? Pada akhirnya hujan akan turun lagi malam ini, rumput-rumput terlihat mengering, mereka akan segera menghijau saat musim dingin ini berakhir. Disepanjang jalan Nick tetap saja diam, namun Rin tak berani untuk menanyakan apa yang terjadi padanya. Gadis itu duduk dengan tegap, mengepalkan tangannya kuat dikarenakan suasana hati Nick yang membuatnya menjadi tegang, sesekali ia menolehkan pandangannya, saat ini mobil melaju dengan kecepatan sedang, terlihat taman indah dengan beberapa pasangan berjalan disana. Lampu-lampunya sangat banyak, mereka terlihat indah saat malam hari, namun sayangnya taman itu akan sepi saat malam dikarenakan teror gila disini, sebenarnya bukan hanya taman itu, ada banyak tempat di sini yang akan sepi saat malam hari semenjak kejadian-kejadian mengerikan itu. Semuanya mengetahui hal itu, setidaknya semua penduduk asli disini.


"Apa kau takut padaku?" ujarnya tiba-tiba.


"Ah, takut? Mm..."


"Dari tadi kau mengepalkan tanganmu, apa kau ingin memukulku?"


"Tidak, mana mungkin aku seperti itu," jawab gadis itu menggoyangkan kedua telapak tangannya.


Nick kembali diam, ia mempercepat laju mobilnya, tatapannya kembali datar, nyaris untuk mengetahui apa yang tengah ia pikirkan. Bannya berdecit, membuat Rin terheran kenapa Nick memberhentikan mobilnya tiba-tiba. Apartemennya masih beberapa kilo lagi, hal itu membuat gadis itu memperhatikan sekelilingnya, mengapa Nick berhenti disana, di pinggir danau Chalcanthite.


"Nick, kenapa kita berhenti disini?" tanya Rin ragu.


"..."


"Karena aku ingin lebih lama bersamamu," ujarnya.


Gadis itu terbelalak, jantungnya berdebar seketika, tangan yang ukurannya lebih besar itu kini sedang menyentuh dan mencoba mengenggam tangannya. Ekspresi pria itu tampak berbeda, bahkan hentakan dari detak jantungnya pun terdengar jelas. Kini tangannya telah berhasil mengenggam tangan gadis itu, netra hazel itu tak berhenti dan beralih dari wajah Rin yang kebingungan. Perasaan menggelitik ketika salah satu jari Nick berusaha untuk menyelipkan rambut Rin kebelakang telinganya.


"Aku akan mengatakan perasaanku," ujarnya parau.


"..."


"Aku menyukaimu, Rin."


Hari itu hujan bahkan belum turun, namun Rin sudah merasakan sambaran petir yang sangat kuat, itu mengenai tepat di bagian dadanya, membuat jantungnya berdetak kencang dan sulit berpikir. Apa yang barusan saja dia dengar? Pengakuan cinta? Rin membuka matanya lebih lebar dan mengedip-ngedipkannya beberapa kali, benarkah Nick sedang menyatakan cinta, pikirnya. Terlihat Nick menarik sudut bibirnya keatas, menyerupai sebuah senyuman yang simpul, ia mendekatkan wajahnya perlahan, deru nafasnya bahkan terasa saat hidung mancungnya hampir mengenai hidung Rin saat itu. Apa yang hendak dia lakukan? Itulah yang sedang Rin pikirkan. Nick adalah pria yang selama ini ia sukai, akhirnya pria itu akan menjadi miliknya kalau saja Rin menerima situasi ini. Namun, tanpa sadar Rin mengalihkan pandangannya, membuat pria itu berhenti dan mengerutkan dahinya untuk sesaat.


Dia menolakku? Bukankah dia sangat menyukaiku, batin Nick.


Jantungnya masih berdebar, namun matanya kini tak kuasa untuk menatap mata hazel itu. Perlahan tatapan pria itu kini menjadi datar seperti biasa, ia mendorong tubuhnya menjauh kebelakang dan menarik tangannya perlahan. Ia menghela nafas kasar, itu terdengar jelas.


Apa dia marah?


"Maafkan aku Rin, sepertinya aku melakukan kesalahan karena terbawa suasana, aku benar-benar minta maaf karena membuatmu tak nyaman lagi," ujarnya parau.


"Tidak, bukan seperti itu. Hanya saja ini terlalu tiba-tiba,"


"Kau benar, aku tak bisa menahan diri karena terlalu menyukaimu, kau bahkan belum menjawabnya, jadi apa kau mau menjadi pacarku, Rin?" tanyanya.


"Ah, aku-"


"Hah, lagi-lagi aku terburu-buru, kau tak harus menjawabnya sekarang. Pikirkanlah terlebih dahulu, aku akan menunggu," ujarnya tersenyum tipis.


Hari semakin gelap, tidak terasa sudah hampir malam, mereka telah melakukan banyak hal hingga tak terasa waktu berjalan dengan sangat cepat. Rin berjalan gontai menaiki tangga dengan memegang seikat bunga Lily, dia masih terus memikirkan Nick. Laki-laki yang ia sukai kini menyatakan cinta, dan dia secara tidak langsung menolaknya. Harusnya dia bahagia hari ini, tapi itu tidaklah terjadi. Apa yang sedang dipikirkan laki-laki itu, selama ini dia tak pernah mengungkit soal perasaannya pada Rin, walau Rin sudah menunjukkan perasaannya sendiri dengan jelas, dia juga pernah menghilang tanpa kabar, lalu hari ini tiba-tiba ia langsung menyatakan perasaannya secara gamblang saja, wanita mana yang bisa mempercayai itu. Gemuruh dari luar pun membuatnya tersentak dan tersadar, kini ia sudah berada tepat didepan pintu Apartemennya.


Ada yang aneh, siapa orang yang meninggalkan amplop didepan pintu rumahnya? Atau amplop itu memang ditujukan untuknya? Rin menekan kata sandi Apartemennya, segera melangkah masuk dan menutup kembali pintu rumahnya. Kepada Rinoa Beverly, begitulah tulisan di amplop itu yang menandakan bahwa itu ditujukan untuknya. Tanpa ragu ia membukanya, ada beberapa lembar kertas didalamnya dan beberapa tulisan yang mampu membuat Rin tersentak tak percaya.


Akan ada pembunuhan kembali jika kau tak membiarkan aku melihatmu. Itu kalimat pada kertas pertama. Kau pasti tau siapa aku karena kau telah mengetahui rahasiaku, dan itu adalah kalimat pada kertas kedua.


"Siapa orang gila yang mengirim ini padaku?" gumamnya takut.