
Ada yang berbeda dari sorot mata pria itu, bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman indah diraut wajahnya. Tatapannya datar dan terlihat dingin, dengan pelan ia meraih ujung rambut Rin dan membelainya singkat. Terasa desiran darah yang mengalir deras saat Nick menyentuh rambutnya. Ia melirik namun yang didapat hanya wajah datar Nick yang sedang mencoba menatapnya.
"Rambutmu sungguh halus, warnanya bagus... Ini mengingatkan aku pada seseorang yang kukenal," ujarnya.
"..."
Situasinya berubah menjadi aneh. Katakanlah bahwa Nick memang orang yang tak banyak bicara, namun pembawaanya terasa menakutkan sekarang, bahkan Rin tak berani untuk sekadar menatapnya. Rin meremas bunga lily yang berada di genggamannya saat Nick masih sibuk memilin-milin ujung rambutnya.
"Kau akan menghancurkan bunga itu!" ujarnya.
"Eh?" Rin tersentak, ia tersenyum canggung. "Ah, maaf. Hanya saja, aku kedinginan." jawabnya dusta.
Dia tak menjawab, hanya menatap gadis canggung itu dengan tatapan tanpa ekspresi. Ia melepas jarinya dari rambut Rin dan bergerak membetulkan syal milik gadis itu.
"Kau terlihat cantik," ujarnya tiba-tiba.
"..."
Raut wajah Rin memerah, tanpa sadar ia mengalihkan pandangannya. Ia merasa malu saat dipuji secara terang-terangan, itu terasa aneh, pikirnya.
"T-terimakasih,"
"Sekarang kau jarang sekali mengirimiku pesan, apa kau sangat sibuk akhir-akhir ini?"
"Oh, soal itu... Tugasku menumpuk akhir-akhir ini, bukannya aku sengaja. Aku hanya-"
"Baiklah, aku mengerti."
"..."
"Minggu depan? Sepertinya aku bebas hari itu,"
"Baguslah, bagaimana kalau kerumahku?"
"Kerumahmu?
"Iya, ah kau boleh mengajak Bella jika kau ingin." ujarnya sembari tersenyum.
"... Ah baiklah, aku akan mengabarimu nanti!"
...****************...
Rin mengaduk nasi gorengnya, menambahkan beberapa bumbu dan saus. Wajahnya terlihat lesuh, saat masalah bertubi-tubi datang, pikiranmu seakan terbagi menjadi beberapa bagian, hingga kau bahkan bingung mana yang harus dipikirkan terlebih dahulu. Rin mengangkat penggorengannya, memindahkan nasi goreng yang telah jadi itu ke sebuah piring putih. Baru saja Felix menelponnya, ia mengatakan bahwa Ronny Hailey telah dibebaskan karena Ayahnya memberikan uang tebusan. Ronny mungkin sudah menyadari bahwa Rin yang memberikan namanya pada polisi. Rasanya pusing ketika memikirkan semuanya secara bersamaan.
Tak ada lagi bir ataupun rokok. Itu sangat menyiksa, rasa dari jus atau pun minuman soda sangat berbeda dengan rasa memabukkan dari bir dan whiskey. Bahkan lolipop yang bahkan sangat jauh berbeda dengan nikotin, semua itu membuat Rin hampir mati. Mulutnya keluh dan terasa hambar. Haruskah dia membelinya kembali? Tapi itu akan membuat Vin kecewa.
Rin memasukkan nasi goreng buatannya kedalam mulut. Ia tertegun saat menyadari satu hal, sejak kapan ia mengkhawatirkan perasaan Vin. Perasaan yang ambigu, itu membuat Rin melahap makanannya dengan cepat. Jantungnya berdebar sangat kencang, ini jauh lebih bergemuruh dibanding memikirkan Nick dulu. Terlepas dari itu, baik Nick ataupun Vin, keduanya sama-sama menyatakan perasaan mereka pada Rin, dan Rin belum menjawab keduanya. Bahkan disaat nyawaku sedang terancam, bisa-bisanya aku terlibat dengan persoalan cinta seperti ini, huft aku pusing.
Rin menyandarkan punggungnya disofa. Kembali ia memikirkan dua pria itu. Apa perbedaan rasa tertarik dan jatuh cinta? Mungkinkah dia dulu hanya merasa tertarik pada Nick? Lalu apakah ia sekarang sedang jatuh cinta pada Vin? Jantungnya selalu berdebar saat memikirkan Vin, rasa nyaman saat berada didekatnya, itu membuat gadis itu tenang. Tanpa sadar ia tersenyum kala itu. Seperti seseorang telah menariknya dari dasar jurang yang gelap, dan orang itu adalah Vin. Bagaimana bisa kau mengabaikan orang yang menyelamatkan hidupmu? Bahkan sekarang Rin tak perlu lagi ke psikiater berkatnya. Bagaimana kalian menyebutkan perasaan semacam itu?
Lalu Nick, perasaan itu semakin hari semakin menghilang. Rasa penasaran saat melihat keangkuhan dan sifat diamnya. Lalu, rasa pemasaran itu berubah menjadi ketertarikan. Rin senang bertemu dengannya, bahkan tak menduga bisa berteman dengannya. Namun, sifatnya yang tak pernah diduga itu menakutkan, ekspresinya tak pernah bisa dibaca. Ada semacam perasaan tak nyaman setelah itu. Kecanggungan, rasa terpaksa dan kebingungan yang terlihat dari sorot tajam matanya. Rin bahkan tak pernah menunjukkan dirinya yang sebenarnya saat didepan pria itu, sesungguhnya itu terasa berat, namun menyesuaikan dengan sifatnya itu memang sulit. Lalu, bagaimana kalian menyebutkan perasaan seperti ini?
Terakhir kali ia menatapku begitu intens dan itu sangat menakutkan, ia membelai rambutku dan berkata bahwa aku terlihat mirip dengan seseorang yang ia kenal. Apa saat itu dia sedang menggodaku? Sejujurnya hal itu malah membuatku takut, batin Rin.
"Hahh..." Rin menghela nafas kasar, ia beranjak, menaruh piring kotor ke westafel dan berjalan kekamarnya. Wangi bunga lily yang semerbak saat ia membuka pintu kamarnya, itu membuatnya rindu akan keluarganya. Dengan hati-hati ia menarik sebuah koper diatas lemarinya, menurunkannya kebawah dan membukanya perlahan. Itu semua adalah barang-barang dari mendiang Ayahnya. Rin berniat mencari foto-foto mereka dulu, Rin tersenyum saat melihat foto-foto itu, seakan tenggelam dengan masalalu. Sebuat buku notes kecil menarik perhatian Rin, notes yang separuhnya telah terbakar api, itu terlihat sangat usang. Rasa penasarannya membuat Rin meraih notes itu, sebuah foto terjatuh dari selipan notes tersebut. Foto usang yang separuhnya pun telah terbakar. Rin memicingkan matanya, siapakah gerangan wanita cantik ini, dia jelas bukan Ibunya. Kulitnya sawo matang dengan rambut lurus berwarna coklat, lalu netra hazel dengan tatapan lembut namun tajam. Masih dengan wajah bingungnya, Rin membalikkan foto itu, hanya ada tulisan "My Lily, 2014."
"Siapa wanita ini?" gumamnya.