PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 44 : He's Coming



WARNING⚠️ TERDAPAT ADEGAN KEKERASAN DI PART INI!!!


Rin menutup kedua matanya rapat, menahan rasa takut saat tau kematian dirinya sudah sangat dekat. Nick menyeringai, namun disaat yang bersamaan aliran listrik dirumah itu pun padam tiba-tiba. Seluruhnya berubah menjadi gelap. "Tch, sial!" decih Nick menurunkan pistolnya. Ia menggertakkan giginya seraya berjalan untuk menghidupkan listrik.


CTIK! Seketika semuanya menjadi terang kembali. Belum sempat melakukan apapun, Nick berbalik dan sebuah pukulan telak mendarat indah di rahangnya. Pria itu tersungkur dan pistol yang ia genggam terpental tak tau kemana. Pria itu tersentak saat sesuatu mengalir dari hidungnya, Nick mengusap hidungnya yang mengeluarkan darah segar, ia mengerutkan dahi saat melihat Vin berdiri dihadapannya dengan sorot mata yang tajam.


"Sialan, darimana kau masuk hah!" ujar Nick mencoba berdiri.


"VIN!" teriak Rin beriringan dengan isakan tangisnya, seketika netra hitam itu melirik kearah Rin, betapa pemandangan yang sangat tidak ingin ia lihat, gadisnya kini tak berdaya akibat ulah pria gila di hadapannya ini.


"Ck ck, kau membuatku sangat kesal!" ujar Vin dingin.


Vin menghujani Nick dengan pukulan bertubi-tubi, tapi itu tidak mudah, Nick cukup pintar untuk mengelak semua pukulan itu. Rin hanya bisa melihat tanpa bisa bergerak, ia terus meronta berharap ikatan tali di lengannya terlepas, sementara Vin dan Nick malah saling memukul. Mereka terlihat kesal satu sama lain, tatapan mereka sama-sama mengerikan, bahkan atmosfer disana terasa begitu panas di musim dingin ini.


"Harusnya aku membunuhmu saat ada kesempatan," ujar Vin.


"Harusnya aku yang berkata seperti itu sialan!" ujar Nick melayangkan pukulannya. Darah menetes dari kepala hingga mulut mereka, bahkan mereka tak terlihat kelelahan setelah apa yang mereka lakukan.


"Baiklah, cukup bermain-mainnya. Aku akan menghabisimu sekarang!" ujar Vin, ia menatap tajam Nick yang berada tak jauh didepannya, kali ini ia terlihat berbeda, ia terlihat sangat marah dan itu bahkan membuat Nick sedikit getir. Pukulan demi pukulan dari kepalan tangannya kini selalu tepat mengenai Nick, membuat Nick mengerang dan tersungkur beberapa kali. Nick berlari, meraih pisau dapur dan mencoba mengibaskan pisau itu pada Vin, namun Vin tak bergeming, bahkan sorot matanya tak kenal takut, sorot mata itu mengatakan ia bahkan tak akan mundur walau Nick mengibaskan sebuah pedang dihadapannya.


SRET! Pisau itu mengenai tangan dan pinggangnya, itu membuat Rin tersentak lalu menjerit. Kemeja putihnya kini robek dan berwarna merah, namun itu tak membuat pria itu berhenti.


"Kau akan mati disini! Lihat perempuan sial yang selalu meneriakkan namamu itu, itu membuat telingaku sakit," ujar Nick mengacungkan pisau itu dihadapan Vin. Vin berjalan mendekat dengan tatapan yang menajam, bahkan Vin seperti tak merasakan apapun walau pinggang dan lengannya tersayat seperti itu. Sorot matanya menakutkan, itu membuat Nick mundur perlahan, "Siapa yang kau sebut perempuan sialan?" ujarnya parau.


"Huh?"


Nick tetap mengibaskan pisaunya, walau wajahnya terkena pukulan dari Vin, pada akhirnya pisau itu berhasil mendarat dan terbenam didalam perut Vin. Vin berhenti sejenak, memegangi perutnya yang mengeluarkan banyak darah.


"VIIIINNNNNNN!" Jerit Rin yang melihat itu. Nick terkekeh, dia berhasil menghujamkan pisau diperut Vin setelah sekian lama mereka berkelahi.


Rin terus meronta sembari menangis, tapi ikatan itu tak mau terlepas, ia meringis, bahkan pergelangan tangannya terluka akibat dia terus memaksa. "Tidak, hiks... Vin, kumohon bertahanlah," ujar Rin menangis.


"Rin, tutup saja matamu!" ujar Vin.


"Apa? Kenapa? Aku tidak mau!"


"Tutup saja, jangan buka hingga aku yang menyuruhnya!"


"Ha? Apa maks-"


"Rin?"


Rin menggigit bibir bawahnya, dengan terpaksa ia menutup kedua matanya saat itu.


"Aku muak dengan kalian berdua!" sergah Nick dengan nada tinggi. Vin menoleh kearahnya, sekarang tatapan itu seakan ingin melahap Nick hidup-hidup, ia berjalan mendekat kearah Nick, "Pria sial, kau pikir aku akan berhenti setelah ini? Aku tidak akan berhenti saat aku tertusuk seperti ini, aku baru akan berhenti saat aku telah selesai." ujar Vin menyeringai. Nick membulatkan kedua matanya. Apa-apaan pria ini. Vin mencabut pisau yang tertancap di perutnya, menahan darah yang keluar dengan satu tangannya dan dengan cepat ia menghujamkan pisau itu pada perut Nick, memutarnya sejenak hingga Nick menjerit kesakitan.


Nick tersungkur dengan pisau yang menancap dalam di perutnya, kini kondisi mereka terlihat sama, namun Nick lah yang sekarat disini. Nick memegangi perutnya, rasa sakit yang menjalar hingga paru-parunya menjadi sesak, pandangannya mengabur, samar-samar ia melihat Vin yang sedang menatapnya dengan tatapan datar, pria itu mengacungkan jari kelingkingnya pada Nick, hingga akhirnya ia mencapai batasnya. Tusukan yang diberikan Vin tepat mengenai titik vitalnya, itu tepat di ulu hati. Nick telah tewas, dengan pisau yang masih melekat disana.


Vin menghela nafasnya panjang, dengan tertatih ia melangkah dan memeluk Rin, gadis itu tersentak dan langsung membuka matanya. Airmatanya jatuh begitu banyak saat melihat wajah babak belur Vin dihadapannya, Vin hanya tersenyum, ia membuka ikatan tali di tangan Rin, dengan segera Rin memeluk pria itu erat sembari terisak.


"Ah, itu sakit!" erang Vin.


"Maaf, maafkan aku. Da-darahnya tidak mau berhenti, bagaimana ini?" ujar gadis itu panik sembari memegangi lubang di perut Vin.


"Jangan disentuh, nanti tanganmu penuh akan darah."


"Hiks hiks, ini tidak mau berhenti, bagaimana ini!"


"Tidak apa-apa, pertama-tama tolong hubungi polisi du-" belum habis kata-katanya, Vin terjatuh dan tak sadarkan diri, itu membuat Rin menjerit menyebut namanya berkali-kali, ia mengambil ponsel di sakunya, menekan nomor Felix dengan tangisan yang tak berhenti.


Hallo readers yang tercinta, semoga kalian sehat selalu dan puasanya lancar ya, Aamin 🙏 aku sebagai author cuma mau bilang kalau aku akan istirahat selama dua hari aja, karena mau fokus buat cerpen dulu, maklum aku iseng ikut event 🤭 doain author yaa, semoga cerpennya lolos. Ah, satu lagi nih... author mau minta pendapat, kalian mau cerita ini berakhir dengan happy end atau sad end nih 😅 komen yaa, karena komen kalian sangat berharga untuk author 🥰🥰🥰