PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 49 : Kamar mandi yang rusak



Black Mountain, 31 Januari 2022


Ini pagi hari yang berkabut, aroma petrichor yang masih tercium bahkan hingga pagi ini. Langit masih mendung, laporan cuaca bahkan mengatakan akan turun hujan dimulai dari petang hingga malam hari.


Dengan nafas yang tersengal, Rin berlari dengan kaki kecilnya. Ia mencoba mengatur nafas perlahan agar nyawanya tak melayang. Dengan tangan bergetar ia menekan bel rumah itu. TINGTONG! TINGTONG!


Hah, yang benar saja pikirnya. Setelah mendengarkan kotak suara yang dikirimkan oleh Felix tadi malam, tanpa ragu ia malah berlarian kesini, tanpa kabar lebih dulu.


Rin mendongakkan kepalanya saat terdengar pintu itu telah dibuka dari dalam. Pria tampan dengan kemeja putih dan senyum yang manis itu berdiri tegap didepan pintu.


"Rin? Ada apa? Kenapa kau tak menghubungiku dulu kalau mau kesini?" tanyanya.


"Ah, maafkan aku! Apa aku boleh masuk terlebih dulu?"


"Oh tentu, silahkan masuk tuan putri!"


Rin terkekeh melihat kelakuan konyol kekasihnya itu, sebenarnya dia tak percaya dengan apa yang ia dengar di kotak suara itu, namun untuk memastikan, gadis itu malah berlarian dengan wajah paniknya menuju kesini.


Vin datang menghampiri Rin yang duduk manis di sofa dengan segelas teh hangat. Ia mendaratkan bokongnya tepat disebelah Rin dan mengusap puncak kepala gadis itu dengan lembut, membuat rona merah di kedua pipi gadis itu.


"Jadi apa yang membuatmu kesini pagi-pagi? Apa kau merindukanku?" tanyanya dengan suara yang rendah. Tanpa permisi, Vin melahap bibir kecil gadis itu dengan cepat, bahkan membuat yang punya menjadi terkesiap.


"Tu-tunggu dulu," ujar Rin mendorong pelan tubuh Vin.


"Kenapa?"


"Aku ingin memberitahumu tentang ini," ujar Rin memutar isi kotak suara melalui ponselnya.


"..."


Rekaman itu berisi suara kaca mobil yang pecah dan lengkingan Felix, namun Vin tersentak saat ia menyadari bahwa ini adalah rekaman dari kejadian tadi malam.


"Apa ini?" tanya Vin tenang.


"Semalam ponselku mati, lalu pagi ini saat aku menghidupkannya, aku mendapati ini dari Kak Felix. Aku sudah mencoba menghubunginya lagi tapi nomornya tak bisa dihubungi."


"Ah benar juga, dia kan sepupunya. Aku belum menanyakan apapun pada Bella, aku langsung kesini karena di rekaman itu aku mendengar suara yang sama persis sepertimu."


"Suaraku?"


"Iya, itu sama seperti suaramu. Aku kesini memastikan bahwa kau tidak terlibat apapun tentang ini."


"Pft, kau mengkhawatirkan itu? Bahkan kau pun tak tau apakah itu benar terjadi atau hanya keisengan Kak Felix-mu!"


"..."


Rin menatap wajah Vin yang sedang tersenyum padanya kala itu, ya mana mungkin itu suaranya, lagipula apa yang membuatnya terlibat suatu perkelahian dengan Kak Felix, benarkan?


Apa ini hanya keisengan Kak Felix saja?


"Ah Vin, bagaimana kalau kita keluar untuk sarapan bersama?" ajak Rin.


"Tentu, apa yang tidak bisa kulakukan untuk pacarku yang menggemaskan ini." Vin berkata dengan jarinya yang menjepit pelan pipi gadis itu. Rin memanyunkan bibirnya sembari mengusap-usap bekas cubitan Vin di pipinya, membuat pria itu terkekeh karena Rin sangat lucu saat seperti itu.


"Tunggu disini, aku akan mengambil ponsel dan dompetku diatas." Dia berucap seraya melenggang pergi kekamarnya.


Rumah yang selalu tenang ini, aku sangat mengingatnya. Aromanya selalu menenangkan ketika aku singgah kesini. Ini mengangguku, sejujurnya sejak aku mendengar rekaman kotak suara itu, semua hal kini mengusikku. Bau ini sangat menyengat untuk aku abaikan. Tanpa sadar, perlahan langkah Rin telah membuatnya mencapai pintu toilet yang rusak itu. Aroma busuk yang menyengat itu berasal dari kamar mandi itu, batin Rin. Ia menolehkan pandangannya keatas, Vin sepertinya belum muncul, ia menelan salivanya kasar, dengan gemetar ia membuka pintu kamar mandi itu. Sejujurnya, terkadang aroma menyengat tiba-tiba keluar dari kamar mandi ini, dan itu sangat membuat hati kecil Rin bertanya-tanya.


"Ah!"


Tidak ada apa-apa, ini benar hanya sebuah kamar mandi yang tak terpakai. Hanya ada bathup, shower dan satu kantung plastik hitam besar di sudutnya, Rin menutup hidungnya rapat saat bau busuk itu menyeruak. Tak ada yang mencurigakan kecuali jaket kulit yang tampak lusuh itu tengah tergantung. Rin membulatkan kedua matanya, ia mengenali jaket itu.


"Tidak mung-"


"Rin, bukankah sudah kubilang kalau kamar mandi itu rusak! Kalau kau ingin kekamar mandi, kau sebaiknya memakai kamar mandi di kamarku saja."


Rin tersentak, jantungnya berdetak sangat kuat. Bila saja apa yang sedang dipikirkannya itu benar, maka Vin adalah...


Rin berbalik perlahan, dengan ragu ia menatap kekasihnya itu, wajah cantik itu kini hampir menangis dan terlihat sangat ketakutan. Vin menghela nafasnya kasar, "Hah, sepertinya kita tidak bisa sarapan bersama sekarang!" ujarnya dingin.