
"Hei, pelankan suaramu," ujar Rin setengah berbisik.
Vin hanya mengangguk-anggukan kepalanya pelan, ia menarik kursi kayu itu dan duduk tepat ditengah gadis-gadis itu. Rin mengerutkan dahinya, dan Bella malah terkesima, sepertinya ia tidak berkedip saat itu.
"Jadi, apakah aku boleh ikut kalian nanti?" tanya Vin dengan kepala yang menoleh kekanan dan kekirinya.
"Tidak boleh!" tukas Rin tegas. Itu membuat Vin menjadi kecewa, lantas ia pun menoleh kearah Bella yang sedari tadi sedang menatapnya memuja, Vin melayangkan sebuah senyuman pada Bella dan membuat gadis itu tersentak.
"Kau ini apa-apaan sih Rin, biarkan saja dia ikut, toh bertiga lebih baik daripada berdua kan?" ujar Bella berusaha meyakinkan Rin.
"Hah? Dia kan tidak tau kejadiannya, untuk apa kita mengajaknya."
Perdebatan itu terjadi beberapa menit lamanya, hingga akhirnya Rin menyerah dan menganggukan kepalanya pada mereka berdua.
Pesona Vin memang berbahaya, dan yang lebih berbahaya lagi itu adalah ketika Bella lemah terhadap hal itu. Penjelasan singkat itu ternyata membuat Vin merespon dengan serius, itu terlihat ketika dia hanya diam saat Rin menjelaskan kejadian yang ia alami beberapa waktu ini, dia tak bercanda maupun menggoda Rin, itu membuat Rin sedikit terkejut, dalam benak Rin bahkan berkata bahwa Vin ternyata bisa serius juga menanggapi hal seperti itu.
"Kau harus segera melaporkannya pada pihak kepolisian, itu hal yang bisa membahayakan dirimu." ujar Vin kemudian.
"..."
"Aku akan ikut, kita bisa pergi bertiga dengan mobilku nanti." lanjutnya.
Rasanya mengejutkan, dia hanya orang asing, setidaknya hingga beberapa waktu yang lalu, pria ini sungguh diluar dugaan, untuk sesaat bahkan Rin ikut terkesima dengan tingkahnya yang tak konyol seperti ia biasanya, saat dia serius, dia bagai pria tanpa celah, maksudnya ia sungguh sempurna. Netra hitam itu menatap Rin lekat, itu terkesan datar namun sepertinya mempunyai artian mendalam, kemudian ia tersenyum, membuat matanya menyipit dan lesung pipinya muncul dipermukaan.
Perbincangan mereka bertiga sepertinya terlalu mengasyikan, hingga mereka tak menyadari seorang pria tengah memandangi mereka dengan tatapan tajamnya.
Vin melirik kearah pria yang tengah berdiri itu, ia tersenyum kecil, lalu beranjak dari kursinya, hal itu sontak membuat Rin tertegun, dan mendapati bahwa Nick ternyata berada disana.
"Ah, aku ada kelas sebentar lagi dan..." Vin berbicara sembari merogoh isi tasnya, beberapa saat kemudian ia mengeluarkan sebuah kantong plastik dan memberikannya pada Rin.
"Terimakasih untuk baju gantinya, dan untuk kemejaku yang tertinggal dirumahmu, kapan kau akan mengembalikannya? Itu kemeja kesayanganku."
"..."
Hening, tak ada jawaban maupun penuturan. Yang terlihat hanya sebuah senyuman dari Vin, wajah terbelalak dari Bella dan tatapan dingin dari Nick.
"Rin?" panggil Vin memastikan, namun Rin tetap bungkam sembari menundukan wajahnya.
"Oh, apa kau ingin menyimpannya? Kemeja itu? Kalau kau yang meminta maka-"
"ENYAHLAH, DASAR MENYEBALKAN!"
Rin berusaha mengatur nafasnya, Vin sungguh membuatnya emosi dengan perkataannya yang ambigu, apa yang dipikirkan oleh Bella dan Nick, dari raut wajah mereka sudah dipastikan mereka memiliki spekulasi masing-masing. Terlihat Vin melenggang pergi dengan kekehannya yang membuat emosi Rin memuncak, bagaimana bisa ada pria semenyebalkan dia, pikir Rin.
"Ah Nick, kau sudah datang, ingin makan?" ujar Rin dengan senyum canggungnya.
"...Aku tidak lapar" jawab Nick datar, ia berbalik dan langsung meninggalkan dua gadis yang sedang bengong menatapnya itu.
"Entahlah."
Netra hazel itu kembali menatap dengan datar dan dingin, saat ia berkata "Aku tidak lapar" suaranya bahkan bergetar. Pria itu tengah menahan amarahnya, apa itu karena perkataan konyol dari Vincent? Sepertinya untuk menjelaskan pada orang itu akan membutuhkan kesiapan dan waktu, dan juga harus dengan kata-kata yang paling tepat tentunya, tidak seperti Bella yang sangat mudah dimengerti perangainya, bahkan penjelasan singkat sudah cukup jelas untuknya, walau efeknya sangat menyebalkan.
Hah, bila tidak dijelaskan dia pasti akan terus menekanku, dan bila dijelaskan ya begini jadinya, dia terus saja menggodaku, sepertinya dia pro sekali pada Vin, ya? Batin Rin menggerutu.
*
Nick tak menghubungi Rin sejak saat tadi, sepertinya dia memang kesal, tapi sebanyak apapun berpikir, Rin tak dapat menemukan alasan yang membuat Nick menjadi kesal. Kuliah telah selesai, hari ini berlalu seperti biasanya, terlihat mobil sport putih yang tampak bersinar itu melaju pelan dan berhenti tepat didepan Rin dan Bella. Pria tampan menggunakan mantel tebal berwarna hitam dan piercing pada salah satu telinganya itu menurunkan kaca mobilnya lalu tersenyum.
"Masuklah." ujarnya.
Aroma yang dikeluarkan dari diffuser milik Vin ini sungguh menyegarkan, itu seakan memberi ketenangan tersendiri bagi yang menciumnya, sungguh berbeda dengan aroma ketika menaiki mobil Nick, begitu menyengat. Vin memacu mobilnya dengan perlahan tapi pasti, jalanan masih licin, itu mungkin karena matahari tak menampakkan diri beberapa hari ini. Bila dilihat, suasana kota ini begitu damai dan sejuk, entah mengapa sekarang berubah menjadi seram dan menakutkan.
Seseorang berambut gondrong tengah jalan terhuyung saat mobil mereka berhenti, ternyata di jam seperti ini pun kemacetan tak bisa terhindari, orang asing itu sepertinya dalam keadaan mabuk, pria yang mungkin masih berumur 30 tahunan, memiliki tato dilengan bagian kirinya, berjalan terhuyung dan mendekat kearah mobil mereka, ia mengetuk kaca mobil beberapa kali, itu membuat Rin tersentak dan spontan menjauh, beruntungnya kaca mobil itu tertutup sempurna, hingga ia tak bisa meraih Rin yang berada didalamnya.
"Apa-apaan sih orang itu, mabuk ditengah jalan seperti ini." gerutu Bella.
"..."
"Kau kaget, ya?" tanya Vin sembari melirik Rin melalui kaca.
"Ah iya, dia menakutkan."
"..."
KANTOR POLISI RUMANOV
Pada akhirnya mereka tiba juga disana, Rin berhadapan dengan seorang polisi tampan dengan rambut pirang emasnya yang menyala. Bella sempat memberitahu bahwa polisi itu adalah kerabatnya.
Di seragam yang ia pakai, tertoreh nama Felix yang berarti bahwa itu adalah namanya.
"Namamu?"
"Rinoa Beverly,"
"Kronologi?"
Rin menjelaskan semuanya secara gamblang, sosok pria dengan topi putih dan jas hujan berwarna bening itu sungguh membawa ketakutan setiap kali melihatnya, seakan diikuti dan diawasi setiap malam, terlebih saat hujan, ia akan berdiri ditempat yang sama, diam dan tak melakukan apapun, wajahnya tak pernah diketahui, namun keberadaannya sungguh mencekam. Felix mencatatnya dengan baik, netra birunya menatap Rin datar, membuat Rin salah tingkah lantaran ceritanya telah berakhir, Felix tak berbicara apapun, dia memegang dagunya sembari berpikir, namun tatapan itu tak lekang dari Rin.
"Apa tidak ada orang yang bisa kau curigai?" tanya Felix tiba-tiba, membuat Rin mendongak dan mempertemukan netra biru itu dengan netra biru tua milik Rin. Felix tersentak, lalu berdehem seketika.
"Sepertinya tidak ada, pak." jawab Rin pelan.