PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 52 : Vincent Damieer Part 1



20 Desember 2000, itu tepat dimana hari aku dilahirkan, musim dingin dengan hujan yang tiada henti. Hari yang sangat penuh dengan isak tangis dan sorot mata kebencian. Saat kau menginginkan sesuatu maka kau harus siap kehilangan sesuatu yang lain. Saat nyawa baru di lahirkan, maka ada satu nyawa yang harus diikhlaskan.


Ibuku meninggal tepat setelah aku lahir, meninggalkan luka dan kesedihan mendalam pada Ayah dan Nenekku. Aku tak terlalu mengerti, yang kutahu hanyalah aku menginginkan rasa perhatian dan kasih sayang orang terdekatku, hanya itu. Tapi, yang kudapat dari mereka hanyalah kutukan dan tatapan kebencian. Apakah benar kematian Ibuku adalah salahku sepenuhnya? Semua orang menjawab iya, dan itu menyakiti hatiku.


Martin Damieer, Ayahku yang sangat kusayangi sekaligus yang paling membenciku, walau begitu dia tetap memenuhi semua kebutuhanku. Aku tau Nenekku juga tak menyukaiku, tapi beruntungnya dia mau merawatku hingga aku bisa tumbuh dengan lumayan baik, walaupun aku harus menanggung tatapan sinis dan ocehan menyakitkan yang dikeluarkan dari bibir keriputnya.


Selama aku hidup, aku tak pernah tau apa itu kasih sayang? Bagaimana rasanya dicintai, diperhatikan, dan diprioritaskan, aku tak mengetahui semuanya. Apakah dunia ini memang tempat yang sekejam itu?


Keberadaanku dirumah itu sangat tidak berarti, bahkan aku dianggap tidak ada oleh mereka. Dadaku terasa sesak setiap harinya, perasaan sedih dan tersiksa, itulah yang setiap hari aku rasakan. Kupikir semua orang hidupnya sama sepertiku, tapi ketika aku sekolah dan mendengar cerita dari teman-temanku, barulah aku menyadari bahwa hanya diriku yang terlahir menyedihkan seperti ini.


Terbiasa dengan kesepian dan kesedihan, aku menjalaninya tanpa adanya semangat. Saat itu pertama kalinya aku berjalan di bawah derasnya hujan, aku terkesiap saat air hujan yang dingin dan menyegarkan itu menembus semua pori-poriku. Saat itu aku merasakan kedamaianku sendiri, berdiri tegak dan bersadar di dinding jembatan penyebrangan sembari menikmati setiap air hujan yang turun. Entah mengapa rasanya kepalaku yang berat ini jadi terasa ringan setelahnya, sesaat aku merasa bebanku sedikit berkurang karenanya, itu pertama kalinya aku menyukai sesuatu hal dan aku berpikir hujan adalah penyelamat hidupku.


...****************...


Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, saat itu aku berumur 10 tahun. Tepat kepergian Nenekku 6 bulan yang lalu, Ayahku pun menikah lagi dengan seorang wanita pekerja Bar malam. Wanita yang seperti ular, aku bisa melihat dari tatapannya saat melihatku. Dia selalu mengeluhkan keberadaanku pada Ayah, bahkan memfitnahku. Atas perbuatannya itu, aku selalu mendapatkan pukulan-pukulan menyakitkan dari Ayahku.


Wanita ular, itu benar-benar panggilan yang cocok untuknya karena itu terbukti saat dia memasukkan pria lain kerumah disaat Ayahku sedang tidak ada. Padahal pernikahan mereka baru satu tahun lamanya, dan wanita itu telah melakukan hal yang menjijikan seperti itu. Lusiana, itulah nama wanita itu. Perilaku menjijikannya sangat membuat aku gerah, sampai-sampai aku muak melihat mereka. Aku beruntung, hujan selalu datang disaat dadaku terasa sesak.


Suatu ketika, Ayahku meninggal karena keracunan makanan. Ayahku tak sengaja memakan makanan yang sudah kadaluarsa, dan sakit beberapa hari hingga akhirnya mati. Benarkah? Kau percaya itu? Tentu saja bukan itu kebenarannya. Ayahku mati karena Lusi yang membunuhnya, dia menaruh racun terus menerus ke makanan Ayahku hingga akhirnya dia mati, dan tentu saja itu demi harta dan selingkuhannya itu.


Apakah aku harus bersedih atas hal itu? Entahlah, aku tak merasa apapun walau aku tau dalang dibalik kematian Ayahku. Sejak saat itu aku tak terlalu memikirkan tentang hidupku, Lusi selalu semena-mena terhadapku, memerintahku ini itu demi sesuap makanan. Ya, kalau aku tak mengerjakan apa yang diperintahkannya maka aku tak diberi makan olehnya.


Kupikir aku mati saat itu, ternyata aku masih bernyawa dan aku membenci itu. Apa kesalahanku di masa lalu hingga aku harus menjalani kehidupan seperti ini?


Lagi-lagi, hanya hujan yang dapat mendamaikan hatiku. Kupikir hanya orang-orang tertentu yang dapat merasakan nikmatnya air hujan, orang lain mungkin hanya akan merasa basah. Setiap rintik hujan yang turun itu seakan memberiku bisikan untuk tetap bertahan menjalani hidupku. Saat itu aku percaya bahwa hujan yang datang ini adalah untukku, sengaja datang untuk menciptakan kedamaian untuk diriku. Jujur saja, aku merasa gusar saat banyak orang berjalan lalu lalang kesana kemari saat hujan sedang turun, itu mengangguku, aku sungguh tak menyukai itu. Mereka yang hidupnya jauh lebih baik dariku, tak berhak untuk merampas hal yang membuatku bahagia, benar kan?


...****************...


Lebam di tubuhku, bahkan darah yang mengalir di bokongku, itu tak membuatku takut lagi. Aku bahkan tak merasakan apapun lagi, yang tertinggal hanyalah perasaan benci dan muak, terlebih pada Lusi dan Richard.


Setiap malam aku bermimpi buruk, gelegar petir yang mengiringi keterpurukanku, malam yang selalu mengeluarkan suara-suara anehnya dan rintik hujan yang seolah berbisik, "Vincent, apa yang kau lakukan selama ini? Apa kau sedang menunggu mereka mencabut nyawamu?"


"..."


"Dengar Vin, hidup itu pilihan. Kalau tidak menjadi pembunuh, maka kau akan menjadi korban yang terbunuh!"


"A-Apa maksudnya itu?"


"Vincent, Jangan seperti anak kecil yang selalu bermimpi kosong, ada kalanya seseorang itu membuat pilihan yang menyakitkan."


Begitulah suara-suara itu selalu menggema di telingaku, membuatku sulit berpikir dan bahkan sulit bernafas. Bocah berumur 12 tahun sepertiku harus memilih apa? Hingga akhirnya aku berhenti berdebat dengan monster didalam diriku, karena sekarang aku memilih untuk bekerja sama dengannya.