
Dayana Christa Hill dan Robert Gordon, jasad yang ditemukan tadi pagi adalah mereka berdua. Tubuh mereka sudah mulai membusuk, bahkan bagian tubuh mereka tidak lengkap lagi, diduga mayat mereka telah tiga hari lamanya menyebar di hutan itu. Felix menghabiskan segelas vodka dalam satu kali tegukan. Suasana hatinya sedang tidak bagus malam ini, bayang-bayang Dayana Hill yang ditemukan membusuk dihutan itu menganggu pikirannya, mungkin itu adalah salahnya, tidak! Itu memang benar salahnya! Seharusnya ia tak menganggap remeh surat ancaman itu. Menjadi seorang polisi yang tak kompeten, itu bukanlah keinginannya.
"Tolong segelas vodka lagi," ujarnya.
Ia memicingkan sebelah matanya sembari mengetik teks.
'Aku mencabut seluruh CCTV di area Apartemenmu untuk sementara, nanti akan aku jelaskan, jika terjadi sesuatu segera hubungi aku'
"Aku harus menangkapnya!" gumamnya kesal.
Black Mountain, 27 Desember 2021
"Gelap," gumam Rin pelan. Ia menatap pagi hari yang sangat gelap, kelopak matanya tertutup tatkala angin musim dingin itu menerpa seluruh wajahnya. Rin tersipu saat ia menyentuh bibirnya sendiri, rekaman kilas balik yang sangat indah itu menyerbu pikirannya, membuatnya merona layaknya gadis kasmaran pada umumnya. Lalu ia teringat, ada permasalahan yang lebih penting. Netra biru tua itu menjurus kebawah, akankah dia melihat orang itu lagi malam ini? Ia mengadahkan pandangannya kelangit, malam menakutkan akan datang berkat langit yang kelam ini pikirnya. Pesan singkat yang dikirimkan oleh Felix semalam mengguncang pikirannya sejenak, "Dia bahkan tak mengatakan apa-apa padaku," gerutunya pelan.
Gadis itu menaikkan kaos kakinya dan berjalan menuju dapur, menghangatkan bubur kalengan yang dibelikan oleh Vin kemarin, ia kembali tersenyum memikirkan pria yang baru saja resmi menjadi kekasihnya itu, pria yang sama yang membuatnya terus meminum jus buah dan mengecup lolipop.
Asap menggempul itu beterbangan saat Rin meniup bubur yang hendak ia santap, aromanya nikmat, itu aroma tuna panggang. Rin menghabiskan satu mangkuk bubur tuna di pagi harinya dengan cepat, itu cukup untuk mengganjal perutnya sebelum ia pergi ke pemakaman hari ini. Vin bilang ia ada kuliah pagi, mungkin lain kali saat ada kesempatan mereka akan pergi ke pemakaman bersama.
Pemakaman Nasional Black Mountain. Satu-satunya pemakaman terbesar di daerah ini, maksudnya semua penduduk Black Mountain akan diistirahatkan ditempat itu. Rin tenggelam dalam pikirannya saat berada di hadapan makam keluarganya, ia menghela nafasnya kasar, suhu udara yang sangat dingin hari ini membuat nafasnya mengembun dan menggumpal layaknya menghembuskan asap rokok, gadis itu mengusap kedua telapak tangannya yang sudah dibalut dengan sarung tangan tebal, ia menyipitkan dua matanya saat samar-samar melihat seseorang yang ia kenal. Tak jauh dari tempatnya berada, matanya menangkap pria dengan jaket hoodie hitam berdiri didepan sebuah makam. "Nick?" gumamnya pelan.
Rin tak sempat bereaksi, baru saja bibirnya terbuka untuk memanggil nama pria itu, namun Nick melenggang pergi dengan tergesa dan menghilang begitu saja. Dengan rasa penasaran, Rin melangkahkan kakinya pelan. Sebuah makam yang dipenuhi dengan bunga Lily yang cantik ada disana. Terbaring dengan damai Sylvia Morisette Holder, itu yang tertulis di batu nisannya. Potret wanita cantik yang tersenyum lembut terpampang disana, warna mata dan rambut yang sama dengan Nick, mengingatkan Rin akan sesuatu hal.
"Ini... Siapa? Kurasa aku pernah melihatnya disuatu tempat," gumam Rin.
...****************...
Pipiku sudah tak meninggalkan bekas. Rin mengusap-usap pipinya sendiri sembari menghadap cermin, ini adalah kali pertama seseorang memukulnya, itu terasa menyakitkan sekaligus menyeramkan, bahkan kedua orang tuanya tak pernah melakukan hal itu pada Rin. Terkutuklah Ronny Hailey yang berani melakukan itu pada Rin, gadis itu menekuk semua wajahnya saat mengingat pria sialan itu. "Ia bahkan mencoba melecehkan aku. Dimana pun ia berada, semoga ia tersiksa!" ucapnya geram.
"Gila!"
Rin terperanjat, apa-apaan Bella?
"Mayat kembali ditemukan, ini mengerikan! Aku merinding sekarang."
"Apa? Mayat katamu?"
"Kau tak melihat berita ya? Ini, lihatlah!"
Rin mengambil ponsel milik Bella dan melihatnya, seketika kedua matanya membulat. Apa-apaan berita ini? Dua mayat ditemukan? Yang benar saja. Ia bergetar dengan sendirinya, bahkan wajahnya berubah menjadi pucat. Apa ini alasan Felix melepas semua CCTV dibawah Apartemenku?
"Rin, kau tak apa-apa?" tanya Bella memastikan. Gadis itu hanya memandangi Bella dengan sorot mata yang ketakutan, ia tak menjawab apapun namun keringatnya mengucur dengan deras di hari sedingin ini.
"Hei, kau kenapa? Jangan menakutiku!" sentak Bella.
"T-Tidak apa-apa, a-aku hanya takut saat melihat b-berita seperti i-itu," jawabnya terbata.
"Ya ampun, kemarilah!" ujar Bella merangkul Rin, diusapnya punggung gadis itu pelan, "Tenanglah Rin, bukan hanya kau, semua orang sedang ketakutan sekarang, bahkan aku. Tidak apa-apa, kita bisa melewati ini dengan baik."
"..."
"Bagaimana kalau kita kekantin, kita makan cumi bakar dan pasta, kudengar hari ini Ibu kantin membuat puding susu juga, ayo!" ajak Bella.
Saat itu, aku merasa aku berada di ditengah-tengah jembatan yang rusak, yang kupikirkan adalah aku akan terjatuh dan mati. Kematian dua orang itu, bukankah salah satunya adalah Dayana Hill? Dia membunuhnya, orang itu benar-benar membunuhnya, apa aku alasan baginya untuk membunuh kali ini? Surat ancaman itu, kupikir yang tertulis disana itu sungguhan, dia membuatnya menjadi kenyataan, Felix salah saat mengabaikan surat itu. Kenapa dia ingin melihatku? Siapa sebenarnya dia?