
01:15PM, Groovie Bar
"Satu gelas vodka," pinta Felix malam itu, bau menyengat dari berbagai cocktail dan juga asap rokok yang berceceran kemana-mana. Felix meneguk habis minumannya, dengan wajah yang menekuk. Ia mengusap-usap tangannya menggunakan selembar tisu, seorang wanita penghibur di bar ini baru saja menggoda dan menyentuh tangannya, hal itu tentu membuatnya muak sekaligus merinding.
"Hah, aku merasa pusing." dia bergumam sembari menyentuh dahinya, mukanya menjadi merah karena setengah mabuk, entah mengapa wajahnya terlihat lebih manis disaat seperti ini. Rambutnya yang tampak turun dan sedikit berantakan itu menyita penglihatannya.
Wajah yang familiar, dengan netra indah dan bibir yang ranum itu terus saja membayangi setiap langkahnya, otaknya penuh akan raut wajah gadis itu, lalu semua akan buyar saat wajah laki-laki dengan netra hitam itu terlintas. "Sial, aku tidak percaya kalau aku begitu cemburu dengan pria keparat itu!" lagi-lagi ia mengutuk pria itu. Felix merogoh saku celananya, plastik kecil yang berisi sebuah piercing berwarna hitam bulat. "Tidak salah lagi, ini milik bajingan itu! Aku tinggal memberikan bukti ini untuk memastikannya," ujar Felix kembali menyimpan plastik itu.
Dengan mata yang sayu ia melangkah gontai, kesadarannya masih terjaga, ia mengambil jaket kulitnya dan berjalan menuju mobil. Sangat gelap, itu karena awan yang mendung di malam seperti ini. Ini sudah terlalu malam, wajar saja kalau jalanan sudah sepi. Rintik-rintik hujan mulai membasahi, Felix memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, melewati jalanan yang remang dan sedikit berbatu. Bunyi hujan seakan menemani perjalan Felix menuju rumahnya, ia bungkam sembari fokus mengarah ke jalan.
Terlihat seseorang mencoba melintas di jalan itu dengan tiba-tiba, membuat Felix tersentak dan spontan menginjak rem mobilnya. Ban mobilnya berdecit keras hingga membuat telinga ngilu saat mendengarnya, jantungnya berdegup kencang bersamaan dengan nafasnya yang tak beraturan. Sorot lampu mobil yang mengarah kedepan saat itu membuat situasi menjadi aneh, tak nampak siapapun didepan sana, apa seseorang itu telah pergi pikirnya. Felix mengerutkan dahinya, walau ia minum alkohol malam ini namun sebenarnya dia tak semabuk itu, dia masih menjaga kewarasannya saat menyetir. Apa itu semacam halusinasi? Tidak, memang benar ada orang yang melintas tadi, batinnya. Felix meraih ponselnya, mencoba menekan salah satu kontak untuk dihubungi, namun bunyi kaca pecah yang berasal dari kaca mobilnya itu sungguh membuatnya terkejut, sontak itu membuat Felix menjatuhkan ponselnya.
Felix menekuk wajahnya, ada rasa gelisah dan takut dalam ekspresi wajahnya. Dari jendela mobil yang kacanya sudah berhasil dipecahkan itu, terlihat pria dengan topi putih itu berdiri tegap, ia menunduk tanpa bicara apapun dengan tongkat kayu disalah satu lengannya.
"Siapa kau?" teriak Felix. Pria itu mengangkat kepalanya dan melepaskan topinya, ia menyeringai membuat Felix membulatkan kedua matanya.
"Kau...."
"Aku menerima ajakanmu, pak Felix."
Hah, sial. Sudah kuduga itu adalah dia.
"Dasar bocah gila, aku sudah menduganya! Memang ada yang salah pada dirimu. Lantas, apa kekasihmu tau akan hal ini, hah?"
"Pft, kenapa kau begitu peduli tentang hal itu? Alangkah baiknya kalau kau memikirkan tentang keselamatan dirimu sendiri,"
"Cih,"
Sial, kenapa dia harus muncul sekarang? Apa itu karena dia murka akibat perkataanku tadi sore?
"Menyingkir kau bajingan," ujar Felix sembari menendang pria yang tak lain adalah Vincent itu.
Sorot mata hitam yang tajam itu tak lepas mengarah pada Felix, seakan-akan tak ingin buruannya kabur, Vin segera melayangkan kayu yang di bawanya pada tubuh Felix. Walau Felix cukup pintar mengelak serangan dari Vin, namun dia tak cukup beruntung untuk mengelak terus menerus. Kayu yang volumenya cukup besar itu menimpuk pinggulnya hingga ia berteriak kesakitan. Namun Felix tidak menyerah, ia masih bisa bertahan, bahkan ia masih dapat mendaratkan pukulannya pada wajah Vin. Sayangnya usaha Felix harus berakhir saat kepalanya terasa pusing karena kondisi tubuhnya yang tak memungkinkan, ditambah balok kayu itu menghamtam punggungnya telak. Felix tergeletak, tersungkur ditanah yang becek karena guyuran hujan.
"Dia pingsan?" gumam Vin.
"Hah, ini membosankan. Padahal tadi sore dia yang bersemangat mengajakku main hujan-hujanan, kekeke menyedihkan." Vin berkata sembari mengangkat tubuh Felix dan meletakkannya didalam mobil, Vin menatap tajam disekitar, menengok ke sekeliling untuk memastikan keamanannya, barulah setelah itu ia memacu mobil sedan hitam milik Felix itu dengan cepat. "Dia benar, ini sangat menyegarkan," ujarnya sembari tersenyum lebar.
03:05PM
Aroma yang menganggu, ini seperti bau debu dan besi-besi berkarat. Disaat yang bersamaan, suara kotak musik yang bermain itu menggema, asalnya dari atas sana (Sambil bayangin sambil denger lagu Willy william~Ego). Tetes demi tetes air yang terjatuh dari atap yang bocor dan suara bising hujan diluar sana membuat suasana asing itu begitu mencekam.
Felix mengedipkan mata, pandangannya masih kabur. Ia melenguh kasar saat merasakan sakit luar biasa pada tengkuk lehernya, mungkin itu pula yang menyebabkan penglihatannya tidak normal, dunia terasa berputar, bahkan ia merasa lantai ruangan ini terbalik sekarang.
"Eh?"
Tidak, bukan lantainya yang terbalik, lantainya terlihat normal. Hanya saja, Felix sedang tergantung dengan keadaan terbalik sekarang. Felix tersentak, kakinya terikat dan tergantung diatas. Ia meronta, bahkan kedua tangannya pun terikat kuat dibalik punggungnya.
"Sial, lepaskan aku!" teriaknya.
"Aku tau kau mendengarku bajingan! Kemari dan lepaskan aku!" teriaknya penuh amarah.
Felix tersentak saat pintu ruangan itu terbuka dan terbanting dengan keras. Vin melangkah masuk dengan air yang menetes dari seluruh tubuhnya, netra hitam itu menatap tajam kearah Felix hingga sebuah seringaian muncul disudut bibirnya.
"Pak Felix, kau berisik sekali!"