PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 31 : The next victim part 2



Rumanov College University


Dia sungguh ditangkap?" tanya Rin dengan kedua mata yang hampir keluar.


"Iya, kemarin sore dia ditangkap di kafe." tukas Bella dengan raut wajah serius.


"Kenapa kau tak langsung memberitahuku?"


"Aku shock, karena itu pertama kalinya aku melihat kejadian penangkapan seperti itu,"


"Lantas bagaimana?"


"Kurasa dia memang menyimpan senjata api, entahlah saat itu aku kurang tau mereka berbicara apa, lalu apa Kak Felix belum menghubungimu?"


"Belum,"


Rin menggigit kuku ibu jarinya seraya berpikir, Ronny Hailey sudah ditangkap, apa itu artinya kecurigaannya selama ini benar? Dialah pembunuh sesungguhnya? Perasaan cemas itu muncul dan menyebar hingga kerongga dada, membuat nafasnya sesak dan pikirannya sulit berkonsentrasi. Semuanya bercampur aduk, rasa gelisah, takut dan emosi, semua menjadi satu, membuat gadis itu tak bisa menahannya. Haruskah dia menenggak pil lagi?


"Aku ke toilet sebentar," ujar Rin bergegas. Terlihat Bella hanya menganggukan kepalanya perlahan, dia nampak bingung dan juga gelisah.


Langkah kakinya menyepat beriringan dengan detak jantung yang terus memacu. Airmatanya bahkan keluar dari sela-sela matanya. Ia menutup pintu toilet dan mengunci diri disana untuk beberapa saat, menangis tersedu seakan dunianya telah runtuh. Itu terlihat menyedihkan, sebagaimana gangguan mentalnya kambuh. Pelan-pelan ia menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya secara perlahan, Rin mengulangi hal itu berkali-kali dengan tangan yang mengenggam kuat pil penenang yang diresepkan oleh Dr. Freya.


Rin menghela nafasnya kasar, memegang dadanya yang kini sudah terasa lebih longgar. Ia membuka matanya sayu, sembari menyeka bekas air mata yang tadi membasahi pipi dan sela matanya.


"Aku masih bisa mengatasinya sendiri, syukurlah." gumamnya pelan. Ia membuka kepalan tangannya, ditatapnya pil-pil itu dengan lekat sebelum ia memasukkannya kembali kedalam tasnya. "Sial, aku bahkan ketakutan dengan hal yang masih abu-abu," gumamnya lagi.


DRT...DRT...DRT...


"Hallo,"


"Rin, bisakah kau kekantorku?"


"Oh, ya aku bisa Kak Felix, aku akan kesana saat kelasku berakhir,"


"Baik, aku menunggu."


Rin mendesah kasar, perlahan ia membasuh mukanya dan menatap wajahnya sendiri melalui kaca. "Hari ini aku seperti dipermainkan," ujarnya. "Setelah aku diangkat tinggi, kemudian aku dihempaskan didasar jurang yang dangkal."


...****************...


Rin termangu didalam taxi, menatap keluar dengan pikiran yang entah sedang dimana. Rin harus menghindari Nick agar dia tak mengacaukan hari ini, bahkan Bella yang merengek ingin ikut dengan Rin saat itu pun ditolak olehnya. Dia tak ingin membebankan siapapun dalam hal ini, bahkan Bella sekalipun.


Kantor polisi yang letaknya tak terlalu jauh dari kampus Rin itu terlihat megah, hanya inilah satu-satunya kantor polisi di Black Mountain, dan bila kita berkendara sedikit lebih jauh dari sini, maka kita akan mencapai pusat kota. Sembari mengunyah lolipop pemberian Vin, ia bergegas menuju ruangan yang berada di lantai atas. Felix sudah menunggu di ruangannya dengan beberapa berkas yang ia genggam.


"Duduk lah terlebih dahulu," ujarnya. Rin hanya mengangguk sembari menggeser kursi dan mendudukinya sesuai instruksi.


"Kami menangkap Ronny Hailey dan berhasil meminta keterangan darinya,"


"Lalu, apa benar itu adalah dia?"


"..."


"Dia bukan orangnya," tukas Felix. Rin tertegun dan sontak mengerutkan dahinya heran.


"Dia bukanlah pembunuh dan orang yang menguntitmu,"


"Apa?"


"Setidaknya kau benar bahwa dia memang menyimpan senjata api, dia sekarang sedang ditahan karena dia adalah seorang pemakai narkoba, itu karena kami menyita barang bukti yang ada padanya."


"Narkoba?"


"Iya, tapi mungkin dia akan segera keluar karena Ayahnya ingin menebusnya, entahlah aku pusing memikirkannya," jelas Felix.


"..."


"Lalu, dia yang berkelakuan aneh seperti yang kau lihat itu karena efek dari barang yang ia gunakan, kami juga sudah menyelidiki kalau dia tidak pernah kelayapan saat hujan turun, keluarganya juga sudah bersaksi bahkan para tetangganya."


"...Lalu, surat itu?"


"Sepertinya kita tidak bisa melacaknya dengan mudah, Rin."


"Apa maksudnya?"


Untuk beberapa saat Felix menghela nafasnya perlahan. Gadis itu seperti di ambang ketakutan, ia menarik dan mengenggam erat ujung mantelnya, memperlihatkan wajah polos dan ekspresinya yang tegang. Kecurigaannya selama ini salah. Itu membuatnya merasa bersalah dan takut, pertanyaan demi pertanyaan yang timbul dipikirannya membuatnya muak. Dengan pelan Felix mulai menjelaskan tentang surat itu pada Rin, tulisan siapa yang tertoreh dikertas itu dan siapa Dayana Hill? Itu tentu sesuatu hal yang tak mudah dimengerti, bagai menjawab soal yang tak pernah ia pelajari sebelumnya. Namun satu hal yang Rin ketahui, pembunuh itu pintar, ya tentu dia pintar, dia belum tertangkap hingga kini juga merupakan hasil dari kepintarannya. Felix bilang kalau dia tak akan melepas semua CCTV itu, bahkan bila Dayana Hill taruhannya. Dia seakan ingin menantang orang itu, Felix tentu ingin berpikir itu hanyalah sebuah gertakan, sepertinya pria itu pun beranggapan kalau selama ini yang menguntit Rin adalah berandalan yang tak ada kerjaan, setidaknya sebelum ia mengetahui bahwa tulisan itu adalah tulisan dari Dayana Hill, wanita yang dikabarkan telah hilang saat ini.


"Oh dan satu lagi, aku sudah memeriksa pistol yang dibawa oleh Ronny Hailey, dan itu tentu berbeda dengan pistol yang dipakai oleh orang yang telah menghabisi keluargamu," ujar Felix.


"..."


"Pelurunya berbeda," ujar Felix kemudian.


...****************...


Suara hujan yang turun amat deras itu memecah kesunyian malam itu, guntur yang menggelegar dan kilat yang terang seakan menyambar itu menambah kengeriannya. Seorang pria berjalan perlahan dengan wajah datarnya, ia memasuki rumah dan menurunkan penutup kepalanya yang sudah basah kuyup.


Sorot matanya sangat tajam seakan menunjukkan kalau suasana hatinya sedang buruk saat itu. Ia menanggalkan jas hujan beningnya, dan melepaskan topi putih kesukaannya. "Sial, polisi sial." umpatnya kesal.


Ia berjalan, mengambil sebuah palu dan bergegas menuju gudang bawah tanah rumahnya. Terlihat seorang wanita luyuh yang sudah tak berdaya, sepertinya ia mendedikasikan hari-harinya dengan menangis, matanya sembab dan memerah, ia memandangi sebuah bungkusan hitam yang terikat rapi didekatnya, kemudian ia kembali menangis seakan merasa luka saat melihat bungkusan hitam itu.


"Kau gagal, tulisanmu gagal!" ujar pria itu dengan suara parau.


Wanita itu hanya bisa menangis, terduduk lemas di kursi yang telah disatukan dengan tubuhnya itu.


"Hah..." ia menghela nafasnya, kemudian menyeringai dan berkata, "Itu artinya, aku akan membunuhmu."


Malam itu gemuruh hujan pun beriringan dengan hilangnya nyawa wanita itu. Didalam bathup yang telah terisi penuh air ia meletakkan wanita yang sudah tak bernyawa itu, dari kepalanya mengalir banyak sekali cairan merah kental hingga mengubah warna air didalam bathup. Dengan wajah datarnya ia mencuci palu yang berlumuran darah itu dan menaruhnya saat sudah dianggap bersih. Ia menghidupkan keran airnya, membersihkan diri dibawah pancuran air dengan wajah datarnya yang mengerikan. "Aku ingin melihatnya," gumamnya parau. Netranya melirik mayat Dayana yang tenggelam didalam bathup, sembari menggosok tubuhnya ia pun menghela nafas. "Ah, aku perlu lebih banyak kantong berwarna hitam," ujarnya.