
Rin menuruni bis terakhir malam itu, ia kembali berjalan gontai melewati gang kecil yang nampaknya sudah begitu sepi. Dia mengingat-ingat kejadian sore tadi, saat kecemasan luar biasa itu melanda dirinya, begitu menakutkan. Beruntung sekali Bella datang disaat yang paling tepat, ia memeluk Rin dan mengusap perlahan punggung belakang gadis itu, perlahan pula kecemasan itu kian memudar saat Bella mengoceh panjang lebar entah apa itu, fokusnya teralihkan akibat ocehan itu, walaupun tangannya masih sedikit gemetar, namun ia merasakan sedikit ketenangan perlahan merasuk.
Kak Ron sempat membuat gadis itu jengkel, ia terus saja meremehkan berita pembunuhan itu, dan lagi ia tersenyum aneh pada Rin yang menatapnya datar sore itu. Bagaimana bisa ia memuji kepintaran si pembunuh itu, hanya karena polisi tak menemukan jejak-jejaknya, bukan berarti ia akan lolos dari hukuman, penderitaan lain sudah pasti siap menunggunya, Rin memanas saat Kak Ron terus saja berbicara seolah-olah berita kematian orang-orang disini itu hanyalah sebuah lelucon baginya.
"Hah..." Rin menghela nafas kasar.
Rin merogoh saku celananya, mengambil benda petak canggih itu, namun gelap tak bercahaya, ia lupa untuk mengisi dayanya, raut wajahnya penuh kekecewaan saat ia memasukkan kembali benda itu disaku celananya. Tiba-tiba ia tersentak, terdiam dan tak melanjutkan langkahnya, bunyi gemuruh terdengar melengking dipermukaan, itu pertanda bahwa hujan akan segera datang, ia mempercepat langkahnya, berharap segera sampai di rumahnya sekarang. Ia mengutuk dirinya yang pulang terlalu malam, tak seharusnya ia terduduk lama di pinggiran danau hanya untuk menghabiskan rokok dan dua kaleng bir, kini pikirannya menjadi kalut, bahkan ia melihat semacam siluet bagaikan seseorang tengah berdiri tenang diujung gang gelap itu, bayangan hitam seorang pria dengan hoodie yang menutupi wajah dan kepalanya, ia terlihat mengenggam sebuah benda ditangannya. Bayangan itu seakan menunggu Rin dan itu sungguh memacu debar adrenalin, membuat jantung berdetak kian cepat.
Itu adalah sebuah pistol, benda yang ada ditangannya adalah sebuah pistol.
Rin menelan Saliva nya kasar, mencoba tetap tenang walau ia tau ada ancaman yang akan mendekat padanya, ia mempercepat laju jalannya, kepanikan memang membunuh akal sehat, bahkan Rin tak bisa berpikir jernih, seseorang itu mengikutinya, rasanya ia akan menangis sekarang, kemana hilangnya perasaan berani itu? Bahkan saat itu ia nekat mencari pembunuh itu sendirian, kini disaat pemikirannya telah terbuka, rasa takut ini ternyata sangat luar biasa.
Siapapun, tolong aku, batinnya berkata. Pandangannya kian mengabur, efek dari alkohol itu mulai terasa kembali, kecemasan dan kepanikan yang sudah tak bisa ia kontrol sendiri itu menelannya hidup-hidup.
Kenapa rasanya jalan ini begitu panjang, ia menepi, berhenti sejenak hanya untuk bernafas. Nafasnya tersengal dan mungkin sedikit tercekat, suara gemuruh yang meledak pun menambah kengerian, siapa yang akan menolongnya sekarang, tidak akan ada satupun manusia yang akan keluar dan mau menolongnya disaat seperti ini. Terasa bahwa pembunuh itu mungkin semakin dekat, Rin memejamkan matanya, berharap kematiannya tak terlalu menyakitkan, tubuhnya bergetar hebat, kedua kakinya bahkan sudah tak bisa berlari lagi, ia hanya bisa menangis ketakutan disana.
TEP
"KYAAAAAAAAAAAA.....," jeritnya.
Teriakan gadis itu sungguh memekakan telinga, bahkan suara gemuruh pun kalah telak karena lengkingannya. Seseorang telah mendaratkan sentuhan pada pundaknya, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan sembari berteriak histeris, meraung dengan mengatakan JANGAN BUNUH AKU!
Rin bungkam saat mendengar suara asing itu menggema, suara yang berat dan dalam, namun itu melegakan. Rin merenggangkan sela jarinya, membuka kelopak matanya secara perlahan, tampak kabur diawalnya, ia memberanikan diri untuk memindahkan kedua tangan yang menutupi wajahnya, nampak jelas wajah itu dipenuhi dengan keringat dingin yang mulai berjatuhan. Ia mengerjip-ngerjipkan matanya, sekarang sudah tampak jelas, sosok pria yang bahkan sering hadir di pikirannya tanpa permisi itu kini sedang berada dihadapannya, menyentuh pundaknya dan memandangnya dengan tatapan bingung.
"...K-kau?" ucap Rin terbata.
"..."
Rin menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan airmata agar tak keluar dihadapan pria itu, namun upaya itu gagal, ia menangis, mencengkram kuat kemeja putih yang dipakai pria itu, pria itu tampak sangat bingung namun ia tak mengeluarkan sepatah kata pun. Tanpa sadar, Rin mendekatkan dirinya, berusaha menenggelamkan dirinya didalam dekapan pria itu, menangis tersedu didada bidang pria itu tanpa rasa malu sedikitpun.
Ini sudah sepersekian menit Rin menangis didalam dekapan pria itu, perlahan tangisannya mulai mereda seiring usapan lembut yang diberikan pria itu pada puncak kepalanya, Rin merasa tenang, rasa nyaman yang ia dapatkan dari orang ini sejujurnya sangatlah ia rindukan, perasaan ini berbeda bahkan saat Bella memeluknya. Suara gemuruh yang bersahutan itu pada akhirnya menyadarkan Rin, ia mendongak sembari memperlihatkan pesona dari mata biru tua yang dipenuhi dengan bekas airmata, Rin mendelik, membulatkan kedua bola matanya saat tau dia tengah memeluk seseorang yang tak ia kenali. Pria itu tersenyum, matanya menyipit menyembunyikan netra hitam yang menawan itu.
"Kau sudah merasa tenang sekarang?" tanya pria itu.
"..."
Rin tak langsung menjawab, lalu hujan keburu datang, perlahan tapi pasti, sedikit namun menyakiti, rintik demi rintik yang ia turunkan itu membuyarkan semua lamunan Rin, ia segera melepaskan cengkraman tangannya pada kemeja pria itu. Pria itu tak menjawab apapun seakan membiarkan lesung pipinya yang berbicara.
"Hujan sudah turun, lebih baik kau kuantar pulang," ujarnya.