PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 23 : Kecurigaan



Pada akhirnya aku tetap tidak mengerti tentang Vin, bikin merinding saja, batin Rin.


"Ah, aku hampir lupa untuk menelpon Felix."


Rin mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, mencoba menghubungi Felix untuk menanyakan berita pembunuhan itu. Lama tak ada sahutan hingga membuat gadis itu jera.


"Mungkin dia sedang sibuk." gumam Rin sembari memasukkan kembali ponselnya kedalam saku. Namun tiba-tiba ponselnya berdering, Felix menelponnya.


"Hallo Rin,"


"Ya, hallo pak."


"Ada apa?"


Rin ragu, apakah dia harus menanyakan ini atau kah tidak. Namun ini sudah terlanjur, pada akhirnya gadis itu menanyakan semuanya, menceritakan keadaan dirinya hingga ia tak melihat lagi pria misterius itu tadi malam.


"Tapi, kenapa tiba-tiba ada pembunuhan lagi?" tanya Rin.


"Aku juga tidak tau, semuanya sedang diselidiki. Mayat yang ditemukan di hutan itu belum membusuk, bisa dipastikan dia dibunuh tadi malam, dan kami juga menemukan jejak darah disekitar area itu, pokoknya kau jangan terlalu khawatir, kami sedang menyelidikinya." jelas Felix panjang lebar.


"...Mm Pak, apa mungkin dia akan terus membunuh mulai sekarang? Maksudku, dia tak membuat ulah saat dia terus berada di bawah Apartemenku." ujar Rin terbata.


"...Ah Rin, aku juga belum tau mengenai hal itu, kita juga belum bisa memastikan, apakah pria yang menguntitmu itu adalah pembunuh itu atau bukan."


"..."


"Jangan khawatir, hubungi aku kalau terjadi sesuatu padamu, dan jangan memanggilku Pak!"


"Eh, ba-baiklah."


Hah, kepalaku jadi lelah. Aku berasumsi terlalu banyak, padahal aku harus bekerja setelah ini, batin Rin. Rin mengumpulkan rambut pirangnya itu menjadi satu dan mengikatnya kebelakang. Ia sibuk membersihkan semua peralatan disana, Bella tampaknya juga sibuk membersihkan meja-meja di kafetaria itu.


Kali ini pun sama, Kak Ron tengah terkekeh saat melihat berita pembunuhan itu di televisi. Itu membuat Rin gerah, namun ia tak bisa berbuat apapun pada manajernya itu. Rin melirik berita itu, wajah seseorang terpampang jelas di layar itu, dia korbannya, orang itu lah yang terbunuh tadi malam.


Aku pernah melihatnya, orang itu adalah pria mabuk waktu itu, pria yang sama yang bertengkar dengan Kak Ron. Astaga kenapa selalu seperti ini, pikirnya.


"Tidak heran sih, orang tak berguna seperti dia memang pantas mati." ujar Kak Ron gamblang.


Ronny terkekeh sembari menikmati secangkir kopi hangat, mulutnya tak berhenti mengoceh, menjelek-jelekkan orang yang telah tiada itu, apa yang dipikirkannya? Kenapa ada orang sebusuk itu?.


"Kak Ron, kau tak boleh membicarakan orang yang sudah mati!" tukas Rin.


"Huh?"


"Hah? Pft, hahahaha.... Kenapa kau terlihat begitu marah Rin? Apa dia kerabatmu?" jawab pria itu sembari tertawa. "Kalau aku yang membunuhnya, memangnya kenapa?" tambahnya.


Rin tersentak dan diam, namun jelas dalam hatinya ia menahan rasa kesalnya. Bella menghampirinya dan mengusap punggung Rin secara perlahan, seakan memberi tahu untuk tak meneruskan perdebatan itu. Rin mengatur nafasnya, berharap rasa jengkelnya terhadap pria itu mereda. Terlihat kalau Ronny sedang menatapnya tajam, ia menyeringai kecil hingga tak ada seorang pun yang menyadarinya, termasuk Rin. Tidak ada bukti semua orang melihat warna yang sama. Bahkan, maupun Rin dan Ronny, mereka memiliki pandangan berbeda tentang berita kematian yang sering terjadi.


Sebenarnya siapa pembunuh itu? Pertanyaan itu tak pernah berhenti melintas barang sehari saja. Kira-kira bagaimana perasaannya saat membunuh orang-orang tak bersalah? Apakah dia bahkan tak berpikir bagaimana nasib orang yang ditinggalkan?


Dulu, putus asa adalah bagian yang sangat menyakitkan. Orang yang merasa putus asa sebenarnya bukan ingin mati, namun mereka tak ingin hidup seperti itu. Rasa kesal itu datang begitu saja, tak sepantasnya Ronny bereaksi seperti itu. Bahkan tanpa ragu ia mengatakan kalimat yang mengerikan.


Ronny melenggang pergi setelah menghabiskan minumannya, rasa menjengkelkan itu perlahan hilang karena tak lagi melihat wajah angkuh itu. Rin berjalan pelan kedalam gudang, hendak mengambil beberapa bahan yang kurang. Fokusnya teralihkan saat melihat sebuah tas dan jaket terletak disana. Itu milik Ronny yang tertinggal.


Sudah seharusnya bagi orang yang tau kesopanan untuk membiarkan barang milik orang lain, namun rasa penasaran Rin malah menghilangkan sopan santunnya dalam sekejap. Dengan tangannya yang kecil, ia membuka sedikit tas itu. Tak ada yang aneh disana, dan itu membuat Rin bernafas lega. "Hah, ternyata aku hanya berlebihan tentang dia," gumam Rin pelan. Rin berbalik, namun sikunya tak sengaja menyenggol jaket itu dan membuatnya terjatuh, segera Rin memungutnya dan tiba-tiba sebuah benda terjatuh dari jaket itu.


Mata Rin membulat, pupilnya bergetar saat itu, ia terpaku, bergetar saat melihat sebuah pistol yang terjatuh dari saku jaket itu. Untuk beberapa saat pikirannya kacau, namun suara Bella yang meneriaki namanya itu membuatnya tersadar, dengan cepat ia memasukkan kembali pistol itu dan menaruhnya kembali ke tempat semula.


"Rin, ada apa denganmu? Kau terlihat pucat dan berkeringat," tanya Bella khawatir.


"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya sedikit merasa pusing."


"Kalau begitu kau pulang saja, nanti aku yang akan bilang pada Kak Ron."


"...Mm baiklah, tolong ya Bella. Maaf jadi merepotkanmu,"


Bella mengangguk-anggukan kepalanya mantap dan menyuruh Rin untuk segera istirahat.


Rin memegangi dahinya, berharap kecemasannya segera hilang, rasanya ia ingin segera memuntahkan semua isi perutnya saat itu, tubuhnya masih bergetar walau ia sudah bersusah payah menahannya. Ini terlalu mengerikan untuk dipikirkan, bahkan Rin ingin ingatannya dihapuskan saja. Rin terduduk lemas dan menyandarkan dirinya di salah satu bangku jalan, ia memegangi dadanya yang sesak, rasanya seperti terbakar. Rin merogoh-rogoh isi tasnya, mencari-cari dimana keberadaan pil sialan itu. Dengan tangan yang bergetar, ia mengeluarkan beberapa pil penenang dan berupaya menenggaknya, namun untuk beberapa saat ia terdiam dan mengurungkan niatnya. Ia kembali teringat perkataan Vin waktu itu, Rin menggigit bibir bawahnya dan menekan botol pil penenang itu, ia mulai dengan memejamkan matanya, menarik nafasnya dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Ia mengulanginya beberapa kali, dan berhasil. Rasa gelisah itu kini menghilang perlahan-lahan, kewarasannya pelan-pelan telah kembali walau belum sepenuhnya.


Satu jam telah berlalu, selama itu pula Rin berusaha melawan rasa gelisahnya yang berlebihan itu. Ia membetulkan mantelnya karena cuaca yang semakin dingin, ia menghela nafas kasar, berniat menelpon seseorang untuk mendengarkan ceritanya. Satu-satunya orang yang terpikirkan hanya Felix, dia adalah polisi dan tentu dia akan membantu bila Rin menceritakan hal itu padanya, bukan?


Nomornya tersambung, namun belum ada jawaban. Entah kenapa tangan dan otak Rin sama sekali tidak sinkron hari ini.


"Hallo," ujar suara dari seberang sana.


"Oh hallo, apa aku menganggumu?"


"Iya, tapi karena itu kau mungkin akan kubiarkan."


"Hah?"


"Haha, bercanda. Jadi ada apa, Rin?"


"Mm bisakah kau kesini, Vin?"