PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 11 : Anxiety



"Kau bilang apa?" tanya Vin memastikan.


"Em tidak, aku tidak bilang apapun, dan lihat, hujan sudah berhenti" jawab Rin salah tingkah.


Pria itu menghadapkan pandangannya ke jendela, menetapkan tatapannya sebentar disana dan berakhir dengan helaan nafas yang terdengar kasar.


"Sepertinya hujan memang sudah berhenti, aku akan bersiap untuk pulang,"


"Oh, apa kau tidak takut? Ini sudah larut malam,"


"Pft, jadi kau sedang menawarkanku untuk menginap ya?"


"Apa? Kau ini iseng sekali, aku hanya bertanya, jangan berlebihan begitu!"


"Haha, aku ingin sekali menginap, tapi aku masih ada urusan, jadi mungkin lain kali."


"..."


Rin tak menjawab lagi, ekspresinya kini mungkin dapat menjelaskan semua nya, ini memang sudah sangat larut, andai saja dia bukan pria, Rin mungkin akan benar-benar menyuruhnya menginap. Sepertinya menganalisa seseorang dari luarnya saja itu memang kesalahan cukup fatal, aneh nya perasaan khawatir kini menyerangnya saat Vin hendak pergi saat itu, ada rasa kecewa berkecamuk dirongga dada, itu terasa seakan kau baru saja kehilangan hal-hal yang membuatmu senang.


"Vin,"


"Ya?"


"Sekali lagi terimakasih,"


"Hm, kalau begitu kau harus mentraktirku makan siang nanti."


"Huh?"


"Ya itu kalau kau benar-benar tau caranya berterimakasih."


"..."


"Hah, ya baiklah."


"Aku akan menantikannya, nah aku pulang sekarang,"


"Hati-hati."


"Baik." ujarnya sembari tersenyum.


"Ah, apa kau tak ingin memelukku seperti tadi?" godanya


"Enyah saja kau, dasar mesum!"


Rin menutup pintu Apartemennya dengan keras, mukanya memerah bersamaan dengan jantungnya yang berdebar, dari celah kecil dipintu itu ia dapat melihat, Vin melenggang pergi dengan terkekeh senang. Pria itu sangat aneh, dia bahkan masih dapat tertawa disaat situasi seperti ini.


"Kuharap dia pulang dengan selamat," ujar gadis itu pelan.


Waktu terus saja berjalan, rasanya mata Rin enggan sekali untuk terpejam, ia menatapi langit-langit kamarnya yang tak menarik, berharap rasa kantuk menyerbu dirinya, lamunan itu semakin panjang, siluet menyeramkan dari pria itu sungguh menggetarkan jantung, dia mengenggam sebuah pistol yang mungkin akan siap menembak Rin saat itu. Apa yang membuat Rin terlihat panik dan takut? Sekarang ia takut akan kematian itu sendiri. Malam ini cukup melelahkan, Rin meyakini satu hal, yakni pembunuh itu adalah seorang pria.


Sejuta pertanyaan terus menerus berdatangan di kepalanya yang kecil, rasa keingintahuan pada pembunuh itu terus bertambah besar, namun rasa takut akan kematian juga tak kalah besarnya, bulu kuduknya seakan tegak membuat sensasi merinding yang luar biasa, tubuhnya bergetar tanpa permisi ketika mengingat bagaimana keluarganya dibunuh dengan sebuah pistol.


Situasi ini menyulitkan sehingga membuatnya terbangun dan membasuh seluruh permukaan wajahnya dengan air keran yang dingin, rasanya masih kurang, ada perasaan sesak yang menyekat disekitar dada, lantas Rin harus melakukan apa? Dengan ragu ia membuka jendela kamarnya, langit malam yang begitu kelam, bekas hujan yang masih terlihat jelas, dan bau udara yang menyegarkan, ini adalah bau khas setelah hujan, petrichor namanya. Entah mengapa rasanya bau seperti ini bagai tak asing, apa karena baru-baru ini sering hujan maka nya aroma ini sering tercium? Ya, itu bisa saja terjadi.


Untuk beberapa saat Rin merasa cukup tenang, dia mungkin hanya membutuhkan udara segar untuk dihirup. Sendirian itu memang menyiksa, semua rasa sakit yang terpendam kini muncul dan sangat terasa, wajar saja bila orang bilang bahwa sendiri itu berbahaya, karena mental kita lah yang sedang dipermainkannya.


Buai angin malam yang menerpa wajahnya yang hangat itu menjadi saksi bahwa Rin sedang memikirkan seseorang. Kini rasa kantuk datang dengan sendirinya, apa karena sekarang hati dan otaknya sudah lebih damai daripada sebelumnya? Ia menutup jendelanya dan berbaring diranjangnya, menutup mata rapat-rapat dan tertidur dengan lelap.


Black Mountain, 10 Desember 2019


"Gejala Anxiety?" tukas Rin sedikit bingung.


Dr. Freya, psikiater cantik yang sedang menangani permasalahan dari Rin. Ia menegaskan bahwa Anxiety yang dirasakan oleh Rin merupakan efek dari candu alkohol itu sendiri. Alkohol itu benar-benar akan membunuhnya, bahkan Rin akan menjadi mahasiswi sebentar lagi, siapa sangka bahwa penyakit mental yang dideritanya kini memasuki tahap yang serius.


"Aku akan memberimu beberapa obat penenang." ujar Dr. Freya.


"..."


"Kapan kau akan memulai kuliahmu?"


"Ah, di awal tahun."


"Itu kabar bagus, bulan Desember ini tinggal beberapa minggu lagi dan kau akan memulai kehidupan baru sebagai mahasiswi."


"Itu benar," jawab Rin pelan.


Dr. Freya mengatakan bahwa Rin melihat suatu perubahan itu sebagai hal yang negatif, itu diketahui selama sesi konseling mereka, halusinasi bahkan terlihat nyata saat pikiran sedang tak dalam kondisi prima, itu yang dikatakan oleh Dr. Freya. Dengan kata lain, semua yang dialami Rin, termasuk pria pembawa pistol itu hanya halusinasi akibat rasa trauma yang dirasakannya dulu. Saat sesi konseling, Rin mengeluhkan semuanya, bahkan hal sepele sekalipun, itu seperti hati kecilnya yang tengah berbicara.


"Kau menyikapi perubahan sebagai sesuatu yang negatif, padahal hidup lebih baik itu bermula dari suatu perubahan, kau selalu mencari penyebab luka dihatimu, mencari alasan atas kekosongan hatimu, dan ketika kau kalut maka kau beralih kepada sesuatu yang salah, lantas sekarang kau mengutuk kesalahan itu."


"...Aku hanya takut,"


"Kau takut?"


"Ya!"


"Perasaan takut itu akan terasa lebih besar jika kau hanya memendamnya, kau hanya akan menambah penderitaanmu saja, mungkin alkohol yang kau minum akan merendahkan kadar menderitamu untuk sesaat, bukankah itu sama sekali tidak efektif, Rin?"


"...Ya, kau benar, saat aku menuangkan segala rasa gelisahku, semua nya terasa lebih baik,"


"Ya, itu memang benar, jangan takut untuk menuangkan keluh kesah pada orang lain, kau bilang, kau bertemu seseorang yang melalui masa sulit seperti dirimu juga?"


"Benar, tapi dia tak sepertiku, sepertinya hari-hari yang dilaluinya menyenangkan, bahkan aku merasakan itu saat berbicara dengannya,"


"Kenapa kau tak mencoba berteman dengannya, berteman dengan seseorang yang dapat mengubah kita menjadi lebih baik itu bukankah hal bagus?"


"Kami baru bertemu satu kali."


"Lantas, apa masalahnya?"


"Aku tak ingin berteman hanya untuk membebaninya, maksudku ketika aku membagi bebanku, bukankah dia juga akan terbebani?"


"Kau harus tau, tidak semua orang itu sesensitif dirimu, kau sudah membuktikan itu pada temanmu yang lain, Bella contohnya."


"Oh, kurasa kau benar, Dr Freya."


"Nah Rin, aku akan selalu mengingatkan ini padamu, kelola stres mu dengan baik, jangan jadikan traumamu memakan hidupmu, jangan terlalu banyak menganalisa hal yang belum tentu terjadi, berpikir positif, jangan jadikan sebuah pembenaran sebagai hal yang negatif, jika kau merasa hal-hal itu membuatmu gelisah, kau bisa mengandalkan obat itu."


"Baiklah, aku akan mengingat itu,"