
Black Mountain, 31 Desember 2021
Bising dan gempar. Black Mountain kini heboh atas berita yang disiarkan baru-baru ini. Banyak diantara mereka yang bergembira dan bernafas lega dengan berita itu, ada pula yang bersedih dan menyimpan segenap kebencian dalam diri mereka. Pelakunya sudah tertangkap, pembunuh berantai itu sudah tidak ada lagi. Berita menghebohkan ini memacu debar adrenalin bagi mereka yang menyaksikan jasad Nick, hal itu dengan cepat menyebar ke berbagai sosial media dan siaran televisi. Black Mountain, daerah penghujung yang diabaikan, bahkan teror mengerikan beberapa tahun lamanya itu tak pernah dianggap penting oleh para petinggi.
Saat itu hujan turun sangat deras, banyak orang yang mengutuknya, ada pula yang menyayangkan kematiannya. Beberapa diantara mereka sangat ingin melihat kematian sang pelaku dengan kedua mata mereka sendiri, ya itu adalah kerabat para korban-korbannya. Masyarakat berlalu lalang ditengah derasnya hujan, sungguh fenomena yang sangat dirindukan. Pintu rumah terbuka lebar, tidak ada lagi yang menebar ketakutan saat hari hujan.
Ini sudah dua hari semenjak hari mengerikan itu. Kemarin, Felix segera datang bersama beberapa polisi dan mobil Ambulance, Rin menangis tiada henti waktu itu, tubuhnya gemetar bahkan tangannya dipenuhi oleh darah Vin. Tak dapat disangka pelakunya adalah Nick, bahkan gadis itu tak dapat membayangkan kalau pembunuh itu selalu berada didekatnya selama ini. Seketika, apartemen itu telah dilingkari banyak garis polisi, Felix memeriksa revolver yang ia gunakan untuk menembak Rin waktu itu, dan itu adalah revolver yang sama yang ia gunakan untuk menghabisi keluarga Rin.
Gadis itu tengah tertidur lelap, menjaga kekasihnya yang masih terbaring dirumah sakit dengan perban diperutnya. Vin tersenyum dan membelai wajah Rin lembut, pipinya yang lebam tempo hari kini sudah berangsur pulih. Mata hitamnya menerawang kedepan, banyak polisi di depan pintu kamar itu, ia membaringkan kepalanya, menatap langit-langit kamar rumah sakit itu sembari menghela nafas kasar.
Rin mengedip-ngedipkan matanya, gerakan tangan Vin ternyata membangunkan gadis itu, ia mengangkat kepalanya dan mengusap kedua matanya.
"Ah, kau terbangun gara-gara aku ya?"
"Oh Vin, kau bangun. Aku ketiduran, apa kau lapar? Ada yang sakit?" pertanyaan beruntun mulai keluar dari bibir kecil Rin. Vin malah terkekeh, ia mengusap puncak kepala Rin pelan, membuat Rin mengalihkan pandangannya.
"Aku tidak apa-apa, luka ini sudah sembuh dan aku ingin pulang," ujar Vin.
"Tapi kata dokter kau belum pulih sepenuhnya,"
"Aku bosan disini, lagi pula pemulihan dirumah pasti akan lebih bagus. Lalu, rumahku pasti sangat berantakan, ada banyak sisa makanan yang membusuk bila tak aku bereskan."
"Ya ampun, kau masih memikirkan hal semacam itu sekarang?"
"Tentu saja, aku harus membersihkan rumahku karena itu adalah rumah kita nanti." ujarnya sembari terkekeh.
"Apasih," jawab Rin ikut terkekeh. Mereka tertawa bersama sesaat hingga pada akhirnya Rin memeluk pria itu erat.
"Aku sangat takut waktu itu, aku takut kau kenapa-kenapa."
"..." Vin tersentak, dengan perlahan ia mengusap puncak kepala gadis itu dan dengan pelan ia membelai rambutnya, ia mengembangkan senyum simpul, ekspresinya mengisyaratkan perasaan lega.
"Jangan takut, aku ini kuat loh!" goda Vin.
"Iya-iya kau kuat, kau yang terbaik!" ujar Rin lebih mengeratkan pelukannya.
"Aw, itu masih sakit!" keluhnya.
"Oh maaf, maafkan aku. Habis, kau bilang kau kuat,"
"Kau menggodaku?"
"Pft, hahaa wajahmu jelek sekali saat kesakitan seperti tadi,"
Tertawa ini sangat melegakan, akhirnya aku bisa tertawa lepas seperti ini. Walau pada akhirnya aku tak menyangka semuanya berakhir seperti ini, dan Ayahku, beliau menyimpan rahasia gila selama ini dibelakang kami. Aku tak sepenuhnya menyalahkan Nick atas ini, tapi sungguh aku marah padanya kenapa dia menjadi seperti itu. Membunuh, itu bukanlah suatu hal yang harus dibenarkan, aku tak menyangka dia tega berbuat seperti itu, sesakit apa yang ia rasakan hingga ia tega membunuh semua keluargaku, bahkan semua orang yang tak ada hubungannya. Kini aku tau, kenapa jasad Ayah ada banyak serbuk abu dan aroma Bunga Lily, itu mengerikan bila dipikirkan. Terlepas dari itu, aku lega karena Vin dan juga Bella masih bisa diselamatkan, aku sangat bersyukur untuk itu.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Nick membuyarkan lamunan Rin.
"Ah, tidak ada. Aku sangat senang, aku masih bisa melihatmu seperti ini."
"..."
"Apa kau membenci Nick?" tanya Vin.
"Entahlah. Ketimbang membenci dirinya, aku lebih membenci fakta bahwa semua ini terjadi denganku."
"..."
Tanpa mengatakan apapun, Vin yang seolah tau apa yang dibutuhkan gadis itu langsung merengkuhnya, mendekapnya penuh hangat sembari mengecup puncak kepalanya pelan.
Dari balik pintu kamar, sorot mata biru muda itu terlihat sayu. Mereka terlihat bahagia, begitu mungkin yang terlintas di benak Felix saat melihat Vin dan Rin. Ia mengalihkan pandangannya, sepertinya mengintip dua orang yang sedang kasmaran itu tak terlalu bagus untuk hati dan perasaannya.