
Senyum manisnya beralih menjadi wajah datar menakutkan, sembari terus melangkahkan kakinya, semakin pula perasaan takut itu menjalar keseluruh tubuh. Tanpa berpikir panjang, Rin segera masuk kedalam kamar mandi rusak itu dan mengunci pintunya. Rin terisak dengan gemetar ketakutan, sementara ketukan pintu dari luar terdengar kian menguat.
Beberapa kali Rin terasa akan mengeluarkan isi perutnya lantaran bau busuk yang sangat menyengat di dalam kamar mandi itu.
"Rin, keluarlah! Aku akan menjelaskan semuanya, kumohon keluarlah!" teriak Vin.
Kepala kecil yang tak bisa mencerna semuanya itu perlahan tak bisa lagi mentolerir, rasa pusing yang menyiksa ditambah dadanya yang terasa sesak, hal itu datang kembali. Rin terus menangis bahkan tanpa suara, seolah mengekspresikan bahwa dia sedang takut dan kecewa.
"Rin! Kumohon buka pintunya, kau akan pingsan bila terus berada didalam!"
Apa yang harus kulakukan sekarang? Hiks, aku terjebak, dengan seorang pembunuh yang sudah kukencani selama ini.
Tanpa sadar, ia terus berjalan mundur sembari menyeka air matanya yang terus mengalir. Pada akhirnya, kaki gadis itu menyentuh kantong plastik hitam yang berada di sudut dinding. Dengan cepat ia menutup hidungnya rapat-rapat, tentu bau busuk itu berasal dari kantong plastik itu. Matanya terus mengeluarkan airmata, sementara tangannya bergerak dengan ragu, dengan sedikit keberanian ia membuka isi kantong plastik itu.
"KYAAAAAA!" teriakannya menggema di dalam kamar mandi itu, disusul dengan suara gebrakan yang sekilas. Vincent tersentak, ia menghela nafasnya kasar, "Tch, dia pasti sudah membuka isi plastik itu," gumamnya. Pria itu bergerak mundur, menghamtamkan lengannya dengan kuat ke arah pintu agar pintu kamar mandi itu segera terbuka, tak butuh waktu yang lama, hanya dua dorongan dan pintu berhasil terbuka. Vin segera mengangkat Rin yang tengah tergeletak tak sadarkan diri, diliriknya plastik hitam yang sudah terbuka itu. Sebuah potongan tangan dan kaki, jelas saja gadis ini berteriak dan langsung pingsan setelah melihat hal mengerikan itu.
...****************...
Kepalaku masih terasa sakit, tapi dadaku tidak lagi terasa sesak, pandanganku kabur, aku tak bisa melihat dengan jelas.
Rin mengedip-ngedipkan matanya, suasana yang tidak asing ini membuatnya berpikir sedang ada dimana dia sekarang. Baru saja ia ingin mengusap matanya, namun ia tersadar bahwa kini kedua tangannya telah terikat.
Gadis itu mengingatnya, ini adalah kamar pembunuh itu, ini kamar kekasihnya, Vin. Rin mencoba menggerakan tangannya, namun itu tentu tak cukup untuk melepaskan ikatan tali pada tangannya.
Suara decitan pintu itu membuat jantungnya bergemuruh, Vin masuk membawa semangkuk bubur dan segelas air putih.
"Rin, kau sudah bangun? Kebetulan sekali aku membawakan sarapan untukmu," ujarnya dengan senyum sumringah.
Vin duduk tepat disebelah Rin yang berbaring, wajah gadis itu menekuk, matanya bahkan memicing tajam. Apa dia sedang kesal padaku? Batin Vin.
"Nah ayo duduk dulu," ujar Vin sembari memegang tubuh Rin agar dia bisa duduk dan bersandar. "Sekarang, buka mulutmu!" tukasnya sembari menyendokkan bubur dan mengarahkannya kemulut Rin. Namun, gadis itu menutup rapat mulutnya, matanya memerah, dan air mata mulai keluar perlahan dari sudut matanya.
"Ya ampun, kau menangis? Tolong jangan menangis Rin, apa kau kesal padaku?" ujar Vin dengan raut wajah paniknya, ia berusaha mengusap air mata yang jatuh di pelupuk mata Rin, namun gadis itu terus mengelak dengan mengalihkan pandangannya.
Tubuh gadis itu bergetar hebat, terlihat bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. Menahan perasaan takut dan perasaan kecewa secara bersamaan, apalagi yang bisa ia lakukan kecuali diam dan menangis.
"Sebenarnya kenapa... Hiks, kenapa kau? Kenapa harus kau? Hiks,"
"Apa maksudmu Rin?"
"Kenapa harus menjadi pembunuh Vin? Kenapa?" teriak gadis itu dengan isak tangisnya.
"..."
"Apa kau akan membunuhku juga? Memotong-motong bagian tubuhku dan membuangnya di hutan?"
"..."
Entah darimana keberanian itu, semua hal yang terjadi padanya seakan tak ada yang masuk akal, beberapa kali ia terjerat dengan orang yang ingin membunuhnya, namun selalu saja Vin menyelamatkannya. Sungguh ironi bila pada akhirnya justru Vin yang akan menghilangkan nyawanya.
Rin memberanikan diri menatap wajah pria yang sedang membisu itu. Tatapannya sedingin es, namun tersirat hal yang menyedihkan setiap menatap netra hitam yang tajam itu.
"Tidak, kau salah. Aku tidak akan membunuhmu, aku tak punya keinginan untuk melakukan itu padamu."
"Tidak akan? Bagaimana aku mempercayai pembunuh sepertimu? Bila kau saja tega membunuh dan menyiksa orang-orang itu, apa jaminannya kau tak akan melakukan itu padaku dikemudian hari."
"..."
"Berhentilah menatapku seperti itu Vin, berhentilah seolah-olah kau memang mencintaiku walau pada akhirnya kau akan menghabisiku! Ya tuhan, kau bahkan membunuh Felix, hiks."
"..."
"Apa sekarang kau sedang menangisi dia?" tanyanya. Rin tersentak, netra hitam itu menatapnya tanpa celah, bagai api yang menyala, seketika auranya berubah sesaat setelah Rin menyebut nama Felix.
"Kau tak perlu menangisi polisi itu Rin, aku belum melakukan apapun padanya, dia sendiri yang menginginkan kematian itu dengan mengangguku."
"..."
"Aku tak akan membunuhmu, kau harus percaya itu. Aku mencintaimu, Rin!" ujarnya dengan suara rendah.