PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 3 : Sang penyuka hujan



Black Mountain, 20 Maret 2019 04:40PM


Seorang pria berusia sekitar 19 tahunan sedang berdiri diambang jendela, menatapi langit mendung yang sebentar lagi mungkin akan memuntahkan butiran-butiran airnya.


Dia tersenyum, senyum manis yang mengartikan sesuatu.


Awan mulai menghitam, tetes demi tetes air mulai berjatuhan, ia menyeringai.


Sembari memejamkan matanya, ia menghirup udara sedalam-dalam nya lalu dihela nya.


"Aku sungguh menyukai aroma ini, aroma hujan, seakan menjadi pertanda bahwa inilah saatnya rasa sesak didadaku akan hilang" gumamnya.


Netra tajam nya terus saja menyorot keluar, seakan sedang mencari-cari sesuatu yang menarik.


Ia melangkahkan kakinya, kesudut kamarnya dan meraih sebuah jas hujan berwarna bening miliknya.


Namun ia terdiam dan mengurungkan niatnya, netra nya pun beralih kearah samping.


"Ah, topiku" ujarnya sembari menyambar topi putih yang tergantung didinding itu kemudian memakainya.


Ia melangkah gontai ditengah derasnya hujan hari itu, sambil bersiul walau suara siulan nya nyaris tak terdengar sama sekali disana, namun itu bukanlah masalah, ia menyukai suara hujan, bagaikan memberi ketenangan dalam jiwanya yang perlahan mulai rapuh.


Ia mendelik dan menghentikan langkah kakinya, ia mengerutkan dahinya dengan sorot mata yang datar.


Masalah sesungguhnya adalah disana, ditempat yang sedang ia tatap dengan tajam. Seekor anjing yang entah darimana datangnya itu mengonggong sekuat tenaga kearahnya, ia membenci anjing, itu benar-benar musuh terbesarnya, semua bahkan akan kacau karena seekor anjing saja.


Ia mengunci telinganya rapat-rapat, suara anjing itu merusak suasana hatinya, bahkan menjadikan suara hujan yang indah itu menjadi tak karuan.


Alih-alih menghilangkan rasa sesak, anjing itu malah semakin membuatnya sesak.


Ia mengambil sebuah batu besar, lalu tanpa permisi kepala si anjing pun beradu dengan batu itu, bukan sekali, tapi berkali-kali.


Tentu air mengalir tidak lagi berwarna bening, melainkan merah dan kental.


"Sial" umpatnya.


Ia mengibas-ngibaskan kaos putihnya itu agar hilang dari noda merah yang kental, namun sepertinya itu agak sulit walaupun sekarang sedang hujan sekalipun.


Matanya beralih ke anjing yang mengenaskan itu, dia hanya tersenyum, kini lesung pipinya yang berbicara, sambil terus bersiul ia melanjutkan perjalanan nya.


Kini hujan sudah tak lagi deras seperti tadi, perlahan air yang turun tak lagi menyakiti, ia menyandarkan punggungnya di sebuah dinding jembatan penyebrang, berniat melihat kembali kaosnya dengan menundukan kepalanya.


Apa hujan nya berhenti?


Dia berpikir seperti itu ketika tau tak ada lagi air yang menitik di puncak kepalanya.


Nampak sebuah siluet pun menutupi pandangan nya. Dengan perlahan ia mendongak keatas.


Sembari memayungi pria itu dengan tatapan datarnya, ia juga tak mengatakan apapun.


Sebuah seringaian terlihat di bibir pria itu, seakan merasa bahwa makanan kini datang sendiri tanpa harus dicari, begitu pikirnya.


"Pegang payungnya" ujar gadis itu.


"..."


Seringaian itu lenyap, yang ada hanya dahi yang mengkerut. Walau begitu, ia tetap memegang payung itu tanpa mengucapkan apapun.


"Kau boleh mengambilnya, pulanglah cepat, sebelum dia mendapatkanmu, dan jangan lupa kerumah sakit" ujarnya dengan lantang.


Setelah mengucapkan hal itu, ia melenggang pergi.


Anehnya, pria itu hanya memandangi gadis itu dengan tatapan bingung, diliriknya payung yang sedang ia genggam bergantian dengan kaosnya yang penuh bercak darah.


Ia tersadar lalu menutupi wajahnya dengan telapak tangan nya, seakan menahan tawa yang pada akhirnya tersalurkan jua, ia terkikik.


"Dia kira aku akan dibunuh, kekeke"


Pria itu menyeka matanya, kini ia sudah dapat mengontrol tawanya, disingkirkannya batu besar yang berada tepat disamping kakinya itu, mungkin karena sudah tak ada guna nya.


"Ya ampun, ini menggelikan sekali, sepertinya moodku jadi bagus karena dia"


Pria itu berdiri dengan tangan yang memegang sebuah payung, ia berjalan gontai ditemani payungnya, sesekali ia tersenyum, entah apa yang sedang ia pikirkan, dia terus saja berjalan dengan tatapannya yang datar.


"Lebih baik aku pulang saja" gumamnya.


*


23:45PM


Rin membenci saat malam itu tiba, malam dengan kesendirian, bercampur dengan hasrat yang penuh, menghembuskan angin, mendatangkan hujan, bahkan memori seakan terhujam dengan semua kenangan-kenangan itu.


Enam bulan telah berlalu, tak ada yang spesial, semua terasa sama, hampa dan tanpa semangat yang menggelora, kadangkala Rin terduduk, melamun di balkon kamarnya ditemani dengan beberapa botol alkohol dan rokok yang setia mendampinginya. Pikirannya kalut, bahkan ia jarang sekali keluar dari rumahnya, tetangga dan temannya mungkin berpikir bahwa dia menjadi gila dari waktu ke waktu, nyatanya itu benar terjadi, yang dibutuhkannya mungkin sebuah sandaran, namun semua orang kini benar-benar mengacuhkannya, beberapa mungkin menatapnya dengan iba, dan sebagian yang lain hanya akan menjadikannya sebagai buah bibir. Hari ini adalah hari tergila dihidupnya, sengaja keluar demi bertemu si pembunuh itu, mati pun tak apa, asal rasa penasaran ini terbebaskan, namun ternyata kehidupan hampa ini masih memihak Rin, itu adalah salah satu fakta pahit yang tak ingin Rin miliki.


Tepat dimalam ini, Rin memejamkan matanya, tubuhnya kini sudah menciut, bahkan pipinya terlihat lebih tirus, sorot mata emerald itu tidak lagi memancarkan kebahagiaan seperti dulu kala, cahaya dari mata itu kini meredam dan memudar perlahan, ia tertidur dengan pulas setelah menenggak beberapa pil tidur miliknya.


Rin mendelik, ditempat yang semula gelap kini berubah menjadi tempat yang indah, tepat disebrangnya, terlihat sosok itu, sosok yang sangat dirindukannya.


"Ayah... Ibu.... Ran..." ucapnya terbata, airmata mulai menitik dari sela-sela matanya, sosok itu tersenyum, sembari merentangkan tangan berharap Rin segera berlari kepada mereka, Rin segera berlari menghampiri, mendekap kuat tubuh Ibunya dan tak ingin melepasnya, ini adalah mimpi, Rin tau itu, namun ia tak ingin bangun dari mimpi ini.


"Jangan tinggalkan Rin sendirian, hiks hiks" ucap Rin disela tangisannya.


"Rin, jangan menangis, kami tak pergi kemana-mana" ujar Rosalie dengan lembut, "Ya Rin, Ayah dan Ibu selalu berada didekatmu, maka dari itu, hiduplah dengan baik, jangan terus berlarut dalam kesedihanmu, berjuanglah", suara Derrick mengakhiri segalanya, sosok mereka menghilang, meninggalkan tempat gelap yang tak asing bagi Rin.