PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 24 : Kau tidaklah bodoh!



Tidak ada cahaya, sepertinya terik matahari sangat dirindukan sekarang ini. Rin menyandarkan punggungnya, memejamkan mata dan menghela nafasnya yang seakan membeku. Menjalani hidup agar lebih baik? Ternyata itu juga sangat melelahkan. Rin membuka matanya pelan saat merasa ada bayangan yang menutupinya.


"Kau tidur?"


"Ah, kau sudah datang."


Vin duduk tepat disebelah Rin, mengenakan mantel coklat muda dan kaos panjang tebal berwarna hitam. Nafasnya memburu dan mengeluarkan hawa dingin, nampak plester yang diberikan Rin tadi siang masih menempel ditangannya dengan rapi. Dan terpenting, pemuda itu sangat tampan dilihat dari sudut mana pun, dan hal itu sungguh menyebalkan.


"Aku segera kesini saat kau menyuruhku, jadi ada apa?" tanya pria itu.


"Ah soal itu, aku hanya ingin bercerita padamu,"


"Hah ya ampun, kupikir kau rindu padaku!"


"Hah?"


"Bercanda," ucapnya kemudian.


"Pft, hahaha...." Rin melepaskan tawanya, yang diikuti dengan senyuman Vin, hal itu tentu membuat muka Rin memerah tanpa disadari.


Perasaan takut itu akan terasa lebih besar jika kau hanya memendamnya, kau hanya akan menambah penderitaanmu saja, mungkin alkohol yang kau minum akan merendahkan kadar menderitamu untuk sesaat, bukankah itu sama sekali tidak efektif, Rin?


Itu adalah kalimat Dr. Freya yang ditujukan untuk Rin. Tiba-tiba gadis itu mengingatnya begitu saja. Tapi sialnya itu memang benar, bebannya berkurang, rasanya pikiran ini tidak sesak seperti tadi. Daripada menderita sendirian, akan lebih baik kalau beban itu diceritakan dan dituangkan juga kepada orang lain, seperti yang tengah Rin lakukan saat ini. Disana, ia menceritakan semua hal yang sedang menganggunya saat itu pada Vin.


Pria itu mendengarkan dengan serius. Daripada menyebalkan, Vin itu terlihat seperti pria yang bertingkah konyol dihadapan orang yang ia sukai.


"Jadi kau mencurigai manager mu?" tanya Vin.


Rin menganggukan kepalanya perlahan. "Ya, dia memang terlihat aneh, cara bicara dan juga sikapnya, lalu pistol yang kulihat itu berada dalam jaketnya. Tidak mungkin itu sebuah kebetulan saja, kan?"


"Kau sudah menceritakan ini pada siapa saja?"


"Aku hanya menceritakan ini padamu?"


"...Hanya aku?"


"I-iya, kenapa?"


"Astaga, ternyata aku seistimewa itu ya?" ujarnya dengan raut wajah sumringah dan menyebalkan. Rin spontan mengerutkan dahinya, baru saja dia bertingkah serius, dan sekarang dia kembali seperti dirinya. Rin hanya menghela nafasnya, sementara Vin hanya terkekeh melihat Rin yang gerah karena kelakuannya.


"Sebenarnya aku ingin mengatakan ini pada Felix nanti,"


"Felix?"


"Iya, dia dari anggota kepolisian kemarin,"


"Oh polisi itu ya,"


Vin hanya menganggukan kepalanya pelan, netra nya menjurus kearah lain seakan memikirkan sesuatu, ekspresinya berubah menjadi lebih serius, layaknya nama Felix itu mengubah suasana hatinya saat itu.


"Kupikir nanti saja kau berbicara dengan si polisi itu, asumsimu belum tentu benar, kau hanya perlu menyelidikinya sedikit lagi," ujarnya.


"..."


"I-itu benar, aku harus menyelidikinya lagi..." ujar Rin menunduk, terlihat matanya sudah memerah saat itu. Vin tersentak saat mengetahui hal itu, apa ada perkataan dari mulutnya yang menyinggung perasaan gadis itu? Itu hal yang pertama kali dipikirkannya. Rin masih menunduk, mengeluarkan suara serak dari nafasnya. Ia sedang menangis, tidak salah lagi.


"Kau menangis?"


"..."


"Rin, angkat wajahmu!" ujar Vin mendongakkan wajah polos gadis itu dengan kedua tangannya.


"Jangan menangis Rin, itu hanya akan membuat kecantikanmu memudar," ujarnya dengan tersenyum simpul.


"J-jangan bercanda!" sahut gadis itu dan kembali menunduk. Sepertinya ia sudah tak bisa lagi menangis akibat Vin.


"Aku tau, kau pasti tak sabar mengetahui siapa sebenarnya pembunuh keluargamu itu, kan? Bukan hanya kau, bahkan seluruh orang ingin pembunuh itu ditangkap. Hanya saja, itu bukan perkara mudah Rin. Kita sedang menghadapi pembunuh pintar yang gila, salah sedikit saja, kita yang akan mati. Kau mengerti maksudku, bukan?"


"..."


"Ma-maafkan aku, Vin."


"Eh? Untuk apa?"


"Aku telah memberikanmu banyak beban dengan semua cerita hidupku," ujarnya sembari menangis.


"..."


"Apa kau benar-benar tak menganggapku aneh? Aku hampir gila, kehidupan ini membuatku gila hiks..hiks,"


Vin hanya terdiam, menatap lekat Rin yang tengah menangis di sampingnya, gadis itu benar-benar tertekan. Vin menghela nafasnya kasar, mengusap puncak kepala gadis itu lembut hingga membuatnya mendongak.


"Tidak seperti itu, kehidupan tidak selamanya seperti itu. Semua permasalahan itu selalu ada solusinya, begitu juga dengan permasalahan hidup yang kau alami sekarang ini."


"T-tapi aku ini gadis yang bodoh, Vin. Aku bahkan berniat menghabisi diriku sendiri waktu itu, dan sekarang aku bahkan jadi gadis aneh yang kecanduan alkohol."


"Hei, kau tidak bodoh. Hanya saja, kau tidak cocok dengan masalah yang sedang kau hadapi. Sederhana, bukan?"


"Huh?"


"Ya, saat di bangku sekolah terkadang aku sulit mengerjakan soal yang diberikan oleh guru. Aku bahkan berpikir betapa bodohnya aku saat itu. Namun setelah kupikirkan lagi, mungkin saja aku sebenarnya tidak bodoh, hanya saja aku tidak cocok dengan pelajaran itu."


"..."


"Nah, jangan pernah berpikiran bahwa kau bodoh. Semua orang pasti akan melakukan dan merasakan hal yang sama sepertimu disaat masa sulit mereka. Kau punya Bella, bahkan aku akan berada disampingmu disaat kau memerlukanku, kau tak sendirian. Setidaknya kau masih beruntung." Pria itu tersenyum, memperlihatkan lesung pipinya. Kini gadis itu terlihat lebih baik, Rin yang rapuh beberapa detik yang lalu kini telah terlihat bersemangat walau samar, raut wajahnya yang terkesan malu-malu itu terlihat menggemaskan. Vin mendongakkan wajahnya keatas, menatap langit yang mulai gelap saat itu.


Sial, dia terlalu imut, batin nya.


"Terimakasih," ujar Rin.


"Sama-sama, nah apa kita akan berpelukan?" tukas Vin sembari melebarkan kedua lengannya.


"Tidak! Dasar mesum!"


"Pft, hahahaaaaaaaaa,"


[Rin]


Entah bagaimana, aku dan orang itu jadi semakin akrab. Ternyata dia orang yang baik, dia memang menyebalkan tapi kuakui dia selalu bisa membuatku tenang. Mungkin kami bisa menjadi teman akrab setelah ini.


Dan Nick, apa kabarnya? Sejak saat itu aku tak melihatnya lagi, bahkan dia tak menghubungiku. Besok adalah hari minggu, apa perkataannya kemarin hanya omong kosong belaka? Ya, salahku yang terlalu banyak berharap. Dia tidak mungkin tertarik padaku, seharusnya aku yang sadar diri.


Lebih baik aku tidur saja, cuaca semakin dingin saat malam, walau di luar bintang bertaburan dimana-mana, namun hawa dinginnya bahkan dapat membuat tulangku membeku.


DRT...DRT....


Oh itu suara ponselku, siapa yang menelpon di jam seperti ini? Apa itu Bella?


Ah bukan, itu bukan Bella, itu adalah Nick.