PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 25 : Kencan



[Author]


"Nick? Dia menelponku," ujar gadis itu terperanjat. Dengan sedikit ragu, ia mengangkat telpon dari Nick.


"Ha-halo,"


"Halo Rin, kau belum tidur?"


"Mm belum,"


"Aku tidak menganggumu, kan?"


"Ah, tentu saja tidak,"


Basa basi. Pria itu memulainya dengan basa-basi, sepertinya dia tak merasakan apapun layaknya Rin, dia biasa saja, bahkan terdengar santai seakan yang kemarin bukanlah apa-apa untuknya. Dua hari pria ini tidak ada kabar, bahkan rasanya sangat sulit untuk melihat batang hidungnya, padahal mereka berada di kampus yang sama. Nomornya selalu tak bisa dihubungi selama itu, dan sekarang dia menelpon dan berbicara seperti halnya tidak terjadi apapun.


"Ah, kau kemana saja Nick? Aku selalu menghubungimu tapi sulit sekali,"


"Oh, kemarin aku sibuk sekali, tugasku menumpuk."


"Oh begitu ya, kupikir kau marah padaku,"


"... Kau mengkhawatirkan itu, Rin?"


"I-iya,"


"Ya sebenarnya aku memang marah, lebih tepatnya aku tidak suka karena kau dekat dengan pria itu, apa aku terdengar kekanak-kanakan?"


Pria itu? Apa yang dia maksud adalah Vin? Dan kalimatnya itu, apa tidak apa-apa kalau aku menyimpulkan bahwa dia sedang...


"A-apa kau c-cemburu?"


"..."


"Oh, maaf-maaf lupakan saja, aku-"


"Iya, aku cemburu,"


"Eh?"


Cemburu adalah sesuatu perasaan atau emosi yang merujuk pada pikiran negatif, seperti takut kehilangan, curiga dan semacamnya, lalu cemburu dalam percintaan itu ditimbulkan jika melihat seseorang yang disukai sedang bersama orang lain. Benarkah definisinya begitu?


Gadis itu sama sekali tak mengerti, seperti ada sesuatu yang bergejolak namun itu bukanlah debaran seperti biasanya. Seharusnya dia senang, karena itu artinya dia mempunyai peluang untuk mendapatkan pria yang ia sukai. Namun, daripada senang, itu terasa membingungkan.


"Apa kau masih ingat janjimu, Rin?"


"Ah, janji?"


"Besok aku akan menjemputmu, sekarang tidurlah, ini sudah malam!"


"... Baiklah."


Panggilan terputus. Gadis itu masih terhenyak, matanya berkedip-kedip dengan pandangan yang rumit. Nick benar-benar tak bisa di prediksi, selama ini Rin memikirkan apa yang terjadi padanya, dan sekarang dengan gamblang ia bahkan mengatakan kalau ia sedang cemburu. Dia tak pernah menunjukkan perasaannya, kalau saja dia tak sedatar itu mungkin Rin tak terkejut seperti ini. Detik jam terdengar kencang, mata nya pun jadi enggan terpejam, mungkin menghabiskan satu batang rokok bisa menjadi pemicunya memejamkan mata. Rin bergerak, berjalan perlahan menuju jendela, membuka sedikit jendela papan kamarnya sehingga angin malam pun berlomba-lomba masuk. Malam yang seperti biasanya, hampa dan senyap. Rin memandang keluar sembari terus menghisap rokok ditangannya, ia melirik kebawah, CCTV-nya masih aktif dan terpampang disana, itu cukup membantu, setidaknya begitu.


Black Mountain, 21 Desember 2020


Gadis itu telah bersiap, menyisir rambutnya yang pirang dan panjang, berdandan tipis sebagai syarat wajib untuk berkencan. Ini bisa jadi kencan yang sesungguhnya, bukan sekadar berjalan ataupun kencan buta seperti yang sering dilakukan Bella. Sebenarnya hari ini dia harus bertemu dengan Dr. Freya, namun secara mendadak mesti dibatalkan karena Nick yang menelpon tiba-tiba tadi malam, Rin juga harus menelpon Ronny untuk libur hari ini, dan untungnya dia tidak keberatan soal itu.


"Untung saja dia mengizinkan, tapi tumben sekali dia banyak bertanya," gumam Rin sembari membubuhkan pemerah bibir disekitar bibir mungilnya.


Kau mau kemana? Ada acara apa? Pergi bersama siapa? Apa dia pacarmu bla bla bla, pertanyaan itulah yang Ronny hunuskan pada Rin. Rin mengabaikan hal itu ketika dia tersadar ini sudah waktunya untuk pergi. Terlihat Nick sudah berdiri diambang pintu, menjemput sang gadis yang telah siap untuk kencan pertamanya itu. Hari ini Nick terlihat tampan, warna hitam memang terlihat cocok dengannya.


...********...


Aroma mobilnya masih sama, aroma layaknya bunga namun sangat menyengat. Ada satu yang berubah, jantung gadis itu masih berdebar namun tak sekuat biasanya, ia masih merasa canggung, namun tak sekaku biasanya. Ada seikat bunga Lily tergeletak di kursi belakang mobilnya, hal itu tentu membuat Rin tertegun, terkenang akan sang Ayah yang menyukai bunga itu.


"Kau suka bunga Lily?" tanya Rin tiba-tiba.


"Bunga Lily? Oh maksudmu bunga yang ada dikursi belakang? Itu bunga kesukaan Ibuku, kau juga menyukainya?"


"Mm, iya." jawab Rin mengangguk polos.


Pria itu menatap Rin sepersekian detik lalu menjulurkan tangannya kebelakang untuk meraih bunga-bunga itu. Ia mencium aroma bunga itu beberapa saat dan tersenyum sembari memberikan seikat bunga Lily itu pada Rin.


"Untukmu," ujarnya.


"..."


"Bukan kah ini untuk Ibumu?"


"Tidak apa-apa, persediaan bunga Lily miliknya masih banyak,"


"Te-terimakasih," ujar gadis itu pelan.


"Sama-sama, aku akan membelikanmu lagi kalau kau memang menyukainya."


"Ah, tidak perlu seperti itu, ini sudah cukup."


"..."


Berjalan bersama menyusuri pusat perbelanjaan yang terkenal ramai di Black Mountain, berbincang sembari melahap eskrim dan berbicara panjang lebar untuk lebih mengenal satu sama lain, ada kalanya Nick merangkul bahu gadis itu sembari tersenyum layaknya sepasang kekasih.


"Jadi kau tinggal di pusat kota, ya?" tanya gadis itu sambil memasukkan satu sendok eskrim kedalam mulutnya.


"Ya, mau berkunjung?"


"Ah, itu-"


"Kenapa? Kau tidak mau?"


"Oh bukan, hanya saja aku tak terlalu hafal jalanan di pusat kota."


"Kau tak pernah kesana?"


"Pernah, tapi saat aku kecil, aku juga tak terlalu yakin. Yang kuingat, dulu Ayahku sering kesana karena urusan pekerjaan."


"Ayahmu?"


"Iya," ujar gadis itu menganggukkan kepalanya.


Nick memandanginya dengan intens, membuat gadis itu salah tingkah karena nya.


"Ada yang menempel dibibirmu," ujar Nick menunjuk bibirnya sendiri.


"Ah," gadis itu mengusap bibirnya, secuil eskrim tengah melekat disana rupanya, dengan cepat ia mengambil selembar tissu dari dalam tasnya dan membersihkan eskrim itu dari bibirnya.


Rasanya ambigu, tidak terlalu senang namun juga tak membencinya. Bahkan ini terasa membingungkan, apa perasaan suka itu masih ada jauh didalam sana? Entahlah, perlakuan-perlakuan kecil yang Nick coba lakukan memang kadang kala terlihat romantis, seperti ia merangkul bahu gadis itu atau tersenyum yang merupakan hal paling jarang ia lakukan, itu semua membuat Rin merasa ambigu.


"Mau nonton bioskop?" tanya Nick memecah pemikiran gadis itu.


"Ah, boleh."


Pusat perbelanjaan ini begitu ramai saat akhir pekan, Nick tak berbicara dan hanya fokus pada ponselnya saja saat ini, mungkin dia sedang memikirkan film apa yang bagus untuk kami tonton hari ini, sampai seorang pria pun berdiri dihadapan mereka, membuat Rin dan juga Nick seketika berhenti. Dia tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Vin?"


"Hai Rin,"


Rin tertegun, namun raut wajah Nick berubah menjadi datar seperti ia biasanya, pria berambut hitam itu hanya tersenyum sesekali melirik kearah Nick.


"Kenapa kau disini?" tanya gadis itu terkejut.


"Hah, ini kan mall. Apa ada larangan aku tak boleh kesini?" ujarnya memiringkan kepala. Netra hazel itu tak berkedip, menatap tajam kearah Vin yang sedang tersenyum pada gadisnya.


"Ah, apa kabarmu Nick?" tanya Vin sembari tersenyum. Nick tak membalas pertanyaan itu, matanya memicing, menghunus tajam seakan dapat menembus wajah Vin saat itu juga.


Anak ini, batin Nick.


Ini seperti dejavu, mereka selalu membuat situasi menjadi menegangkan secara tak langsung. Gadis itu melirik ke sebelahnya, wajah Nick benar-benar menyeramkan, bisa-bisanya Vin tak takut melihat raut wajah itu, itu ekspresi yang menyuruh Vin agar pergi sejauh mungkin, bahkan Rin yang hanya melihatnya sekilas pun peka akan hal itu.


"Rin?" suara seorang pria kini kembali mengejutkan Rin. Sontak ia menengok ke asal suara diikuti oleh dua pria itu.


"Oh itu benar-benar Rin, sedang apa disini?" tanya pria itu.


Pria berambut emas dengan netra biru muda yang datar, berdiri diantara mereka sembari menunggu jawaban dari Rin. Dua pasang mata yang berbeda warnanya itu kini memandang heran pada seorang pria yang baru saja bersuara itu.


Hah, apa kebetulan sekarang sedang diskonan? Batin Rin.