PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 29 : The next victim part 1



Rin duduk ditepi ranjangnya dengan berbalut piyama tidur. Sudah sangat lama sekali, bunga Lily kini kembali menghiasi nakas kamarnya. Aromanya bahkan tercium dan mengingatkannya pada saat-saat dulu. Ia memejamkan matanya untuk beberapa saat, mencoba mengenang kehidupannya yang telah berlalu.


Hari ini juga tak kalah melelahkan dari hari-hari sebelumnya. Ronny tak muncul hari ini di kafe. Apakah Felix benar-benar akan menyelidiki pria itu? Bagaimana dengan surat-surat ancaman itu?


Rin berjalan menuju jendelanya, mengecek sebentar apakah disana masih terpasang CCTV ataukah tidak? Ia menghela nafasnya lega saat mengetahui area itu masih dilindungi, dan sekarang dirinya berpikir untuk memasang satu lagi untuk ditempatkan didepan pintu utama.


Ia kembali setelah menutup rapat jendela kayu itu, menghempaskan tubuhnya diranjang dan membalut setengah dirinya dengan selimut tebal. Terlepas dari itu, Nick hari ini begitu berbeda, seakan anak kembar yang mempunyai dua sifat yang sangat berbeda, dan lagi Rin belum berbicara apapun tentang pernyataan cintanya tempo hari, gadis itu terlalu bingung untuk memikirkannya. Tidak ada bedanya, malam dengan langit yang cerah atau pun hujan deras sekalipun, hidupnya masih diliputi dengan rasa takut dan rasa bimbang, tidak ada celah untuk bernafas lega, seakan ketakutan itu menggerogoti Rin hingga kedalam organnya.


Dinginnya malam ini membuat tubuhnya menggigil, bahkan pemanas di kamarnya tak bekerja dengan baik sekarang. Anxiety-nya mungkin berkurang akhir-akhir ini, dan itu berkat seseorang, setidaknya gadis itu tak terlalu ketergantungan pada pil penenang itu.


Gelap adalah bagian dari hidup dan kelam adalah bagian dari keputus asaan, tidak ada tempat yang paling menyakitkan daripada hidup didunia ini. Namun, tidak akan seterusnya seperti ini bukan? Saat musim panas berakhir akan digantikan oleh musim dingin, saat malam gelap gulita berakhir pun akan ada siang yang cerah dan indah.


...****************...


Isakan tangisnya memekakan telinga, air matanya bahkan tak bisa keluar lagi, ia terduduk disebuah kursi rapuh dengan tangan dan kaki yang terikat kuat, tak ketinggalan dengan mulut yang tersumpal kain. Mungkin dia masih mengingat kejadian kemarin malam, saat itu ia sedang bersenda gurau bersama kekasihnya di sebuah taman yang indah, mereka dimabuk asmara kala itu, hingga tak menyadari bahwa malam semakin larut, lalu siapa sangka hujan akan datang menemani kencan mereka.


Ia tak berhenti menangis, entah karena takut atau karena kekasihnya mati tepat dihadapannya.


Seorang pria berjalan lambat sembari menghisap rokoknya, dengan bertelanjang dada seakan sedang mempertunjukan keindahan tubuhnya saat itu, sayangnya wanita itu tak terpesona akan hal itu, dia tetap menangis, membuat pria itu menjadi gerah karenanya.


Ia berjongkok, bersimpuh dihadapan wanita itu, kemudian secara perlahan melepas kain yang sedari tadi membatasi pergerakan suara dan mulutnya. Pria itu menyeringai, menatap dengan tatapan yang sangat mengerikan, membuat wanita itu bahkan tak bisa mengeluarkan suara walau kainnya sudah dilepas.


"Apa kau menangis karena aku membunuh kekasihmu?" tanyanya.


"Huh?"


"Kau sangat mencintai pria itu ya?" kembali ia bertanya dengan jempol mengacung kearah pria yang sudah kaku.


Pria itu tersenyum, ia mengangkat tangannya dan mengelus-elus puncak kepala wanita itu.


"Cinta ya, itu adalah satu-satunya kata dusta yang paling kusukai."


Ia berdiri, membiarkan wanita itu tenggelam dalam ketakutan.


"Tenang saja, aku tak akan membunuhmu kalau tulisan tanganmu itu berhasil," ujarnya tersenyum pada wanita itu. Si wanita tersentak, membuat gemuruh dalam dadanya, nyawanya sedang berada diujung tanduk, ini hanya masalah waktu sampai pria itu benar-benar menghabisi nyawanya.


"Ah, akhir-akhir ini hujan jarang turun ya," gumam pria itu pelan.


Black Mountain, 23 Desember 2021


Kantor polisi Rumanov. "Kau yakin ini tulisan seorang wanita bernama Dayana hill?" Felix bertanya dengan raut wajah tak percaya.


"Benar, aku sudah mengeceknya beberapa kali. Dan didepan itu adalah Ibu dari Dayana Hill, dia sedang membuat laporan kembali tentang Dayana yang hilang dari kemarin malam,"


"Apa?"


Kebetulan macam apa ini? Tidak, ini bukanlah kebetulan, ini sudah direncanakan. Pada akhirnya dia memang tak sebodoh itu, terlebih ia seakan serius dengan perkataannya, si pembunuh itu sangat pintar menguji mental. Felix melepaskan satu kancing seragamnya agar dapat bernafas lebih banyak. Wanita paruh baya yang mengaku sebagai Ibu dari orang yang hilang itu masih menangis, Felix mengalihkan pandangannya, berharap ada sesuatu atau petunjuk yang ia dapatkan. Penyelidikan tentang Ronny Hailey sedang dilangsungkan, tak ada yang menjamin itu akan cepat atau pun lambat. Terlepas dari itu, ini semua hanya masalah waktu, haruskah percaya dengan semua kata-kata yang ia torehkan dikertas? Resikonya cukup besar, wanita bernama Dayana itulah korbannya, Felix tak ingin mengatakan hal ini pada Ibu wanita itu, karena ini terlalu berbahaya. Pria berambut emas itu menghela nafas kasar, dia hanya lah seorang polisi dengan jabatan rendahan, dan lagi dia bukan seorang detektif yang pintar, semua ini membuatnya sangat lelah, tapi gadis itu selalu menghantui pikirannya, gadis dengan bola mata biru tua itu berhasil mencuri semua perhatiannya.


Satu-satunya yang dicurigai olehnya hanyalah Ronny Hailey, itu karena gadis yang trauma akan pistol itu malah melihat pemuda itu membawa barang itu. Jelas sekali kalau targetnya memang gadis itu, tapi mengapa? Pikiran Felix melayang, banyak sekali pertanyaan tak terjawab atas semua hal yang terjadi.


Bukannya menyombongkan diri, mungkin saja dari banyaknya petugas kepolisian disini, hanya dirinya yang bersedia dipusingkan oleh laporan semacam ini. Sejujurnya, para polisi disini sangat acuh tak acuh pada seluruh berita yang beredar. Itu menghancurkan citra polisi sesungguhnya, bagaimana bila suatu saat salah satu keluarga mereka mengalaminya. Felix beranjak dari kursi kebesarannya, berjalan menuju sebuah mesin pembuat kopi yang berada di sudut ruangan, kematian keluarga Beverly tempo dulu memang mengundang kecurigaan, sembari mengaduk kopi, ia memikirkan untuk menangkap Ronny secepatnya setelah ini.