
Rin membuka lemari esnya, mengambil satu-satunya jus jeruk disana dan menuangkan ke gelasnya, Rin membawanya keruang tamu dan duduk di sofa yang berada disana. Mungkin dia akan membeli beberapa jus lagi untuk persediaan, dilihat dari isi kulkasnya yang dominan berisi beer dan whiskey, itu memprihatinkan. Dengan ditemani keripik kentang rasa pedas kesukaannya dan segelas jus jeruk pelepas dahaga, ia berniat bersantai sebelum kuliah nanti siang.
"Apa camilan ini bisa mengganti sarapanku? Aku malas sekali membuat makanan," gumamnya sembari terus mengunyah keripik kentang.
Rin mengibas-ngibaskan rambutnya yang masih terlihat basah, rasa dinginnya mencapai hingga ke ubun-ubun kepala, itu seperti rasa menthol yang menguap di seluruh permukaan kepalanya.
TING TONG
Rin menoleh keasal suara, siapa yang pagi-pagi seperti ini bertamu kerumahnya? Akankah itu Felix? Atau itu adalah Nick?
Gadis itu menaruh kaleng keripik yang sedari tadi ia peluk itu keatas meja, berjalan cepat menuju pintu dan mendekatkan salah satu matanya untuk melihat siapa yang datang.
"Vincent?" gumamnya kecil. Tanpa berpikir panjang, ia segera membuka pintunya. Pria itu tersenyum dengan membawa dua kantong belanja dikedua tangannya.
"Apa aku boleh masuk?" tanyanya.
"Ya, masuk saja. Tapi, apa kau habis berbelanja bulanan?" Rin balik bertanya. Pria itu terkekeh, ia meletakkan satu kantong belanja yang ia bawa diatas meja. Sementara itu, gadis itu hanya menatapnya dengan sorot mata bingung, apalagi saat ia berjalan menuju dapur dan membuka lemari esnya. "Hei, kau mau apa dengan lemari esku?" tukas Rin.
Vin seakan tak memperdulikan pertanyaan gadis itu, sembari bersiul ia menaruh perlahan kantong belanja itu dan mulai mengeluarkan semua beer dan whiskey milik Rin. "Vin, apa yang kau lakukan?" tanya Rin yang mulai kesal.
Pria itu masih bersiul, menyerupai lagu Love Nwantiti yang slow. Ia membuka kantong belanjanya dan memindahkan beberapa kotak jus jeruk dan jus apel kedalam lemari es milik Rin, menyusunnya hingga penuh didalam sana, ia juga memasukkan beberapa camilan dan susu didalamnya, hal itu tentu membuat gadis itu terbengong.
Vin masih belum mengatakan apapun sampai ia selesai mengisi penuh lemari es Rin dengan makanan dan minuman yang ia bawa, ia beranjak, membawa serta kantong belanjanya.
"Apa kau punya rokok?" tanya Vin tiba-tiba.
"Hah? Rokok? Ya t-tentu aku punya. Aku menaruhnya disana," tukas Rin menggunakan jari telunjuknya untuk memberitahu Vin dimana letak rokoknya. Pria itu tersenyum dan melangkah kearah nakas tempat Rin menyimpan semua persediaan rokoknya. Vin mengeluarkan semuanya, tanpa terkecuali, lalu menggantinya dengan beberapa kantong permen loli berbagai rasa.
"Sebenarnya kau itu sedang apa, hah?" tanya Rin dengan mata yang terbelalak.
"Aku tak tau kau senang rasa apa, jadi kubeli saja semua rasanya," jawab pria itu santai seraya mendudukan diri di sofa empuk itu.
Bocah gila, kenapa kelakuannya random sekali sih? Batin Rin.
Rin duduk bersebrangan dengan Vin, terlihat pria itu nampak sangat bersemangat saat mengunyah terus menerus keripik kentang pedas yang berada diatas meja.
Nah, sekarang dia ingin menghabiskan keripik kentangku, bocah ini.
"Sebenarnya kau itu mau apa datang kerumahku?" ujar Rin malas.
"Aku kesini untuk mendengarkan ceritamu,"
"Cerita?"
"..."
Benar, bisa-bisanya aku hampir melupakan hal penting itu. Aku memang berencana untuk mengatakannya pada Vin kemarin, tapi Nick datang disaat yang tidak tepat, batinnya.
"Aku menemukan surat-surat ancaman didepan rumahku tempo hari,"
"Surat ancaman?"
Rin menganggukan kepalanya mantap, dengan raut wajah yang serius ia menceritakan semuanya pada Vin, pria itu tampak mendengarkan dengan hati-hati, disaat seperti inilah keseriusan Vin terlihat.
"Itu... Mengerikan, aku hanya penasaran satu hal. Kenapa dia mengincarmu?" tukas Vin.
Rin hanya menggelengkan kepalanya pelan, "Aku tidak tahu," jawabnya.
"Maaf aku bertanya seperti ini, apa keluargamu pernah terlibat suatu hal yang memicu perdendaman mungkin?" tanya Vin.
"Kurasa tidak ada, Ayah dan Ibuku orang yang baik, mereka bahkan sangat disukai oleh tetangga-tetanggaku saat itu, aku tak berpikir akan ada yang dendam pada kami, Vin."
Vin menghela nafasnya, untuk beberapa saat mereka saling diam dan menciptakan suasana hening, hingga Vin memulai percakapan lagi.
"Karena kau sudah melapor ke polisi, kurasa kau sudah benar, itu langkah yang tepat. Dan aku hanya punya dua asumsi untuk ini. Pertama, kupikir kita harus mencari tau lagi, kenapa dia mengincarmu, kalau memang ada sebuah alasan dibalik ini, maka kita harus mencari tahunya, setidaknya hal ini bisa diselesaikan setelah mencari tahu kebenarannya. Kedua, jika tidak ada alasan, maka pembunuh itu memang benar-benar seorang psikopat gila seperti cerita yang beredar dan hobinya hanya membunuh saja, itu sangat berbahaya untukmu."
"..."
"Saat aku mengetahui orang tuaku dibunuh, rasanya seluruh duniaku runtuh, kurasa aku tak perlu memberi tahumu seperti apa rasa sakit itu, karena kau paling tau itu. Itu adalah perasaan yang tak ingin kurasakan lagi, maka dari itu kumohon berhati-hatilah, akan sangat menyakitkan jika aku harus kehilangan kau juga." tukas Vin.
Rin tertegun, netra yang berwarna hitam itu memandang dirinya sendu, hatinya terenyuh mendengar perkataan dari pria itu. Debaran jantung yang tak bisa dikendalikan serta rasa panas yang menggelora membuat Rin merasa aneh. Perasaan menegangkan di awal kalimatnya itu tak sebanding dengan kalimat akhirnya, apa maksudnya itu? Kenapa jantung Rin terus saja berdebar kencang, perasaan apa ini, pikirnya. Mulutnya terkatup seakan menahan rasa malu yang luar biasa besar. Ini terdengar indah, setidaknya hatinya sangat senang mendengar kalimat itu.
"Apa aku terlalu banyak bicara?" ujar Vin membuyarkan pikiran Rin.
"Ah tidak, hanya saja aneh mendengar kau berbicara serius seperti itu."
"..."
"Aku menyukaimu!" tukasnya.
"Apa? Kenapa tiba-tiba?"
"Kenapa? Aku tidak akan menariknya walau kau melotot padaku,"
"Eh?"
Debaran jantungku semakin tak terkendali, rasanya itu akan meledak dan keluar pada tempatnya, dia terus menatapku dengan wajahnya, apa dia tau bagaimana ekspresi wajahnya sekarang? Dan yang terpenting, apa yang harus kukatakan? Kenapa disaat seperti ini sih.
"K-kau serius?"
"Iya."
"B-bukankah kita sedang membahas hal yang penting sekarang, ini tentang hidup dan matiku, loh!"
"..."
Ah, raut wajahnya berubah. Apa dia kecewa?
"Benar, tapi setidaknya sebelum kau mati, aku ingin kau tau perasaanku sesungguhnya."
"Hei, kenapa aku kesal mendengarnya."
"Haha bercanda, tapi aku serius untuk yang tadi, aku akan sangat senang kalau kau memikirka-"
"Aku pasti akan memikirkannya!" jawab Rin cepat.
"..."
Sial, aku terlalu bersemangat.
"Pft, hahaha baiklah." ujarnya terkekeh senang.
Rin mengalihkan wajahnya yang sudah sangat memerah, rasanya ia ingin segera berlari kekamarnya dan menenggelamkan wajahnya di bantal saking malunya.
"Baiklah, aku akan pulang. Kau ada kuliah siang, bukan? Mau kuantar?"
"Memangnya kau tidak kuliah hari ini?"
"Aku tidak akan kekampus hari ini, aku ada kegiatan di perpustakaan pusat kota,"
"Ah begitu,"
"Jadi, apa mau kuantar?"
"Tidak tidak, aku bisa pergi sendiri."
"Pft baiklah, dan ini akan kubawa." ujarnya mengangkat kantong belanja yang berisi alkohol dan rokok milik Rin. "Sekarang kau bisa mulai minum jus dan lolipop yang kuberikan," tambahnya.
"Hei, kenapa kau jadi seenaknya?"
"Haha, oh aku lupa, kantong yang ada diatas meja itu ada bubur abalone, kau bisa langsung makan tanpa memanaskannya, kau pasti belum sarapan, bukan?"
"..."
Dia ini dukun, ya?
Melihatnya bersiap akan pergi, kenapa aku merasa sangat kecewa, ini benar-benar bukan seperti diriku sendiri.
"Aku akan pulang,"
"Hati-hati dan terimakasih,"
Vin tersenyum manis, "Haruskah kita berkencan?" ujarnya.
"Pft, aku juga akan memikirkan itu," ujar Rin terkekeh pelan.
Pria itu menghilang dari pandangan saat Rin menutup pintunya, dadanya masih berdebar dan itu membuat seluruh permukaan wajahnya memanas. Senyum mengembang di bibir tipisnya, pernyataan cinta dari pria itu sangat mendebarkan, nyatanya itu membuat Rin tampak lebih bersemangat.