
Rin semakin mengerutkan dahinya, alih-alih membalas senyum itu, Rin malah mengalihkan pandangannya, membuat pria itu berhenti tersenyum dan memiringkan kepalanya bingung.
Satu diantara mereka telah memesan minuman, tanpa memperdulikan pria yang tengah kebingungan itu Rin mulai membuat pesanan minuman mereka dibantu dengan Bella.
Rin tertegun, merasa seakan terdapat pancaran cahaya yang menyinari tepat disampingnya, ia menghela nafasnya pelan, hal ini sering terjadi. Ia menoleh, dan benar saja, itu adalah Bella, ia akan seperti itu jika melihat pria yang dia anggap tampan, auranya bahkan membuat Rin geli, Rin berdecak karena tak tahan melihat raut wajah Bella yang tersenyum-senyum sendiri sedari tadi.
Aku sudah sering sih melihat dia seperti ini, entah kenapa aku masih belum terbiasa, ya ampun, ujar Rin bermonolog dalam hatinya.
"Biar aku saja yang mengantar ke meja itu," tukas Bella dengan wajah berseri-seri bahkan sepertinya tampak bunga bermekaran disekitarnya.
"Ya, ya lagipula aku juga malas." jawab Rin enggan.
Terlihat Bella mengantar minuman itu dengan senyum lebar dan jalan yang melenggak-lenggok, semua pria itu bahkan tertawa bersama dengan Bella, gadis itu memang pandai dalam menghadapi beberapa pria, mungkin itu karena ia telah beberapa kali bertemu pria pada kencan buta, itu terlihat saat mereka mengobrol tanpa rasa canggung. Kecuali pria itu, pria tampan dengan gaya rambut curtain berwarna hitam dan bola mata yang berwarna senada, pria yang sama yang memberi sebuah senyuman kepada Rin, ia hanya tersenyum kecil mengimbangi obrolan itu, namun sorot matanya selalu mengarah pada Rin, Rin menyadarinya, namun ia terlalu enggan untuk mengurusi hal semacam itu. Tak lama kemudian, Bella telah kembali, senyum diwajahnya bahkan tak menghilang sedari tadi, itu membuatnya tampak konyol.
"Ya ampun, mau sampai kapan kau tersenyum terus!" ujar Rin yang mulai kesal.
"Aduh Rin, coba saja kau lihat mereka, mereka tampan-tampan, bukan?" tukas Bella dengan sorot mata yang bersinar.
"..."
"Nah coba kau lihat yang itu, yang berada dipojok,"
Rin menoleh sesuai dengan arah mata Bella menyorot, sesuai dugaannya, pria yang dimaksud Bella adalah pria tadi yang tersenyum dengannya.
"Dia tampan sekali kan, ya ampun ternyata gosipnya memang benar," ujar Bella yang heboh sendiri.
"Gosip?"
"Iya, dikampus, anak-anak sedang membicarakan anak psikologi yang sangat tampan, nah itu adalah orangnya, tak kusangka aku bisa melihatnya dari dekat."
"..."
"Selain tampan, dia benar-benar seksi, ini masuk akal Rin, dia adalah alasan mengapa neraka itu panas."
"Huh?"
Berbeda dengan Bella yang terlihat sangat memuja pria tampan itu, dia aneh dan terlihat menyebalkan, mungkin itulah kalimat yang dapat mengungkapkan ekspresi Rin terhadap pria itu.
Waktu mungkin berjalan semakin cepat selagi Rin berdebat dengan pikirannya, gerombolan itu sekarang bersiap akan pergi, mereka beranjak dan melenggang pergi satu persatu, begitu pula dengan pria itu, namun sekali lagi hal itu terjadi, tatapan mereka bertemu kembali, pria itu kembali tersenyum, memberikan senyum terbaiknya yang mungkin membuat wanita manapun yang melihatnya akan langsung terpikat, namun Rin tetap tak membalasnya, sorot datarnya kini berubah menyipit bersamaan dengan dahinya yang mengkerut, pria itu kini tak menampilkan raut bingung lagi seperti tadi, senyuman itu kini berubah menjadi kekehan pelan, ia terkekeh sembari melenggang pergi, kini giliran Rin yang kebingungan.
"Dia tersenyum padamu, Rin."
"Senyum apanya, dia itu menertawakanku,"
"Dia tersenyum Rin, aku melihat dengan kedua mataku sendiri, pria seksi itu tersenyum pada temanku Rin, oh ya ampun, aku iri sekali,"
"..."
Bella benar-benar sudah tidak waras, senyum apanya, si brengsek itu jelas menertawakan aku tadi, aku sangat yakin, sifatnya pasti tak sebagus tampangnya itu, batin Rin.
"Nick kalah jauh jika dibandingkan dengan dia," celetuk Bella.
"Eh?"
Bella melirik Rin dengan raut wajah mengejek, membuat Rin mengerutkan dahinya, gadis centil itu tertawa lalu melenggang pergi kegudang, meninggalkan Rin yang masih berekspresi sama, mendengar nama Nick, gadis itu langsung tertegun, lantaran itu adalah nama pria yang disukainya. Nicholas Holder, mahasiswa jurusan bisnis yang sama seperti Bella, pria berwajah tampan dengan rambut coklat terangnya itu membuat Rin tertarik, netra nya yang berwarna hazel dan sikapnya yang dingin itu membuat Rin terpesona. Pria itu datang ke kafe sendirian, memesan segelas Einspanner dengan tatapannya yang datar, itu adalah pertama kalinya Rin menyukai seseorang, terkadang Bella mengutuk Rin karena menyukai pria dingin seperti Nick, namun Rin tak peduli, menurutnya Nick itu keren, bahkan walau dia diam saja.
Rin menggosok meja kafe sembari melamun, wajah pria menyebalkan itu pun terlintas dipikirannya, segera ia menggoyang-goyangkan kepalanya, berharap bayangan wajah pria itu menghilang dari otaknya, pria itu bagai tak asing, pikirnya, namun Rin terlalu malas untuk mengingat hal itu.
*
"Sampai bertemu besok, Rin." ucap Bella sembari melambaikan tangan pada Rin sebelum ia memasuki taksinya, Rin membalas lambaian tangannya pada Bella dengan menaikkan sudut bibirnya keatas, tampak taksi yang dinaiki Bella kini melaju dengan cepat, seakan ingin melarikan diri dengan tergesa.
"Sampai jumpa Kak Ron." ujar Rin melambaikan tangan kearah Ron, manajernya.
"Ya, hati-hati dijalan," jawab Ron.
Ronny Hailey, pria berusia 28 tahun, dia adalah anak sang pemilik kafe tempat Rin bekerja, pria berambut abu itu mempunyai senyum yang manis, dia baik tapi terkadang sedikit aneh, Rin tak mempermasalahkan hal itu, nyatanya selama ini dia selalu baik dan berlaku sopan baik pada Rin atau pun Bella. Rin melangkahkan kakinya pelan, dengan menjinjing ranselnya, ia menyalakan pematik api untuk menghidupkan rokok yang sudah berada disela bibirnya. Asap mulai keluar dari mulutnya, terbang dan menyatu dengan udara, lalu pecah dikarenakan angin yang berhembus, awan mulai menghitam, pertanda turun hujan sudah didepan mata, mungkin inilah alasannya mengapa supir taksi tadi melaju dengan tergesa, sampai saat ini pun hujan masih menjadi hal yang paling ditakuti didaerah ini.