PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 51 : Dilema



"J-Jangan mengatakan omong kosong!" ujar Rin sembari terisak. Tubuhnya masih gemetar, bahkan keringat mengucur deras didahinya.


"Aku tidak bercanda, aku serius. Aku benar-benar mencintaimu!" tukasnya, perlahan ia mengeluarkan tisu dan mengusap keringat yang menetes didahi Rin. Gadis itu hanya menelan salivanya kasar, pupilnya bergetar tatkala menatap wajah Vin yang kini tak lagi seperti dulu. Ah tidak, dia sama seperti dulu, hanya saja keadaan berubah sesaat setelah Rin mengetahui semua rahasianya.


Gadis itu terisak kelu, diatas ranjang dia menggeliat, berusaha lepas dari tali yang mengikatnya.


"Jangan banyak bergerak, nanti lenganmu terluka."


"Kalau begitu lepaskan aku!" teriak Rin.


"Kau akan lari kalau aku melakukan itu,"


"Sialan!" umpat Rin kesal. Hal itu malah membuat Vin terkekeh, sementara gadisnya masih berusaha memberontak.


...****************...


Detik jam terus bergerak, pada akhirnya Rin menyerah dan membiarkan Vin menyuapinya makan. Dia sadar, bahwa Vin tidak mungkin membiarkannya pergi, kalau tidak menuruti keinginannya mungkin saja Vin berubah pikiran dan akan membunuhnya saat ini juga. Tidak ada yang abadi didunia ini, itu benar, bahkan kebahagiaan pun rasanya begitu singkat.


Sesaat aku merasa telah menemukan kebahagiaanku kembali. Keluargaku yang sudah direnggut nyawanya oleh seseorang yang kukenal hanya karena dendam semata, menciptakan kengerian dalam hidupku, selalu menyiksaku bahkan hanya dalam mimpi, membuat hidupku berantakan dan menjadikanku seperti manusia paling menyedihkan. Aku mencoba mengikhlaskan semua itu, meredam amarahku pada Nick yang telah tenggelam dalam kengerian sebuah dendam, dan menerima bahwa Ayah yang selama ini aku banggakan itu ternyata tak lebih dari seorang pengecut. Aku merasa kasihan pada Ibuku yang selama ini sudah mempercayainya sepenuh hati, bahkan ia tak tau hal itu hingga akhir hayatnya. Lalu sekarang, apa yang harus kulakukan. Pepatah itu benar, jangan terlalu banyak berharap pada manusia!


Aku tak bisa berpikir apapun, dari sekian banyak manusia yang bernyawa di dunia ini, mengapa harus aku yang terpilih menjalani kehidupan sesulit ini. Apa dosaku dimasa lalu?


Dia menatapku seakan aku ini memang benar-benar orang yang dicintainya, anehnya aku tak merasa terancam, sangat berbeda saat aku bersama Nick ataupun Kak Ron. Apa ini karena jauh didalam lubuk hatiku aku masih mengharapkannya? Sesungguhnya aku berharap semua ini tidak benar-benar terjadi, hanya itu.


Airmata tak terasa mengalir dari sudut mata gadis itu. Vin memiringkan kepalanya, ia tersentak saat mengetahui bahwa gadisnya kembali menangis.


"Kau menangis lagi?" ujar Vin sembari mengusap airmata gadis itu. Tatapan gadis itu datar saat ia menyambar tangan Vin yang menyentuh pipinya, "Ceritakan!" ujarnya lirih.


"Hm?"


"Ceritakan padaku, kenapa kau menjadi seperti ini!"


"..."


Gadis itu menatap Vin dengan raut penuh kesedihan, bibirnya yang kering itu terlihat bergetar saat ia menahan tangisannya. Netra hitam itu tak menampilkan ekspresi, namun wajah gadis dihadapannya itu membuatnya menyerah, ia menghela nafas kasar. "Hah, baiklah. Aku akan menceritakannya!" ujarnya tersenyum.