
Richard Hopkins, aku membunuhnya sesaat setelah dia melampiaskan hasrat menyimpangnya padaku. Aku menusukkan pisau dapur itu keperutnya, sangat dalam. Aku menikmati saat detik-detik kematiannya, dan aku tak bisa membohongi diriku, rasanya memang benar menakjubkan.
Lusiana Damieer yang datang setelah Richard menjadi kaku, juga kuhabisi saat itu. Itu adalah pembunuhan pertamaku, membunuh mereka ternyata memberikanku kelegaan tiada tara. Aku menatap keluar jendela saat itu, meresapi tiap tetes hujan yang jatuh kepermukaan tanah. Aku masih ingat saat itu, bagaimana aku tersenyum sembari menikmati udara menyegarkan yang dihasilkan oleh hujan, seakan-akan segala hal mengerikan beberapa menit yang lalu itu tidak pernah terjadi.
Aku tumbuh sendirian setelah itu, layaknya anak normal seperti pada umumnya, belajar, bersosialisasi, mengerjakan hal-hal yang membosankan dan menyingkirkan hal-hal yang kuanggap menjengkelkan. Apa aku keterlaluan berbuat seperti itu? Sebenarnya aku tidak berniat menebar teror itu. Aku hanya tak suka seseorang selain diriku berada di bawah derasnya hujan, itu menganggu ketenanganku, menganggu kedamaianku. Aku tak pernah mendapat kasih sayang dari siapapun, setidaknya biarkan aku mendapatkan rasa damai dari hujan yang turun.
Waktu silih berganti, aku tak menyangka pada akhirnya aku sudah jadi mahasiswa. Saat itu aku mendengar penemuan jasad utuh di hutan, aku sempat terkejut karena itu bukanlah perbuatanku. Tapi, aku sama sekali tak peduli pada saat itu, aku membiarkannya. Ditahun berikutnya, peristiwa mengejutkan terjadi, aku bertemu dengan seorang gadis yang cantik. Sorot mata yang meneduhkan, berwarna biru tua bak Danau Chalcanthite. Kupikir gadis itu sama sekali tak kenal takut saat kudapati dia berjalan santai ditengah derasnya hujan. Berkat pertemuan itu pula kini aku mendapatkan hadiah luar biasa, sebuah payung dan kesan yang membekas di hatiku paling terdalam. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama, kurasa.
Tapi aku tak bertemu lagi dengannya setelah itu, entah mengapa aku merasa kecewa. Ya, kerap kali harapan itu memang menyakitkan, bahkan setelah aku belajar dari apa yang kudapatkan dari Ayahku dulu. Aku menjalani hari-hariku seperti biasa, kuliah, bermain bersama anak-anak di kampus, dan keluar di saat hujan turun di Black Mountain. Ah, Black Mountain sekarang menakjubkan, desa ini akan sangat sepi kala hujan turun, dan aku menyukai itu.
Membunuh, bukankah itu hal yang sangat keji? Itu adalah hal yang sangat mengerikan, bahkan aku tak pernah berpikir akan melakukan itu dulu. Aku mengelilingi Black Mountain saat hujan, menghilangkan rasa sesak yang tak pernah berujung didalam dadaku, itu telah menjadi kebiasaan. Sebenarnya aku tak berniat membunuh mereka yang aku temui itu, aku hanya ingin bermain, tapi sayangnya aku melampau batas, kekeke. Cara yang kugunakan pada Richard dan Lusi juga kugunakan pada mereka, memandikan mereka, memotongnya menjadi beberapa bagian, memasukkannya kedalam plastik hitam dan menguburkan setengahnya di dalam hutan pegunungan hitam.
Itu sering terjadi, dan anehnya aku tak pernah merasa puas juga masih merasa kosong. Ingatan masa lalu yang menikam hingga ke setiap rongga dadaku, tak bisa dengan mudah aku hilangkan.
Gadis itu bernama Rin, dia terlalu menggemaskan untuk aku abaikan begitu saja. Sejak saat itu, dia selalu memenuhi pikiranku, seakan dia membuatku menjadi terobsesi. Itulah mengapa aku selalu berada di bawah Apartemennya saat hujan turun. Jujur saja, aku tak melakukan apapun setelah itu, aku hanya ingin melihatnya, itu saja tujuanku. Bahkan, aku tak pernah lagi melakukan hal-hal yang biasa kulakukan setelah mengenalnya. Kau tau, aku bahkan mendedikasikan waktu jalan-jalanku hanya untuk melihatnya dimalam hari.
Dan semuanya berantakan saat polisi-polisi sialan memasang CCTV di area itu, itu membatasi aksesku untuk memperhatikan Rin.
Banyak hal yang kusukai dari Rinoa, dia memberitahuku banyak hal baru, bahwa keindahan didunia ini bukan hanya hujan saja, tapi dia juga salah satu dari itu. Dia mengalami gangguan mental kecemasan akibat traumanya di masa silam, orang tuanya ternyata dibunuh oleh pembunuh berantai, ujarnya. Aku merasa geli saat mendengar itu, ternyata itu yang mereka katakan tentang diriku, si pembunuh berantai.
Rinoa adalah gadis yang lembut, walaupun galak. Dia gadis yang perhatian, bahkan aku merasa senang saat dia memperhatikanku. Dia tidak berubah sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Dia segalanya bagiku, maksudku sejak aku mengenalnya, aku tak pernah terpikir melakukan hal lain, bahkan aku menghilangkan kebiasaanku secara tak sadar. Disaat dia benar-benar jatuh kepelukanku, aku bahkan berpikir untuk fokus berbahagia bersamanya saja. Tapi lagi-lagi ada saja orang yang membuatku marah, Ronny Hailey contohnya. Hah, kalau berbicara tentang Rin ini tidak akan ada habisnya. Dan Nick, bocah ingusan yang membuatku kesal, sejak dulu aku tau kalau dia lah pembunuh orang tua Rin, aku sengaja mendiamkannya karena aku ingin melihat apa yang ingin dia lakukan. Membunuh dengan pistol, apa enaknya itu? Benar-benar pecundang, aku bersyukur aku telah menghabisi pecundang itu.
Semua orang berpikir bahwa Nick lah pembunuh berantai itu, ya itu juga patut disyukuri. Kebodohan orang-orang disini terlebih para polisi itu harus kuacungi jempol. Rin mencintaiku, begitu pun aku. Aku akan melakukan apapun agar dia terus berada disisiku, dia adalah orang pertama yang memberiku cinta dan kasih sayang, itu membuatku merasa kuat. Aku menyukai perasaan ini, rasa diperhatikan, rasa di prioritaskan, aku menyukai semua yang Rin berikan. Aku merasa menjadi seorang manusia sekarang, kupikir aku tak lagi memerlukan yang lain.