
Petrichor, itu menyegarkan. Ban mobil Vin menggilis jalanan yang basah akibat hujan semalam, pria itu selalu saja terlihat tampan. Dengan mantel dan kaos yang menutupi hingga ke lehernya itu, dia terlihat mengaggumkan. Mobilnya melaju melewati jalan yang cukup sepi, bahkan dedaunan yang berserakan terlihat terbang kesana kemari saat mobil mereka melewati jalan. Cuaca masih saja dingin, ini mungkin suhu tertinggi di musim dingin, dua mantel mungkin akan cukup menghalangi dinginnya hari ini.
"Rumahmu cukup jauh," ujar Rin sembari melihat keluar jendela, pemukiman yang nampak sepi, apa ini semacam pedalaman?
"Iya lumayan jauh jika baru pertama kali,"
"Disini sangat sepi,"
"Tidak kok, lihat disana! Ramai kan?"
"Oh benar."
Ternyata pemukiman ini ramai, aku tidak pernah bepergian, sejak kecil Ayah hanya mengajak ke pusat kota, tidak pernah berkeliling kemanapun, aku bahkan tidak tau ada tempat seperti ini.
"Nah, sebentar lagi kita akan sampai. Rumahku yang paling belakang," ujar Vin menunjuk kedepannya. Anggukan kepala gadis itu menorehkan senyum di bibir Vincent. Vin memarkirkan mobilnya tepat dihalaman yang cukup luas, bangunan dua tingkat yang minimalis namun terkesan mewah, itu juga terlihat mengaggumkan. Letaknya benar-benar paling belakang, setidaknya beberapa tetangga disana cukup ramah, kebanyakan dari mereka adalah orang lanjut usia yang tengah bersantai di halaman rumah dengan selimut tebal membalut tubuh renta mereka.
"Ayo masuk!" ajak Vin.
"Iya."
Rumahnya tertata rapi, itu terlihat dia menatanya sendirian dengan rajin. Vin melepas mantelnya dan menyalakan penghangat ruangan. Rin duduk bersandar di sofa ruang tamunya, melihat-lihat isi dari rumah pacarnya itu.
"Hari ini kita berkencan disini saja, kita belum makan siang kan? Aku akan memasak makanan enak untukmu," ujarnya sembari tersenyum.
"Memangnya kau bisa masak?"
"Tentu saja, aku lihai membuat hidangan apapun, tidak seperti seseorang yang bisanya hanya menghangatkan bubur dan memasak mie instan."
"Hei, kenapa kau berkata seperti itu sambil melirikku?"
Vin melenggang pergi sembari terkekeh membuat gadis itu mengerutkan dahinya seketika. Vin memakai apron sebelum memulai pertempurannya, mengambil pisau dapur dan mulai memotong-motong daging dan juga bumbunya. Rin sampai terkesima melihat betapa lihainya dia menggunakan pisau saat memasak, bahkan dia sendiri sering terluka saat mengiris sayuran.
"Kau terampil sekali saat memotong daging sapi itu, aku terpukau."
"Pft, aku belajar hal semacam ini sejak kecil. Ngomong-ngomong, kau akan lebih terpukau saat masakannya sudah jadi nanti."
"Wah, kau sombong sekali,"
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Vin telah menghidangkan menu makan siang mereka, steak dan pasta tomat yang mengunggah selera. Mata Rin berbinar saat melihat makanan lezat itu, Vin hanya tersenyum melihat ekspresi Rin saat itu.
"Makanlah yang banyak!" ujar Vin.
"Kau pikir aku rakus, ya?"
"Iya,"
"Hei, jawabanmu membuatku kesal!"
"Haha, ayo makanlah!"
Sejujurnya ini kencan yang menyenangkan, tidak harus pergi ketempat-tempat seperti mall atau apapun itu, tertawa bersama dan menikmati waktu berdua bersama, ini jauh membahagiakan. Masakannya sangat enak, rasanya aku tak akan puas hanya dengan satu kali makan saja, dan lagi aku baru menyadari ini, aku beruntung dapat melihat wajah tampan ini terus menerus karena dia adalah kekasihku. Hah, aku bahkan sampai lupa dengan semua permasalahan sialan yang terjadi baru-baru ini.
"Bagaimana? Enak, kan?"
"Tentu saja, baguslah kalau kau menyadarinya."
"Hah, lagi-lagi ekspresimu membuatku kesal."
"Haha aku suka membuatmu kesal, kau terlihat lucu dan menggemaskan," ujar Vin tersenyum memangku dagunya.
"A-Apasih, memangnya aku kucing? Sudahlah, aku ingin ke kamar mandi, disana kan kamar mandinya?" ujar Rin mengalihkan pembicaraan dan menunjuk pintu kamar mandi.
"Hahaha, imut sekali."
Rin berbalik dan melangkahkan kakinya, menyembunyikan wajahnya yang merona akibat Vin yang terus-terusan menggodanya itu.
"Ah Rin, kamar mandi yang disitu rusak, kau bisa memakai kamar mandi diatas, didalam kamarku," ujar Vin.
"Hah, didalam kamarmu?"
"Iya, soalnya itu satu-satunya kamar mandi. Kamar mandi disitu tidak bisa digunakan."
"..."
"Kenapa? Pft, kau sedang berpikiran hal-hal mesum ya?" ujar Vin sembari terkekeh.
"Mana mungkin! Ya sudah, aku akan keatas, kau disini saja." Rin melenggang pergi keatas, sementara Vin hanya tersenyum melihatnya. Ia membuka perlahan pintu kamar Vin, ranjang dan meja belajar yang tertata rapi, beberapa poster terpajang dikamar itu dan kotak musik yang sangat cantik. Rin segera masuk kekamar mandi, entah mengapa jantungnya terus saja berdebar, siapa yang menyangka ia akan masuk kedalam kamar Vin saat ini. Rin membasuh kedua tangannya dengan pipi yang terus merona, pikirannya bahkan penuh akan kejadian tempo hari di kamarnya.
"ARGH!GILA! Apa yang aku pikirkan, kenapa malah kepikiran hal itu sih?" umpatnya salah tingkah.
Rin menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan jantungnya yang sedang berdebar tak karuan. Ia membuka pintu dan tersentak saat mendapati Vin tengah menunggunya disana sambil tersenyum. "Apa yang membuatmu begitu lama didalam sana?" tanyanya.
"Ah, aku hanya mencu-"
Belum habis kata-kata Rin, Vin segera menarik gadis itu kedalam dekapannya, ia melahap bibir tipis gadis itu, menyudutkan tubuh gadis itu didinding sambil ******* bibirnya. Rin hanya bisa mengerang saat menerima serangan tiba-tiba itu.
Inikah namanya bersilat lidah? Ah tidak itu beda makna.
"Kyaa!" Rin memekik kaget saat Vin tiba-tiba mengangkat tubuhnya, ia membaringkan tubuh Rin diatas ranjangnya, membuat gadis itu tersipu malu dan menutup matanya. Vin menyeringai saat melihat bagaimana ekspresi Rin saat itu, ia mendaratkan kecupannya di leher jenjang gadis itu, membuat gadis itu mengerang secara tak sadar.
"Bolehkan aku melakukan itu?" bisiknya ditelinga Rin.
"..."
Rin tak menjawabnya dengan perkataan namun anggukkan pelannya membuat Vin tersentak.
"Apa kau yakin? Jika kita melakukannya maka kau akan benar-benar menjadi milikku," ujarnya dengan suara rendah.
"I-iya, aku yakin," jawabnya sembari menutup mata.
"..."
Pria itu menatap lekat wajah Rin yang memerah di bawahnya, ia menghela nafas dan tersenyum lalu mengecup pelan dahi gadis itu.
"Aku tidak akan melakukannya, lagipula kau akan tetap menjadi milikku mau bagaimanapun," ujarnya pelan.