PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 22 : Syal itu untukmu



Tidak, tidak. Itukan belum jelas, aku hanya melihat sekilas. Lagipula untuk apa Kak Ron membawa-bawa pistol, mungkin aku hanya salah lihat waktu itu, batin Rin.


Akhirnya Rin memutuskan untuk tak memikirkan hal itu lagi, ia segera membereskan peralatan makan yang baru saja ia gunakan, mencuci bersih tangannya di westafel dan segera menyiapkan keperluan kuliah besok.


Lagi-lagi ia memikirkan pria dingin itu, bahkan kemarin Nick tak terlihat diseluruh penjuru kampus itu. Nomornya tak bisa dihubungi, membuat kepikiran saja.


Rin membuka lemarinya, menarik kemeja putih yang sudah dicuci dan dilipat rapi itu kemudian memasukkannya ke sebuah paperbag sedang. "Ah, sekalian saja dengan syalnya." ujar Rin sembari berjalan mengambil syal yang sudah terbungkus rapi diatas meja belajarnya. Ia memasukkan keduanya kedalam paperbag berwarna coklat itu. Rin berniat mengembalikannya pada Vin besok, sekalian menraktirnya makan siang seperti yang pernah dijanjikannya tempo hari. Hari sudah menunjukkan jam dua belas malam, hujan juga sepertinya telah reda, Rin berbaring sembari menghirup nafas lega, ia tersenyum kemudian menarik selimut tebalnya. Tak berselang lama ia pun memejamkan mata dan terlelap dalam tidurnya.


Black Mountain, 20 Desember 2020


It's not a walk in the park to love each other 🎵🎵 But when our fingers interlock. Can't deny, can't deny you're worth it🎵🎵Cause after all this time. I'm still into you🎵🎵🎵


Suara alarm yang begitu heboh itu menggema. Namun berkat itu Rin jadi bangun tepat waktu.


Masih dengan memicingkan mata, ia meraba-raba ponselnya hendak mematikan bunyi alarm yang ia atur tadi malam.


Rin bangkit, duduk seraya meregangkan semua otot-ototnya, ini tidur terbaik yang pernah ada. Gadis itu beranjak, segera bersiap-siap untuk berangkat kekampus. Dengan menggunakan atasan rajut berwarna cream muda yang menutupi leher lalu dilapisi dengan winter coat berwarna coklat tua itu membuatnya terlihat menakjubkan, ia juga mengenakan jeans bahan berwarna cream, sepatu jungle berwarna hitam dan tak ketinggalan topi kupluknya yang berwarna senada dengan baju rajutnya. Rin telah siap kekampus hari ini.


Jalanan masih membeku, musim dingin terus berlanjut. Ini masih Desember, masih tersisa tiga bulan lagi untuk menghadapi cuaca dingin ini. Untuk kesekian kalinya ia menguap karena mengantuk. Ia berdiri di halte menenteng sebuah paperbag berwarna coklat sembari menunggu bis yang akan ditumpanginya. Tak berselang lama bis yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang, segera ia memasuki bis yang akan mengantarnya menuju kampus itu.


Hari itu bis tak terlalu ramai, setidaknya Rin mendapat tempat duduk dan tidak kesusahan berdiri. Suara bising terdengar didalam sana, ricuh akan perdebatan dan gosip-gosip yang beredar, mereka semua seakan memperbincangkan hal yang sama, hanya Rin yang tak tau dan tak ingin peduli tentang hal itu.


Awan putih mengawali harinya, seakan ikut berjalan kemanapun Rin pergi. Bella berlari kecil dan menggelayuti lengan Rin, ia terus saja mengoceh tentang ini dan itu. Hari ini ia terus menyanjung Felix. Sebenarnya itu hal yang jarang terjadi, pasalnya Bella tak terlalu menyukai Felix walaupun pria itu adalah sepupunya sendiri. Rin memberitahu bagaimana nyamannya dia tidur tadi malam, dan itulah asal muasal bagaimana Bella tiba-tiba menyanjung Felix dengan mulutnya.


"Tapi Rin, apa kau sudah tau beritanya?" ujar Bella tiba-tiba.


"Berita apa?"


"Subuh tadi, seseorang melaporkan bahwa ada mayat lagi didalam hutan."


"Mayat lagi?"


"Iya. Pada saat itu, anjingnya membawa sebuah potongan tangan yang ia temukan disana, ya ampun mengerikan."


"..."


Ternyata kejadian inilah yang sedang ramai diperbincangkan sedari tadi. Rin berubah tak selera, tubuhnya melemas tanpa alasan, pikirannya campur aduk namun ia berusaha untuk menahannya. Bahkan saat kelas dimulai pun, Rin masih memikirkan hal lain. Bagaimana bisa hal itu bisa menjadi suatu kebetulan. Baru saja kemarin pagi Felix mengatakan kalau kondisi sedang baik-baik saja, maksudnya pembunuh itu tak membuat ulah apapun. Lalu kenapa tiba-tiba pagi ini ada berita semacam itu? Apa ini sebuah peringatan? Tapi apa yang sedang diperingatkannya? Rin tak mengerti. Mungkin berbicara pada Felix akan membuat rasa penasarannya mereda, untuk saat ini ia akan menyimpan kejanggalan ini terlebih dulu.


* Wajah menyebalkan itu sedang tersenyum, seakan memberitahu kalau wajahnya benar-benar penuh pesona saat ia mengembangkan senyumnya. Rin menghela nafas pelan, ia memasukkan burger keju itu kedalam mulutnya yang kecil. Rin menepati janjinya pada Vin, menraktirnya makan siang sekaligus mengembalikan kemeja dan syal itu padanya.


"Kau suka warna putih, ya?" tanya Rin dengan mulut yang penuh.


"Mm sepertinya iya."


"Ya, putih warna yang bagus sih."


"Itu karena putih itu warna yang netral."


Rin mengangguk pelan. Netra hitam miliknya menyipit saat mengucapkan terimakasih, ia membuka paperbag itu, menarik sebuah bungkus yang tak lain berisikan syal putih miliknya. Rin mendelik namun tak bereaksi, ia tetap diam saat Vin sibuk melilitkan syal itu dilehernya.


"Syal itu untukmu," ujar Vin tiba-tiba. Ia menopang pipi dengan tangannya sementara matanya sibuk menatap Rin.


"..."


"Kau cocok mengenakan itu." ujarnya menambahkan.


Rin masih tetap diam, ia terlihat bingung. Apa Vin sedang menggodanya? Rin tau, banyak wanita dikampus ini yang mengejar-ngejar Vin, tak terkecuali Bella. Itu salah satu alasan bagi Rin sangat risih saat makan siang bersama pemuda ini, banyak sekali pasang mata yang melihat, mereka adalah para wanita yang tergila-gila pada Vin, rasanya tatapan mereka dapat menembus dan melubangi Rin saat itu juga. Rin menundukkan pandangannya, seraya berpikir bagaimana caranya mengalihkan pembicaraan agar tak terkesan canggung, tatapannya berhenti saat melihat luka dipunggung tangan Vin, ia mendelik dan tanpa sadar meraih tangan Vin dengan tiba-tiba.


"Tanganmu terluka?"


"...Ah, tanganku?"


"Iya. Lihat ini, kau terluka disini,"


"Oh itu, iya tapi itu hanya goresan kecil."


"Tapi ini memar, kau habis memukul sesuatu, ya?"


"Tidak kok, ini kudapat saat menahan pintu mobilku."


Rin tak berbicara apapun lagi, namun ia mengambil beberapa tisu basah dan mengoleskan obat merah pada tangan Vin. Itu membuat Vin tersentak, lebih tepatnya ia terkejut akan perlakuan Rin terhadapnya. Rin meniup luka itu perlahan sementara pria itu tengah menatap Rin seakan menikmatinya. Sebuah plester tertempel disana sebagai sentuhan akhir pengobatan dari Rin.


"Kau selalu membawa semua itu didalam tasmu?" tanya pria itu.


"Iya, ini kan penting. Nah selesai," ujar gadis itu senang.


"Kau khawatir padaku, ya?" tukas Vin sembari tersenyum simpul.


"Khawatir? Aku? Padamu? Yang benar saja." elak Rin.


"Pft, kau sangat manis saat sedang malu-malu."


"B-berhentilah mengatakan hal aneh seperti itu!"


"Haha, baik baik. Aku akan berhenti." ujarnya beranjak. Ia sedikit menunduk, sorot matanya masih menatap Rin sayu. Rin terdiam saat jemari pria itu mengangkat beberapa helai rambut pirang itu dan mengecupnya perlahan. Jantung gadis itu berdebar tiada henti, mukanya memerah namun ia tak bergerak sedikit pun. Pria itu tersenyum, kembali berdiri tegak dan melepaskan rambut pirang itu dari jepitan jemarinya.


"Terimakasih makan siangnya, dan terimakasih juga untuk ini," ujarnya menunjukan punggung tangannya dan mengecup perlahan plester yang tertempel disana.


Pria itu melenggang pergi, bahkan suara siulannya masih terdengar walau samar.


"Apaan sih? Ada apa dengan bocah itu?" ujar Rin dengan raut wajah bodohnya.