PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 46 : You like rainy, right?



(Satu bulan kemudian)


Black Mountain, 30 Januari 2022


Bunga Lily diatas nakas itu menjadi saksi bisu saat dua orang tengah di mabuk asmara. Erangan gadis itu kian membesar saat pria diatasnya tengah memacu miliknya dengan cepat. Pria itu mengakhirinya dengan sebuah ciuman panas dan ******* nafas yang tersengal. Vin menyisir rambut hitamnya kebelakang menggunakan jari, menaikkan sudut bibirnya keatas dan mengecup perlahan dahi gadis yang tengah kelelahan dibawahnya. Tidak ada yang lebih hangat daripada sepasang kekasih yang menyatu, bahkan di hari yang sangat dingin ini, itu sangat sempurna.


"Kau lapar?" tanya Vin. Gadis itu menganggukan kepalanya mantap.


"Baiklah, bagaimana kalau kita makan diluar?"


"Ide yang bagus," jawab gadis itu sumringah.


Cuaca berkabut yang sangat dingin, ini adalah januari akhir, kabut terasa lebih tebal dari biasanya. Ini sudah satu bulan berlalu, Black Mountain kini terlihat menakjubkan, semuanya kembali seperti dahulu kala, tak ada teror disaat hujan yang mengerikan seperti dulu. Walau seperti itu, Nick masih menjadi perbincangan hangat. Rin tak perlu lagi takut ada pria aneh yang menguntitnya disaat hujan. Andai saja dia masih hidup, aku ingin sekali bertanya, kenapa dia melakukan hal itu, batin Rin.


"Restoran ini menyediakan majalah," gumam Rin sembari mengambil salah satu majalah disana. Majalah lawas yang masih layak untuk dibaca ketika bosan menunggu hidangan tiba.


"Oh ini pasangan yang legendaris itu," ujar Rin menunjuk gambar pada majalah itu.


"Bonnie & Clyde? Ya, mereka sangat terkenal pada zamannya."


"Iya, pasangan kriminal yang kharismatik. Sayangnya mereka berakhir tragis, setidaknya mereka saling mencintai terlepas dari semua aksi gila yang mereka lakukan, bahkan mereka masih romantis hingga akhir."


"... Nah, apa kau mau menjadi seperti Bonnie?" tanya Vin.


"Eh? Menjadi seperti Bonnie ya? Entahlah, mungkin tidak."


"Tidak?"


"Iya, aku lebih baik menyuruh pasanganku untuk berhenti berbuat kriminal dan hidup bahagia denganku saja," ujarnya sembari terkekeh.


"Pft, ya itu sangat bijaksana." Vin ikut terkekeh.


...****************...


"Tidak teridentifikasi! Semuanya sudah hancur dan membusuk, aku yakin itu sudah sangat-sangat lama," ujar pria dengan seragam polisi.


"Ya, aku tahu. Satu-satunya yang membuktikan hanyalah cincin perak yang dipakainya," sahut Felix.


"Ini tidak akan diekspos, bahkan kasusnya sudah ditutup semenjak jasad itu diputuskan milik Ronny Hailey,"


"..."


"Ya, kurasa aku mengerti." ujar Felix memilin-milin dahinya, ia menyeruput kopinya yang panas sembari memasukkan sebuah plastik kecil kedalam saku celananya.


...****************...


Aroma kopi yang enak bercampur susu yang manis itu menyatu di udara, menyengat hidung seorang pria yang tengah duduk disana, ia membolak balikkan halaman bukunya sesekali menyeruput kopi miliknya. Ini terasa membosankan, raut wajahnya berkata seperti itu. Kekasihnya tengah sibuk dengan ujiannya dan yang bisa dia lakukan hanya duduk di kafe sembari belajar. Ia termangu sembari menatap keluar, cuaca mendung dan angin yang beterbangan itu terkesan damai, pria itu tersenyum simpul merasa puas atas semua yang ia miliki sekarang.


Arlojinya memberitahu kalau hari sudah semakin sore, tidak terasa sudah satu jam ia termangu di kafe ini. Ia beranjak, mengenakan mantelnya dan bergegas pergi dari sana.


Langkah kakinya berhenti saat seorang pria yang tak asing itu berada didepannya, menatapnya datar dan membuat situasi menjadi canggung.


"Kak Felix, kau mau ke kafe ini juga?" sapanya.


"Kita tidak akrab hingga kau bisa memanggilku Kakak." Felix menjawab ketus dengan dahinya yang berkerut.


"Oh maaf, kupikir kita sudah akrab karena kau lumayan dekat dengan kekasihku," sahut Vin tersenyum. Felix semakin mengerutkan dahinya, senyuman dari Vin terlihat membuatnya bertambah kesal, terlebih Vin menekankan kata 'kekasih' tepat dihadapannya.


"Baiklah, aku akan pergi menjemput kekasihku. Senang bertemu denganmu Pak Felix,"


"..."


Vin melenggang pergi, meninggalkan Felix dengan berjuta-juta kekesalan dalam dirinya, ia mengepalkan tangannya sembari menatap tajam punggung belakang Vin.


Wow, aku rasa punggungku akan berlubang. batin Vin.


"Hei," panggil Felix dengan suaranya yang rendah. Hal itu sontak membuat langkah Vin terhenti. "Malam ini hujan akan turun, tidakkah kau ingin bermain?" tanya Felix tiba-tiba, Vin tersentak, ekspresi wajahnya berubah drastis. Ia membalikkan tubuhnya, menatap bingung kearah Felix yang tersenyum penuh kemenangan.


"Bermain? Hujan? Maaf, aku tak mengerti pak!" ujarnya.


"Bukankah kau sangat menyukai hujan?"


"..."


"Aku bercanda! Kau pasti kebingungan. Maaf kalau begitu, ah ngomong-ngomong aku menyukai hujan, jadi mari kita kapan-kapan berjalan bersama saat hujan turun, itu pasti menyegarkan." Felix melenggang pergi dengan tawanya setelah mengatakan hal itu. Kini giliran Vin yang terdiam sembari menatap pria itu, ia tak berkata apapun, dan pada akhirnya ia hanya menghela nafasnya kasar dan berlalu dari sana.


Berjalan bersama dan hujan-hujanan katanya, tch yang benar saja, apa otaknya sudah rusak gara-gara iri melihatku bersama Rin? Atau jangan-jangan selama ini aku salah paham? Yang dia sukai bukan Rin, melainkan aku? Pft, itu membuatku merinding.