PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 6 : Pria misterius saat hujan



Rin melangkahkan kakinya, memasuki gang sebagai jalan pintas menuju Apartemennya, Rin harus berjalan kaki sebentar jika pulang menaiki bus, seperti halnya hari ini, selain menghemat, hal ini juga bisa digunakan sebagai refreshing. Tepat didepannya kini terlihat seorang anak laki-laki yang sedang dimarahi oleh sang Ibu, mungkin dia ingin bermain dan tak diperbolehkan oleh Ibunya, anak itu masih memakai seragam sekolahnya, para remaja seusia mereka memang tidak terlalu memperdulikan hal-hal mengerikan yang terjadi, menurut mereka itu mungkin hanyalah rumor. Rin hanya diam saat melihat anak itu tetap pergi bersama temannya sembari tertawa, pandangannya beralih kepada wanita separuh baya yang terlihat cemas dan kesal itu, ada rasa kasihan namun ia tak dapat berbuat apapun juga. Rin terus berjalan melewatinya, ia mempercepat laju jalannya, tubuhnya sudah sangat lelah, ia ingin segera sampai dan merebahkan tubuhnya diranjang kesayangannya.


Malam itu hujan turun dengan sangat deras, dari jendela yang terbuka, Rin dapat merasakan desiran angin dan gemericik air hujan yang masuk dan menyentuh kulitnya, ia termangu di meja belajarnya sembari menatap keluar jendela, ada perasaan takut menghampiri, namun ada pula rasa penasaran yang menyeruak. Ia beranjak dari kursi kecilnya, bergerak maju hendak menutup jendela yang terbuka, ia terhenti saat matanya menangkap seorang pejalan kaki yang melintas dibawah Apartemennya, mata biru tuanya menatap lekat seorang pria yang tengah berjalan santai dibawah derasnya hujan, terlalu gelap untuk mengetahui siapa orang tersebut, namun pria itu berhenti bersamaan dengan detakan jantung Rin yang semakin berdebar. Tepat dibawah lampu jalan dengan sorotnya yang berwarna kuning itu ia berdiri, menunduk, diam dan tak melakukan apapun.


"Apa yang dilakukan orang itu ditengah malam begini?" gumam Rin pelan.


Di malam yang gelap ditambah dengan derasnya hujan, bukankah itu sangat cukup untuk membuat penduduk disini ketakutan, tapi lain halnya jika pria yang berada dibawah sana itu adalah orang yang tak takut pada apapun, mungkin dia orang gila, tapi pakaiannya bagus, bahkan ia memakai jas hujan bening dan sebuah topi putih yang terlihat mahal, apa orang gila zaman sekarang berpakaian seperti itu?


Rin menatap pria itu sembari berpikir keras, seakan-akan pernah melihat sosok seperti itu.


"Ah topi itu," gumam Rin.


Ya, topi putih itu sama persis dengan topi pria yang ia temui setengah tahun silam, apa mereka adalah orang yang sama? Rin tak terlalu mengingatnya, bermacam spekulasi bermunculan di kepalanya yang kecil itu, lalu tanpa diduga, pria itu mendongakkan wajahnya, membuat Rin tersentak dan langsung menundukkan kepalanya, ia besembunyi dibawah jendela itu, berusaha mengatur nafas dan menenangkan dirinya yang panik.


"Apa dia tau sedari tadi aku menatapnya?" gumam Rin pelan dan terbata.


Ia kembali mengatur nafasnya, suara detak jantungnya menggema dikamar itu, bahkan punggungnya kini sudah dibanjiri dengan keringat dingin. Dengan perlahan ia mengangkat kepalanya, mengintip terlebih dahulu dari celah-celah disana, namun kosong, tak ada siapa-siapa lagi, yang tersisa hanya hujan yang berjatuhan tanpa henti.


BRAAKKK


Dengan cepat, Rin segera menutup jendela kamarnya, menguncinya rapat dan bergegas kepintu depan, menambahkan kunci pengaman satu kali lagi lalu berlarian dan menaiki ranjangnya, bersembunyi dalam selimut dengan nafas yang tersengal, ia memasang earphone dikedua telinganya, menaikkan volume musik agar suara hujan tak terlalu terdengar lagi, tanpa disadari tubuhnya bergetar, bukan karena cuaca yang dingin, melainkan pertemuan yang tak disengaja tadi.


Black Mountain, 06 Desember 2019


"Hah, seharusnya aku tak minum alkohol," ujar Rin sambil memegangi kepalanya.


Jadwal ke psikiater adalah minggu depan, Rin berharap kecanduannya terhadap alkohol dan rokok segera menghilang, dan lagi hari ini adalah hari ia ujian seleksi, setidaknya Rin harus membuat tubuhnya bugar terlebih dahulu, akan sangat gawat kalau ia mengikuti ujian dengan kepala yang berat seperti sekarang, beruntungnya ujiannya hanya lewat ponsel, itu membuat kelegaan tersendiri bagi Rin, lantaran wajahnya sekarang sangatlah menakutkan, dengan bekas hitam di bawah mata, itu memperlihatkan ia sudah seperti seekor panda.


"Ah masih ada waktu sebelum ujian, aku ingin membeli makanan diluar." gumam Rin.


Ia menyisir rambut gelombangnya, menambahkan bedak dibawah matanya dan mengoleskan lipstik tipis di bibirnya, wajahnya tampak lebih baik, sebenarnya walau tak memakai apapun Rin memang sudah sangat cantik, mata biru tuanya itu selalu bercahaya dan memancarkan pesona tersendiri baginya. Ia mengambil jaketnya yang tergantung, bersiap pergi untuk membeli beberapa makanan.


Rin kembali menyusuri gang kecil itu, suasana nya sepi dan senyap, hanya angin yang menemaninya berjalan saat itu, bila ini malam mungkin tak heran jalan ini begitu sepi, biasanya ada banyak remaja berkumpul dihari cerah seperti ini, namun tidak dihari ini.


Kedai makanan itu tak jauh dari gang ini, Rin hanya perlu keluar dari gang ini dan berjalan sedikit saja, sejak tadi pagi Rin hanya mengisi perutnya dengan seiris roti, jadi wajar saja kalau sekarang perutnya sudah mulai keroncongan. Rin memasuki kedai itu dan langsung memesan beberapa menu makan siangnya, setelah memesan kini tinggal menunggu makanan datang.


Rin menopang dagu dengan tangannya, melamun selagi menunggu makanannya datang, terlihat lalu lalang diluar sana dari dalam kedai, kini rasa pusing itu sudah menghilang, keluar dan berjalan-jalan seperti ini memang jitu untuk menghilangkan kepenatan, sayangnya Rin hanya sendirian, Bella mungkin sedang kuliah atau mungkin kencan buta. Rin sungguh tak menyukai hal itu, itu adalah hal yang merepotkan bagi gadis itu. Sampai saat ini pun Bella belum punya pacar, itu berarti kencan buta itu tidak pernah sukses, bukan?


"Hah..." Rin menghela nafasnya panjang.


"Rin?"


Suara seseorang memecah lamunan Rin, sontak ia langsung menoleh keasal suara, ia tertegun saat melihat orang yang menyapanya, pupilnya membesar, sepertinya itu adalah ekspresi saat melihat hal yang tak terduga.


"Nick?"