PATHETIC: A Murder In The Rain

PATHETIC: A Murder In The Rain
Chp 34 : Confused



Rin menaruh foto wanita asing itu didalam laci nakasnya, berharap besok ia dapat menemukan jawaban atas semua pertanyaan itu. Disamping itu, keuangan sudah mulai menipis, ia harus meminta uang sewa rumah lebih cepat dari tenggat waktu yang ditentukan untuk memenuhi kebutuhannya, setidaknya hingga ia mendapat part time kembali.


Ia teringat akan foto wanita itu, hingga detik ini pun wajah itu baru pertama kali ia lihat. Apa dia salah satu kerabat? Sepertinya bukan, wanita itu terlihat mirip dengan seseorang, namun Rin bahkan tak dapat mengingat siapa itu.


Black Mountain, 25 Desember 2021


Semerbak bunga Lily menyebar luas di area pemakaman, hilir angin yang mampu memporak porandakan dedaunan kering disana juga menerbangkan rambut panjang Rin kala itu. Dia merindukan tiga orang yang sudah terbaring nyaman didalam sana, sangat rindu.


Ia ingin lebih lama berada disana, bercerita dan meluapkan segala keluh kesah dirinya. Tapi, jam kuliahnya sebentar lagi. Ia harus segera pergi, mungkin lain kali ia akan berkunjung lagi, ucapnya.


Rin berjalan pelan hingga menciptakan suara dari setiap rumput kering yang ia injak. Cuaca sangat dingin saat itu, hingga ia memasukkan kedua tangan kedalam saku mantelnya. Rin berhenti sesaat, ia memegang sesuatu dalam saku mantelnya. Sebuah kertas yang tak asing. "Kupon," gumamnya. Sebuah kupon yang diberikan oleh Vin tempo hari, ternyata masih ada didalam saku mantel ini. Rin terkikik membayangkan betapa kekanak-kanakannya seorang Vincent. Ia kembali memasukkan kupon itu kedalam sakunya, seraya berjalan menghampiri taksi yang sudah ia pesan melalui ponselnya.


Kantor polisi Rumanov


Kantor polisi tengah ricuh akibat Ibu Dayana yang terus menerus datang. Ini sudah beberapa hari anaknya menghilang, tak ada kejelasan dari pihak kepolisian. Kali ini Ibu itu tidak sendirian, ada satu lagi keluarga yang datang bersamanya. Itu adalah keluarga Robert, pacar dari Dayana.


Felix menggubrak meja kerjanya, hingga seluruh dokumen dan laptop diatasnya bergetar. "Sial, selalu saja begini. Sebenarnya bajingan mana yang melakukan semua hal gila itu!" umpatnya kesal. Terkutuklah Black Mountain, disituasi yang sedang gawat seperti ini, daerah ini malah seperti diabaikan. Kantor polisi yang cuma satu-satunya ini, sejujurnya dipenuhi dengan orang yang tak berkompeten. "Ya, termasuk diriku." gumamnya sembari menghela nafas.


...****************...


Aroma kuah kaldu yang sangat mengugah selera itu tercium disetiap sudut tempat, kantin kampus memang tempat kuliner yang sejati. Rin menyeruput mie seafood pedas dengan bersemangat, sedari tadi ia sangat ingin memakannya. Bahkan saat kelas masih berjalan, yang ada di otaknya adalah bayangan dari mie seafood pedas. "Ini sangat enak!" ujarnya dengan mulut yang penuh. "Ya ampun, kau baru bertemu dengan mie, ya?" tukas Bella sarkas.


Rin seakan tak memperdulikan itu. Ia menghabiskan semangkuk mie seafood itu tanpa sisa. "Ah, aku kenyang." ujarnya sembari tersenyum. Suasana hatinya mungkin sedang baik, ia bahkan masih tersenyum sambil mengusap-usap bibirnya dengan sebuah tisue. Beberapa menit yang lalu, katakanlah sebelum makan, Rin bercerita tentang bagaimana ia pada akhirnya terlibat dengan persoalan cinta antara Vin dan juga Nick. Sontak Bella sangat bersemangat tentang itu, sahabatnya yang tak pernah membicarakan laki-laki selain Nick kini dilema diantara dua pilihan, bukankah itu persoalan yang menarik? Bella bahkan kedapatan tengah mengulum senyumnya beberapa kali saat mendengar sahabatnya itu bercerita. "Tentu saja Vin! Kalau aku jadi dirimu, aku pun akan memilih Vin. Jatuh cinta itu meliputi rasa nyaman, kalau kau saja tidak nyaman pada orang itu, bagaimana kau akan memulai suatu hubungan dengannya!" tukas Bella panjang lebar. "Hah, aku jadi iri pada sahabatku ini. Dia diperebutkan oleh dua pria tampan sekaligus, hah," ujarnya seperti bergumam sendiri.


Rin hanya tersenyum mendengar ocehan Bella. "Rin, apa kau berdebar saat memikirkan Vin?" gadis itu sontak menganggukan kepalanya cepat. "Lalu, bagaimana dengan Nick?" Rin memicingkan matanya, "Daripada berdebar, itu bisa disebut berdetak lebih kencang. Tapi, aku tak menyukai itu!" jawabnya ragu. "Baiklah, kita sudah mendapatkan jawabannya. Kau jatuh cinta pada Vin. Lihat saja, wajahmu memerah saat aku menyebut namanya di hadapanmu." Rin tertegun, dan menundukkan pandangannya malu, Bella hanya terkekeh melihat tingkah sahabatnya itu. "Beruntungnya kau Rin, bahkan aku dapat merasakan kalau Vin itu sangat menyukaimu."


Hal itulah yang membuat suasana hati Rin sangat bagus hari ini. Gadis itu tersenyum, memaparkan rona merah di kedua pipinya.


Tak jauh dari tempat mereka duduk, tatapan tajam bagai busur panah yang hendak dilepas dari seorang pria itu tampak mengerikan, pria itu tengah memperhatikan mereka dari kejauhan. Sorot mata hazel yang datar dan tajam saat memperhatikan dua gadis itu, ia menggigit bibir bawahnya keras, hingga rasa karat kini menyeruak dalam mulutnya. Ia mengambil selembar tisu, lalu membersihkan noda-noda darah dari bibir bawahnya. Ia tampak kesal, terlebih dengan Bella. Buru-buru Ia beranjak, menjauh dari sana sembari mengepalkan tangan, membawa serta amarah yang mungkin akan meledak nantinya.