
"Pesan saja apapun yang kau mau," tukas Nick sembari menatap Rin.
"Oh, Okay."
Hawanya terasa agak canggung, namun sepertinya hanya Rin yang merasakan hal itu, tampaknya Nick baik-baik saja, apa itu karena efek perasaan sepihak? Ya siapa yang tau. Udara didalam restoran ini sedikit hangat, itu mungkin karena penghangat ruangan yang bekerja baik disini.
"Kau mengenal pria tadi?" tanya Nick tiba-tiba.
"Pria tadi?" jawab Rin tersentak, Nick menatapnya, sorot mata hazel itu seakan mengintimidasi Rin yang sedang memasukkan makanan dalam mulutnya.
"Oh pria tadi, ya dia hanya kenalanku," ujar Rin kikuk sembari terus memasukkan makanan dalam mulutnya, mungkin mulutnya hampir penuh, pipinya menjadi mengembung karenanya.
"..."
Kenapa dia menatapku seperti itu, apa aku melakukan kesalahan yang fatal? Batin Rin.
Rasanya seperti sedang menghadapi dosen yang seram, bahkan Rin sampai tak bisa mendongak karena terlalu takut akan tatapan Nick yang bisa saja melubanginya, dan lagi pertanyaannya mengenai Vin itu terdengar ambigu, setidaknya bagi Rin.
Makan bersama hari itu bisa terbilang tidak terlalu bagus, ekspetasi itu sangat melukai, realita lah yang benar. Namun, perasaan suka itu tetap ada.
Nick memacu mobil hitamnya dan berhenti tepat didepan Apartemen Rin, ia hanya tersenyum satu kali lalu berkata, "Hari minggu nanti apa kau mau pergi bersamaku?", saat itu Rin hanya terbelalak, tanpa berkata apapun ia hanya mengangguk-anggukan kepalanya bagai anjing penurut, itu membuat Nick memberikan senyumnya satu kali lagi yang langsung menembus ke relung terdalam hati Rin.
"Dia tipe orang yang jarang sekali tersenyum ya, tidak seperti seseorang," gumam Rin kecil.
22:20 PM
Bunyi air yang mengalir dari saluran pipa pembuangan itu mengaluni disetiap tulisan yang dibuat oleh Rin, ini malam yang kelabu, malam gelap tanpa bintang atau pun bulan, yang ada hanya awan hitam dan udara yang sangat dingin. Bersyukur untuk beberapa minggu ini tak ada peristiwa mencengangkan yang diberitakan di televisi, namun kewaspadaan itu tetap diharuskan selama kita tinggal disini. Coretan pena yang ia torehkan pada sebuah buku catatan itu ditatapnya, keresahan akan segalanya dituangkan pada buku yang mungkin hampir penuh itu.
Ingatan itu pun kini terlintas kembali, ingatan mengerikan yang bercampur dengan rasa alkohol yang melayang memenuhi kepalanya. Hingga kini pun tak ada satu pun yang ia dapatkan mengenai kematian keluarganya, coretan yang ia tulis itu hanyalah bualan belaka. Penembakan, aroma bunga lily, jasad yang utuh, itu semua membuat kepala kecil Rin seakan meledak, ia membalikan lembaran kertas itu ke halaman sebelumnya, bahkan setiap korban yang diberitakan itu semuanya ia tulis dalam buku itu, dan metode pembunuhan pada semua orang itu adalah sama, kecuali keluarga Beverly.
Sudah sangat lama sejak saat itu, Rin tak lagi mencium aroma bunga lily yang dulu selalu memenuhi ruangan didalam rumahnya, ia sampai lupa bagaimana harumnya aroma itu hingga Ayahnya sangat menyukainya. Bila diingat itu dimulai saat Rin berusia genap 12 tahun, saat itu Rosalie belum mengandung Ran dalam perutnya, bunga itu pertama kali dibawakan Derrick saat ia kembali dari pusat Kota Rumanov.
"Hah, kenapa pada saat itu ada serbuk abu dan aroma bunga itu memenuhi tubuh Ayah? Seingatku Ayah memang menyukai bunga itu, tapi ia tak pernah memakai parfum beraromakan bunga itu." Rin bergumam dengan tangan menopang dagunya.
Rin menoleh kearah jendela, sepertinya hujan mulai turun lagi, walaupun tak deras namun tetap membasahi, Rin mengedip-ngedipkan matanya, berusaha tak terpengaruh akan rasa pusingnya.
Ia tersentak saat mendengar suara ketukan pada pintu luar, jam dinding sudah menunjukan pukul 22:45 PM, untuk beberapa saat ia terbengong menatap jam dinding yang terus saja bergerak, hingga suara ketukan itu kembali menyadarkannya, ia beranjak dari kursi itu dan menutup jendelanya terlebih dahulu, hujan mulai deras, suaranya yang heboh ketika menghamtam atap itu terdengar rusuh. Rin mengusap matanya perlahan dan membenahi rambutnya yang sedikit lusuh, itu mungkin tetangga yang ingin meminta bantuan, pikirnya.
Catatan kecil untukmu, kegunaan lubang kecil pada pintu utama adalah untuk melihat siapa yang datang dan berada diluar pintu, namun Rin yang letih tentu tak mengingat bagian itu, ia hanya berpikir untuk cepat membuka pintu itu karena suara ketukannya sangat membuat telinga gerah dimalam hari.
Matanya terbelalak, pupilnya membesar dan bergetar, bibirnya terkatup rapat, tubuhnya beku tepat setelah ia membukakan pintu itu. Seorang pria dengan kaos lengan panjang yang tebal, memakai jas hujan berwarna bening dan topi putih yang menutupi separuh wajahnya itu berdiri menyeringai dihadapan Rin. Saat itu suara Rin bahkan tak bisa keluar, tenggorokannya seakan tercekat, dengan bergetar ia melangkah mundur bersamaan dengan pria yang semakin mendekat itu, jantungnya berdegup sangat kencang, ketakutan itu bertambah saat ujung pistol yang ia bawa telah mengarah ke dahi Rin, mata gadis itu sudah memerah, bibirnya masih bungkam walau air matanya sudah banyak berderai.
Kenapa? Kenapa aku tak bisa menggerakan tubuhku, bahkan suaraku, aku tak bisa melihat wajahnya, apa aku akan mati?
Pria itu tak menampakan wajahnya, bahkan ia tak berniat membuka jati dirinya dihadapan Rin, ia hanya menyeringai sembari menarik pelatuk pada pistol itu, Rin memejamkan matanya, berharap peluru itu langsung saja menembus otaknya yang lelah akhir-akhir ini. Ternyata mengetahui bahwa akan mati sebentar lagi itu rasanya sangat mengerikan, Rin menggigit bibirnya kuat hingga berdarah, mencoba mengeluarkan suara yang mungkin tak ada gunanya.
"T...To...To...Long jangan!"
Pria itu kembali menyeringai, kali ini terlihat lebih mengerikan, Rin membuka matanya, melihat pria itu menggerakan bibirnya seolah berkata "Terlambat", tubuh gadis itu bergetar hebat, tanpa berkedip seakan menunggu nyawanya melayang.
"T...T...Ti...Dak!"
DOOORRRRRRRRRRRR.....