
🧞♂️
Om jin berdiri menjulang di hadapanku setelah mendengarkan ancaman yang kukatakan.
"Nala!Jangan sia-siakan hidupmu hanya karena aku!"
Om jin membentakku dan membuatku langsung mematung dengan pandangan yang mengabur sebentar.Nyaliku langsung menciut setelah dibentak seperti itu oleh Om jin.
Tapi aku masih tetap kukuh dengan kata-kata ku karena aku tidak mau Om jin meninggalkanku.Biarkan saja sampai tua aku jadi siswa SMA asalkan Om jin tetap ada bersamaku,aku berjanji tidak akan merasa malu.
"Om jin akan pergi setelah kelulusanku,itu perjanjian yang sudah kita buat.A-agar Om jin tidak jadi pergi aku akan tetap jadi siswa SMA saja dan tidak pernah lulus selamanya!" Ucapku lantang.
Om jin menatapku dengan tidak sabar,dia berkata dengan keras,"Jangan rusak masa depanmu hanya karena aku!Aku tidak mau kamu nantinya menyesal dengan perbuatanmu hari ini!"
Bisa kulihat kalau urat-urat yang tersembunyi di bawah kulit Om jin menonjol karena menahan emosinya.Tapi aku masih tidak akan goyah dan kalah darinya.
"Karena kamu akan berbuat curang dengan pernjanjian kita,terpaksa aku harus melakukan hal yang sama dan memperlihatkan ini padamu.Kuharap setelah melihat ini kamu mau membiarkanku pergi..."
Setelah berkata begitu wujud Om jin berganti mulai dari kulit,bentuk tubuh,wajah,dan akhirnya wujud Om jin pun berubah sepenuhnya.
Yang sedang aku tunjuk-tunjuk sekarang bukanlah Om jin yang tampan dengan kulit putih bersih,melainkan makhluk berbadan besar,berkulit abu-abu,dan berwajah menyeramkan dengan mata yang sangat besar melotot ke arahku serta gigi taringnya yang panjang mencapai dagunya.
Aku mundur kebelakang sampai membentur tembok dan jatuh terduduk di pojokkan kasur sambil menjerit-jerit dengan liar dan kencang.
Siapa makhluk itu?!Kemana Om jin ku?Jeritku dalam hati.
Ada seseorang yang mengetuk-ngetuk pintu dan memanggil-manggil namaku dengan cemas dari luar kamarku.Itu Rizal!Dia bisa mendengar suara jeritanku?
Merasa masih mempunyai kesempatan untuk lolos dari makhluk di depanku,aku berteriak meminta tolong padanya.
"Tolong aku keluar dari kamar ini!" Teriakku sambil menutup mata dengan kedua tangan yang sudah basah oleh keringat dingin.
"Ada apa di dalam?Kenapa kamu menjerit ketakutan begitu,Nala!?" Rizal balas berteriak padaku dan mulai menendang pintu kamarku yang terkunci.
Kenapa aku suka sekali mengunci pintu kamar kostan ku sih?!Jeritku menyesal dalam hati.
"Nala..." Suara menyeramkan itu memanggil namaku,suaranya serak dan kering serta terdengar menyeramkan dan penuh kesedihan.
"Cepat tolong aku Rizalllll!" Jeritku lagi makin keras.
Kenapa hanya Rizal yang berusaha menolongku?Kemana penghuni kost yang lain?Pikirku putus asa karena sedari tadi Rizal masih belum berhasil mendobrak pintu kamar yang terkunci.
beberapa saat kemudian pintu kamar mendadak terbuka begitu saja,Rizal mematung di ambang pintu dengan kaki yang terangkat sebelah dan langsung dapat kurasakan keberadaan makhluk itu hilang.
Aku menangis sesenggukan,barulah Rizal tersadar dan menghampiriku yang terpojok menyedihkan di atas kasur sambil menutupi wajah.
"Sebenernya ada apa sih Nal?" Tanya Rizal.
"Ada...ada hantu,monster atau apalah itu sebutannya makhluk menyeramkan itu!" Jawabku.
Rizal melihat ke sekitar kamarku dan kembali melihatku,"Tidak ada apapun yang menyeramkan di sini..."
Rizal kemudian membawaku keluar dari kamar dan tanpa sadar aku mengandeng tangannya dan merapatkan diriku padanya karena masih merasa ketakutan.Rizal tidak menolak atau kelihatan risih,tapi dapat kurasakan kalau tubuhnya jadi kaku.
"Lebih baik kita keluar dulu dari kamar ini,bukannya dari kemarin lusa kamu selalu mengurung diri di kamar kamu setelah pulang sekolah?Mungkin karena stres kamu jadi berhalusinasi" Katanya,dan mendudukanku di kursi teras kostan.
"Kamu kira aku cuma halu?Makhluk itu sangat nyata dan tidak mungkin juga kalo makhluk itu sebenarnya-"
Sial!Aku hampir akan mengatakan dugaan gila ku kalau makhluk menyeramkan itu sebenarnya adalah Om jin kepada Rizal.
"Makhluk itu sebenarnya?" Rizal mengulang perkataanku dengan nada tidak sabar.
"Sebenarnya setan..." Ucapku dengan canggung dan suara yang serak.
"Ya pasti makhluk menyeramkan itu setan,kalo ngak serem mah itu member bts namanya...kamu ini ya,,," Kata Rizal dengan setengah bercanda yang malah membuatku ingin menjerit-jerit karena dugaanku tentang makhluk itu adalah Om jin sebenarnya benar karena sebelumnya Om jin mengambil wujud Jin bts.
Rizal,kenapa kamu malah membuat suasana hati ku semakin buruk,sih?Batinku.
"Nala,aku buatkan teh ya?Kamu tunggu dulu di sini!" Rizal pun pergi kedalam kostan dan membiarkanku sendirian di teras tanpa menunggu persetujuan dariku.
Karena masih merasa ketakutan,aku mengikuti Rizal ke dalam dan menunggunya membuat teh di dapur.
"Masih takut ya sampai ikut-ikutan ke sini?" Tanyanya dengan raut wajah jahilnya padaku.
Ya iyalah bego!,Aku membatin dengan kesal karenanya.Kenapa disaat seperti ini dia masih sangat menyebalkan?Apa dia tidak takut air teh panas itu akan mengenai tangannya?
"Makasih"
Aku menerimanya dan meniupinya agar lebih cepat dingin.
"Ayo duduk di kursi teras lagi" Ajak Rizal dan menyuruhku berjalan duluan.
Aku menurut saja dan seterusnya kami berdua membicarakan tentang sekolah juga kenangan bersama ibu kost saat dia masih hidup dulu.
"Sekarang tidak akan ada lagi yang memanjakan kita di kostan,anak-anak ibu kost punya pekerjaannya masing-masing yang harus diurus dan suami ibu kost tidak peduli pada para penghuni kost kecuali uang yang kita bayarkan untuk membayar kostan" Kataku sejujurnya pada Rizal,karena aku tahu kalau dia juga merasakan hal yang sama denganku dan begitu juga para penghuni kost yang lain.
"Kamu bicara jujur,aku juga akan bicara jujur padamu.Sebenarnya sejak ibu kost meninggal aku sudah tidak nyaman tinggal di kostan.Tapi aku menahan diri untuk pindah...karena sebentar lagi juga aku-eh ...kita akan lulus"
Aku mengangguk-angguk mendengarkan perkataan Rizal.Sejujurnya aku heran kenapa Rizal tidak merubah sikapnya terhadapku,bagaimanapun dia tahu kalau kakaknya meninggal saat jalan bersamaku.Kami langsung bisa mengobrol se santai ini padahal tadi aku ketakutan setengah mati dan banyak masalah pelik diantara kami.
"emm...Rizal.Apa kamu masih ingat kalau kejadian yang menimpa kakakmu itu ada hubungannya denganku?" Aku memberanikan diri untuk bertanya.
Rizal terdiam,kali ini dia kelihatan serius.
"Ya tentu saja,Nala.Tapi di sana bukan hanya ada kamu saja,banyak saksi mata dan bahkan para polisi sendiri jugalah saksi matanya.Aku sudah mendengar cerita lengkapnya...kakakku menabrakkan dirinya sendiri ke mobil itu dan bahkan sebelumnya dia membawamu juga,kan?"
Rizal menghela nafas kemudian melanjutkan perkataannya,"Tapi syukurlah pada saat-saat terakhir kamu berhasil membebaskan diri dari kakakku...dan yang tertabrak adalah kakakku sendirian.Di satu sisi aku sedih karena kakakku bunuh diri dan mati,di sisi lain aku marah karena dia mencoba untuk membawamu untuk menjemput ajal,dan di sisi lain juga aku bersyukur kamu berhasil selamat dan tidak mempermasalahkan hal ini lebih lanjut"
Aku menarik nafas,mencari kekuatan lebih untuk tetap bisa bersikap biasa di dekat Rizal.Apakah sebaiknya aku mengatakan yang sebenarnya terjadi padanya?Kemudian aku menggeleng,kejadian yang lalu telah berlalu...aku harus bisa move on darinya.
Rizal menatapku dengan ragu,dan kembali berkata"sebenarnya aku juga kecewa pada kakakku karena waktu itu dia bilang mencintaimu padaku lewat telepon,tapi nyatanya dia bahkan berusaha membunuhmu...aku benar-benar meminta maaf mewakili kakakku padamu,Nala"
Aku menggeleng,"tidak Rizal,kamu tidak perlu melakukan hal itu.Kejadian itu sudah berlalu,aku tidak mau membuka luka lama"
Rizal terdiam setelah mendengar kalimat balasanku,kemudian kami diam-diam berusaha mengalihkan pembicaraan pada topik lain.
Adzan maghrib berkumandang,terpaksa kami berdua harus kembali ke dalam kostan dengan sikap waswas dan kali ini aku tidak mengunci pintu kamar ku.Aku sangat kaget saat melihat Om jin di atas lemari dengan wujud seokjinnya sedang fokus menatapku dari atas sana.
Aku tiba-tiba merasa merinding dan berkeringat dingin,merasa familiar dengan ketakutan yang kurasakan ini.
"Kamu..." Ucap Om jin,tapi tidak jadi dia teruskan dan dia hanya tiduran di atas lemari.
Aku membuang nafas lega,Om jin sudah tidak menatapku seperti itu lagi.Tapi karena tatapannya itu membuat aku semakin yakin kalau makhluk menyeramkan tadi adalah Om jin.
Dengan langkah buru-buru yang terkesan jelas,aku naik ke atas kasur dan menyelimuti kakiku yang terasa lemas secara tiba-tiba,tapi disaat yang bersamaan kakiku seperti ingin lari dari tempat ini.
Aku ingin sekali bertanya pada Om jin tentang hal ini,apa wujud asli Om jin semenyeramkan itu?Atau...dia hanya membuat ilusi agar aku takut padanya dan membiarkan dia pergi dengan mudah.Aku terlalu takut untuk mengeluarkan kata-kata dan mentalku masih tergoncang oleh kejadian tadi.
Om jin tiba-tiba saja sudah duduk di sampingku,dia menghela nafas berat.Dia terlihat seperti akan mengatakan sesuatu yang penting.
"Nala,aku-minta maaf sudah bersikap kasar dan mengabaikanmu juga karena aku sudah membuatmu takut oleh wujud asliku yang...menyeramkan" Kata Om jin.
Otakku seperti akan melompat dari tempurung kepalanya,karena saking kagetnya aku menerima pernyataan Om jin yang juga berarti mengaku jika makhluk menyeramkan tadi...dia-adalah Om jin sendiri!Jadi itu adalah wujud asli Om jin?!
"Kembali..." Ucapku pelan.
Bersamaan dengan kata yang keluar dari mulutku,air mata ku pun ikut keluar perlahan dari mataku dan menetes ke dadaku.
"Sekarang Om jin lebih baik kembali masuk ke dalam botol parfum itu dulu,aku perlu menenangkan diri-sendirian!" Aku berkata begitu tanpa menatap mata Om jin langsung karena tidak berani,tapi aku hanya melirik ekspresi di wajahnya seperkian detik saja.
Om jin menatapku dengan pandangan yang kusadari menyiratkan kekecewaan dan kesedihan.
"Kamu takut padaku?" Tanyanya.
"Bukannya Om jin memang menginginkan itu agar Om jin bisa pergi dengan mudah nantinya?!" Aku menjawabnya sambil menatap mata Om jin.
Air mataku terus menetes,tanpa membalas perkataanku atau menghapus air mata ku terlebih dahulu,Om jin langsung menghilang.
Aku memeluk bantal dan menangis,apa memang seharusnya kami akhiri saja hubungan ini?Lagipula semakin lama perasaan tak tentu ini terus menggerogoti jiwaku dan membuatnya sakit nan lemah.
Tapi apa Om jin juga merasakan perasaan sakit yang sama denganku?Aku ragu akan hal itu,karena sepertinya Om jin sudah tidak peduli pada perasaanku,itulah sebabnya dia ingin segera pergi meninggalkanku.
👻
...DO YOU ENJOY THIS CHAPTER?IF IT'S RIGHT,PLEASE GIVE ME A LIKE👍 AND COMENT💬!...
...SEE YOU IN NEXT CHAPTER!❤...
...BYE-BYE!👋👋...