Om Jin!

Om Jin!
Om jin!34(versi revisi)



🧞‍♂️


Aku mencoba menelpon Mamy,tapi sebelum aku meneleponnya,dia sudah meneleponku duluan.Aku menerima panggilannya dan betapa terkejutnya aku saat Mamy mengatakan kalau kedua Kakekku ada di sana dan menitip pesan padaku agar selalu berhati-hati saat berinteraksi dengan siapapun termasuk 'dia' dan kedua Kakekku meminta maaf karena gagal membereskan masalah keluarga dan mempasrahkan semuanya padaku.


Mamy juga bertanya padaku apa maksud dari pesan kedua Kakekku itu,aku mengatakan tidak tahu dan menanyakan keadaan Kakek,apa mereka berdua ada cedera atau sehat-sehat saja padanya.


"Mereka tidak kenapa-napa,Mamy juga merasa aneh kenapa mereka cepat sekali pulangnya,kamu sudah ketemu Kakek-Kakek kamu kan di Bandung tadi?" Tanya Mamy.


"Apa terjadi sesuatu di sana,Nala?"


Aku menjawab 'iya' dengan kalimat candaan lainnya agar Mamy tidak khawatir terhadapku dan merasa curiga juga menambahkan kebohongan kalau Kakek pamit padaku karena harus mengurus hal lain di sana.Setelah itu aku memutuskan sambungan telepon.Tidak sanggup untuk berbicara seperti semuanya baik-baik saja.


Syukurlah kalau Om jin tidak melukai kedua Kakekku dan hanya memulangkan mereka ke rumah,tapi jika begitu,lalu kenapa Om jin belum juga kembali ke sini dan menemuiku?Apa dia juga marah padaku?


Karena dia belum juga pulang,aku sampai berpikiran yang tidak-tidak kan gara-gara dia pergi dengan emosi!


Aku mencoba memanggil Om jin lewat pikiran agar dia segera kembali ke sini,tapi tidak ada balasan atau respon sedikitpun darinya padahal aku sudah sangat fokus memanggilnya sampai memejamkan mata.


"Om jin kumohon kembalilah..." Ucapku dengan sedih dan putus asa.


Saat aku berbalik ke arah cermin yang ada di lemari,aku hampir terjengkang karena ada tulisan berwarna merah muda di sana.Ku kira itu adalah darah...


Kubaca tulisan di cermin itu saat sudah bisa duduk dengan tenang.Di dalam tulisan itu mengatakan kalau Om jin pamit pergi sebentar untuk menenangkan diri dan mungkin baru bisa kembali nanti malam atau besok pagi,dia khawatir kalau aku akan takut saat melihat kemarahannya.


Dan pada tulisan terakhir terdapat tagar permintaan maaf karena Om jin menggunakan lip cream baruku untuk membuat tulisannya.


Aku terbengong sesaat setelah selesai membacanya,lalu kemudian membuka laci dan mengecek lip cream baru yang dimaksud Om jin.Aku langsung meneriakkan nama Om jin dalam hati karena benar-benar sudah memakai lip cream baruku sampai habis setengahnya.


Kapan dia melakukannya?!Kenapa dia tidak menulis di kertas dan memakai pulpen saja kalau dia bisa?!Kenapa dia harus memakai lip cream baruku!?


"Om jin!"


 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


 


Aku belum tidur karena menunggu kepulangan Om jin walaupun sudah Om jin katakan ada dua kemungkinan kapan dia akan pulang,yaitu malam ini atau besok pagi.


Dan kini malam sudah gulita...


Tapi aku tetah keukeh menunggunya karena berharap dia akan pulang malam ini alih-alih pulang besok pagi.Apa Om jin tidak mencemaskan keadaanku setelah kejadian pagi tadi?


Aku sangat mengkhawatirkannya dan ingin mendengar penjelasannya atas kejadian tadi pagi langsung darinya,apa yang membuat dia lebih memilih memulangkan kedua Kakekku daripada membalas dendam pada keduanya padahal keduanya sudah mencoba untuk mengurung Om jin dan merenggut kebebasannya lagi.


Ah ya,tapi itu bukan berarti aku mendukung Om jin kalau dia ingin membalas dendam.


Layar hp ku bercahaya dan aku membukanya untuk mengeceknya,Rizal mengiriku chat dan menanyakan kabarku dan sekali lagi memberiku pesan agar tidak sungkan-sungkan meminta bantuannya.Dia selalu stanby di kamarnya katanya.


Dia jadi baik padaku akhir-akhir ini,apa dia mendapatkan uang jajan tambahan dari orangtuanya sampai lupa diri atau bagaimana?


Aku menaikkan alis,kalau kuhitung-hitung,ini adalah percakapan di WhatsApp ke sepuluh kami dalam waktu hampir tiga tahun.


Dia mengetik sesuatu lagi yang agak melenceng dari percakapan kami.





Aku hampir akan membanting hp ku lagi ke luar jendela yang terbuka dan mengarah langsung ke pohon sirsak di luar sana saking kesalnya-seperti kejadian beberapa waktu lalu.


Kutaruh hp itu dengan pelan di atas nakas dan mengambil bantal lalu menjadikannya samsak dadakan demi menyalurkan kekesalanku terhadap Rizal.


Ya ampun...aku menyesal sudah melihat gambar yang dia kirim,menyebalkan sekali!


"Nala..."


Aku langsung berhenti menyiksa bantal dan berbalik untuk melihat siapa yang memanggil namaku.


OM JIN!


Aku turun dari kasur dan langsung menerjang dan memeluknya,sialan!Orang-orang di sekitarku memang bisanya hanya membuatku kesal,baik itu manusia maupun jin sekalipun.


"Kenapa kamu tadi marah-marah?" Tanyanya sambil tetap membalas pelukanku.


"Kamu marah karena aku pergi membawa kedua Kakekmu secara tiba-tiba?Atau karena aku pulang malam dan membiarkanmu tinggal sendirian?" Tanyanya lagi.


Aku menggeleng dalam pelukannya,bukan! Jeritku dalam hati.


"Lalu kenapa kamu sampai merusak bantalmu sendiri?Bukannya kamu bilang bantal itu mahal karena harus dipesan dulu?" Katanya.


Aku langsung tersadar akan hal itu dan melerai pelukan kami,aku memeluk bantalku yang sudah kempis dan merutuki kebodohanku karena menjadikannya sebagai media penyalur emosi.


Om jin menertawakanku dan memelukku lagi,menjadikan bantal yang sedang kupeluk itu sebagai pemisah diantara kami.


"Oh iya!" Om jin berseru dan melepas pelukannya dariku dan memperbaiki bantalku sampai kembali ke bentuknya semula.


Ah,padahal maksudku bukan itu,tapi maksudku adalah agar Om jin menyingkirkan bantalnya yang menghalangi pelukan kami.


Sudahlah,lagipula aku malu kalau harus menyuarakannya langsung dan ada bagusnya juga kalau Om jin salah paham dan malah memperbaiki bantal itu.


Setidaknya aku tidak perlu membeli bantal baru...


Atau menanggung malu setelah berpelukan dengan Om jin


 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


'Om jin mau menjelaskan kejadian kemarin pagi padaku?' Kataku lewat pikiran sambil memakai headset dan berjalan santai untuk berangkat ke sekolah ditemani Om jin yang melayang di sampingku.


"Kenapa tidak?Aku akan menjelaskannya demi kamu,tapi singkat saja ya...aku takut kamu dikira orang gila lagi" Katanya.


Aku mendelik padanya,apa maksudnya itu?Lagipula aku kan tidak langsung berbicara padanya dan sudah memakai headset-memastikan agar aku tidak dianggap gila karena berbicara sendirian lagi.


"Kemarin pagi aku emosi dan memang sangat marah pada kedua Kakekmu,tapi aku melihat kamu,aku masih memperhatikan kamu dan mengingat kalau mereka berdua adalah Kakek kamu juga,oleh karena itulah aku hanya berbicara dengan mereka sebentar di alamku dan memulangkan mereka ke rumah Mamy kamu.


Aku juga tidak langsung pulang karena khawatir kamu akan takut melihatku yang sedang marah.Kadang-kadang aku tidak bisa mengendalikan wujudku untuk tetap sama jika sedang marah."


Wajahku sudah merah padam mendengar penjelasan pertamanya,dia tidak menyakiti kedua Kakekku karena aku?


Aku berdehem,lalu bertanya hal lain padanya.


"Apa yang Om jin bicarakan dengan mereka sampai mereka sudah pasrah seperti itu?"


Om jin menatapku lama,aku salah tingkah karenanya lalu berjalan sambil menunduk dan juga memegangi perutku yang tiba-tiba terasa bergejolak,tapi ini bukan mulas! Aku benar-benar tidak sedang sakit perut atau keroncongan karena belum sarapan!


Ini adalah perasaan yang lain,tapi aku tidak yakin kenapa responnya sampai ke perutku segala!


"Aku bilang aku tidak akan menyakitimu dan berjanji tidak akan menjadi jin jahat seperti dulu lagi,oleh karena itu mereka harus membiarkanku tetap bebas dan berada di sisi mu terus..." Jelasnya.


Mulasku semakin menjadi-jadi saat menatap tepat ke matanya yang ternyata sedang menatapku dengan perasaan mendalam yang tidak bisa kupahami sepenuhnya,tapi aku suka dengan tatapannya iti.


Om jin!Kamu membuatku bingung,tahu!


Usiaku masih 16 tahun!Belum bisa mencerna makna mendalam yang disampaikan Om jin sepenuhnya sampai aku sakit perut seperti ini sekaligus ingin berteriak senang di jalanan tanpa peduli orang-orang di sekitar.


Perasaan ini sungguh sangat menyenangkan,tapi disaat yang bersamaan mereka membuat rasa nyaman sekaligus tidak nyaman di tubuhku-menggelisahkan.


Benar-benar membingungkan!


Apa yang sebenarnya terjadi padaku?!


"Nala,kita sudah sampai" Kata Om jin memberitahuku.


Aku mendongak dan melihat gerbang sekolahku yang menjulang tinggi dan sudah banyak remaja seusiaku yang berjalan melewatinya.


Ku tenangkan diriku dulu,aku tidak mau orang-orang sampai melihat ekspresiku yang campur aduk,senang sekaligus merasakan rasa nyaman dan ketidaknyamanan yang terasa di perutku-seperti ada ribuan kupu-kupu di dalamnya,terutama disaat yang bersamaan.


Aku juga takut mereka melihat wajahku yang mungkin sekarang sudah menjadi semerah kepiting rebus.


'Apa wajahku merah,Om jin?' Tanyaku malu-malu.


Kalau tidak menanyakan pendapat orang lain seperti ini,aku belum bisa tenang masuk ke sekolah dengan wajah yang tidak kuketahui dalam keadaan normal atau tidak.Tapi orang yang bisa kutanyai sekarang hanyalah Om jim...


"Hanya merona sedikit,kenapa memangnya kamu bertanya seperti itu?" Kata Om jin.


Syukurlah...


'Tidak,aku hanya ingin bertanya saja' Jawabku.


Aku berjalan seperti biasa menuju gerbang sekolah seperti siswa lainnya.


"Nala! Tungguin aku!"


"Nala,tunggu!"


Tanpa kuduga,dua suara yang familiar memanggilku-aku berhenti berjalan karena terkejut dan berbalik dengan cepat untuk melihat kedua orang itu.


Aku tidak sedang berhalusinasi,kan?


👻


Haha-happy reading😁! :)


Don't forget to give me like👍 and comment💬.


See you on next chapter!👋