
π§ββοΈ
Karena besok aku sudah harus masuk sekolah dan memulai semester baru,aku dan Astri pun terpaksa harus kembali ke Bandung saat ini juga.
Kami sedang berada di mobil Bibi Astri sekarang,Aku ikut nebeng dengannya.
Lewat jendela mobil yang tertutup rapat,kusandarkan kepalaku yang penuh beban sambil melihat kerlap-kerlip lampu berwarna-warni di luar yang berasal dari kendaraan ataupun lampu dari gedung-gedung besar yang kami lewati.
Astri sudah tidur tepat di sebelahku sambil memeluk hpnya yang tadinya ia gunakan untuk video call dengan Sera sampai dia ketiduran.
"Nala..." Bibinya Astri memanggilku.
Aku menegakkan tubuhku dan menatap punggung kecilnya yang dibalut jaket berwarna pink.Bibi Astri sudah berusia 30 tahunan tapi gayanya masih trendy seperti anak muda,membuatnya jadi eksentrik.
"Terimakasih ya sudah mau nemenin Astri...dan juga menghibur dia sampai Astri lupa dengan masalah perceraian orangtuanya"
Dia berbalik kebelakang sebentar sambil tersenyum padaku lalu kembali menghadap kedepan,memperhatikan jalan yang mulai lenggang.
"Itu bukan apa-apa,lagipula Astri kan sahabatku.Tante ngak usah sungkan..." Balasku dengan wajah yang kaku.
Dan soal melupakan masalah perceraian orangtuanya itu,kurasa aku tidak berhasil melakukannya,Astri sendiri yang menyugesti dirinya tanpa bantuan siapapun kecuali Sera yang menjadi pelipurnya selama ada di kampung halamanku.
Memikirkan soal Sera,bocah itu jadi menjauh dariku dan lebih dekat pada Astri.Aku tersenyum getir mengingatnya dan kembali menyandarkan kepala ke jendela mobil yang berembun.Kembali masuk ke dalam pikiran yang berkecamuk.
Di luar sana gerimis,sama seperti mataku yang mengeluarkan sedikit-sedikit air dalam kebisuan.
Om jin,sekarang aku tidak tahu di mana dia berada dan kapan dia akan kembali menemuiku dan benarkah kalau dia sudah berubah kembali jadi jahat seperti yang dikatakan Kakek?
Tante tidak menyadari aku yang menangis,dia fokus menyetir.
Aku menutup wajahku dengan bantal mini kepunyaan Astri yang tergeletak begitu saja dan menutup mataku,berharap saat aku sampai di kostan nanti,semuanya akan kembali baik-baik saja seperti biasa.
Saat sampai di kostan tepat pada tengah malam,aku menelpon bapak pemilik kost untuk memintanya membukakan gerbang kostan,tapi dia tidak menjawab panggilanku.
Memang salahku datang ke kostan saat tengah malam...Aku berjongkok dan menyandarkan punggungku yang pegal pada gerbang kostan.
Andai saja gerbang kostannya tidak tinggi dan beruncing runcing pada ujungnya,mungkin aku sudah akan memanjatnya daritadi.
Aku memperhatikan sekitaran jalan yang lenggang,hanya ada lampu jalan yang menemaniku sekarang.
Ah...andai aku menerima tawaran tante untuk ikut menginap di rumahnya dulu mungkin aku tidak akan jadi se menyedihkan ini dan andai saja ada Om jin sekarang ada di sampingku,pasti dia sudah akan membawaku masuk dengan kekuatan gaibnya.
Semua itu hanya pengandaian,kenyataan memang selalu berbeda dengan harapan yang kita inginkan.
Samar-samar aku melihat bayangan sosok bersarung di jalan yang lenggang,sosok itu berhenti tepat di bawah lampu yang menerangi jalan.Beridiri diam di sana-memperhatikanku.
Aku berdiri dan mencengkram jeruji dari gerbang besi kostan,ketakutan dan bersiap berteriak kencang kalau sosok itu ternyata penjahat atau setan.
Saat membuka sarung yang hampir menutupi seluruh tubuhnya kecuali kaki dan tangan,sosok itu memanggil namaku.
"Nala?Ke kunci di luar juga?" Katanya.
Kutatap wajah sosok bersarung itu yang ternyata Rizal,kurasa kata'terkunci di luar'itu kurang tepat,tapi ya sudahlah.Lagipula Puebi dan berkata-kata dengan benar tidak diperlukan dalam percakapan sehari-hari.
Aku mengangguk,tapi tanganku masih dengan kencangnya mencengkram jeruji gerbang yang terasa dingin di tangan,membuat tanganku mati rasa seketika.
"Sama dong,padahal aku ke sini pas jam sepuluhan,eh gerbangnya udah dikunci dari dalam.Kalau sama Ibu kost yang dulu,pasti pas mau masuk semester awal gini kostan masih belum dikunci,palingan dikunci pas jam dua shubuh..." Rizal menghela nafas kecewa.
Sebenarnya aku berpikiran sama dengannya,kalau saja Ibu kost masih hidup...
Gerbang tiba-tiba terbuka dengan sendirinya di sela percakapan kami,menimbulkan suara decitan dari besi berkarat yang terdengar khas.
Aku melepaskan jeruji gerbang yang sedari tadi ku pegang dan melongo,begitupun Rizal.
"I-Ibu kost?" Aku dan Rizal berkata bersamaan sambil saling tatap.
Ibu kost memang tidak kami lihat,tapi entah kenapa pikiran dan kata-kata kami mengarah padanya yang telah membuat gerbang terbuka.Sudah mati pun dia masih baik dan perhatian kepada penghuni kostnya.
Aku dan Rizal saling mendekatkan diri tanpa sadar dan berjalan masuk kedalam halaman depan Kostan yang gelap gulita,sepertinya lampu patungan yang telah kami beli mati atau rusak.
Aku membuka lockscreen hpku dan menyalakan senter untuk menerangi jalan kami.Saat pertama menyala,lampu senter hpku tidak sengaja menyorot tempat lampu hasil patungan anak kost dan lampu itu ternyata tidak ada di tempatnya,pantas saja!
"Lampunya ada yang ngambil..." Rizal tiba-tiba memberitahuku.
Aku menatapnya dengan pandangan bertanya,maling kah atau penghuni kost yang durjana?
Aku yang kaget dengan Rizal yang tiba-tiba mendekatkan bibirnya padaku dan juga siapa yang telah mengambil lampu patungan kami tersandung batu kecil di dekat kakiku dan membuat hpku terlempar entah kemana,sedangkan tanganku ditahan Rizal yang sampai membuatku bertahan dengan pose setengah tersandung selama beberapa detik karena masih kaget.
"Hpku!" Kata pertama yang keluar dari mulutku adalah hp,Rizal melepaskan tangannya karena aku sudah berdiri dengan benar kembali dan membantuku mencari hpku yang ternyata terlempar jauh dan sepertinya posisi hpku tengkurap karena cahaya dari senternya tidak terlihat.
Rizal membuka hpnya dan menyalakan senter untuk mencari hpku yang ternyata berada di dekat pintu masuk kostan.
Aku dan Rizal kembali saling tatap dan merasa speechlees,bagaimana bisa hpku terlempar sejauh itu?
Akhirnya kami memutuskan untuk segera masuk ke kamar masing-masing saja setelah berhasil membuka pintu penghalang terakhir yang satu ini.
Saat Rizal mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu,aku mencoba peruntungan dengan membuka pintu itu yang ternyata tidak terkunci sama sekali.Rizal menyetop tubrukannya dengan canggung dan masuk kedalam bersamaan denganku.
"Riz,bukankah ini aneh sekali?Apa benar arwah Ibu kost yang melakukannya atau hal lainnya?Jangan-jangan ada rampok!" Aku berkata padanya dengan nada suara yang hampir bergetar dan jantung yang berdegup kencang.
"Sutttt,jangan nakut-nakutin walau sebenernya aku juga mikirnya kayak gitu!"
Aku menampar punggung Rizal sampai dia mengaduh dan mengusap punggungnya yang kupukul dengan susah payah menggapainya.Aku jadi ketakutan karena ternyata dia juga sama parnonya sepertiku.Bagaimana kalau ternyata pemikiran kami benar?!
Saat kami berada di depan pintu kamar masing-masing yang berhadapan,aku dan Rizal berbalik berbarengan dan membuat kesepakatan dadakan kalau ada apa-apa menjeritlah sekencang-kencangnya agar orang sekampung segera berdatangan.
Aku menatap sekitaran kamarku yang berdebu karena tidak dibersihkan selama dua pekan,eh-tapi...kok ini tidak?
Biasanya kan kamarku akan berdebu saat aku baru kembali lliburan semester?Kenapa sekarang kamarku bersih sekali dan bahkan lantainya mengilap.
Tidak mungkinkan kalau arwah Ibu kost yang melakukannya lagi?
Aku menghela nafas lelah,syukurlah kalau aku bisa langsung tidur dan tidak perlu membersihkan kamarku lebih dahulu.
Pokoknya,siapapun yang dengan baik hati membersihkan kamarku,terimakasih banyak karena telah mengangkat sedikit beban di pundak gadis kecil ini!
Aku menjatuhkan tubuhku di kasur dan tidur telentang,betapa terkejut sekaligus senangnya aku saat melihat ada Om jin yang sedang bertengger di atas lemariku,seperti kebiasaannya.
Om jin mengulum bibirnya,seperti mencoba menahan tawa.Aku mengisyaratkannya untuk turun dan aku pun kembali bangun.
"Om jin,,,jadi,Om jin sebenernya sudah pulang duluan ke kostan?" Tanyaku.
"Iya,hanya ini tempat yang akan kamu datangi selain rumah kamu di purwakarta itu kan?Aku menunggumu di sini..." Jawabnya.
Mendengarnya berkata seperti seseorang yang begitu mengenal kebiasanku,aku merasa terharu dan tidak sadar menitikkan air mataku di depan Om jin yang langsung membuatnya panik.
"Kenapa kamu malah menangis?"
Aku tertawa dan berkata kalau aku mengeluarkan air mata itu karena aku mengantuk dan mataku sudah terlalu lelah untuk tetap terbuka.
Aku naik ke kasurku dan berbaring,lalu menyelimuti diri sambil menatap Om jin yang kembali duduk tenang di atas lemari.
Aku merindukan saat-saat ini,saat kami hanya berdua dan tidak ada yang mengganggu.Saat segalanya berjalan dengan biasa seperti semestisnya kami yang selalu bertengkar kecil memperdebatkan hal yang tidak penting dan ceramah pendek dari Om jin yang selalu membuatku tambah kesal,juga cuek nya Om jin atas pertanyaan-pertanyaan penasaranku.
Sebelum tidur,aku menceritakan kejadian yang kualami sebelum bisa masuk ke kamarku ini.Om jin tertawa saat aku menceritakan itu padanya.
"Itu aku,Nala...aku sengaja melakukannya karena aku tahu tidak baik membiarkan seorang gadis malam-malam sendirian di luar bersama seorang laki-laki yang tidak bisa diandalkan"
Aku menatapnya dengan tanda tanya tersirat di mataku.Kalau Om jin yang melakukannya dari sini,tanpa datang langsung dan menampakkan diri,bukankah itu berarti kekuatannya semakin bertambah?Seperti yang Kakek bilang....
"Kenapa?Terkejut karena aku sudah bertambah kuat?" Tanyanya tanpa tahu maksud pikiranku yang sebenarnya.
Aku mengangguk,"Om jin hebat sekali..."
Dia tersenyum bangga,aku juga ikut tersenyum lalu menutup mata dan menutupi wajah dengan selimut,menyembunyikan emosiku yang sebenarnya dari dia.
Apa Om jin masih sama seperti Om jin yang lemah dulu?Atau sekarang dia jadi kuat dan kembali jahat seperti dulu?
Berbagai pertanyaan berputar-putar bak badai di kepalaku.
π»
***hohoho....Om jin's back*!
Apa kalian menikmati membaca chapter ini?Kalau iya maka silahkan tekan πdan masukkan novel ini ke β€ kalian.
See you!
by-by!π**