
🧞♂️
Aku,Sera,dan Mamy saling memandang dalam diam.Di bawah meja kakiku sudah gemetaran begitupun kaki Sera yang bisa kurasakan getarannya.Kami berdua hanya akan tinggal nama pada tanggal 1 Januari! Dihabisi oleh Mamy sendiri!
"Kalian ngomongin pacar?!Kamu beneran pacaran,Nala?!Siapa?Kenapa Mamy ngak kamu kasih tau?!" Mamy berjalan ke arahku dan Sera yang duduk berseberangan dengan Mamy dengan terburu-buru.
Aku dan Sera hanya bisa terkejut dan saling menatap saja.Mamy mengamit tangan Sera dengan ganasnya karena tidak sabar.
"Sera,kamu pasti tau,kan siapa pacar Kakak Kamu?!Dia mah pasti ngak bakal buka mulut kalo ditanya langsung sama Mamy.Cepet kasih tau Mamy!"
Sera diam seribu bahasa sambil melirikku,aku hanya mengangguk padanya tanda setuju tentang hal apapun yang akan ia katakan pada Mamy,yang penting kami tidak ketahuan.Semoga bocah SD ini cukup pintar untuk berbohong.
Sera menatap Mamy setelah mendapat persetujuan dariku.Dia membuka mulutnya,lalu mengatupkannya kembali dan diam sejenak.
Apa dia sedang berpikir?!di saat seperti ini?Kalau begini kami pasti ketahuan!Memang salahku yang mau-maunya bergantung pada bocah six sense itu.
"Hmmm...gini My.Kak Sera emang punya hubungan sama cowok tapi belum pacaran gitu..." Kata Sera.
Aku yang tidak sanggup melihat hal ini menutup mata dengan kedua tangan.Habislah sudah!Sera,kamu ini tidak pintar berbohong dan aku akan lebih menyayangimu kalau kamu diam!
"My..." Panggilku dengan nada merengek.
Mamy akhirnya mengalihkan perhatiannya padaku dan melepaskan Sera.
"Ihh,kasian kamu Nala..." Kata Mamy padaku dengan ekspresi kasihan yang berlebihan di wajahnya.
"Iya My,dia emang brengs*k" Kataku menanggapi pemikiran Mamy yang sepertinya melenceng.
"Ya udahlah.Belum jadi inih hubungan kamu,kalo udah kasih tau Mamy,ya?" Katanya lalu menyuruh aku dan Sera agar segera makan dan mencuci piring bekas makan sendiri lalu dia pergi kembali ke dalam rumah untuk menonton tv .
Aku dan Sera mengangguk mengiyakan.Kami berdua saling diam karena terlarut dalam pikiran kami masing-masing dan masih mengontrol keterkejutan yang baru kami alami.
"Sera,kamu sebaiknya tidak usah ikut campur.Kakak bisa urus ini sendiri.Lagipula sekarang kamu bisa tenang,kan karena Kakek sudah tidak memaksa kamu untuk jadi 'pewaris' lagi?" Kataku memulai pembicaraan duluan dan melupakan emosiku pada Sera sebelumnya.
"Tapi kak...jin itu!" Serunya,kemudian diam saat melihat tatapanku yang tadinya sudah normal akan kembali memelototinya.
Dia menutup mulutnya sendiri dengan sebelah tangan.Aku tidak mau sampai Mamy datang lagi kemari karena mendengar keributan dari kami dan pasti Sera juga tidak menginginkan hal itu terjadi lagi.
"Sudahlah Sera...Kakek kita juga sudah pasrah dengan semua ini dan membiarkan aku yang me-manage semuanya" Kataku kembali mencoba meyakinkan Sera agar dia tidak ikut campur soal hal ini.Lagipula dia kan anak kecil!Mana mengerti dia soal perasaan yang sekarang kurasakan walaupun dia punya six sense dan bisa melihat Om jin,tapi tidak bisa melihat perasaan mendalam diantara kami.
Soal perasaan ini mungkin tidak menjadi beban pikiranku karena aku tahu Om jin juga punya perasaan yang sama terhadapku,tapi situasinya...dan faktor eksternal lain.Aku benar-benar tidak punya penyelesaian untuk itu.
Apalagi sekarang aku malah ditinggalkan sendiri oleh Om jin yang pergi entah kemana.Jujur saja,kepergian Om jin itu menyakiti hatiku.Aku merasa seperti tidak berguna saja...dan juga terabaikan.
"Sera,lebih baik kamu mencari teman...kamu belum punya teman kan di sekolah?Six sense kamu juga sudah bisa kamu kendalikan dengan benar.
Jadi,,,kakak sarankan agar kamu segera mencari teman sekarang atau kalau kamu merasa tidak nyaman dengan teman-teman di sekolah kamu yang sekarang,saat kamu SMP nanti,kamu bisa mulai membaur dengan baik nanti untuk mencari teman.Kamu juga pasti merasa kesepian,kan selama ini?"
Sera diam saat aku berbicara panjang-lebar seperti itu.Mungkin,dia merasa kalau aku sedang menceramahinya.Tapi begini lebih baik.Lebih baik jika Sera mengurus dirinya sendiri sebelum mengkhawatirkanku.
Saat kami selesai makan dan mencuci piring,Sera langsung pamit pulang pada Mamy tanpa bicara apapun lagi padaku.Aku mendiamkannya bersikap seperti itu karena,mungkin dia kesal sebab kuceramahi agar dia tidak ikut campur masalahku dengan Om jin lagi.
"Sera kenapa,Nal?" Tanya Mamy merasa janggal dengan sikap Sera padaku.
"Biarkan saja dia My" Balasku acuh tak acuh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi semakin terang,siang pun datang dengan kegerahan yang dibawanya dan matahari pun menduduki takhta tertingginya.Dan Om jin juga belum kembali pulang untuk menemuiku.
Saat ini aku sedang reuni kecil-kecilan dengan teman SMP ku dulu di sebuah kafe kecil di kota ini,ada Amelia,Tia,Raya,Fitri,dan Citra yang sedang mengobrol seru denganku-ya aku tahu semuanya perempuan,aku sengaja hanya mengajak para perempuan saja.Reuni ini sebenarnya adalah acara dadakan yang ku mulai karena tidak punya pekerjaan selagi ada di kampung halaman dan mereka yang juga sama tidak punya kerjaan sepertiku pun setuju untuk saling bertemu.
Kafe ini tidak seberapa,tidak bisa dibandingkan dengan kafe-kafe yang ada di Bandung,tapi suasana di dalam kafe menjadi hangat dan ceria karena orang-orang di dalamnya.Aku menikmati kebersamaan dengan teman-temanku,sejenak melupakan mengenai masalahku yang tak kunjung selesai dan juga tentang Om jin...
"Nala,kamu bagaimana di Bandung?Udah dapat pacar?" Tanya Citra.
Sudah kuduga pertanyaan ini akan keluar,batinku.
"Aku ke sana buat belajar,bukan buat nyari pacar"
Citra bungkam.
Amelia tersenyum kecil,seperti seringaian"Beneran ngak punya?" Tanyanya dengan nada main-main.
Aku menggeleng,"Aduh,kalian ini kenapa sih ngurus ngurus masalah percintaanku mulu dari dulu.Aku mau fokus belajar dulu di SMA,soal pacar bisa sambil kuliah nanti ku pikirkan!" kataku pada akhirnya.
Fitri tertawa,"tuh denger,nanti katanya biar dia masuk ke universitas yang bagus dulu terus di sana deh nyari pacarnya,biar berkualitas cowoknya.Iya kan Nal?"
Aku mendengus,"Terserah"
Teman-temanku tertawa karena berhasil menggodaku,selanjutnya kami membicarakan topik mengenai kehidupan percintaan masing-masing,curhat colongan membuatku ikut-ikutan sampai keceplosan.Sesi ini memang sangat kubutuhkan!
"Kalo cowok ngak kasih kejelasan itu artinya apa ya,guys?" Aku mencelutuk.
Mereka seketika hening mendengar pertanyaanku yang tiba-tiba.Aku kemudian sadar atas apa yang sudah ku katakan.
"Eh-tidak aku cuma nyeletuk saja karena penasaran"
Mereka tersenyum jahil secara bersamaan,aku menelan ludah.Kenapa aku malah keceplosan curhat dengan mereka?!
"Ini sungguh bukan tentang ku!" Kata ku sekali lagi agar mereka berhenti menggodaku.
Tya berdehem,"kalau ini bukan tentang kamu juga tidak papa,mungkin yang kamu maksud adalah teman kamu..."
Raya,Citra,Fitri,dan Amelia tertawa tanda setuju.Aku tahu mereka bersekongkol.
"Tapi tenang saja,Nala.Kami akan tetap menjawab pertanyaan yang sedang di alami teman kami eh-maksudnya temanmu itu" Amelia menambahkan,yang lainnya mengangguk setuju.
Aku menghela nafas,bersiap mendengarkan mereka satu persatu dengan sabar.Aku menyesal kelepasan bicara tadi...
"pertama ya Nal,mungkin cowok itu masih ragu dengan kam-eh dengan temanmu itu" Fitri berkata.
"kedua,dia mungkin tidak serius dengan hubungannya itu" Citra menambahkan.
"ketiga,mungkin dia merasa segan dengan ceweknya atau dia seorang pengecut" Tya melanjutkan.
"keempat,cowok itu mungkin tidak peka" Raya menambahkan lagi.
"dan yang terakhir menurutku,cowok itu mungkin tidak mau menghancurkan hubungannya yang dulu dengan cewek itu,seperti pertemanan misalnya dengan membuat hubungannya yang baru dengan cewek itu atau kita sebut saja pacaran" Amelia mengakhiri.
Diam-diam aku menepuktangani kelihaian saling menyambung kalimat mereka berlima.Berapa lama mereka berlatih untuk itu?
"oke,thanks ya guys.Aku akan memberitahu temanku soal masukan kalian ini nanti..." Kataku.
Aku juga meminum hot cholate milikku,haus karena harus meladeni mereka.Mendadak ada sebuah tangan yang menepuk pundakku pelan dari belakang,teman-temanku melihat orang yang menepuk pundakku dan seketika berhenti mulut mereka menganga.
Amelia berdehem,"Jadi itu cowok yang kamu maksud tadi?"
"hahh?!"
Alis ku bertautan karena bingung,lalu menengok ke belakang-ke arah orang yang menepuk pundakku barusan.
"Kita bertemu lagi,Nala"
Kak Iza?!
"eh-iya kak kebetulan.Halo..." Balasku berusaha sopan.
Citra berdiri dari kursi yang dia duduki,diikuti Tya,Raya,Fitri,dan Terakhir Amelia yang buru-buru menghabiskan minumannya.
Mau ke mana mereka? Batinku penasaran.
"mereka teman-temanmu juga,Nala?" Kak Iza bertanya.
Aku mengangguk mengiyakan.
"maaf ya Nal,kami harus pulang duluan soalnya tadi lupa ngak izin dulu sama ortu" Fitri berkata,diangguki yang lainnya.Kemudian mereka berlima serentak berjalan pergi seperti paskibra.
Aku ditinggalkan sendirian bersama dengan kak Iza...
Setelah aku kembali mengalihkan pandangan dari teman-temanku yang kulihat pergi dengan cekikikan-aku yakin mereka berpikiran kalau kak Iza adalah cowok yang ku maksud,baru ku sadari kalau kak Iza telah mengambil duduk di kursi seberangku-tempat duduk yang tadi dipakai Tya.
"senang bertemu denganmu lagi.Apa kamu merasa ini sudah ditakdirkan,Nala?" Kata kak Iza tiba-tiba.
"ah-iya!" Aku asal mengiyakan karena tidak mengerti maksud kak Iza.
Aku kembali menyesap hot cholate ku-membuatku merasa lebih relaks.
"emm..btw kak Iza kok bisa ada di sini?Bukannya waktu itu kak Iza bilang lagi sibuk kuliah ya?"
"seharusnya aku yang bertanya itu padamu.Aku sedang jalan-jalan saja,minggu-minggu ini jadwal kuliahku sedikit"
"Oh...kalau aku di sini karena aku pulang kampung"
"pulang kampung?Ku kira kamu sengaja datang ke sini hanya untuk bertemu dengan teman-temanmu"
Aku menggeleng,"kalau akhir pekan memang biasanya aku pulang ke rumah Mamy"
Kak Iza mengangguk paham.
"Kamu mau menunjukkan kota ini padaku?" Tawar kak Iza.
kegiatan menyesap minumanku terhenti,aduh-bagaimana ini?Aku malas untuk pergi jalan-jalan sekarang,tapi aku juga tidak enak kalau harus menolak kak Iza.Aku membatin.
"Bagaimana Nala,apa kamu mau menemaniku?Eumm...sebagai balasannya nanti akan kutunjukkan universitasku saat kamu kembali ke Bandung nanti.Bukankah kamu mau kuliah di kampus ku katamu waktu itu?"
Oh,Kak Iza tahu kelemahanku!
"Baiklah,ayok kak!"
Kak Iza berdiri dari kursinya sambil tersenyum dan menggandeng tanganku-aku akan dibuatnya.
"eh-kak,tangannya?"
"aku takut tersesat,kaki ku juga masih lemah,kamu tidak keberatan kan ku gandeng?"
Aku mengangguk,membiarkan kak Iza menggandeng tanganku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kamar aku menyelimuti diriku sendiri karena merasakan kegelisahan yang merayapi setiap jengkal tubuh dan pikiranku.Pulang jalan-jalan menemani kak Iza tadi tidak membuat perasaanku menjadi lebih baik.
Mamy mengira kalau aku sedang tidur siang dan tidak tega mengangguku.Padahal di dalam selimut sini,aku sudah hampir akan pingsan kegerahan.
Di hp kulihat banyak notifikasi panggilan vidio tak terjawab dari Astri dan beberapa panggilan suara dari Rizal dan Siti.
Aku membuka WhatsApps dan membalas semua chat yang masuk ke kontakku dan mengabari Astri,Rizal,dan Siti kalau aku sedang sibuk dengan kekuargaku dan tidak bisa mengangkat telepon mereka tadi.
Aku ini memang sudah terbiasa berbohong.Ringan bagiku untuk melakukannya.Ini memang buruk dan aku membiarkannya dengan begitu saja sampai aku menjadi semakin mudah untuk melakukannya.Seperti...seperti perasaanku terhadap orang lain.
Sore tiba dan Mamy menggedor-gedor pintu kamarku dan menyuruhku untuk membantunya memasak di dapur.Aku keluar dengan penampilan yang acak-acakkan sampai Mamy menyuruhku untuk mandi terlebih dahulu sebelum membantunya memasak-dia tidak mau makanannya nanti tercemar olehku.
Kuturuti saja perintahnya dan setelahnya membantunya untuk memotong bawang.Aku menangis,bukan hanya karena memotong bawang yang mempunyai bau menyengat,tapi juga karena hal lain dalam diriku yang mendorongku untuk mengeluarkan air mata.
"Lebay kamu mah,padahal udah biasa Mamy suruh motong bawang merah,kan?" Kata Mamy yang sedang memotong daging lalu mencucinya.
Aku tidak menyahutinya dan hanya mengisap ingusku kembali juga mengelap air mata yang membanjiri pipi.Mataku semakin perih karenanya dan makin banyak air mata yang mengaliri pipiku.
Mataku tidak bisa melihat dengan jelas karena dipenuhi oleh air mata yang terus berebutan keluar sampai jari telunjuk tangan kiriku tidak sengaja teriris pisau.
"Aww!" seruku spontan.
Mamy yang sedang mencuci tangan di wastafel tidak menyadari kalau tanganku teriris sebab suara air yang mengalir dari keran dan aku meringis karenanya.
Aku memegangi telunjukku yang mengeluarkan darah sambil meringis kecil dan membandingkan rasa sakitnya dengan sakit hatiku.Ternyata rasanya tidak seberapa besar daripada perasaan sakit hati yang sedang kurasakan.Ini tidak sepadan dan tidak bisa dibandingkan sama sekali.
Tiba-tiba angin dingin menerpa wajahku dan menerbangkan anak rambutku,membuatnya berantakan.
"Nala!Kenapa kamu melukai dirimu sendiri saat aku tidak ada?!" seru sebuah suara yang sangat familiar di telingaku dan yang sedang kutunggu-tunggu.
Om jin muncul tepat di hadapanku dengan wajah panik dan langsung memegang jari telunjukku yang terus mengeluarkan darah dengan hati-hati lalu dia membawanya semakin dekat ke wajahnya dan mengisap darah yang keluar dengan mulutnya dengan lembut.
Aku kegelian karenanya dan sangat terkejut sekaligus malu,tapi respon-respon tubuhku itu langsung membeku saat kulihat warna mata Om jin yang berubah dan memerah.
Entah kenapa aku langsung panik dan mencoba untuk melepaskan telunjukku dari Om jin yang belum juga berhenti mengisapnya.
Adegan dalam komik dan novel yang bergenre vampir-vampiran yang pernah kubaca seketika terbayang dalam kepalaku dan takut Om jin akan berubah seperti dalam komik dan novel vampir yang pernah kubaca itu.
Keringat dingin membasahi pelipisku saking panik dan takutnya aku.
"Mamy!"
👻
Enjoy this chapter and don't forget to give me a like👍 and coment💬!