
🧞♂️
Hari libur datang,aku sedang memikirkan kelanjutan kasus paman yang sama sekali buntu buatku.Awalnya aku akan pergi ke Tkp,tapi pada saat akhir pekan seperti ini jalanan di sana akan ramai sekali dan para pemilik gedung yang memiliki cctv di sana belum tentu akan membiarkanku untuk melihat rekaman cctv mereka walaupun aku memberikan alasan yang jujur.Jadi untuk sementara aku akan menunda dulu untuk pergi ke sana dan baru akan ke sana pada hari kerja.Mungkin juga saksi mata itu akan membantuku jika aku memintanya...
Sebenarnya masih ada hal lain yang masih harus ku pikirkan Saat akhir pekan seperti ini,aku yang seharusnya pulang ke Purwakarta untuk memperjernih masalah Sera yang masih belum selesai di sana malah hampir sawan di depan gerbang kostan.
Barang-barangku sudah kubawa dan aku tinggal naik bus saja saat sampai di terminal bus nanti,tapi saat aku baru mau keluar dari kostan,Kedua Kakekku sudah ada di sana sambil berdebat dengan hebatnya.Orang-orang di sekitar jalan mulai berdatangan mengerumuni mereka.
APA YANG MEREKA BERDUA LAKUKAN DI SINI?!
Dengan cepat kusuruh Om jin agar bersembunyi dan membiarkan aku yang akan menghadapi kedua Kakekku sendiri.
Tapi setelah aku bertindak berani seperti ini,kedua Kakekku malah tidak menyadari kehadiranku dan masih memperdebatkan hal yang sama,yaitu soal Om jin yang membuntutiku sampai sini atau tidak.
Perdebatan mereka yang terus memanjang membuat penghuni kost yang lain keluar dari kamar mereka masing-masing dan mendekati kami.
Ah-memalukan sekali!
"Stop,Kek...malu ish!" Seruku.
"Kamu jangan ikut campur dulu,ini urusan orangtua" Kata Kakekku.
"Tapi kal-" Ucapanku terpotong.
"Jangan membantah lagi dan tunggu kami selesaikan masalah ini dulu!" Kata Kakek Sera.
Oh ya ampun!
Kedua Kakekku ini antara perkataan dan perbuatannya berbeda betul...
Karena perdebatan mereka yang terus memanjang,alhasil aku meminta penghuni kost yang lain untuk membantuku melerai perdebatan kedua Kakekku yang tak kunjung selesai dan hampir membuat warga di sini pun ikut menonton perdebatan mereka yang pastinya tidak akan ada orang lain yang mengerti apa yang mereka perdebatkan kecuali kedua Kakekku dan aku sendiri.
Aku tentu saja tidak bisa membawa kedua Kakekku ke dalam kamar kostku karena peraturan di sini yang harus ditaati.
Om jin tidak bisa memberikan penyelesaian karena dia tidak ada di sampingku,bapak kost bersikap bodo amat dengan masalahku dan tidak memberikan keringanan dan hanya menjelaskan tentang denda yang harus dibayar jika melanggar aturan-membuat suasana semakin keruh.
Hanya Rizal yang dengan sukarela mau membantu masalahku dengan menampung Kakek-Kakekku untuk berdiskusi denganku,tapi masalahnya kami jadi tidak bisa berdiskusi secara terang-terangngan mengenai masalah Om jin.
Aku dan kedua Kakekku saling pandang-memandang karena kecanggungan ini dan merasa segan jika harus mengusir Rizal dari kamarnya sendiri padahal kami sudah dibantu olehnhya.
"Silahkan berbicara bertiga dengan baik-baik,aku tidak akan menguping..." Rizal berkata sambil memakai headphone dan memainkan musiknya.
Aku menghela nafas,akhirnya dia peka juga...
"Nala,langsung saja.Apa Jin itu mengikutimu sampai di sini?" Kakekku bertanya dengan nada lembut dan pelan.
"Apa kamu benar-benar menjalin hubungan dengan jin itu?Perjanjian apa yang sudah kamu buat?!" Kakek Sera bertanya dengan tidak sabar.Bertolak belakang dengan kakekku.
"Kek,.." Aku bingung harus menjawab yang mana dulu.
"Itu...Aku-" Ucapanku terpotong.
"Nala,jujurlah pada Kakek-Kakekmu ini,kami juga melakukan hal ini demi kebaikan kamu,kami berdua sudah sepakat agar menghentikan warisan turun-temurun itu,seperti kemauan kamu dan Sera..Hal ini juga karena Kakek sadar kalau kalian berdua tidak akan sanggup melakukannya"
"Ya,dia mengikutiku.Tapi kalian jangan salah paham dulu!Dia baik padaku..." Kataku cepat.
"Baik padamu?Lalu pada manusia lain?Terutama pada kami?" Tanya Kakek dengan pandangannya yang seperti menelisik merasuk kedalam pikiranku dan seketika membuatku merasakan keraguan pada pikiranku sendiri terhadap Om jin.Ini sangat membingungkan-membuatku pusing.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala,tidak bisa berkata jujur atau bohong pada Kakekku sendiri,tapi di sisi lain juga aku tidak mau sampai dipisahkan dengan Om jin karena pendapat Kakek mengenai Om jin yang negatif.
"Apa kamu ada membuat perjanjian dengannya?" Kakek Sera akhirnya bertanya setelah tadi diam saja saat Kakek yang menanyaiku.
Ingatanku saat pertama kali bertemu dengan Om jin tiba-tiba terbesit dalam pikiranku seperti sebuah cuplikan film yang ditayangkan dengan cepat.
Aku memang sudah membuat perjanjian dengan Om jin,tapi perjanjian itu konyol-tidak serius dan tidak ada hubungannya dengan hal lain,kurasa...dan juga bukankah waktu itu Om jin belum mengetahui siapa yang sebenarnya telah mengurungnya ke dalam botol parfum itu?
"Nala,katakan yang sejujurnya,Kakek pasti akan memastikan keselamatanmu..." Kata Kakek dengan menyentuh pundak kananku.
"Nala,Kakek berjanji tidak akan membuat Sera menjadi pewaris demi ini,jika jin itu sudah benar-benar tidak ada di sekitar anggota keluarga kita,maka Kakek bisa mati dengan tenang nantinya-" Kakek Sera omongannya kupotong karena dia mulai membawa-bawa mati.
"Kek!Apa urusannya dengan Om j-maksudku,dengan jin itu?"
"Jin itu direnggut kebebasannya oleh leluhur kita,dia pasti ingin balas dendam pada keluarga kita karena sekarang dia sudah kuat seperti dulu...Nala...kami berdua hanya takut kamu akan dimanfaatkannya demi membalas dendam,jadi Kakek mohon kamu agar mau memberitahukan kami yang sebenarnya.Nak,ini demi kamu dan Sera juga..."
Aku memalingkan wajah ke arah Rizal yang menatapku dengan bingung,aku memalingkan wajahku lagi ke arah lain karena tidak enak dengan Rizal.
Kakek Sera menepuk pundak kiriku,seakan ada beban yang ia taruh di atas pundakku saat ia menepuknya barusan,berat sekali rasanya harus membuka mulut.Aku yakin kalau semua orang akan merasa terkhianati kalau aku buka suara dengan sejujurnya atau hanya berbohong saja.
"Jadi katakan pada kami apa kamu dan jin itu membuat perjanjian?" Kakekku bertanya lagi dengan pelan dan hati-hati.
"Ya,aku dan dia sudah membuat perjanjian saat pertama kali kami bertemu dan dia bilang kalau itu adalah balas budinya karena aku telah membebaskannya,apa yang salah dengan itu Kek?Bukankah itu berarti kalau jin itu sudah berubah menjadi baik?" Jelasku.
Tapi Kakek seperti hanya memfokuskan perhatiannya pada kata-kata pertamaku dan mengabaikan pendapatku soal Om jin karena dia malah mengepalkan tangannya untuk menahan emosi.
"Perjanjian seperti apa?Sebutkan!"
"It-" Ucapanku lagi-lagi terpotong.
Pintu kamar Rizal tiba-tiba terbuka dengan keras dan hembusan angin yang kencang menerjang kami bersamaan dengan terbukanya pintu itu.
Aku tahu ulah siapa itu,makannya aku menghentikan Rizal dan kedua Kakekku yang akan beranjak dan melihat keluar untuk menemukan sebab keanehan barusan.
Rizal melepaskan headphonenya dan bertanya kenapa aku menghentikannya,aku mengucapkan terimakasih padanya sebelum berjalan keluar dari kamarnya dan membawa Kakekku ke kamarku untuk melanjutkan diskusi kami.Namun Rizal malah menghentikanku dan mengingatkanku kalau nanti aku akan didenda jika melakukannya.
"Tidak papa,kan Kakekku yang akan membayar dendanya nanti,bukan aku" Kataku dan sekali lagi meminta maaf pada Rizal.Aku benar-benar merasa tidak enak padanya,padahal dia sudah mau membantuku di saat penghuni kost yang lain sama sekali tidak mau peduli dengan masalahku.
Om jin sudah ada di atas lemari,aku melotot kaget dan menghentikan Kakek Sera yang akan berteriak dan menutup pintu kamarku karena takut penghuni kost yang lain terutama Rizal mendengar keributan yang kami buat.
'Om jin,aku terpaksa...' Kataku lewat pikiran.
'Aku tahu Nala,aku tahu kamu bimbang karena kedua sisi adalah orang-orang yang kamu cintai' Balas Om jin.
'Om jin sudah tahu aku pun-' Aku menghentikan ucapanku sendiri,ah! Ini bukan saat yang tepat untuk membahas itu.
"Apa jin itu ada di sini?" Tanya Kakekku.
"Iya,kak...berhati-hatilah!Dia tetap di hadapan kita." Kakek Sera menjawab dengan sikap siaga dan kulihat tangannya meraih sesuatu di belakang punggungnya.
Aku merebut apa yang akan Kakek Sera akan ambil dan langsung membantingkannya ke lantai walaupun benda itu tidak pecah dan menunjukkan kerusakan sekecil apapun.
"Kakek! Jangan melakukannya! Sudah cukup nenek moyang kita yang mengurungnya!" Jeritku,hampir frustasi dengan situasi yang tengah terjadi.
Om jin sudah memberikan tatapan setajam elang kepada kami di bawah sini,mendadak benda yang kulemparkan yang merupakan sebuah kendi kecil hancur menjadi debu.
'Om jin,tolong jangan!' Jeritku dalam pikiran,tidak ingin Om jin menyakiti Kedua kakekku.
Kumohon jangan biarkan mereka melihat apa yang mereka bayangkan tentangmu! Batinku sedih dan bimbang harus berdiri di sisi yang mana.Aku sama-sama menyayangi mereka.
"Nala!" Kakek membentakku,tapi dia membawaku kebelakang punggungnya-melindungiku.
Suasana menjadi panas seketika karena rencana Kakek yang sudah kubatalkan dan Om jin yang marah karena sekali lagi akan dikurung oleh manusia.
Aku tidak tahu kepada siapa aku harus berpihak.
👻
Hai,readers!
Enjoy this chapter and don't forget to give me a👍,oke👌?
See you on the next chapter!