Om Jin!

Om Jin!
om jin!21(versi revisi)



🧞‍♂️


Semalaman suntuk aku mendengarkan curhatan Astri sambil manggut-manggut terus karena mengantuk.


Besoknya Astri cemberut lagi karena dia sadar kalau semalam aku tidak benar-benar mendengarkannya dan hanya manggut-manggut tak jelas.


"Ya maaf..." kataku sambil tersenyum canggung.


Astri menggerutu dengan permintaan maafku dan bahkan tidak berjalan berbarengan denganku.Dia berjalan di depanku terlebih dahulu untuk sampai ke rumah Sera,padahal aku tahu Astri tidak tahu di mana rumah Sera.Saat sampai di pertigaan jalan,Astri berhenti dan pura-pura melihat kanan-kiri untuk menyebrang.


Aku tertawa diam-diam di belakangnya dan terus berjalan lurus melewati Astri yang kemudian mengikutiku.


"Dasar para manusia" ucap om jin sambil geleng-geleng kepala.


Eh,tunggu dulu,para manusia itu juga berarti termasuk aku?!


"Kita tinggalkan saja dia di sini,agar dia tersesat!" ucap om jin lagi.


Aku meliriknya tak habis pikir bagaimana om jin si tukang ceramah pribadiku mengatakan hal seperti itu?Apa ini karena dia kelaparan?


"Jangan sembarangan!" kataku,menolak perkataannya.


Om jin memalingkan wajah dan terbang lebih cepat di depanku.


"Kamu ngomong sama siapa?" tanya Astri dari belakangku.


Aku menggigit lidah,oh tidak.Aku keceplosan bicara tadi...


"Sama kamu lah,nanti jangan sembarangan lagi jalan duluan.Kalo kami-eh aku tinggalin gimana?" kataku berbohong dan hampir keceplosan mengatakan kami.


"Aku yakin kamu ngak akan tega kecuali dihasut setan." kata Astri lalu berjalan mendahuluiku.


Lagi-lagi,aku berjalan lebih cepat untuk mengejar keduanya.apa kedua makhluk ini punya kebiasaan ngambek yang sama?!aku repot kalau harus mengurus dua makhluk sensitive sekaligus.


"Ini rumahnya?Atau yang ini?" Astri menunjuk-nunjuk hampir setiap rumah yang kami lewati sepanjanh jalan.


Aku menggeleng,"bukan yang itu...rumah Sera masih di gang depan" kataku sambil melirik rumah yang barusan kami lewati takut-takut.


Astri berhenti menunjuk-nunjuk saat ada ibu-ibu yang memelototinya karena menunjuk rumahnya dengan penuh semangat.


Astri menyamakan langkahnya denganku karena mungkin takut dengan tatapan ibu-ibu tadi,tapi om jin masih belum bisa ku kejar.Kemana perginya jin yang satu itu?!jangan-jangan dia terbang vertikal dan bukannya horizontal?


Aku mempercepat langkah karena sudah merasa lapar,aku dan Astri sudah berencana untuk makan di rumah nenek dan mencicipi sambalnya dengan sengaja dari rumah Mamy tadi tidak sarapan terlebuh dahulu.Tapi sekarang rasanya rumah Sera jauh sekali,bagaimana ini?


Saat kami sampai,ku lihat Sera sudah ada di luar dan membawa tas kecil beserta air minum dan juga mendorong sepedanya.Dia mau pergi seperti itu?Aku berpikir bocah ini benar-benar mengira ini semua adalah permainan belaka.


"Ayo kak,Sera duluan naik sepeda ya...kakak ngak papa kan jalan soalnya Sera ngak kuat kalo harus ngebonceng" kata Sera yang sedang mengayuh sepedanya di depan aku dan Astri.


Aku dan Astri berhenti berjalan dan saling tatap,kenapa kami tadi tidak membawa motor saja kalau jadinya begini hahh?!


Aku berlari mengejar Sera,diikuti Astri yang nafasnya sudah terputus-putus.Astri memang tidak terbiasa berlari,jalan kali saja dia jarang jadi aku merasa reaksi tubuhnya yang cepat lelah merupakan hal yang wajar.


Aku jadi kepikiran kemana perginya om jin kalau dia tidak menungguku di rumah Sera?Apa dia benar-benar terbang secara vertikal?Apa dia juga bisa terbang sampai ke luar angkasa?


Merasa pikiranku mulai kacau karena lama berlari,aku memilih berhenti dan jongkok di ujung gang sambil melihat Astri yang kepayahan di belakangku.Menyedihkan sekali dia,aku akan menunggunya sebentar.


Suara nafas Astri terdengar seperti orang bengek saat sampai di depanku yang sudah mampu kembali berdiri.Astaga,aku rasa daya tahan tubuh Astri benar-benar buruk.Berlari segitu saja lelahnya sudah sampai seperti ini?Aku merasa perlu melaporkannya pada guru olahraga di sekolah nanti!atau perlu ke dokter saja...


"Gi-la bocah tadi,Ser-Sera kan nama-nya?"tanya Astri dengan nafas terputus-putus.


Aku menggangguk,"kenapa emangnya,Tri?" Tanyaku balik.


"Wajah memang suka menipu...imut-imut cabe rawit!" seru Astri.


Astri melepaskan papahanku dan kembali berjalan sendiri.Saat sampai di rumah nenek,Om jin dan Sera sedang melihat kami dengan pandangan yang sepertinya mengisyratkan hal yang sama,'Apa yang sudah terjadi pada kalian berdua?'


Ingin aku banting om jin atau kupiting lehernya,dengan tak berdosanya dia meninggalkanku.Sera juga,bocah itu benar-benar kurang peka dengan keadaan kami...ya ampun.Aku berpikir rencana ku pasti gagal karena ketidak kompakkan dan tidak saling pengertian di antara kami.


Aku langsung membuka pintu kasar dan menuntun Astri ke dapur nenek,nenek ada di dapur dan kebetulan sekali nenek sedang membuat sambal.Harumnya sudah tercium,aku memutuskan untuk makan dahulu,menjalankan rencana kemudian karena kakek pun belum pulang dari kebun dan rencananya aku akan pergi menyusul kakek nanti agar pembicaraan kami pun nantinya tidak akan diketahui oleh nenek.


Dan soal Astri,aku menyerahkannya pada Sera agar bertingkah imut dan lucu supaya Astri mau bermain dengannya dan tidak mencurigai gerak-gerikku nantinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ihh,,,kamu imut banget sih.Kelas berapa sekarang?" Astri berseru girang sambil mencubiti pipi Sera.


Sera meringis dan menatapku sambil memberikan tanda oke pada tangannya tanpa Astri sadari.Aku langsung melesat pergi ke saung tempat di mana kakek sedang beristirahat.Om jin mengikutiku dan duduk di sebelahku saat aku sedang berhadap-hadapan dengan kakek.


"Kek,kan aku udah gede.Aku mau tau tentang keluarga kita,silsilahnya lah gitu...biar aku ngak lupa sama asal-usul keluarga pas jauh dari keluarga nanti" kataku tanpa basa basi menanyakan kabar kakek dan kebunnya,mencoba langsung memancing informasi keluar dari mulut kakek.


Sera sudah mendapatkan informasi mengenai 'warisan' dari kakeknya,dan sekarang giliranku untuk mendapatkan informasi mengenai silsilah keluarga dan 'kemampuan' dari kakek ku.


Ayolah kek,jawab!


Kakek menghembuskan asap rokoknya dari mulut,dia menatapku penuh sayang dan aku merasa tentram ditatapnya seperti itu.Dari dulu tatapan kakek padaku tidak pernah berubah selalu membuatku aman di bawah naungannya,tapi saat sudah dewasa aku baru tahu kalau kakek punya banyak hal yang ia sembunyikan dari balik matanya yang selalu menatap orang lain lemah lembut dan penuh kasih sayang.


Benar-benar tidak terduga,aku tidak akan pernah percaya hal ini jika Sera tidak bercerita soal six sensenya padaku waktu itu.Bahkan dari mulut om jin pun,aku tidak akan dengan mudahnya percaya kalau kakek yang selama ini aku dan keluargaku kenal menyembunyikan banyak hal soal keluarga kami sendiri.


"Kek..." kataku.


"Silsilah keluarga...kamu yakin ingin memgetahuinya Nala?" tanya kakek padaku dengan pandangan yang teduh,sangat menentramkan hati...


Aku mengangguk,"aku mau mendengarnya demi diriku dan demi keluargaku!" kataku penuh semangat.


Kakek tersenyum,dia membuang rokoknya yang masih agak panjang ke sembarang arah.


Aku tersenyum,kakek masih ingat kalau aku tidak suka asap rokok ataupun ada orang yang merokok di depanku.Itu membuat nafasku sesak dan pendek,saat kecil aku punya masalah dengan paru-paru ku karena hal itu.


Kakek menaruh tangannya di puncak kepalaku dan membisikkan kata,"keturunanku akan menjadi lebih baik dariku"


Kakek tersenyum,aku kaget dengan gerakan kakek.Begitu juga om jin yang melotot kaget.


Kepalaku seakan berputar,aku menutup mataku untuk menghilangkan perasaan tidak mengenakkan itu.Sesaat sebelum aku menutup mata,aku masih bisa melihat ada senyuman yang tercetak di bibir kakek,tapi tatapan matanya berbeda karena sekarang tatapan matanya menyiratkan kemalangan.


Tatapan matanya begitu dalam,membuatku tenggelam saat balas menatapnya.Dan sepertinya begitu juga Om jin yang ikut terpaku dengan tatapan mata kakek yang dalam.


👻


**Hahaha...gantung ya?Bisakah kalian menebak apa yang akan Nala lihat?Dan apakah om jin hanya akan diam saja melihat Nala seperti itu?


Tunggu kelanjutannya di chapter depan**!