Om Jin!

Om Jin!
om jin!11(versi revisi)



🧞‍♂️


Urusanku yang satu lagi adalah saat Astri menghilang,Om jin muncul.Kedua makhluk ini seakan memang ditakdirkan untuk mengganggu hidupku yang damai.Tadi memang aku sempat berbincang serius dengan Om jin mengenai kasus pamanku,tapi setelah itu situasi diantara kami berubah drastis saat aku teringat cerita Astri semalam.


Detak jantungku seakan berdebam-debam saat bersitatap dengan Om jin selama sesaat,kami langsung saling memalingkan wajah.


Apa Om jin sebenarnya tahu pembicaraanku dengan Astri semalam dan merasakan hal yang sama denganku?Apakah itu sebabnya dia seperti menghindar dari aku?


Lidahku gatal sekali ingin menyuarakannya secara langsung daripada menduga-duganya,tapi sebagai seorang gadis,aku terlalu malu untuk berbicara duluan di saat suasana canggung seperti ini.


Kami terus diam seperti ini karena tidak ada yang bicara duluan,hpku untung saja bergetar karena papah menelpon kalau dia sudah sampai di kostan untuk menjemputku pulang.


"Om jin,ayo!"Ajakku lalu berjalan terlebih dahulu.


Sebagai seorang gadis yang memulai pembicaraan,aku merasa sangat malu!


Om jin melaju terbang secepat motor yang kunaiki,melihatnya seperti itu aku jadi ingat sebuah film superhero.Aku tertawa kecil dan memujinya,'Om jin hebat!'Dalam pikiranku.


Om jin menghadap ke arahku dengan alis yang terangkat sebelah,"Biasa saja"Balasnya langsung kembali menghadap ke depan.


Seketika pikiranku serasa disentil ingatan kalau kami sedang dalam keadaan canggung dan aku melupakan hal itu saking takjubnya melihat aksi terbang Om jin.


Badan Om jin ditembus dengan mudahnya oleh kendaraan yang lewat,awalnya aku khawatir Om jin akan tertabrak,tapi kendaraan itu malah menembus badan Om jin dengan begitu saja.


Sekarang aku bertanya-tanya,tubuh Om jin bisa ditembus,tapi ketika aku bersentuhan dengan Om jin aku tidak bisa menembusnya.Apa Om jin sengaja melakukannya agar bisa bersentuhan denganku?Jantungku langsung berdetak lebih kencang,aku langsung menutupi wajahku sepanjang perjalanan dengan tangan agar Om jin tidak melihat rona di wajahku.


Ini membuatku malu!


 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


 


Liburan di rumah Nenek-Kakek lebih baik daripada liburan di rumah orangtua sendiri karena di sana aku lebih bebas dan nenek juga suka mengepang rambutku sambil menembangkan pupuh yang entah apa judulnya,aku tak tahu dan saat aku bertanya pada Nenek pun,dia bilang dia lupa judulnya dan hanya hapal lirik-liriknya saja.


Sikap Om jin selama kami liburan di sini agak berbeda dengan sikapnya selama di kostan.Dia jadi sedikit pendiam dan lebih sering menghabiskan waktunya di dalam botol parfum itu.


Apa Om jin merindukan lemari besar yang ada di kostan ya?Dia tidak punya tempat nongkrong sekarang,aku sempat punya pikiran untuk mengajaknya ke kuburan,mungkin dia bisa mendapatkan teman bicara dari sesama jenisnya di sana.


Tapi kemudian pikiran itu kutolak karena aku takut untuk pergi ke kuburan dan masih trauma jika harus berurusan dengan makhluk halus lagi.Takut mereka tersinggung dengan perkataanku sampai membuatku sakit meriang.


Pada akhirnya aku mengajak Om jin untuk menemaniku berkunjung ke rumah teman SMP-ku yang bernama Amelia.Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya.Selama ini aku lebih sering menghubunginya lewat medsos saja.


"Apa dia seperti Astri?"Tanya Om jin padaku.


Aku mengerutkan kening mendengar Om jin menanyakan hal seperti itu.


"Tidak,dia berbeda dengan Astri..."Jawabku.


"Baguslah"Balas Om jin,terlihat lega.


Aku berpikir,apa Om jin trauma dengan kelakuan Astri sampai dia bersikap seperti itu pada semua teman yang kupunya?


"Om jin tenang saja,Astri itu satu-satunya temanku yang punya prilaku agak...begitulah.Tapi teman-temanku yang lain beda kok..."kataku mencoba menghilangkan pikiran negatif Om jin terhadap teman-temanku.


Mana mungkin aku akan membiarkan Om jin menyamaratakan semua temanku dengan Astri kan?


Kami sengaja berjalan kaki karena ini masih pagi.Aku juga bisa sekalian olahraga karenanya,dan Om jin juga tidak membantah sama sekali karena bukannya menapakkan kaki sepertiku di tanah,dia melangkahkan kaki sambil melayang,tidak sedikitpun menyentuh tanah.


Ini jadi terlihat aneh sekali...


"Mel!"Aku berseru senang memanggil Amel yang kebetulan sedang menyiram tanaman di luar rumahnya saat aku sampai di sana.


"Nalaaaa...."Amel juga meneriakan namaku,sama senangnya.


Aku dan Amel saling berpelukan dan saling menanyakan kabar.Om jin mengerutkan dahi melihat kehisterisan kami.


"Katanya beda..."Gumam Om jin yang dapat kudengar.


Aku mengabaikannya dan diajak Amel untuk masuk kedalam rumahnya.Aku menyalami ibunya Amel dan duduk di sofa.


"Baru datang kemarin ya?Gimana keadaan kamu di Bandung selama ini?"Tanya Amel padaku sambil menyuguhkan air dan makanan ringan di atas meja.


"Iya,sudah bagi raport aku langsung cus kesini.Dan keadaan aku di Bandung eumm...baik-baik aja kok kayak biasa"Jawabku.


"Aku juga pengen sekolah di Bandung...."lirih Amel.


"Kamu kan tau aku mau kuliah di univ Gajah mada!itukan di Jogja..."Kata Amel.


"Ya rubah aja kemauan kamu kalau kamu mau ke Bandung.Di Bandung juga banyak univ yang elit..."


"Ngak gampang Nal..."


"Tapi kita udah janji mau kuliah bareng di univ yang sama karena SMA kita beda kan?Aku juga ngak bisa ke univ Gajah mada..."Bantahku.


"Nala...jangan terlalu memaksa...lihat ekpresinya."Om jin menasihatiku melihat sikapku yang mulai ngegas.


Aku menghela nafas untuk menangkan diriku sendiri dan meminta maaf pada Amel karena terlalu memaksanya.Aku mulai membujuknya dengan lebih lembut lagi.


"Kamu kan masih belum capai target untuk bisa kuliah di univ Gajah mada,sedangkan aku sudah di Ui.Aku bisa bantu kamu..."Kataku mencoba merubah pikiran Amel.


"Jangan bahas kuliah dulu deh,kamu udah punya pacar?"Tanya Amel,mengangkat topik sensitif.


"Tidak mau pacar-pacaran!"Kataku.


Aku diam-diam melirik ekspresi Om jin yang malah memalingkan wajahnya keluar.


Aku rasa ini juga topik sensitif bagi Om jin.Oh,apa yang sudah terjadi dengan hubungan kami...ini jadi agak aneh dan awkward untuk dijalani tanpa adanya kejelasan di antara kami.


"Halah...bohong!itu muka kamu merah..."


Aku langsung melihat wajahku di kamera hp dan benar saja,wajahku memerah tanpa bisa ku cegah.


Gawat!Om jin pasti melihatnya!Aku langsung menutupi wajahku dengan bantal mini yang ada di sofa,"Aku sedang flu...pagi-pagi maksain ke sini demi sahabat ku tercinta,tapi sahabatnya malah bawa-bawa topik sensitif..."Kataku mencoba menyindir Amel agar menganti topik tentang pacaran ini ke topik lain.


Amel tertawa,"Aku ngak nyangka kamu bakal tahan ngak pacaran,aku aja udah beberapa kali ganti pacar..."kata Amel.


"Bodo amat!itukan kamu..."Balasku.


"Nala,kita sebaiknya pulang saja karena nanti siang kamu kan mau makan-makan sama keluarga besar...katanya mau bantuin Nenek kamu masak..."Om jin mendadak berkata begitu.


Aku sebenarnya masih ingin bicara panjang lebar dengan Amel,tapi karena Amel sudah membawa-bawa topik sensitif seperti ini apa boleh buat...


Memang sebaiknya aku segera pergi,lagipula tadi pun Amel belum selesai menyiram tanaman karena aku menganggunya.


"Aku pulang dulu ya,kapan-kapan aku main lagi ke sini bareng temen-temen yang lain.Aku mau bantuin Nenek masak..."


"Alesan aja...kalau ngebahas pacar pasti kamu menghindar,aku jadi curiga kamu punya pacar rahasia atau jangan jangan kamu backstreet ya?"kata Amel,membuat udara di sekitarku serasa pengap.


"Mana ada!"Balasku lalu pergi dari sana.


"Awas pundung!"kata Amel sebelum aku terlalu jauh dari rumahnya.


"Tidak akan.Aku sudah biasa seperti ini!"Balasku berteriak dan tertawa bersamaam.


Ah,singkat sekali reuni kami ini,tapi melihat Om jin menjadi lebih nyaman saat kami pergi dari rumah Amelia sudah cukup membuatku bahagia.


Kelihatannya Om jin merasa topik itu bukan topik sensitif lagi,tapi topik terlarang sampai-sampai raut wajahnya ketika keluar dari rumah Amel seperti narapidana yang baru dibebaskan dari penjara.


Aku memberanikan diri juga merendahkan harga diriku sedikit untuk bertanya pada Om jin,"Om jin tidak papa?"


"Ya,aku baik-baik saja.Tapi wajah kamu tadi merah..."Katanya,membuatku malu dan ingin bersembunyi darinya.


"Haha...mana ada!"Elakku.


"Aku kan sedang flu ringan,ayo kita pulang cepat saja..."kataku mencoba mengalihkan perhatian dan mengubah topik pembicaraan.


"Baiklah..."Om jin menurut dan tidak berbicara lagi padaku sepanjang perjalanan.


Apa Om jin benar-benar percaya dengan alasanku?Tapi kenapa tadi kalau tidak salah lihat aku sempat melihatnya tersenyum kecil sambil memalingkan wajah?


Apa sih yang sebenarnya sudah terjadi diantara kami?!Kenapa aku merasa malu sekali membahas soal pasangan jika berada di dekat Om jin?!dan kenapa juga Om jin seperti merasakan hal yang sama saat berada dekat denganku?


👻


...❤SEE YOU ON NEXT CHAPTER,GUYS!...


...DON'T FORGET TO GIVE ME A LIKE 👍AND COMENT💬!...


...BY-BY!👋***...