
🧞♂️
Aku sudah menghabiskan 2 jambu,Astri memegangi perutnya dan bersendawa.Dia sudah menghabiskan 5 jambu yang besar-besar dan bagus tadi,jadi pantas saja dia kekeyangan seperti itu.
Sera masih belum membuka matanya,aku diam-diam melirik ekspresi di wajah Astri.Takut-takut dia curiga dengan keanehan itu.
Aku membuka kunci layar hpku dan memutar list lagu favoritku.Semoga lagu-lagu yang kusukai juga disukai Astri dan dapat mengalihkan kesadarannya.
Saat lagu pertama selesai,ku lihat Sera sudah membuka matanya dan Kakek menarik nafas lelah.Sedangkan Om jin diam di belakang Sera yang sudah beranjak dari saung dan berjalan ke arahku.
Aku berdiri dan berjalan ke arahnya,perasaanku tidak enak saat melihat wajah pucat Sera.Om jin terbang mengikuti Sera di belakangnya.
Sera tiba tiba terhuyung,aku langsung berlari ke arahnya dan memeluk tubuhnya lalu mendekapnya erat.Saat kulit kami saling bersentuhan kurasakan tubuh Sera yang dingin.
Om jin di belakang tubuh Sera menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan.Apa yang sebenarnya sudah Sera lihat?
"Sera,SERA!" Astri berteriak menghampiri kami dan memeriksa tubuh Sera.
Kakek juga berlari ke arah kami lalu mengambil alih Sera dari pelukanku dan membopongnya.Kami pergi dari kebun dengan terburu-buru dan meninggalkan peralatan kebun Kakek begitu saja.
Aku berlari tepat di belakang Kakek dengan perasaan bersalah yang teramat dalam,ini semua karena aku tidak bisa diandalkan!Kalau aku punya six sense,pasti aku bisa melihat bayangan itu sendiri dengan rasa sakitnya sekaligus,tidak perlu mengandalkan orang lain seperti Sera.
Astri berlari tepat di sebelahku dengan wajah panik,Astri tampaknya sudah benar-benar menyayagi Sera.Kurasakan tangan kiriku mendadak terasa dingin,saat kulihat Om jin mengenggam tanganku sambil menggelengkan kepalanya.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri,kalau aku masih kuat seperti dulu dan tidak lemah seperti sekarang pasti kalian tidak perlu mengalami hal seperti ini" Om jin berkata dengan raut cemas.
Aku tidak membalas perkataannya dan fokus memperhatikan langkahku agar tidak tersandung saat berlari dan juga memegang tangan Astri yang tidak berpengalamanan berlari di kebun seperti ini agar tidak tersandung dan terjatuh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kami awalnya berniat untuk memanggil dokter terdekat untuk memeriksa keadaan Sera,tapi Sera keburu sadar dan mengatakan kalau dia tidak apa-apa dan pingsan karena belum makan dari pagi.Aku tahu dia bohong...
Sehabis mengabari orangtua Sera meggunakan hp,aku membawakan minuman dan makananan untuknya ke kamar.
Mamy berdiri di sisi ranjang dan menatap Sera yang keningnya sedang ditemploki tangan Astri.Astri ini...apa yang sedang dilalukannya?!
"Makan dulu..." Kataku dan menaruh nampan di atas kasur.
Sera mengangguk dan dengan patuh memakan makanan itu dengan diam.
Dari luar pintu kamar kulihat Kakek yang melambai padaku.Aku beranjak dari kamar dan menghampiri Kakek yang mengajakku berbicara di dapur.
"Kek...itu Sera...apa dia tidak papa?" Tanyaku khawatir.
Kakek menggeleng,"Kamu tenang saja Nala,Sera akan baik-baik saja.Dia pingsan hanya karena bebannya saja yang hanya akan terjadi sekali.Untuk kedepannya,kamu tidak perlu khawatir kejadian ini akan terulang lagi"
Aku diam mendengarkan Kakek,di masa depan tidak akan terjadi lagi?Apa kalimat itu berarti kakek juga ingin agar warisan kemampuan ini berakhir di generasi kakek juga seperti keinginan kami?
"Kakek tau kami sudah-"
"Iya,Kakek sudah mengetahuinya" Kata Kakek cepat sebelum aku bisa menyelesaikan kalimatku.
Aku mematung,bagaimana cara Kakek bisa mengetahui rencana kami?
"Kok bisa?" Tanyaku.
Kakek tersenyum dan memberikan air minum padaku.Aku menerimanya dan menaruh gelas itu ke meja di sebelahku daripada meminumnya karena yang saat ini aku butuhkan adalah kebenaran,bukannya minuman!
Kakek menatap gelas pemberiannya yang kutaruh di atas meja,dia masih tetap tersenyum dan mengelus kepalaku.
"Kamu akan mengetahuinya setelah berbicara dengan Sera nanti,Kakek harap kalian berdua tidak akan menjadi seperti Kakek dan Kakeknya Sera di masa depan..."
Kakek pergi dari dapur dan membiarkanku merenung di sana.Aku melirik gelas berisi air minum yang kutaruh di meja tadi dan meminumnya.Tiba-tiba aku merasa dehidrasi saat dihadapkan dengan misteri keluarga sendiri seperti ini.
Aku meminum airnya sampai gelasnya tandas.Pintu dapur yang menghubungkannya dengan halaman belakang terbuka lebar,ku lemparkan gelas kosong itu sekuat tenaga sampai pecah berkeping-keping karena menghantam tembok pagar sampai menghasilkan bunyi yang membuat Mamyku berteriak menanyakan apa yang terjadi di dapur.
"Maaf My,gelas Mamy pecah satuuu!" Teriakku tanpa rasa bersalah yang menyertainya.
Aku tersenyum sedih menatap pecahan gelas itu,tanpa ku sadari Om jin ada dibelakangku.Kurasakan hawa dingin sekaligus panas yang mengerayangi punggungku,lalu merayap ke pinggangku.
Aku merasakan sesuatu yang dingin memeluk pingganggku dari belakang dan aku refleks melihatnya.
'Om jin!' Seruku kaget dengan kemunculannya yang tiba-tiba.
"Jangan bersikap seperti itu lagi,Nala..." Ucapnya dengan lembut dan tangannya yang melingkari pinggaku kurasakan semakin mengencang.
Wajahku memerah karena menahan malu sekaligus emosi,aku berkata 'Ya,tapi lepaskan aku,Om jin dingin sekali...'
"Kenapa?Apa aku terlalu kencang memelukmu?" Om jin bertanya dengan nada bersalah.
Aku menggelengkan kepala cepat.Mendengar nada bicaranya itu padaku,membuatku sesak nafas mendadak.Mamy,selamatkan anakmu!
"Tapi itu kamu...sesak?" Om jin memegangi pundakku.
Aku melepaskan tangan dinginnya yang dapat kusentuh dari pundakku seraya berkata,'Aku tidak papa'
Ku buka kulkas dan mengambil minuman dingin lalu meminumnya,ah-rasanya panas internal di tubuhku yang tiba-tiba terasa mulai berkurang.
Om jin memperhatikan setiap gerak-gerikku,aku tentu saja tidak nyaman ditatap seperti itu dan menjadi salah tingkah.
'Om jin,aku beneran tidak papa kok.Aku mau bersihin pecahan kacanya dulu ya,takut nanti Mamy curiga aku sengaja merusak peralatan dapurnya" Kataku mencoba melarikan diri dari tatapan mata Om jin.
Om jin mengahalangiku saat aku berada di ambang pintu,dia menjentikkan jarinya dan pecahan kaca gelas tadi langsung menghilang tanpa sisa.
'Makasih Om jin' Kataku dan dengan tingkah yang ah-entahlah kembali ke kamar dan melihat keadaan Sera diikuti Om jin di belakangku.
Astri izin ke kamar mandi saat aku kembali,Mamy sedang menanyakan keadaan Sera pada Sera yang sedang makan.Sera menjawab setiap pertanyaan Mamy dengan gelengan kepala karena mulutnya penuh dengan nasi,bocah ini...aku kagum pada bocah ini.
Aku duduk di sisi ranjang dan memperhatikan Sera yang sedang makan,tak lama bibi datang dengan wajah cemas yang kentara sekali.Dia akan membawa Sera pulang ke rumahnya,tapi Sera menolak dan bilang mau tetap di sini dan menginap.
Bibi memarahi dan memaksanya pulang.Mamy meredakan kekhawatiran bibi dan mengatakan kalau dia akan menjaga Sera dengan lebih baik dan meminta bibi agar membiarkan Sera menginap di sini dengan alasan Sera masih merindukanku.
"Ah iya,Sera kan kesayanganku bi..." Kataku mengiyakan ucapan Mamy.
Om jin tersenyum mendengar perkataanku."Dia masih harus tetap di sini,kembali ke rumahnya sekarang yang terdapat penunggu keris itu dengan keadaan mental Sera yang masih lemah hanya akan mengundang bahaya untuknya" Om jin menatap Sera dengan serius.
Walau Om jin tidak menatapku,tapi aku tahu pasti kata-katanya itu ditujukkan untukku agar mencegah Sera kembali ke rumahnya untuk sekarang.
'Iya benar,lagipula aku ingin tahu apa yang Sera lihat malam ini juga' Balasku pada Om jin.
Bibi akhirnya mengalah saat Sera menangis dan membiarkan Sera tetap tinggal di sini.Saat Astri kembali sambil memegangi perutnya,bibi sudah kembali pulang dan menyisakan aku dan Sera yang baru saja akan membahas penglihatan Sera tadi.
"Perutku..." Rintih Astri.
Aku langsung berhenti bicara dan Sera juga langsung diam saat Astri masuk ke kamar.
"Tri,Sera bakal nginep loh!" Kataku langsung membahas hal lain.
"Bagus-bagus!nanti kamu kakak ajarin akting ya?" Kata Astri,terlihat antusias sekali dia ini...
Sera mengangguk sambil menatapku,aku balik menatapnya dengan isyarat'Nanti kujelaskan!'
Om jin menyilangkan tangannya di sampingku saat bertanya siapa yang nantinya akan mengurus Astri agar tidak dapat mengetahui pembicaraan kami nanti.
'Om jin yang uruslah,buat saja dia tidur' Kataku lewat pikiran.
"Kamu tahu it-itu?" Om jin membalasku dengan gugup.
Huh?!bagaimana Om jin ini,waktu itu kan Om jin juga pernah menunjukkan kemampuannya secara terang-terangngan di depanku saat di bis.Kenapa dia masih bertanya dan gugup seperti itu?
'Om jin kan waktu itu bikin anak kecil yang nangis terus di bis tidur..' Kataku mengingatkannya.
"Iya benar" Kata Om jin dengam ekspresi yang kembali tenang seperti semula.Ada apa dengannya ini?
'Om jin urus Astri,setelah itu baru kita bicarakan soal penglihatan Sera nanti'
Om jin mengangguk tanda setuju,"Baiklah".
Saat sebuah kesepakatan sudah disepakati,maka tinggal menjalankan rencanya saja ha...ha...ha...dan tentu saja,mengurus Astri terlebih dahulu...
Omong-omong soal Astri aku jadi merasa seperti teman jahat yang mempermainkannya,padahal Astri pergi ke sini kan untuk menenangkan diri bukannya ikut terseret dengan rencana kami.
Kupandangi Astri yang sedang mencontohkan caranya akting menangis di depan Sera yang menatapnya dengan terpaksa dan malas.
Ya sudahlah,lagipula kami semua menikmati prosesnya yang ternyata tidak terlalu memberikan banyak beban pikiran pada kami dan malah menambah pengalaman dan keakraban yang berartikan efek positif bagi kami.
👻
ASTRI YANG TERDZALIMI🤭
***btw* jangan ada yang niru perbuatan Nala nyontohin bohong di depan anak kecil,ya?Ngak baik.
Semoga chapter ini memuaskan,sampai jumpa di chapter depan**!:)