
🧞♂️
Orang itu berbalik dan betapa terkejutnya aku saat melihat bahwa orang itu ternyata benar-benar Om jin.
Deg
Aku terduduk di atas rumput dan mematung,Om jin mendekatiku dan membantuku kembali berdiri.
"Benarkan,Nala?" tanyanya dengan berbisik di telingaku.
Jantungku terasa langsung berhenti berdetak dan mataku melotot karena kaget,ap-apa yang Om jin katakan ini?Bagaimana dia bisa mengatakan hal seperti itu?
"O-Om jin,kamu kenapa?" tanyaku dengan ragu.
Om jin menggeleng,lalu kami berdua duduk berdekatan di bawah pohon sirsak dan hanya saling diam.Aku masih tenggelam dalam keterkejutanku,sedangkan Om jin entah sedang memikirkan hal apa.
"Na-"
"Om ji-"
Aku langsung bungkam,begitupun Om jin yang tidak jadi berbicara.Aku menatapnya untuk membiarkannya berbicara duluan,tapi Om jin juga menatapku dan mempersilahkan aku untuk bicara terlebih dahulu darinya.
"Om jin,kemana Om jin pergi semalam?Kenapa tidak memberitahuku dulu atau memberikan pesan?" tanyaku.
Om jin menghela nafas sebelum menjawab,"Keributan itu memang bukanlah ulah kedua kucing itu,tapi ada makhluk sejenisku yang datang tiba-tiba dan mencari masalah.Aku pergi untuk mengurusnya dengan terburu-buru dan lupa untuk meninggalkanmu pesan.Kamu marah,Nala?" tanyanya saat melihat raut wajahku.
Aku menggeleng,bukan itu yang kurasakan,tapi perasaan lain.Perasaan khawatir-takut kehilangan...
'Om jin pasti tau apa yang kurasakan sekarang,aku...takut Om jin meninggalkanku.Entah kenapa aku sampai berpikir kalau Om jin akan meninggalkanku'
"Nala,maksudku bukan begitu.Maafkan aku sudah meninggalkanmu tanpa memberitahumu dulu.Lain kali aku akan memberitahumu dulu atau meninggalkan pesan!"
Om jin merangkulku,menarikku ke dalam pelukannya dan menghiburku agar aku tidak bersedih dan menangisinya.Om jin mengatakan dia ceroboh kemarin dan tidak akan mengulangi hal yang sama lagi.Dia sampai mengatakannya berkali-kali sebab aku yang sama sekali tidak meresponnya.
"Nala...?"
Aku menghapus air mataku dan melepaskan diri dari dalam pelukannya dan memeluk diriku sendiri sambil melihat ke depan,entah melihat apa.Tembok?Tanaman?Langit?Atau awan?Aku tidak tahu.
Om jin juga diam dan melihatku dengan tatapan bersalah yang bisa kurasakan dengan jelas.
Bukannya aku ingin mengabaikan Om jin ataupun marah karena dia yang tiba-tiba meninggalkanku,tapi entah kenapa aku merasa sudah ada yang berubah dari sikap Om jin terhadapku.Apa dia menyembunyikan sesuatu dariku?
Om jin seperti melakukan segalanya untuk yang terakhir kalinya.Aku merasa dia menyembunyikan sesuatu dariku dan hanya ingin menyimpannya sendiri.
"Apa yang Om jin dan makhluk halus lain itu lakukan sampai Om jin lama sekali pulangnya?"
"Aku-kami...kami hanya bertengkar..." jawabnya.
"Bertengkar?Karena apa,huh?!Apa karena aku?" tanyaku asal tanpa mempertimbangkan hal apapun.
Tapi ketika aku melihat ekspresi di wajah Om jin,aku tahu bahwa apa yang aku katakan benar.Tapi kenapa mereka bertengkar karena aku?Pikirku bingung.
Beberapa penghuni kost mulai berseliweran di sekitar sini dan ada beberapa orang yang dekat denganku akan menghampiriku yang kelihatan melamun sendirian.
"Ayo bicarakan di dalam" kataku dan berjalan duluan masuk ke kamar lewat jendela kamarku yang terbuka.
Om jin mengikuti dengan patuh dan setelah dia masuk,jendela langsung tertutup dan lampu kamar langsung hidup.Dia selalu melakukan ini jika hari mulai gelap.
Aku duduk di atas kasur dengan kepala yang terangkat menatapnya.
"Mau menjelaskannya padaku atau tetap menyimpannya sendiri?Kalau Om jin tidak mau ya sudah tidak papa..." kataku.
"Nala,kamu ini..."
Om jin menahan emosinya lalu duduk di sebelahku dan memegang tanganku.Tuh,kan dia biasanya tidak seperti ini.Dia terlihat sedang melakukan hal-hal terakhirnya saja denganku.Sebenarnya kenapa Om jin jadi berubah seperti ini hanya dalam hitungan jam?
"Sejak aku bertemu dengan sesamaku,aku mulai merasa ini salah...maksudku bukan kamu atau aku yang salah,tapi hubungan di antara kita yang salah"
Deg
Aku langsung mendelik menatapnya.
"Seharusnya dari awal aku tidak-maksudku seharusnya aku mendengarkan kata-kata kakek kamu dengan baik tempo hari daripada mengirim mereka ke antah berantah dan langsung melemparnya ke rumah masing-masing sampai membuat mereka shock berat"
Aku tambah memelototi Om jin.Jadi,dia melakukan hal itu pada kedua kakekku?Nekat sekali!
"Sera,si anak indigo benar dan Astri juga sudah dengan sangat baik hati mau membantu kamu untuk lepas dariku,tapi aku malah...aku malah membuatmu memihak padaku dan mempertahankan hubungan kita yang...mustahil"
Melihat Om jin yang masih akan terus berbicara,aku menutup mulutnya dengan tanganku dan mengatakan cukup lalu menyuruhnya untuk kembali masuk ke dalam botol parfumnya yang ada di dalam laci nakas.
Om jin menurut padaku dan menghilang dari hadapanku setelahnya.Aku menekan dadaku sendiri karena merasa ada sesuatu yang tidak beres terjadi pada dadaku yang tiba-tiba terasa sangat perih seperti ditusuk oleh tombak.
Kenapa Om jin jadi seperti ini?Kenapa dia juga jadi menentang hubungan kami?Aku menjerit keras di dalam hati karena merasa frustasi dengan keadaan yang sedang ku alami.
Tidak ada lagi...tidak ada lagi yang mencintaiku?Kenapa hal ini harus terjadi sekarang?Aku sudah ditinggalkan kedua kakek ku yang pasrah dengan Om jin,Sera yang sekarang sudah sangat berbeda,dan Astri yang mungkin sebentar lagi juga akan meninggalkanku.
Aku meremas rambutku sampai acak-acakan dan menenggelamkan diri dalam selimut untuk meredam kekesalan yang meletus dalam diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore hari ditemani lembayung yang mulai mewarnai langit dan secangkir besar cokelat panas di tanganku,juga kak Iza-si pembunuh itu yang duduk berhadap-hadapan denganku di sebuah kafe dekat dengan kampusnya.
Aku sengaja menghubungi kak Iza dan memintanya untuk bertemu saat itu juga,Om jin tidak ikut menemaniku karena aku tidak memberitahunya-dia masih berada di dalam botol parfumnya.
"Aku sudah selesai membaca novel ini..." kak Iza menyerahkan novel tebal itu ke hadapanku.
"konfliknya berat juga,lumayanlah.Aku sampai menghabiskan banyak waktu untuk membacanya di sela-sela kegiatan kuliahku.Ini sekalian ku kembalikan padamu...dan biarkan aku mentraktirmu kali ini.Anggap saja sebagai uang sewa novelnya"
Aku tersenyum,senyuman bergetar yang dipaksakan."Tidak usah mentraktirku segala kak Iza..."
"Ck,ayolah Nala terima saja" kak Iza memaksa.
Seketika aku merasa takut dan kaki ku yang ada di bawah meja gemetar,kemudian aku mengangguk.
"Kak Iza,apa kak Iza kenal orang purwakarta selain aku?" tanyaku.
Kak Iza terdiam,lalu balik bertanya padaku,"karena kamu gadis yang baik,aku akan memberimu pilihan.Kamu mau aku menjawabnya dengan jujur atau tidak?"
"Tentu saja kak Iza harus jujur padaku,kak Iza juga kan orang baik" Kataku.
Orang baik dari mananya?Apa seseorang yang sudah membunuh masih bisa dikatakan orang baik? aku membatin.
Kak Iza kehilangan senyum di bibirnya,"ya,selain kamu ada satu orang lagi yang ku kenali.Tapi dia hanya kenalan lama ku.Kini kami sudah tidak berhubungan lagi"
Aku menyeringai,tentu saja kamu sudah tidak berhubungan dengan dia lagi karena dia sudah kamu bunuh!
"emm,kakak berteman dengannya atau bagaimana?Kok lost contact?" tanyaku.
"kami tidak berteman,dia adalah pria kenalan mantan pacarku" Jawab kak Iza dengan nada biasa.
Bagaimana dia masih bisa membicarakan orang yang telah dia bunuh dengan tenang?Apa dia sudah tidak punya nurani?
"Terus kak?Apa kakak ngak cemburu karena pacar kakak yang dulu kenal sama dia?"
Kali ini senyum kak Iza kembali terbit,"tentu saja dulu aku sangat cemburu buta bahkan sampai melakukan-" Perkataan kak Iza terhenti.
Kamu membunuhnya,kan?!
Apa kak Iza juga membunuh mantan pacarnya itu? batinku penasaran.
"kamu terus bertanya padaku,Nala..." ucap kak Iza.
deg
"sekarang biarkan aku mengenalmu lebih jauh,oke?Ayo ceritakan tentangmu padaku"
Aku tersenyum lega,ku kira kak Iza mencurigaiku karena terus bertanya mengenai hubungannya dengan paman.
"aku gadis yang biasa saja,kak...kamu tidak akan tertarik mendengar ceritaku"
"ceritakan saja tentangmu,apapun itu.Aku tidak pernah menganggap cerita semua orang sama..."
Aku menyesap cokelat panasku dan meletakkan cangkirnya di atas meja.
Dan aku pun mulai menceritakan mengenai diriku,dan sekolah,juga teman-teman dan hobyku.Aku sengaja tidak membahas mengenai keluarga dan kampung halamanku,karena jika aku menceritakan mengenai itu juga maka nama paman akan ikut terbawa-bawa.
"Setelah lulus SMA,aku ingin masuk ke universitas yang sama dengan tempat kakak belajar sekarang.Di sekolah aku sudah ikut mendaftar untuk SNMPTN dan semoga saja aku diterima" aku mengakhiri cerita tentangku.
"semoga saja,agar kita bisa lebih sering bertemu lagi" kata kak Iza.
"eumm,kak...apa boleh aku berkunjung ke universitas kakak?"
Kak Iza menaruh kopi yang tengah disesapnya demi menjawab ku,"tentu saja,nanti aku akan membawa mu ke sana saat aku senggang atau kamu mau kita ke sana sekarang?"
Aku tertawa,"ya jangan sekarang juga kali kak,nanti kakak telepon aku lagi saja kalau kakak sudah senggang,aku akan selalu punya waktu luang untuk bisa berkunjung ke sana"
Padahal aku mengajakmu untuk bertemu lagi adalah untuk mengintrogasi mu mengenai hal lain kak...batinku senang karena rencanaku berjalan dengan lancar.
Setidaknya hari ini aku tahu apa alasan kak Iza membunuh paman.Kak Iza-si pembunuh itu sampai berani mengambil nyawa orang hanya karena kecemburuan!
Keterlaluan!
Setelah hari sudah mulai gelap,kak Iza mengantarku dengan mobilnya pulang ke kostan.
Sampai di sana dia ikut keluar dan membukakan gerbang kostan supaya lebih lebar untukku-hal yang tidak perlu karena sebenarnya gerbang kostan masih bisa dilewati orang dengan menyisakan sedikit celah seperti biasa.
Aku tersenyum padanya lalu melambaikan tangan,kak Iza pun membalas lambaian tanganku dan kembali masuk kedalam mobilnya kemudian pergi.
"Nala,itu..." Suara Rizal mengagetkanku yang baru melangkahkan kaki ke halaman.
Aku menautkan alis,kenapa wajah Rizal seperti sudah melihat setan saat melihatku?Apa jangan-jangan dia melihat Om jin saat aku pergi tadi?Atau dia adalah Om jin yang menyamar jadi Rizal dan melihatku baru bertemu dengan kak Iza seorang diri?
"Itu...dia.Sebenarnya dari awal aku ingin mengatakan ini padamu..."
"Mengatakan soal apa?" tanyaku.
"Orang itu...dia adalah Reiza,kakak sulung ku"
Deg
Jantungku seakan berhenti berdetak selama sesaat,apa telingaku tidak salah dengar?Reiza si pembunuh itu adalah kakaknya Rizal?!
"Dan dia mendapatkan nomormu dariku,sumpah Nal!awalnya aku curiga saat dia tiba-tiba menghubungiku dan meminta nomormu.Aku tidak mau melakukannya karena tau tabiat asli kakakku,tapi dia memaksa.Maafkan aku karena telat mengatakannya padamu.Seharusnya aku memberitahumu lebih awal.Aku menyesal karena sepertinya kalian sudah sangat dekat dan perasaan kakak padamu sudah semakin dalam"
Aku bungkam,mematung di tempatku berdiri sekarang dengan Rizal yang terus memohon maaf padaku.
"Apa...bisa kita membicarakannya di dalam dan kamu bisa mendapatkan maafku setelah menceritakan tabiat asli kakak mu itu" aku berhasil mengendalikan diri dan berjalan masuk ke dalam kostan diikuti Rizal yang tertunduk merasa bersalah terhadapku.
"Dia...sebenarnya punya sisi gelap,Nal.Mungkin di depan orang dia akan ramah,tersenyum,mengobrol dan bergaul dengan orang lain seperti biasa,tapi di balik itu semua dia pendendam dan tidak akan ragu menyakiti orang lain jika orang itu menyinggung atau menyakitinya duluan" Jelas Rizal.
Aku menyimak penjelasannya dan tanpa kata-kata berjalan masuk ke dalam kamarku.
"Aku memaafkanmu,Rizal" kataku saat memutar kenop pintu.
Aku bisa memaafkan adik si pembunuh yang tidak ikut bersalah,tapi memaafkan pembunuh asli paman?Tidak akan pernah!dia harus mendapat ganjaran.
Saat masuk ke kamar aku langsung mencuci muka dengan asal untuk melampiaskan amarah lalu bercermin dan ketika melihat pantulan diriku sendiri di cermin, betapa berantakannya penampilanku ini.Rambut acak-acakan,mata merah,jejak air mata di pipi,dan air bekas cuci mukaku barusan masih menetes-netes lewat daguku.
Aku menyisir rambutku dan berbaring di kasur.Om jin benar-benar patuh padaku dan masih belum keluar dari botol parfumnya.Akhirnya aku mengaktifkan hp ku lagi dan melihat banyak sekali notif panggilan tidak terjawab dari Astri.
Karena melihat banyaknya panggilan dari dia,aku akhirnya menelponnya balik dan dia langsung menerima panggilannnya.
Belum aku mengatakan apa-apa,Astri sudah bicara terlebih dahulu,"Halo,Nala?Kamu kenapa susah dihubungi?Kamu baik-baik saja,kan?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Ya,aku baik-baik saja.Memangnya aku akan kenapa?" tanyaku dengan tidak serius.
"Nala,sebenarnya ada hal penting yang perlu kamu ketahui,tapi aku tidak yakin jika harus mengatakannya lewat telepon"
"Hal penting apa?Kenapa kamu ragu begitu,biasanya juga biasa aja..." kataku merasa aneh dengan sikap Astri yang begini.
"Ini masalah urgent beneran.Sebaiknya kita ketemuan saja di kafe dekat sekolah,oke?"
"Aku-ini sudah malam"kataku.
Peraturan di kostan ini cukup ketat dalam jam malam.Apalagi sekarang sudah hampir tengah malam.Walaupun kafe tempat kami ingin bertemu itu tidak terlalu jauh jaraknya dan buka sampai jam 1 dini hari,tapi untuk keluar kostan disaat keadaanku seperti ini,aku merasa tidak percaya diri.
"Ini tentang Sera dan aku..." kata Astri dalam telepon dengan nada yang sudah kuhafal kalau dia mulai berbicara dengan nada seperti itu,berarti hal yang akan dia bicarakan berat untuknya.
Akhirnya aku mengiyakannya dan bersiap-siap untuk keluar dari kostan tanpa ketahuan dan menggunakan hoodie hitam serta tebal agar angin malam tidak membuatku kedinginan di jalan dan membuatku sakit pada keesokan harinya.
Aku juga pergi tanpa memberitahu Om jin,kutatap botol parfumnya yang sekarang sedang kupegang.Apa yang ada di dalam sana?Apa selama berabad-abad lamanya Om jin sungguh terkurung di dalam sini?Dan gara-gara kemarahanku tadi,Om jin kembali masuk ke dalamnya?Betapa kejamnya aku ini...
Aku menyimpannya ke atas nakas dan mengantongi hp beserta uang lalu pergi keluar kamar tanpa suara lewat jendela dan menutupnya kembali dengan pelan.
Aku berjalan terbungkuk-bungkuk melewati kamar-kamar kost lain yang tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
Aku memilih jalan yang gelap atau berjalan di bawah cahaya lampu dengan cepat agar tidak ada orang lain yang bisa melihatku.
Setelah sampai di halaman depan kost yang memang sudah gelap,aku baru bisa berjalan keluar dengan santai tanpa takut ketahuan oleh siapapun,termasuk bapak kost yang pemalas itu.
Bahkan,gerbang kost pun lupa dia kunci sampai aku yang amatiran dan hanya modal terpaksa serta nekat pun bisa keluar dari kostan dengan mudah.
Ternyata tidak sesulit seperti yang ada di dalam film-film! Batinku.
Tapi yang jadi masalahku sekarang adalah bagaimana caraku bisa dengan cepat sampai ke kafe itu sendirian malam-malam?Aku lupa tidak memesan ojol dulu tadi...
Akhirnya aku meminta Astri untuk menjemputku di kostan dan dia datang dengan mengemudikan mobil sendirian!
Gila!Kapan dia belajar mengemudi?
"Tanya-tanyanya nanti saja.Sekarang kita bahas hal yang paling penting dan eh-iya! jangan bahas itu sekarang dan merusak konsentrasiku.Ini baru kelima kalinya aku mengemudi sendiri..."
Aku langsung shock di tempat ku duduk dan memakai sabuk pengaman dengan benar lalu memejamkan mata dan membaca do'a sepanjang perjalanan.
Aku masih belum ikhlas mati sebelum membongkar kejahatan kak Iza terhadap pamankU!
👻
...Do you enjoy this chapter?If it's right,let's give me a like👍 and coment💬!...
...Bye-bye👋👋!...