Om Jin!

Om Jin!
Om jin!35(versi revisi)



🧞‍♂️


Aku tidak terlalu terkejut dengan suara pertama yang memanggilku-malah aku menunggu nunggunya,tapi suara kedua yang memanggilku adalah seseorang yang mengejutkan karena dia laki-laki yang selama ini begitu menyebalkan,tapi anehnya mulai baik kepadaku sejak kemarin.


Rizal!


Apa yang dia ingin sampaikan padaku hingga menyapaku di sekolah,padahal kami secara tidak langung sepakat untuk tidak saling menyapa ketika di sekolah dan pura-pura tidak kenal.


Tapi sekarang dia yang duluan menyapaku,ada apa dengan dia ini?Apa dia ingin kami berdua digosipkan lagi?


Astri juga ikut berbalik kebelakang bersamaku karena sama-sama terkejut Rizal menyapaku,itu karena Astri juga tahu bagaimana hubunganku dan Rizal yang sebenarnya sejak dia menginap di rumahku sewaktu liburan semester lalu.


"Iya"


Mau tidak mau aku harus membalas panggilan Rizal dan berdiri diam tepat di bawah pohon besar di samping gerbang sekolah.


"Mau apa lagi bocah itu" Kata Om jin yang juga heran dengan Rizal.Ekspresi Om jin juga terlihat kesal dengannya.


"Ya,ada apa?" Kataku.


Astri berjalan ke dekatku lebih dulu dan ikut menatap Rizal yang diam di tempatnya.Siswa yang mengenalku ataupun Rizal seperti sengaja diam menonton kami di seberang jalan.


Orang sialan! Apa maunya itu?Mau melihatku digosipkan lagi setelah ini?Dan si Rizal itu juga kenapa dia malah diam saja dan membuat suasana jadi awkward juga membuat orang lain yang melihat bisa salah paham dengan bubungan kami.


"Itu,apa semalam kamu baik-baik saja?Aku minta maaf sudah membuatmu kesal" Katanya masih belum beranjak dari tempat yang sama-membuat siapapun bisa mendengar perkataannya.


Bodoh...


Astri mencubit pinggangku dan melotot.


"Kamu sama dia ngapain semalam?!" Tanya Astri sambil berbisik padaku.


Mampus aku!


"Nala,jadi semalam kamu kesal karena dia?Apa yang dia lakukan padamu semalam sebelum aku kembali?Dan kenapa kamu tidak menceritakannya padaku?" Kata Om jin dengan ekspresi dingin.


Aku merasa seperti sedang dibombardir dari segala sisi...


Tanpa kulihat wajahnya juga,aku sudah tahu kalau sekarang Om jin sedang marah.


"Itu...cuma chat-an sebentar..." Kataku sejujurnya.


"Ah massa cuma chat-an doang?!" Kata Astri.


Om jin memgangguk menyetujuinya.


"Yang jujur dong,ceritakan padaku yang sebenarnya.Kamu kan tau aku ngak bakal kasih tau kesiapa-siapa." Kata Astri lagi.


Aku balas mencubit Astri,"Ya kejadian aslinya juga emang cuma chat-an Tri!" bisikku.


"Benar hanya itu saja,Nala?" Tanya Om jin.


'Benar!' Seruku pada Om jin.


Rizal,kamu sudah membuatku dalam masalah,tahu!


"Tidak papa aku tidak menganggapnya serius" Kataku pada Rizal agar pembicaraan kami bisa segera selesai.


"Tapi kamu tiba-tiba ofline,jadi aku khawatir kamu kesal karena aku.Aku juga dengar kamar kamu ada suara ribut-ribut.Jadi,ku kira kamu misuh-misuh seperti sebelumnya di kamar karena kesal padaku".


Ya,benar aku kesal padamu! Ingin sekali aku mengatakan itu di depan wajahnya langsung kalau tidak ada siapapun di sini selain kami berdua.Tapi ini adalah das sein!Berbeda dengan apa yang aku harapkan.


"Mana ada,itu hanya pendengaranmu saja yang salah.Aku benar-benar langsung tidur setelah chat-an denganmu" Kataku.


"Uwohh,aku tidak tahu kalau kalian berdua menjalin hubungan yang lebih dekat.Sejak kapan?" Bisik Astri dengan antusiasme dan nada suara yang terlalu tinggi untuk sebuah bisikkan.


Aku ingin sekali membekap mulut Astri yang gember itu,berbisik sih berbisik,tapi volume suaranya seharusnya kecil,lah!


Aku diam-diam memperhatikan lingkungan sekitarku dan melihat kalau wajah orang-orang yang memperhatikan kami adalah wajah-wajah familier yang tidak lain adalah teman-teman sekelasku juga teman sekelasnya Rizal yang waktu itu jatuh dari kursi panjang berbarengan.Ah,kacau sudah...


"Beneran?Kalau begitu aku minta maaf sudah menganggumu.Aku akan ke kelasku dulu,sampai jumpa di kostan nanti..." Katanya lalu melewatiku dan Astri- masuk duluan ke sekolah.


Aku mematung,Astri ikutan mematung bersamaku.Aku rasa pikiran kami berdua juga sama.


Apa maunya si Rizal ini?!Apa dia tidak sadar kalau dengan mengobrol seperti barusan padaku,dia sudah membuat suatu pemicu gosip baru di sekolah ini?!


"Nala,kamu mau dia aku apakan?" tawar Om jin.


Sebenarnya aku bukannya tidak ingin si Rizal itu tidak mendapatkan pelajaran,tapi aku takut Om jin membalas Rizal dengan cara yang berbahaya karena kekuatannya yang sekarang bisa mendukung semua keinginannya secara penuh.


"Tri,ayo masuk sebelum bel pertama...." Kataku dan menarik lengan Astri masuk ke sekolah melewati gerbang yang sudah setengahnya di tutup oleh satpam.


Astri melawanku dan berteriak-teriak kesal,"Dia itu maunya apa sih? Malu-maluin kamu!? Cowok kurang ajar! Buaya! Fuckboy!"


Orang-orang yang sedang berseliweran di tepi jalan menatap Astri tidak suka,apalagi dengan seragam sekolah kami yang dipakainya itu cukup terkenal di kota kembang.


Aku segera membekap mulut Astri dan menariknya paksa ke dalam sekolah sebelum satpam di sekolah kami tidak punya kesabaran lagi untuk menunggu siswa yang suka berbicara kasar di tepi jalan.


"Nanti saja balas dendamnya.Sekarang kita belajar dulu dengan benar..."


Hari itu di sekolah aku tidak bicara pada siapapun di kelas,termasuk pada Astri ataupun Om jin yang juga mendiamkanku.Sepertinya Om jin tetap salah paham walau aku sudah menceritakan padanya yang sebenarnya dan memberikan penjelasan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah kejadian di hari tak terduga itu,Rizal tidak pernah menyapa ataupun berinteraksi sedikitpun denganku di sekolah.Ingin sekali aku menyuruh Om jin untuk mengerjai si Rizal itu ataupun menghubungi Astri dan bekerja sama dengannya demi membalas perbuatan Rizal terhadapku pada hari itu.


Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Rizal.


Om jin mungkin sudah melupakan kejadian di hari itu karena dia sudah berbicara seperti biasa padaku.Hanya saja hubungan di antara kami semakin dekat,tapi semakin tidak jelas hubungan seperti apakah yang sebenarnya tengah kami jalani saat ini.


Aku bingung,haruskah aku mengatakan isi hatiku yang sebenarnya pada Om jin atau tidak karena arah hubungan kami benar-benar tidak diri kami sendiri ketahui.


Aku bingung...


Tapi mungkin ada cara lain untuk membuat Om jin mengerti maksud hatiku dengan sedikit metafora dan menganalogikannya.


"Om jin,apa menurut Om jin sesuatu yang tidak nampak bisa bersatu dengan sesuatu yang nampak?" Tanyaku.


Om jin menatapku dengan wajah bingungnya,tapi tetap menjawab pertanyaanku setelah beberapa saat berpikir.


"Kenapa tidak?Seperti udara dengan makhluk hidup yang menghirupnya,kedua unsur itu bisa menyatu walaupun makhluk hidup tidak bisa melihat udara yang selama ini bisa tetap membuatnya hidup"


Aku tanpa sadar tersenyum dengan sangat lebar,jawaban yang bagus! Tapi makna yang ku maksud dengan apa yang Om jin maksud berbeda. Namun pemikiran Om jin lah yang membuatku takjub.Aku tidak salah mempunyai wali sepertinya!


Walaupun aku masih belum bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang selama ini menjadi badai dalam hatiku,tapi tetap saja aku merasa lega atas pemikiran terbuka Om jin.


Tapi bagaimana dengan orang-orang biasa di luar sana?Ataupun orang-orang yang mempunyai kemampuan khusus seperti indra keenam?


Orang-orang biasa sudah tentu tidak akan percaya,tapi bahkan orang-orang dengan kemampuan khusus seperti Sera pun takut dan melarang keras hubunganku dengan Om jin.


Kakek-kakekku juga ...tapi bagaimana dengan pemikiranku sendiri?Aku bahkan masih belum bisa mengganggap kalau kehidupan yang sedang kujalani ini nyata atau tidak semenjak Om jin datang ke dalamnya.Ataukah aku hanya tokoh dalam salah satu novel fantasi-genre favoritku?


Bertemu dengan jin itu mustahil,tapi ternyata tidak.Menjalin hubungan dengan jin juga mustahil,tapi ternyata tidak.Buktinya adalah kami,dan aku bahkan ingin mempertahankan hubungan ini.


Aku tidak salah,kan?Lagipula Kakek-Kakekku juga sudah mempasrahkannya pada diriku.


Bukankah itu berarti aku ***-


Hp ku bergetar dan Mamy menelponku,aku menerimanya dan terdengar suara Kakekku di seberang sana yang memintaku untuk menjauh dahulu dari Om jin dan hanya ingin aku mendengarkannya saja.


Aku keluar kamar dan duduk di bawah pohon sirsak,Om jin tidak mengikutiku karena dia masuk ke dalam botolnya tadi.


"Ada apa Kek?" Kataku setelahnya.


"Dengarkan saja...dan jangan biarkan siapapun tahu apa yang Kakek katakan"


Aku menjawab 'ya' dan selanjutnya hanya diam mendengarkan kata-kata yang Kakek sampaikan padaku dengan pikiran yang berkecamuk dan hati yang berubah menjadi panas-tidak terima dengan apa yang kudengar.


Ternyata hubungan kami selanjutnya tidak akan mudah lagi.Ekspektasi ku barusan langsung hancur lebur...


Ku petik bunga anggrek bulan yang sedang mekar di salah satu batang pohon yang berada atas kepalaku dan menggenggamnya erat sampai hancur.


Hubungan kami-aku dan Om jin...akan jadi seperti bunga anggrek ini.


👻


**Are you enjoying this chapter?If the answer is yes,its mean you must give me a like👍 and good comment💬😁.


And bye-bye!👋👋


Nala and Om jin will meet with you on the next chapter!🧞‍♂️👫**