
🧞♂️
"Eh copot!" Seru Mamy kaget.
"Apa,Nala?!Kok kamu tiba-tiba teriak?!Kamu kenapa?!" Seru Mamy dengan wajah penuh tanya padaku yang berwajah panik.
"Mamy!" Seruku lagi karena bingung harus mengatakan ketakutanku pada Mamy atau tidak karena Mamy tidak bisa melihat Om jin yang membuatku takut setengah mati dan memanggilnya saking paniknya.
Aku hanya meringis dengan wajah yang seperti akan mati besok saat Mamy tidak juga menyadari keanehanku dan menghampiriku.
"Apa,Nala?Kamu kenapa?" Tanyanya lagi.
Dalam hati aku sudah menangis sambil berguling-guling karena punya ibu yang tidak peka.Mamy,lihatlah ekspresi ketakutan di wajahku ini!Setidaknya hampiri aku agar tahu apa masalahku.
Aku sudah mencoba untuk melepaskan telunjukku dari Om jin,tapi tidak bisa melepaskannya juga.Mulut Om jin seperti vakum cleaner!Bagaimana kalau darahku habis diisapnya?Apa aku akan jadi vampir atau jin sepertinya?
"Lepaskan!" aku berseru dan menampar wajahnya secara refleks saking panik dan takutnya.
Mamy kaget karena mendengar suara tamparan,tapi tidak tahu apa yang kutampar dan kepada siapa aku menujukkan perkataannku.
"Nala,suara apa itu tadi?!" Mamy berseru bingung dan takut,lalu dia melihat ke luar dapur lalu masuk ke dalam rumah untuk mengecek dan meninggalkan aku sendiri di dapur bersama Om jin.
Aduh Mamy!
"Mamy!" teriakku memanggilnya agar kembali.
Kenapa Mamy malah pergi,sih?!aku membatin.
Telunjukku sudah bisa lepas dari mulut Om jin dan buru-buru aku menggenggamnya dengan tangan kanan,tapi Om jin hanya diam saja sambil menghadap ke samping karena sebelah pipinya yang ku tampar dengan kencang barusan.
Dia masih diam seperti itu,waktu seakan membekukannya atau yang sebenarnya membekukan Om jin adalah tamparanku barusan?
Bukan maksudku untuk menyakitinya,aku melakukannya secara naluriah karena dia tidak juga melepaskan telunjukku dari mulutnya dan terus mengisap darahku yang keluar.
Tadi aku panik dan sekarang pun aku masih tetap panik karena Om jin yang terus membeku di tempatnya.
Apa Om jin shock dengan tamparanku?
Aku mencoba meraih pipinya dan melihat pipi Om jin yang kelihatan baik-baik saja.Tapi sepertinya bagian lain dari dirinya lah yang telah kulukai.
"Coba lihat telunjukmu,Nala" Kata Om jin, secara tiba-tiba dan mengejutkanku yang belum berhasil mengapai pipinya.
Dengan canggung aku kembali menarik tanganku yang tadinya akan menyentuh pipi Om jin dan melihat telunjuk kiriku yang bersih tanpa darah juga tidak ada bekas luka sedikitpun.
Jadi,Om jin menyembuhkan telunjukku sampai kembali seperti semula?Dan aku malah menamparnya dengan kejam?
Oh tidak...
Rasa bersalah langsung menusuk hatiku,aku memegang telunjukku yang telah disembuhkan oleh Om jin dan menunduk tanda tidak berdaya dan tidak tahu harus berbuat apa.
Aku sudah salah paham pada Om jin,bagaimana ini?Kenapa pikiranku bisa sampai memikirkan hal-hal jahat terhadap perlakuannya padaku?
Aku menunduk semakin dalam dan diam karena merasa bersalah pada Om jin.Om jin juga masih diam di tempatnya.
Air yang menetes-netes dari keran yang bocor terdengar mewakili perasaan kami dan menjadi musik pengiring kecanggungan ini.
Terdengar suara langkah kaki yang menuju ke dapur dan sahutan yang memanggil namaku kemudian terdengar disertai kemunculan Mamy di ambang pintu.
"Nala,dagingnya masukkan ke kulkas dulu saja.Mamy mau ke rumah tetangga dulu buat bantu-bantu.Suara yang tadi itu ngak tau Mamy suara apa dan asalnya dari mana.Mamy pergi dulu!" setelahnya Mamy pun pergi dan beberapa detik kemudian kembali lagi ke dapur.
Mamy datang kembali dengan wajah bingung dan bersalah melihatku yang diam menunduk.
"Nala,kamu kenapa?" tanyanya.
Aku menggeleng dan tersenyum padanya.Mamy ini sangat tidak peka dan selalu telat dalam memahami sesuatu mengenai diri anaknya sendiri.
Aku mengambil dan memasukkan daging ke dalam freezer di kulkas lalu membereskan peralatan dapur.
Mamy melihatku dalam diam di ambang pintu dan Om jin sudah beranjak dari tempatnya lalu duduk di kursi makan dalam diam.Kulihat tatapan matanya kosong dan begitupun aku yang secara sembarangan mengelap apapun yang bisa ku lap.
"Kamu yakin tidak papa?" tanya Mamy sekali lagi.
"Aku baik-baik saja,My.Mamy kenapa sih nanya gitu mulu?" kataku membalas Mamy,tapi tidak berbalik dan menatapnya.
"Ya sudah,Mamy pergi dulu..." pamitnya pada akhirnya lalu pergi,kali ini benar-benar pergi meminggalkanku sendiri.
Setelah selesai membersihkan dapur,aku mencuci tanganku di wastafel dengan pelan dan lama,kalau bisa aku ingin kegelisahan,rasa bersalah,dan kecanggungan ini juga bisa ikut mengalir pergi bersama air.
Aku membasuh wajahku juga yang entah kelihatan seperti apa sekarang.Selanjutnya aku diam,terjadi keheningan di dapur yang terasa seperti bisa membekukan hati seseorang.Mungkin itu hatiku yang sudah membeku...
Suara nafasku terdengar terengah karena aku mencoba menahan tangisku yang akan pecah.Aku tidak mau kelihatan lemah di depan siapapun termasuk Om jin,karena itu bukan karakter asliku!
Aku mencoba mengambil nafas lebih banyak untuk menghilangkan rasa sesak di dadaku-penyesalan.Bisa kurasakan tanganku yang dingin dan begitu juga kedua pipiku.
Perasaan dan situasi ini begitu menyesakkan atau perasaan yang kurasakan sekarang ini adalah akibat dari hatiku yang sedang membeku?Dingin dan menyesakkan,seperti tidak ada tempat bagiku untuk mengambil nafas dan oksigen pun bahkan tidak mau ku hirup,membantuku hidup.
Aku berdiri di depan wastafel dan tidak tahu apakah Om jin masih ada si meja makan atau sudah pergi kembali meninggalkanku.Tapi kalau Om jin pergi pun itu memang pantas bagiku terima karena aku sudah menyakitinya.
BRAKK !
Meja makan ku patah dengan suara yang keras dan aku langsung berbalik melihatnya.Om jin duduk diam di kursinya tanpa memperdulikan meja makan yang telah dipatahkanya menjadi dua.
"Nala,apa kamu mau hubungan kita menjadi seperti itu?" tanya Om jin sambil menunjuk ke arah meja yang dipatahkannya.
Aku menelan ludah dengan susah,ngeri melihat meja makan yang terbuat dari kayu jati yang dipernis itu patah menjadi dua hanya karena emosi Om jin.
Aku menggeleng cepat dengan panik dan takut.
Aku menghampirinya dan langsung memeluknya sambil menangis dan meminta maaf.
Om jin membalas pelukanku dan mengelus punggungku dengan lembut.
"Tidak apa-apa.Ini memang salahku yang sudah membuatmu menunggu dan khawatir.
Nala,keluarkan semua keluh kesahmu selama ini padaku.Jangan memendamnya terus dalam diam padahal aku selalu ada bersamamu...
Aku jadi merasa kamu seperti sudah tidak memercayaiku lagi" kata Om jin dengan nada rendah yang menenangkan sekaligus terasa menyakitkan dikeluarkannya dari mulutnya yang sedari tadi bungkam.
Aku tersentak,tangisku semakin menjadi karena perasaan bersalah di hati.Aku benar-benar sudah menyakiti hati Om jin.
Akhirnya aku berkeluh kesah padanya,tidak ada lagi perasaanku terhadapnya yang kupendam,lagipula Om jin sudah mengetahui semuanya,tapi dia tetap ingin mendengarnya langsung dari mulutku.
"Kakek sudah memasrahkan semuanya padaku,Om jin tidak perlu khawatir kalau tiba-tiba Kakek datang ke kostan lagi" kataku.
Om jin tertawa,"bukannya kamu yang waktu itu panik setengah mati sampai menerima bantuan dari orang yang kamu anggap menyebalkan?"
"Jangan ingatkan itu lagi padaku" kataku merajuk pada Om jin.
"Dan soal Sera..." aku berhenti melanjutkan kata-kataku karena Om jin masih tertawa-tidak ingin mengganggu kebahagiaannya.
"Diam dulu!kita kan sedang membicarakan hak yang serius!" kataku.
Om jin kemudian menutup mulutnya dengan sebelah tangannya dan menatapku dengan lamat lalu mengangguk.
"jangan ketawa dulu,oke?"
Om jin mengangguk lagi,melihatnya berperilaku menggemaskan seperti itu sebenarnya membuat aku yang ingin tertawa sekarang...
Aku berdehem,"Sera juga awalnya akan ikut campur soal kita,tapi aku menasehatinya.Setelahnya dia pulang dengan mulut yang bungkam padaku.Apa menurut Om jin aku sudah menyinggung perasaannya?"
Om jin menurunkan tangannya yang awalnya menutupi mulutnya,"dia masih kecil dan memang seharusnya tidak ikut campur masalah ini.Masalahnya,kamu menasehati dia seperti apa sampai dia jadi tidak bicara padamu?"
Aku diam dan berpikir sebentar,aku merasa tidak menggunakan kata-kata kasar pada Sera ataupun memaksanya untuk tidak melakukan apapun,kecuali jika pelototanku ternyata benar-benar membuatnya takut...
"Iya,kan?" tanya Om jin sambil melihatku yang masih memasang ekspresi berpikir.
"jangan terlalu berpikir keras seperti itu,dengan melihat ekspresi berpikir keras di wajahmu saja,aku sudah mengetahui bagaimana cara kamu 'menasehati' Sera" kata Om jin dengan penekanan di kata 'menasehati'.
"ah,,,lalu bagaimana ini?" aku mengeluh pada Om jin dan menatap matanya untuk meminta saran.
"berikan dia hadiah apa yang dia suka..." kata Om jin.
Aku tersenyum,ide yang bagus!tapi aku merasa heran karena Om jin yang notabenya bukan manusia saja tahu apa yang harus dilakukan untuk membujuk anak kecil,sedangkan aku yang manusia sungguhan malah kebingungan.
"tapi Sera itu kan agak berbeda dengan anak kecil lain,apa hadiah akan mempan padanya?" tanyaku masih mempertimbangkan bagaimana cara untuk membujuk Sera.
"Kalau begitu kamu tinggal memberinya hadiah yang juga agak berbeda...kamu kan yang paling dekat dengan Sera,pasti kamu tahu..."
"Yah sebenarnya ada sih...tapi-" Aku menghela nafas,aku harus menguras uang jajanku lagi kalau ingin mencoba membujuk Sera.
"Tapi apa?Aku akan membantu kamu,Nala..." Kata Om jin.
Aku tersenyum pada Om jin tanda menghargai penawarannya.Namun,bayangan barang yang akan kujadikan sebagai hadiah pada Sera benar-benar membuatku harus mengelus dada pasalnya barang itu hanya kuketahui ada di salah satu toko bunga aneh yang ada di Bandung,aku dan Sera pun waktu itu tidak sengaja menemukan toko bunga aneh itu.
Apalagi toko bunga itu sangat aneh karena aroma bunganya yang tercium agak berbeda dari aroma bunga lainnya.
Aku menceritakan soal bunga itu pada Om jin,kemudian Om jin tampak berpikir sebentar dan menanyakan seperti apa aroma bunga itu.
"Aromanya aneh,tapi aromanya memang normal seperti itu pada bunga aslinya pun tapi tercium agak hambar dan bunganya terlihat sudah layu tapi ternyata bunganya masih segar!Tanah yang dipakaipun aneh.Aku benar-benar tidak pernah melihat bunga seperti itu di manapun sebelumnya.
Harganya juga lebih mahal dari harga yang ditetapkan toko bunga lain.Hanya bungkusan dan rangkaiannya saja yang normal."
"Ah,pokoknya toko bunga itu menjual bunga yang aneh.Aku juga tau ada toko bunga itu karena Sera yang waktu itu tiba-tiba menarikku ke sana saat ku bawa dia jalan-jalan keliling Bandung" ceritaku pada Om jin.
"Maaf Nala,tapi aku juga tidak dapat mengidentifikasinya..." Kata Om jin dengan raut wajah bingung,masih berpikir mengenai bunga macam begitu.
Aku menatap Om jin yang masih memikirkan soal bunga itu dan pergi ke kamar untuk mengecek hp ku yang berdering berkali-kali.
Astri menelponku dan mengatakan dia akan menyusulku ke sini besok dengan emoji yang menggambatkan emosi menggebu-gebu.Aku mengiyakannya lalu kemudian ingat untuk menitip bunga padanya untuk Sera.
Astri mengiyakan sebelum aku menjabarkankan soal bunga itu,aku tersenyum canggung dengan kelakuannya yang bisa berubah kapanpun dan terlalu terburu-buru.
Jabaran soal bunga itu harus di beli di mana dan ciri-ciri dari bunga itu pun aku jelaskan di chat WhatsApp setelah Astri selesai mengomeliku karena tidak mengajaknya sewaktu akan pulang kampung.
"Kamu kesini juga kan pasti karena cuma mau ketemu Sera..." Kataku setengah bercanda.
Astri di seberang sana tidak menjawabku dan tiba-tiba bungkam lalu sambungan telpon pun terputus.
Aku merasa ganjil dengan sikapnya ini,biasanya saat mendengar nama Sera disebutkan Astri selalu antusias,tapi tadi dia malah bungkam.
Di tengah pikiranku soal sikap Astri,sebuah chat darinya mengatakan kalau pulsanya habis.
Rasanya aku ingin membanting hp dan kepalaku sendiri karena terlalu serius memikirkan sikap Astri yang konyol.
Dengan mengelus dada,aku menaruh hp ku dan kembali kedapur untuk menemui Om jin,tapi dia tidak ada di sana,lalu aku mencarinya ke sekeliling rumah dan memanggil namanya lewat pikiran.
Seketika hatiku mencelos karena belum juga menemukan keberadaanya,apa Om jin pergi lagi?Tapi karena apalagi sekarang!?
👻
enjoy this chapter and don't forget to give me alike👍 and coment💬!